Belum selesai polemik masalah Gerakan 30 September (G30S) yang membawa serta Partai Komunis Indonesia (PKI) dan sejarah yang dibelokkan seperti ruang waktu dalam Teori Relativitas Einstein, sekarang muncul peristiwa sejarah humor Indonesia dan saya saksinya! Saya menjadi saksi pada 11 Oktober 2017 para jurnalis, blogger, pelaku dan pemerhati humor serta yang paling saya suka (karena jabatan saya sebagai Head of Academic Research) adalah para peneliti humor, berkumpul dalam suatu peristiwa sejarah. Pada hari ini telah dibuka The Library of Humor Studies, yang bertempat di Ke:kini, jalan cikini, oleh Institut Humor Indonesia Kini (ihik3, baca: ihik ihik ihik).

Dibuka oleh Seno Gumira Ajidarma sambil menjelaskan hasil penelitian kami soal peningkatan jumlah judul penelitian (Skripsi, Tesis dan Disertasi) yang bertemakan humor, yang ternyata sudah ada semenjak tahun 1967 dan mencapai puncaknya pada tahun 2014. Lalu masuk ke bidang studi asal penelitian tersebut yang ternyata juga bermacam macam, seperti buku yang ditawarkan oleh perpustakaan humor kami ini, yang kesemuanya adalah hasil kurasi Danny Septriadi. Maka setelah dibuka oleh Mas Seno selanjutnya Mas  Danny yang juga ditunjuk sebagai moderator mulai memanggil para narasumber dan mempersilahkan mereka satu per satu berbicara soal literasi humor.

Pembicara pertama adalah Dina Tuasuun yang menemukan kami karena membaca berita tentang kami di koran cetak, ini sebuah keajaiban humor ditengah minat baca yang rendah, saat koran cetak juga berlomba-lomba jadi koran elektronik yang ada titik comnya. Beliau berbicara bagaimana buku-buku kami seperti oase bagi beliau yang adalah seorang peneliti dan akademisi yang sedang mengerjakan tugas akhir. Betapa menenangkan hati saat mendengar hal tersebut, terbayang pahala yang berlimpah jika perpustakaan kami ini dapat menjadi penolong bagi para pelajar yang sedang tugas (tiada) akhir. Ya kalau mereka ternyata tidak menemukan buku yang sesuai untuk tugas akhirnya, paling tidak mereka menemukan buku yang bisa membuat mereka tertawa (sambil nangis miris karena bukannya ngerjain tugas akhir tapi malah tertawa ria baca buku ihik3, hehehe).

Setelah itu giliran CEO dan CCO ihik3 (Novrita Widiyastuti dan Yasser Fikry) yang mempresentasikan hasil penelitian mereka soal humor generasi milenials. Duet dosen ini mempraktekan dengan sangat baik lewat presentasinya bagaimana humor bisa berguna bagi para pengajar yang harus berhadapan dengan generasi milenials setiap hari. Karena presentasi penelitian mereka serius banget (sumpah nggabohong) tapi Mas Yasser yang adalah seorang komedian berhasil membawakan hasil serius itu bertebar tawa. Bagi yang mau tau hasil penelitian mereka bisa dateng langsung ke perpustakaan kami di Ke:kini, karena kalau diceritakan di sini bisa jadi artikel berjilid jilid dan yang membacanya bisa mencanangkan hari patah hati nasional Raiso Moco (ngga bisa baca).

Selanjutnya Maman Suherman yang seorang kriminolog (pelaku dan pemerhati humor juga) memaparkan tragedi literasi, dimana orang Indonesia lebih suka menggunakan narkoba sampai tewas dibandingkan baca buku, begitulah angkanya berkata. Tragedi lainnya adalah dengan angka literasi serendah itu, Jakarta adalah kota tercerewet nomor 5 dan Bandung nomor 6, jadi cerewet tanpa baca itu apa coba hasilnya? Kang Maman dalam hal ini mengingatkan bahwa komedian pada zaman dahulu sampai saat ini juga harus banyak baca, melakukan riset terkait target peserta, dan yang paling penting adalah komedi tidak boleh lepas dari konteks zaman. Komedian menurut Kang Maman haruslah menyadarkan, bukan melukai apalagi mencelakakan, komedi atau humor haruslah mengandung kearifan dalam memandang hidup, filsafat yang luas dan mendalam serta matang. Untuk itu tiada jalan lain selain literasi, baca, iqra!

Punchline terakhir diberikan oleh Deddy “Mi’ing” Gumelar yang dikenal lewat group lawak Bagito, yang merupakan group lawak termahal, angka mereka untuk 24 episode itu Milyaran Rupiah saat nilai tukar US Dollar masih Ratusan Rupiah. Mas Mi’ing bercerita pengalamannya dalam membawakan lawakan, proses produksi sampai eksekusinya, yang tidak lepas dari riset. Ia berandai andai, jika saat itu sudah ada ihik3 dan perpustakaan humor semacam ini, mungkin Bagito akan lebih cepat terkenalnya. Saya sih cuman berharap hal ini didengar oleh para komedian abad ini, agar mereka mau berkunjung ke The Library of Humor Studies kami di Ke:kini (amin ya Allah, kabulkanlah doa Baim ya Allah).

Penutup pada acara ini adalah tanggapan dari Darminto M. Sudarmo yang bersama Seno Gumira Ajidarma dan Danny Septriadi pada tahun 2016 mendirikan Institut Humor Indonesia Kini, yang kini di ke:kini yang beralamat di Jalan Cikini meluncurkan perpustakaan humor. Mas Darminto menanggapi bagaimana dagelan politik saat ini merupakan humor yang tidak lucu, bagaimana perhatian ihik3 pada budaya humor tanah air sampai akhirnya memutuskan untuk meluncurkan perpustakaan ini. Cogito Ergo Lego begitulah Mas Darminto berkata “saya membaca maka saya ada”, untuk humor sendiri sangat tampak beliau rindu akan bacaan bacaan humor (karena beliau pernah tergabung dengan Majalah HumOr, dan sampai saat ini masih aktif menulis).

Begitulah saya menjadi saksi sejarah humor Indonesia, sebagai bagian dari ihik3 saya begitu terharu saat melihat kekayaan intelektual yang terhimpun dalam dua buah lemari buku. Mereka seakan memanggil saya untuk membacanya, jika dilihat lebih dekat, setiap rak lemari tersebut berisikan kelompok buku humor, ada filsafat, sosial politik, psikologi, komunikasi, periklanan, dan banyak lagi, yang menunjukkan kekayaan intelektual mengenai humor. Pantaslah Jaya Suprana dalam bukunya Humorologi menolak untuk mendefinisikan humor, saya sendiri yang sedari tahun lalu mulai meneliti humor, merasakan bagaimana makin saya tau banyak soal humor makin saya kehabisan kata kata untuk mendefinisikannya. Maka kata penutup saya untuk artikel ini adalah “nikmati saja”, humor itu inklusi, humor itu bisa dinikmati siapa saja walau tidak dimiliki siapapun, untuk itulah The Library of Humor Studies membawakan humor untuk dinikmati anda sekalian. Salam ihik-ihik-ihik!

*) Tulisan ini diambil dari sini