LOADING

Type to search

“Konspirasi” di Antara Mereka

Endah Kusumaningrum 11 bulan ago
Share

Seperti biasa, selepas ashar, bocah-bocah sekitar pasti ramai berkumpul di halaman PBM Wadas Kelir. Macam-macam tujuannya, dari main ayunan sanpai numpang makan jajan. Pun para orang tua mereka, dari sekadar momong anak sampai ngobrol tentang sarapan enak. Satu hal yang juga tidak pernah lepas dari jangkau mata adalah: para relawan pustaka yang duduk berjajar di seantero sudut Pusat Belajar Masyarakat (PBM) dan dikerumuni para bocah yang haus cerita.

Seperti biasa juga, saya segera ikut bergabung. Begitu datang, saya langsung mengambil sebuah buku dongeng di gerobak baca, lalu iseng bersenandung “Siapa yang mau dengar cerita?” untuk menarik perhatian mereka. Dan seperti biasa lagi, tiga bocah usia PAUD yang tertarik pada buku di tangan saya langsung berkerumun. Siap mendengar cerita!

Namun, begitu halaman pertama terbuka, ada seorang bocah di luar kerumunan saya yang tiba-tiba mengomandoi mereka, “Bikiss, Malva, Neya, sini!” katanya bernada tegas. Bahkan lebih terdengar seperti bos. Saya sempat menahan tawa.

“Sini, Kak Endah bacakan cerita!” rayu saya. Dia menggeleng sambil menentengi sebuah buku cerita.

Anak-anak yang tadinya mengerumuni saya segera berhambur bubar jalan, mereka berempat membuat kerumunan baru. Saya yang tadinya sudah siap membacakan buku untuk mereka jadi terbengong. Tapi, saya biarkan saja. Saya amati apa yang akan mereka lakukan. Konspirasi macam apa yang sedang mereka lakukan? Tanya saya dalam hati sambil menahan rasa geli karena baru saja (merasa) dicueki.

Ternyata, MEREKA SALING MEMBACAKAN BUKU SATU SAMA LAIN. Setiap lembar, secara bergantian, mereka bergiliran membacakan cerita untuk teman-temannya. Padahal, saya yakin betul, beberapa anak di antara mereka belum bisa membaca. Tetapi, mereka berusaha mengikuti apa yang temannya lakukan. Ia bercerita menggunakan imajinasinya sendiri. Jadi, apa yang dimaksud dengan ‘membacakan cerita’ bermakna absolut. Ada yang mereka-reka adegan berdasar ilustrasi. Ada yang semau sendiri bercerita, yang penting terlihat seperti sedang cerita. Dan, itulah ajaibnya imajinasi anak!

Saya senyum-senyum melihat tingkah mereka. Sebentar kemudian, saya seperti tersadar, bahwa  tingkah laku mereka adalah apa yang kami, para relawan pustaka , lakukan selama ini. Mereka tidak mau kalah oleh kami, para relawan pustaka. Mereka meniru kami, orang-orang dewasa di sekitarnya. Betapa mereka, anak-anak itu, memang seperti spons yang sangat mudah menyerap apa yang lingkungannya berikan.

Jika lingkungannya mencontohkan banyak berkata kasar, maka dengan sangat mudah pula anak akan berkata kasar. Jika lingkungannya mencontohkan kebiasaan belajar, maka anak akan tumbuh menjadi manusia pembelajar.

Kami, relawan pustaka di Wadas Kelir  selalu berusaha melakukan itu: memberikan teladan pada anak-anak bahwa belajar, membaca buku, dan bekerja untuk lingkungan adalah hal yang menyenangkan. Kami selalu menginginkan anak-anak tumbuh dalam dunianya yang nyaman dan menyenangkan. Sebab, seperti yang Dostoyevsky katakan bahwa bisa jadi pelajaran paling berharga dalam hidup adalah sebuah pengalaman dari masa kecil.

Tabik,

ENDAH KUSUMANINGRUMRELAWAN PUSTAKAKAMPUNG LITERASI WADAS KELIRPURWOKERTO

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Facebook Comments

Artikel yang mungkin Anda sukai

Spread the love

Leave a Comment

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…