LOADING

Type to search

Literasi di Garis Depan Negeri

Dc.aryadi 1 tahun ago
Share

Aku berada di situ……

Sejak semalam hujan tak reda di bibir penginapan. Walau hanya sekedar tangkai grimis yang berserakan di atas atap penginapan sederhana yang terbuat dari seng gelombang berwarna kelam. Entah itu coklat, biru tua atau warna merah hati yang tertimbun debu jalanan yang entah sudah berapa tahun debu itu hinggap dan semakin menebal disitu. Tentunya mereka beriang saat hujan datang. Hanyut terbawa tetesan air lalu kemudian jatuh ke tanah untuk bergabung dengan sanak saudaranya.

Walau begitu. Pagi ini saya mesti keluar untuk berjumpa dengan berbagai elemen masyarakat di pulau Sebatik. Dengan menembus rintik gerimis yang menggendong para debu yang selama ini resah karena meninggalkan sanak saudaranya yang berasal ditepi dermaga atau berasal dari lereng perbukitan yang terdapat diantara dipulau-pulau kecil disini.

Dengan menggunakan speeddboot dari dermaga kecil di Kabupaten Nunukan saya meluncur dengan ditemani beberapa kawan membelah laut yang tampak bening dan hijau. Sedangkan gelombang tidaklah begitu besar. Dengan jarak tempuh dari nunukan menuju pulau Sebatik hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit. Lalulintas kapal2 disini begitu padatnya. Seperti lalulintas jalan raya dikotaku. Ini menandakan bahwa interaksi ekonomi dikawasan ini begitu tajam seperti belati. Menuntut ekonomi untuk kemudian dijadikan laku hidup dan untuk kehidupan.

Di dermaga. Hirukpikuk perekonomian tampak jelas. Mereka berdagang segala hal. Selain itu ada diantara mereka yang berdagang kehidupan mereka ditepi dermaga. Menjual tenaga dan suara. Menjual fikiran dan perasaan.  Orang-orang pribumi menancapkan pandangan mata yang berbinar kearahku. Gadis-gadis dermaga menyapaku sambil menggendong ikan dan rumput laut. Anak-anak kecil berlarian menggandeng tanganku memapahku dengan senyuman getir yang berwarna hitam

Seorang tentara melambaikan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya memegang senjata laras panjang. Dengan wajah kaku dan dingin seperti suasana hujan tadi malam. ia menghampiriku. Bertanya banyak hal tentang identitas hingga maksud dan tujuanku datang ke Pulau sebatik ini. Tentara itu adalah orang yang menjemput kedatanganku menuju lokasi pertemuan.

Pulau Sebatik berada di kecamatan Sebatik barat. Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara.

Sepanjang jalan menuju desa Ajikuning aku terenyuh. Rumah-rumah terbuat dari papan mengingatkanku pada sebuah lokasi trasmigrasi di salah satu daerah provinsi bengkulu. Tapi perbedaannya diBengkulu walau terbuat dari papan jarak rumah satu dengan rumah lainnya tidaklah begitu jauh

Rumah sangat jarang di sini..

Di tepi jalan anjing-anjing liar merayap disetiap tikungan jalan yang dipenuhi bangkai-bangkai batu sisa proyek yang tak tumpah menjadi aspal. Entah apa yang membuat mereka merayap dan berkerumun disitu. Tentunya bukan menyambut kedatanganku.

Dilokasi yang telah ditentukan oleh penyelenggara kami berbincang-bincang banyak hal. Mulai dari pemahaman literasi secara sederhana, aksi Literasi, melaksanakan literasi untuk hidup dan kehidupan bahkan tentang cita-cita anak mereka yang ingin menjadi dokter, insinyur, akademisi dll. Ada pula dari mereka yang sudah bekerja dimalaysia sebagai buruh perkebunan kelapa sawit.

Saya sampaikan kepada mereka “BAHWA KITA MESTI BETUL-BETUL MEMAHAMI KONSEP HIDUP YANG TELAH DIGARISKAN, SEDANGKAN LITERASI ADALAH BAGIAN DARI PEOSES HIDUP UNTUK HIDUP YANG LEBIH BAIK”. Dikota-kota besar teknologi Gatget seperti kuda jantan yang berpacu dimedan perang atau seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Atau seperti kisah Arjuna yang melesatkan anak Panahnya melesat melaju seperti cahaya memburu Adipati Karna pada perang Barata Yudha di Kurusetra. Panah arjuna menembus dada adipati Karna bertubi dan menyakitkan. Dewi kuntipun menagis…

Maknai hidup kalian dengan kesadaran NKRI.

Senja tiba. Wilayah ini adalah perbatasan antara NKRI dan Malaysia. Disinilah cerita dari sebuah film yang berjudul ” TANAH SURGA KATANYA”. film ini dirilis pada taggal 15 agustus 2012 narasi cerita dibuat ole Danial Riky kemudian di sutradarai oleh Herwin Noviato. Dedi Mizwar sebagai produser film ini.

Film yang menceritakan tentang perjuangan sebuah keluarga yang tinggal di wilayah perbatasan, acapkali mereke bertanya tentang merdeka. Sebuah keluarga menggap behwa negri ini belum merdeka sepenuhnya. Sebagai mantan pejuang, sang kakek yang diperankan oleh Fuad Idris seorang Aktor kawakan asuhan teguh Karya ternyata tak dapat berbuat banyak ketika sang anak bertanya tentang kemerdekaan. Tentunya pertanyaan dari sang anak itu lahir dari kondisi sosial dan pemerintah yang dianggap oleh mereka tak pernah memeratakan pembagunan diwilayah perbatasan itu. Terbukti saat sang Kakek harus meregang nyawa dalam perjalanan menuju pukesmas yang jaraknya hampir tiga mil dari desa itu. Dokter kampung yang diperankan oleh Ringgo Agus dengan segala keterbatasan yang ia miliki rupanya sudah taksanggup lagi mengembalikan kesehatan sang kakek. Sang dokter kampung ditemani dengan kedua cucu sang Kakek segera membawa sang kakek yang sedang sakit menuju puskesmas yang jaraknya hampir lima mil. Dengan hanya menggunakan sampan kayu. Mereka menembus pekatnya malam. Ditengah rintik gerimis yang dingin. Ditengah aliran sungai yang penuh dengan hunian monster buaya, ular dll..  cuaca memang tak bersahabat ketika itu. Gerimis berganti hujan yang begitu derasnya.. angin hanya diam menyaksikan perjalanan nereka, suara burung malam berpadu dengan sura binantang lain seolah-olah mengantarkan perjalanan mereka menembus waktu yang gelap.. Sang kakek yang semula merintih sambil memegang perutnya. Kini diam. Wajahnya pulam dan sunyi. Matanya gelap terpejam. Ada senyum tersungging dibibirnya. Manis sekali….

Sang Kakek telah meninggal di sampan kecil itu dalam perjalanannya menuju Puskesmas.

Selanjutnya. Duka dan tangisanpun terdengar diantara lorong hutan yang gelap, diantara rawa dan belukar yang sunyi. Diantara suara burung dan srigala. Diantara buaya dan ular yang bisa saja dengan seketika mencabik tubuh mereka.

Kemudian sunyi kembali.

Film ini acapkali kutonton dengan pegiat literasi lainnya. Yah ini lokasinya….

Sebuah kenyataan terjadi di Negara ini. Negara yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Bahkan warga disini sering sekali berguyon tentang wilayah perbatasan ini ” GARUDA DIDADAKU. TAPI MALAYSIA DIPERUTKU”.

Kaki kanan berada di NKRI sedangkan kaki kiri berada dimalaysia.

Aku merasakan itu. Ketika sebagian dari meraka menolak uang rupiah dari salah seorang gaet. Kami butuh ringgit. Untuk kami belanja sembako diwarung belakang masjid (belakang masjid adalah tanah kemalaysia.) Atau barang klontong lainnya. Disini kami hanya ke lepau (ditanah malaysia) jaraknya hanya 15 meter dari tempat kami berdiri.   Sedangkan beberapa rumah didaerah itu berdiri diatas dua negara. Teras, Ruang tamu adalah NKRI. Sedangkang dapurnya berdiri ditanah Malaysia.

Harga semen seperti sebuah harga mobil Xenia

Entahlah.**

Leave your vote

-1 points
Upvote Downvote

Total votes: 3

Upvotes: 1

Upvotes percentage: 33.333333%

Downvotes: 2

Downvotes percentage: 66.666667%

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Facebook Comments
Spread the love

Leave a Comment

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…