Hal yang pertama kali saya lihat saat berada di perpustakaan adalah ‘Buku adalah jendela dunia’. Tulisan yang tidak pernah saya ambil pusing saat kembali dari sekolah. Saat itu saya masih duduk di kelas 4 dan masih suka sekali bermain layang-layang. Setiap hari saya lebih banyak menghabiskan untuk bermain layang-layang dari pada berada di dalam perpustakaan untuk sekadar membaca buku.

 

“Bercita-citalah setinggi layang-layang Nak” ujaran yang membuat bermain layang-layang semakin seru dan melupakan hal lainnya. Bahkan saya rela tidak makan seharian untuk mengulurkan benang dan meninggikan cita-citaku yang saya taruh di layang-layang.

TIBA-TIBA SAAT SAYA MENGULURKAN BENANG, LAYANG-LAYANG ITU PUTUS SEKETIKA

Hari itu, saya sedih karena layang-layang yang terbang tinggi itu bisa putus. Padahal saya masih menaruh cita-citaku pada layang-layang itu. Saya pun mengadukannya pada Ibuku berharap Ibu mau membelikannya lagi untukku.

 

TERNYATA TIDAK!

“Ibu, saya ingin layang-layang lagi. Ibu saya ingin cita-citaku setinggi layang-layang” Meskipun sebenarnya saya lebih senang bermain dengan layang-layang itu.

Ibuku tidak sedikitpun memperhatikanku. Justru Ibu menyuruhku untuk berhenti menaruh cita-citaku pada layang-layang.

“Bermainlah dengan buku” Ibuku mengalihkanku

 

Saya jadi teringat dengan “buku adalah jendela dunia”. Barang kali itu permainan yang menurutku menyenangkan. Buktinya ibu menyuruhku untuk bermain buku.

Sejak saat itu, saya selalu bermain dengan buku. Sebenarnya saya tidak tahu bagaimana saya memainkannya. Awalnya saya hanya membolak balikkan lembaran demi lembaran. Kemudian saya akan berhenti jika ada gambar yang menarik bagiku.

 

Ternyata saya baru merasakannya. Selama ini saya bermain dengan membuka dan menutup jendela dunia. Apa yang saya lihat di buku adalah kepingan kecil luasnya dunia. Saya jadi tahu, pentingnya membuka jendela dunia melalui membaca.