LOADING

Type to search

Merayakan Buku dengan Buku

Redaksi 6 bulan ago
Share

Ada banyak buku yang ditulis untuk mengisahkan buku. Buku-buku dibahas dengan penuh minat, mulai dari pengaruhnya, bagaimana produksinya, sampai taktik memburunya. Tapi tak banyak yang menulis memoar, semacam kesaksian diri, atas praktik menyebar dan memuliakan buku di hadapan para pembaca.

Dalam Bukuku Kakiku, misalnya, tokoh-tokoh seperti Ajip Rosidi, Budi Darma, Miriam Budiarjo, Melani Budianta, Benjamin Mangkoedilaga, Mochtar Pabottingi, Taufik Abdullah, sampai Yohanes Surya mengisahkan perjumpaan mereka dengan buku, pengaruhnya, sampai sejauh mana buku menuntun karier mereka di masa depan.
Buku pula yang dikisahkan oleh Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu, menjadi serangkaian cerita yang berangkat dari koleksi pribadi keluarga ketika masa kanak hingga dewasa. Sementara Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik Buku berkisah tentang buku-buku yang diberangus, dibakar, perpustakaan, dan film-film yang dipengaruhi dan memengaruhi buku, juga seabrek catatan lainnya berkenaan dengan buku.

Indonesia Boekoe dan Radio Buku juga menerbitkan serangkaian seri Aku & Buku, yang ditulis berdasarkan arsip suara para penulis, seniman, dan tokoh lainnya berkenaan dengan perjumpaan mereka dengan buku, dan buku apa saja yang memengaruhi hidup mereka.
Buku juga diperbincangkan sebagai “komoditas”. Mulai dari usaha dan kerja keras untuk mendapatkannya seperti dikisahkan dalam Serbu! Pengisahan Belanja Buku dan Atas Nama Buku: Memoar Teladan Para Pembelanja Buku, hingga kisah-kisah bagaimana buku diciptakan di kamar-kamar kerja penerbit di buku Declare! Kamar Kerja Penerbit Jogja (1998-2007).

Dari sekian banyak buku itu, tak seberapa yang mengisahkan cerita para pemulia buku, yakni para aktivis atau pegiat literasi yang menyemai akses buku di pelosok-pelosok negeri. Dari yang sedikit itu, ada buku Gempa Literasi: Dari Kampung untuk Nusantara anggitan Gol A Gong dan Agus M. Irkham, juga buku Relawan Dunia yang berkisah tentang para relawan di Pustakaloka Rumah Dunia yang berproses dan berusaha menggapai asa dengan slogan: Simpan Golokmu, Asah Penamu! Ada satu buku lain lagi yang saya lupa judulnya (ada terdata di Gramedia Jogja), tapi urung terbeli karena stoknya habis.

Memoar Para Pemulia Buku
Sengaja saya memilih istilah “pemulia”, karena merujuk pada maknanya, yakni “orang yang memuliakan,” atau “orang yang membuat (menjadikan) sesuatu bermutu lebih tinggi” (https://kbbi.kemdikbud.go.id). Kalau “pemulia tanaman” berupaya meninggikan mutu satu tanaman dengan mengotak-atik unsur-unsur genetiknya (internal), maka “pemulia buku” mengangkat derajat buku dengan jalan memperluas keterjangkauan buku kepada pembacanya (ekternal), sehingga dapat diakses oleh warga di kota dan desa.

Buku hanya akan bermakna dan memiliki nilai praktis apabila berjumpa dengan pembaca. Di titik inilah pemulia buku, yakni para aktivis literasi, menjadi mata rantai dalam perjumpaan itu. Ibarat lelaki dan perempuan yang dipertemukan oleh mak comblang.

Maka tak ayal, saya senang bukan kepalang menerima empat buku pemberian Mas Faiz Ahsoul: (1) Literasi Tak Bertepi: Kisah Pegiat Taman Bacaan Masyarakat yang Menginspirasi; (2) Satu Taman Banyak Cerita: Antologi Esai Residensi Literasi Nusantara; (3) Jejak Literasi Relawan Nusantara: Catatan Peserta Residensi Relawan TBM Nusantara Kampung Literasi Menturo Sumobito Jombang; (4) Ketika Sesuatu Harus Dituliskan: Sekumpulan Tulisan dari Residensi Literasi di Tanah Ombak, Padang.


Keempatnya diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk turut merayakan Hari Aksara Internasional yang dihelat di Kuningan pada 8 September 2017 lalu. Agaknya, momentum penerbitannya juga tepat: merayakan literasi (buku) dengan buku.

Terbitnya empat buku yang dikarang oleh para pegiat literasi ini setidaknya bermakna dalam tiga cara pandang.
Pertama, ia memperlihatkan konsistensi para pegiat literasi dalam laku menyebarkan ilmu pengetahuan via bacaan. Mereka memperlihatkan bahwa kerja-kerja memakcomblangi buku dengan pembacanya merupakan tugas yang penuh onak dan duri, serba tantangan, dan memacu kreativitas.

Kedua, masih setangkai dengan yang pertama, terbitnya buku ini memperlihatkan bahwa pegiat literasi tidak sekadar tabah menjadi distributor bacaan, akan tetapi juga mulai turut aktif menjadi produsen gagasan melalui buku yang mereka terbitkan. Apabila sejauh ini para pegiat literasi dikenal “hanya” menyampaikan buku-buku karangan orang lain, maka 4 buku ini menunjukkan upaya lain mereka: menghaturkan buku yang mereka tulis sendiri, diracik dari pengalaman sehari-hari.

Ketiga, buku ini merupakan bahan refleksi dan otokritik di kemudian hari perihal perjalanan proyek literasi di masing-masing taman bacaan. Bagi taman bacaan lain, buku ini merupakan preseden sekaligus inspirasi untuk pengembangan proyek literasi di daerah masing-masing. Ada banyak program mingguan, bulanan, tahunan, dan insidental di masing-masing taman bacaan di dalam buku ini yang dapat ditiru dan dikembangkan di lain tempat. Sementara bagi TBM yang mengisahkan dirinya, mencatatkan dirinya dalam sejarah (di tulis dalam buku), tentu akan makin memotivasi gerakan mereka untuk lebih berkembang lagi, minimal bertahan, agar tak buyar dari sejarah.

Di luar tiga hal di atas, buku-buku ini, bermakna khusus bagi saya sebagai data: saya tak perlu melakukan wawancara jauh-jauh ke Padang, Jombang, Bali, Manado, bahkan Taiwan. Sedikit banyak, cerita mengenai aktivisme mereka telah tersua dengan sendirinya melalui media paling otoritatif: buku.


Dalam kerangka lebih luas, melalui buku-buku ini, tersaji rekaman historis mengenai perjalanan proyek literasi di Indonesia, khususnya yang diinisiasi oleh masyarakat, setidaknya pada warsa kini. Penerbitan buku-buku sejenis di masa mendatang akan mengisi lubang-lubang sejarah mengenai derap langkah proyek literasi bangsa, melengkapi sejarah literasi yang sudah cukup lengkap disajikan oleh Stian Haklev dalam Mencerdaskan Bangsa: Suatu Pertanyaan Fenomena Taman Bacaan di Indonesia.

Sedikit Catatan
Memang tidak seluruh esai ditulis dengan keterampilan seorang penulis sohor. Ada satu-dua esai yang memperlihatkan jejak sebagai pembelajar-penulis-pemula. Tetapi hal ini dapat dimaklumi, mengingat penulisannya juga merupakan proyek uji coba, dan bagi saya, uji coba yang berhasil, sehingga layak diteruskan di tahun-tahun mendatang.

Beberapa catatan teknis, yang jika boleh disampaikan, pertama terkait dengan upaya penyuntingan yang masih menyisakan salah ketik, koreksi spasi, dan huruf kapital dan italic yang kurang cermat diedit. Kedua, penggarapan buku yang belum seragam, minimal dalam hal tema yang ditulis: tiga buku berbicara mengenai pengalaman para pegiat literasi di masing-masing taman bacaan, sementara satu buku lainnya membahas pengalaman di tempat pelaksanaan residensi. Ketiga, informasi mengenai penulis tidak merata, ada yang menyebutkan secara jelas (asal TBM, dsb), sementara di buku lain absen. Begitu pula profil penulis tidak hadir di bagian akhir buku—hanya satu buku yang memuat profil penulis.

Tiga catatan di atas dapat diabaikan sebetulnya, mengingat proses penyusunan dan penyuntingan buku memang diburu waktu. Namun, apabila proyek penulisan seperti ini akan berlanjut, maka semacam standardisasi menjadi perlu, agar terdapat keseragaman informasi yang diperoleh pembaca.

Menjadi Rumah Produksi Buku
Taman bacaan yang menjadi wadah tempat para pegiat literasi mengabdikan diri, sedari mula memang berkonsentrasi untuk menyediakan akses bacaan, menciptakan aneka kegiatan guna menarik minat pembaca, serta mengembangkan berbagai aksi melampaui buku guna mengejawantahkan buku dalam laku sehari-hari. Meminjam motto TBM Mata Aksara: “Dari Buku Menjadi Karya”.

Tidak sebatas pinjam dan baca, taman bacaan telah berkembang menjadi rumah belajar bagi masyarakat sekitarnya, arena bermain, menonton film, dan diskusi berbagai soal yang dipantik oleh buku atau persoalan krusial setempat. Lebih penting lagi, sebagian taman bacaan telah menjelma pula menjadi rumah produksi buku—menjadi bidan bagi lahirnya para penulis baru.

Perkembangan di ranah TBM ini tentu sangat menggembirakan, mengingat masih minimnya produksi buku dan jumlah penulis buku di Indonesia dibandingkan jumlah penduduknya. Pegiat taman-taman bacaan yang semula “hanya” menyediakan bacaan, rupanya tak sabar ingin turut serta dalam deras percakapan di lembaran-lembaran buku.

Tentu saja kemajuan ini alamiah saja, di mana para pencinta buku yang semula adalah para pembaca, kemudian bergeser menjadi pemulia (penyebar buku), lantas beranjak menjadi pereka (penulis/penyusun buku). Bisa jadi juga, hal ini dipantik oleh para pengarang yang juga membuka gerai-gerai pustaka di tempat mereka tinggal. Jadi para pengarang ini tidak selesai hanya dengan menebarkan virus membaca, tetapi juga berupaya menularkan virus menulis.
Sebut misalnya Gol A Gong dengan Pustakaloka Rumah Dunia-nya yang telah memungkinkan para penulis baru muncul. Gol A Gong membuka kelas-kelas menulis, baik fiksi maupun nonfiksi, mendorong peserta dan relawan Rumah Dunia untuk meraih “ijazah” berupa terbitnya tulisan di media massa maupun menerbitkan karya mereka dalam bentuk buku.

Cara yang agak berbeda ditempuh oleh Indonesia Boekoe, yakni dengan mengajak para pemuda kampung untuk melakukan riset sejarah kampung, melatih mereka melakukan pengumpulan data, mendampingi proses penulisan, dan bersama-sama melahirkan karya dalam bentuk buku. Indonesia Boekoe juga menginisiasi riset arsip guna memungkinkan kronik sejarah yang telah tidur dan ditimbun waktu untuk dapat bersua pembaca di era sekarang.

Apa yang dilakukan oleh Rumah Dunia dan Indonesia Boekoe—yang tidak saja menyediakan bacaan tetapi juga memproduksinya, juga berlaku di sebagian taman bacaan lainnya. Pusat-pusat produksi buku, melalui komunitas literasi seperti taman bacaan, kian menyebar ke kota-kota kecil hingga ke pelosok. Para penulis pemula tidak perlu lagi harus ke kota besar untuk menimba ilmu, mengasah kemampuan, dan menjelajahi jaringan guna menyaksikan karyanya tersua dalam lembar-lembar kertas yang dijilid. Mereka cukup mendekati satelit-satelit di daerah masing-masing, yakni taman-taman bacaan.

Perkembangan teknologi cetak yang dapat memproduksi buku dalam jumlah kecil, jejaring yang dipermudah melalui media sosial, serta pesatnya penjualan buku melalui toko buku daring, berjumpa dengan semangat muda para penulis pemula untuk menerbitkan buku-buku mereka. Saat ini, sudah lazim apabila sebuah taman bacaan di Papua atau Sumatera, misalnya, menginisiasi penerbitan buku dengan cara mencetaknya di Jogja, kemudian disebarluaskan oleh para pelapak online.
Taman bacaan, dalam konteks ini, telah menjelma menjadi “rumah belajar” yang memungkinkan para penulis pemula mendapatkan keterampilan yang cukup dalam menulis, menemukan kepercayaan diri untuk menerbitkan karya, dan memperoleh jaringan untuk menerbitkan gubahannya melalui jejaring yang sudah terbina.

Semakin banyak taman bacaan turut menjadi produsen buku, maka kian bertambah karya yang lahir dari aras lokal, dan makin mengecambah para penulis baru. Posisi taman bacaan yang demikian telah menggenapi proyek literasi seutuhnya, yakni “membaca dan menulis” menjadi satu paket utuh yang paripurna. []

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Facebook Comments

Artikel yang mungkin Anda sukai

Spread the love

Leave a Comment

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…