Kenalkan, nama saya Kristanto, pegiat literasi di TBM Citra Raya, Kel. Mekarbakti, Kec. Panongan, Kab. Tangerang. Mungkin teman-teman pembaca sudah bisa menebak bahwa nama orang dengan suku kata terakhir “to” biasanya adalah orang Jawa, misalnya “Joko”, “Tono”,  dan “Retno”. Ya, saya di sini adalah seorang perantau dari Jawa Tengah, dari sebuah kota kecil bernama Salatiga. Latar belakang saya menggiatkan literasi di tanah perantauan ini adalah adanya kesenjangan yang saya rasakan antara pendidikan dan kebudayaan di Kabupaten ini dengan Kota Salatiga.

Bukan, tulisan ini bukan bermaksud untuk menyombongkan Kota Salatiga ataupun merendahkan Kabupaten Tangerang. Saya percaya bahwa masing-masing kota/ kabupaten mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri, dan dalam beberapa hal – apabila saya boleh sedikit lagi, ya hanya sedikit lagi, menyampaikan kelebihan kota asal saya – Kota Salatiga lebih maju dibandingkan dengan Kabupaten Tangerang.

Mengapa bisa demikian?

1. Kondisi Jalan Raya

a. Saya sering melihat pengendara sepeda motor yang melaju di Jalan Raya Serang tanpa memakai helm. Kalaupun pengendara/ penumpang sepeda motor ini membawa helm, alat pelindung diri yang satu ini seringkali hanya dipakai untuk melindungi siku tangan dari kecelakaan, bukan untuk melindungi kepala.

b. Di sepanjang ruas jalan raya Serang antara Pasar Cikupa hingga Swalayan Sabar Subur, setiap hari selalu saja saya temui pengendara sepeda motor yang melawan arus di rush hour. Anehnya, pengendara sepeda motor ini “ngotot” untuk terus melaju, sekalipun ada kendaraan yang melaju dengan arus yang benar.

c. Budaya tidak mau mengantre juga dapat kita temui ketika menjumpai pengendara kendaraan bermotor di lampu merah, misalnya lampu merah Tigaraksa. Saya sering temui bahwa pengendara ini berhenti di kanan jalan, di luar garis lajur jalan yang ditetapkan, hanya untuk mendapatkan “pole position” ketika lampu menyala hijau. Ini jelas membahayakan bagi pengendara arah sebaliknya dan kerap kali menjadi sumber kemacetan di jalan raya.

2. Integrasi/ Toleransi Warga

Sebagai kabupaten industri, Kabupaten Tangerang ini memang memiliki tantangan berat dalam hal integrasi karena kemajemukan warganya. Pemerintah daerah benar-benar dituntut untuk lebih cerdas dalam memainkan instrumen-instrumen yang dimilikinya untuk mencapai stabilitas kerukunan di sini

a. Hal berbeda pertama yang saya rasakan di sini adalah masalah suku. orang keturunan Tionghoa di kabupaten ini belum bisa berintegrasi 100%. Mereka masih berbicara dengan aksen yang kental, sebuah tanda bahwa orang-orang ini jarang bergaul dengan orang-orang di luar kelompok mereka. Mengapa mereka jarang bergaul pada waktu itu dan sampai sekarang?

b. Hal berbeda kedua adalah masalah toleransi kehidupan beragama. Tidak, di sini tidak terjadi konflik yang berlebihan antarpemeluk agama yang berbeda. Saya melihat bahwa di sini masih sedikit kegiatan yang terlahir atau merupakan kerjasama dari kelompok-kelompok agama yang berbeda ini. Tentu, ini bukan berarti bahwa kegiatan-kegiatan dari kelompok-kelompok yang homogen ini kurang baik. Hanya saja perlu disadari, bahwa anak-anak generasi penerus bangsa ini tidak boleh dibiarkan hidup berlarut-larut dalam sekat-sekat kesukuan dan keagamaan seperti ini. Akan sangat disayangkan apabila kita sebagai orang dewasa tidak memberikan ruang publik kepada mereka untuk mengeksplorasi negara Indonesia ini dengan segenap kemajemukannya. Sebuah tempat di mana orang bisa bertemu, mengenal, belajar, dan berdiskusi dengan orang lain yang “berbeda” dengan kelompoknya selama ini.

Atas dasar kedua poin inilah saya menilai arti penting sebuah tempat yang bernama Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Buku adalah gudang ilmu. Informasi dan ilmu pengetahuan yang kita dapatkan dari sebuah buku sudah divalidasi oleh seseorang bernama editor, sehingga tulisan di dalam buku bukanlah sebuah hoax/ berita kebohongan. Seperti ilmu padi “makin berisi makin merunduk”, orang dewasa dituntut untuk bisa mengalahkan ego diri mereka sendiri, seperti contoh “tidak merasa salah ketika melawan arus” dan “tidak mau mengantre, ingin selalu duluan hingga tidak merasa salah melanggar peraturan”.

Pun demikianlah arti penting sebuah buku dalam mengajarkan toleransi ke-Bhinneka-an. Orang Indonesia secara umum selalu memiliki budaya “kepo” atau selalu ingin tahu atau ikut mengurusi orang lain – padahal kata Cak Lontong “buat apa mengurusi orang lain, karena orang itu belum tentu mau kurus” 😀 – . Ketika kita bertanya kepada orang lain mengenai kebudayaan sukunya, atau ritual kepercayaan agamanya, seringkali kita akan dihadapkan pada 2 situasi berikut

a. Kamu mau berdebat soal ini? Kamu terganggu dengan itu?

b. Kamu sudah sadar, sehingga kamu mau pindah ke agamaku?

Kedua situasi ini bukanlah situasi di mana orang akhirnya akan mendapatkan jawaban yang dicarinya, sehingga sekat-sekat yang saya sebutkan di atas akan cukup sulit untuk dibongkar. Berbeda dengan orang, buku adalah sahabat yang paling baik. Di TBM yang menyediakan buku-buku yang majemuk dalam konteks politik, kebudayaan, dan agama, niscaya akan sangat membantu proses integrasi di dalam masyarakat. Berbeda dengan orang, buku tidak akan “kepo” ketika kita menanyakan sesuatu, tidak akan protes ketika kita membacanya di ruang belajar ataupun di toilet, dan tidak akan marah ketika kita di hari pertama langsung menyobek-menyobek atau menginjak buku itu karena isinya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang kita miliki saat itu.

 

Dari sinilah akhirnya saya ingin menghubungkan buku, TBM, dan maju/ tidaknya sebuah kota/ kabupaten. Sebuah TBM berperan penting untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsanya, menjadi tempat pertemuan antara pertanyaan dan jawaban – tanpa mengadili orang yang bertanya itu dengan jawaban yang “kepo” dan pikiran-pikiran yang negatif -. Sebuah perumpamaan “otak manusia itu berfungsi layaknya parasut” agaknya benar adanya, karena tanpa keterbukaan pikiran/ mindset terhadap kemajemukan orang-orang di negeri ini, agaknya cita-cita persatuan bangsa yang dicetuskan oleh para pendiri bangsa ini hanyalah akan menjadi impian belaka. Yang terjadi adalah kita masih saja belum selesai dengan perbedaan yang bangsa ini miliki, di saat kota/ kabupaten di negara lain sudah melesat maju mengisi kehidupan mereka dengan hal-hal yang jauh lebih bermanfaat bagi dunia ini (teknologi, kemanusiaan).

Selamat membaca buku, salam literasi. Semangat terus para pegiat literasi, TBM bukan hanya mencerdaskan anak bangsa, melainkan dapat memajukan kota/ kabupaten kita! []