LOADING

Type to search

Hari Santri: Dari Resolusi ke Literasi

RBK Banjar 8 bulan ago
Share

Oleh: Sofian Munawar, MA (Pendiri Ruang Baca Komunitas Kota Banjar)

Hari ini, saya bersama Tim Relawan Yayasan Ruang Baca Komunitas melakukan Safari Literasi ke dua tempat, yaitu ke SMK Ma’arif NU Langensari, Kota Banjar dan ke markas Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banjar. Kegiatan Safari Literasi sebenarnya bukanlah sesuatu yang istimewa karena kami sudah melakukannya puluhan kali. Safari Literasi kali ini sudah memasuki titik yang ke-54 dan ke-55 sejak kami programkan setahun yang lalu. Namun hal spesial dalam kegiatan Safari Literasi kali ini adalah dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober, bertepatan dengan Hari Santri Nasional. Karena itu saya berusaha mencoba mencari “benang merah”, titik temu yang menghubungkan urgensi literasi dengan momentum Hari Santri.

Penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional dipandang banyak pihak sebagai hal yang tepat. Salah satu argumentasinya mengacu pada peristiwa masa lalu dimana pada tanggal 22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa yang lebih dikenal dengan sebutan “Resolusi Jihad”. Resolusi ini berisi seruan para ulama yang menyebutkan bahwa umat Islam wajib berjihad mempertahankan kemerdekaan. Resolusi ini menjadi bukti  bahwa pesantren dan santri sebagai titik sentralnya memiliki peran signifikan dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Perjuangan bangsa ini tentu tidak akan pernah usai sampai kemerdekaan tercapai. Perjuangan yang lebih berat justru kini menanti kiprah semua warga bangsa saat ini, yakni perjuangan mengisi kemerdekaan agar bangsa ini tetap memiliki marwah dalam kancah persaingan global. Hari Santri 22 Oktober 2016 karenanya tidak cukup diperingati sebatas seremonial belaka, tapi harus menjadi titik tonggak untuk melakukan refleksi atas kiprah dan peranan yang perlu diemban dan dikedepankan santri untuk kemajuan bangsa.

Rekontekstualisasi  Semangat Jihad

Ketika “Resolusi Jihad” dikumandangkan pada 22 Oktober 1945, rakyat Indonesia gegap gempita melawan pasukan Sekutu yang membonceng kolonial Belanda yang ingin tetap bercokol di bumi pertiwi. Salah satu insiden monumental terjadi ketika Harun, salah seorang santri Pesantren Tebuireng gugur saat ia menyerang mobil pasukan Sekutu pimpinan Brigjen Mallaby yang juga terbunuh bersama sopirnya saat itu. Peristiwa heroik ini tentu perlu dikenang sekaligus dikontekstualisasikan meskipun dalam semangat zaman yang berbeda. Jika dulu “Resolusi Jihad” dimaknai dengan angkat senjata, maka resolusi jihad kini adalah dengan menjawab ragam tantangan nyata di depan mata.

Dalam berbagai kesempatan, Presiden Jokowi menyebutkan setidaknya ada dua tantangan terberat yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, yaitu angka pengangguran dan tingkat kemiskinan yang relatif tinggi. “Angka pengangguran kita masih di atas 7 juta. Sementara tingkat kemiskinan berkisar antara 10 – 11 persen,” kata Jokowi dalam suatu kesempatan. Untuk menghadapi tantangan bangsa yang berat ini, sosiolog  Selo Soemardjan mengingatkan pentingnya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dengan meningkatkan kemajuan pendidikan sebagai sokogurunya. Karena itu, jika kita melakukan rekontekstualisasi semangat jihad itu, maka sudah saatnya menafsir ulang makna “Resolusi Jihad” dari medan perang ke “medan pendidikan”.  Dari angkat senjata beralih ke buku dan pena, dari resolusi ke literasi. Terlebih jika kita mengingat masih rendahnya minat baca buku yang dimiliki bangsa ini dimana Survei UNESCO menyebutkan Indonesia berada di peringkat terrendah dalam dunia literasi. Padahal kita tahu bahwa tingkat literasi berbanding lurus dengan tingkat kemajuan pendidikan. Sementara kemajuan pendidikan akan linier dengan tingkat kemajuan suatu bangsa.

Santri dan Gerakan Literasi

Rendahnya budaya literasi yang dimiliki bangsa ini tentu menjadi tantangan tersendiri yang perlu disikapi secara serius. Hal ini setidaknya terkait dua alasan penting yang satu sama lain saling berhubungan sehingga upaya-upaya serius perlu segera dilakukan untuk mengantisipasinya. Pertama, fakta sejarah menyuguhkan bukti-bukti bahwa budaya literasi erat kaitannya dengan kemajuan sebuah peradaban bangsa. Dengan kata lain, jika kita berharap bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan unggul, maka budaya literasi menjadi salah satu faktor kuncinya. Kedua, budaya literasi yang dimiliki sebuah bangsa akan berbanding lurus dengan kualitas SDM dan sekaligus menjadi cermin dari nilai daya saing yang dimiliki sebuah bangsa.

Mengingat masih rendahnya budaya literasi, kini pemerintah mengupayakan program terobosan dengan mempromosikan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Semangat GLS dapat disimak dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud)  Nomor  23 Tahun 2015. Program GLS dirancang untuk membiasakan siswa-siswi agar gemar membaca dan menulis.  Melalui program ini, setiap siswa diwajibkan setiap hari untuk membaca buku non-pelajaran yang sudah diverifikasi guru masing-masing selama lima belas menit sebelum pelajaran formal dimulai.

Kegiatan WJLRC telah dilaksanakan sejak September 2016 melibatkan guru-guru dan siswa-siswi dari tingkat SD, SMP dan SMA/SMK di Jawa Barat dan digawangi langsung Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Menurut pantauan saya ketika melakukan survei dan “Safari Literasi” ke sejumlah sekolah di Kota Banjar, program GLS-WJLRC ini sangat progresif untuk mendorong minat baca siswa-siswi di sekolah. Namun begitu, menurut hemat saya ada baiknya program GLS maupun WJLRC juga melibatkan kalangan santri dan pesantren, tidak hanya di sekolah-sekolah formal. Alasannya tentu saja agar budaya literasi sebagai sokoguru kemajuan pendidikan berjalan lebih massif.

Sehubungan dengan program GLS itu pula, saya bersama Ruang Baca Komunitas (RBK) Kota Banjar mengadakan kegiatan “Safari Literasi” ke sekolah-sekolah dan pesantren yang ada di Kota Banjar. Safari Literasi yang kami lakukan tidak lain dan tidak bukan adalah juga merupakan dorongan dan dukungan yang kami berikan untuk program GLS maupun WJLRC baik di sekolah maupun di pesantren dengan mengambil momentum yang relevan, seperti Safri Literasi Ramadan, Safari Literasi Hari Literasi Internasional, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Hari Bahasa, Hari Sumpah Pemuda, dan juga Hari Santri Nasional.

Hingga  Akhir Oktober 2017, Ruang Baca Komunitas  sudah melakukan Safari Literasi di 57 tempat mulai dari sekolah, kampus, dan pesantren di Kota Banjar. Kegiatan Safari Literasi ini akan terus kami lakukan secara kontinyu. Dari berbagai kunjungan Safari Literasi itu saya melihat bahwa dunia pesantren belum terlalu “tersentuh” dengan kegiatan literasi. Karena itulah menurut hemat saya, program GLS maupun WJLRC yang kini tengah digalakan pemerintah di sekolah-sekolah perlu disinergikan dengan kegiatan santri di pesantren. Hari Santri Nasional, menurut hemat saya, dapat menjadi salah satu momentum yang tepat sebagai media untuk menggelorakan semangat literasi di kalangan santri. Hari Santri dapat menjadi tonggak untuk melakukan refleksi sekaligus  merekontekstualisasi “Resolusi Jihad” dalam konteks kekinian.

“Selamat Hari Santri! Salam Santri, Salam Literasi!” []

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Facebook Comments

Artikel yang mungkin Anda sukai

Spread the love
Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…