LOADING

Type to search

Sudahkah Pegiat Literasi Membaca Buku?

Redaksi 1 tahun ago
Share

Matahari merangkak naik ketika pegiat literasi Lombok Utara itu tak dapat menahan air asin yang melinangi kedua pipinya. Nursydah Syam ingin mengambil sapu tangan tapi tak jadi. Ia tak sabar untuk turun dan menyambangi anak-anak PAUD TK Kartika di Desa Kepek yang berbaris rapi dalam balutan surjan cokelat untuk menyambut kedatangan rombongan. Perasaan serupa juga dirasakan oleh Sugeng Hariyono, pegiat buku dari Lampung Timur, ketika ia mengedarkan pandangan ke kampung literasi yang diinisiasi oleh Andrie, pengajar honorer yang mengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kuncup Mekar. Pikirannya menerawang. Ia membayangkan, kalau semua desa dan kelurahan menggerakkan program One Home One Library sebagaimana yang diupayakan Andrie di Desa Kepet, banyak masalah negeri ini terselesaikan dengan sendirinya.

Kekaguman dan ketakjuban yang melingkupi 80-an pegiat literasi yang berkunjung itu, tentu bukan sekadar perasaan bahagia yang meremangkan bulu kuduk. Ia adalah api dari langit yang membakar semangat siapa pun yang menjadi saksinya. Sejumlah ekspresi tumpah berjemaah; bahwa ternyata mereka memiliki teman seperjuangan yang tak kalah berkeringatnya, atau menjadi pecutan agar militansi mereka terus terasah dan teruji, atau bahkan sekadar merasa malu atau minder pun tetaplah sebuah cikal-bakal gelora yang akan digodok di kampung halaman nantinya.

Satu jam sebelumnya, perjalanan dari Hotel Horison Ultima Kota Yogyakarta ke Kabupaten Gunung Kidul menumbuhkan déjà vu di kepala saya. Saya seperti tengah menyusuri jalan panjang Lubuklinggau-Bengkulu yang berkelak-kelok, terjal, dan rimbun pepohonan yang menjadi pemandangan menyegarkan di kiri-kanan jalan. Ya, jarak 56 kilometer yang kami tempuh hampir saja membuat saya kliyengan sebab saya baru tiba di hotel pukul 00.30 dan informasi yang disampaikan panitia bahwa kami sudah harus berada di dalam bus pukul 7 pagi membuat saya tidak bisa memejamkan mata dengan tenang hingga pagi tiba.
Lanskap alam Gunung Kidul yang indah membuat saya mengutuk berkali-kali dalam hati sebab selama ini informasi katanya yang sampai di telinga saya adalah: kabupaten di timur Yogyakarta itu merupakan daerah yang tandus. Dalam kepala saya, tandus adalah tanah kering yang tidak bersahabat untuk pohon tumbuh sehat dan merimbun. Namun yang saya dapati adalah kebalikannya; Gunung Kidul adalah daerah yang sejuk dan hijau. Bahkan taman di kiri-kanan jalan rayanya tertata rapi dan kebersihan tempat-tempat publik pun tampaknya sangat terjaga paling tidak sejauh mata memandang dari kaca bus.

Selalu, berkumpul dengan para pegiat budaya, literasi, dan sejenisnya, adalah salah satu momen yang menggembirakan bagi saya. Mendengarkan bagaimana mereka menggerakkan TBM dan komunitas literasi dengan cara-cara yang tak pernah terpikirkan adalah pengalaman yang eksklusif dan mahal. Bagaimana Andrie membuat 50-an rumah di Desa Kepek memiliki satu rak plus buku(-buku) dan menyelenggarakan kelas belajar gratis malam hari di balai adat, bagaimana Sugeng Hariyono tanpa keluhan dan gembira-raya turun-naik mobil angkutan-sayur untuk menjemput buku kiriman donatur dan mengedarkannya ke kampung-kampung dengan motor pustakanya, adalah asupan energi yang kadang-kala membuat saya kelabakan sendiri untuk menyimpannya di bilik ketakjuban yang mana lagi.

Asupan energi. Ya, begitulah saya menyebut oleh-oleh mahal dari silaturahim-silaturahim sejenis, termasuk peristiwa di atas yang saya nukil dari Persiapan Kampung Literasi, Yogyakarta, 22-25 Februari 2017 yang lalu itu. Bagi saya esensinya bukan waktu meletusnya sebuah momentum (sehingga membuat perhelatan di atas menjadi basi diulas), bukan! Bagi saya, energinya, itu yang mahal.

Saya sepenuhnya percaya bahwa proses kreatif atau bahkan formulasi-yang-dibuat-para-ahli bukan untuk direplikasi, atau bahkan juga belum-tentu-cocok untuk dimodifikasi. Kecakapan mengolah energi yang paling baik, pada akhirnya, adalah bagaimana menyulut kreativitas yang melampaui standar atau anggapan umum. Pada titik ini, pekerja kreatif termasuk pegiat literasi sebaiknya menyadari bahwa dirinya adalah episentrum kebudayaan. Apakah ia telah purna menjadi atau belum, itu adalah urusan lain. Menggerakkan kebudayaan namun tidak merasakan asam garam gerakan adalah omong kosong dan kekonyolan yang mengenaskan. Bagaimana mungkin gerakan kebudayaannya bisa menggerakkan kalau mereka hanya gemar membincangkan dan memikirkan rumusan ini-itu sedangkan di sisi lain membaca dan menulis tidak menjadi prioritas dalam mematangkan buah pikirannya.

Memang, kekayaan pengalaman dan pergaulan adalah hal yang tidak bisa dilepaskan untuk menghasilkan pegiat literasi yang cakap, namun kegemaran membaca dan menulis juga mengikatnya. Sebab teks yang monoton (bila dibandingkan dengan film yang audio-visual, misalnya) sudah sejak lama dilihat sebagai keunggulan literasi sebab teks-teks kuasa melahirkan semangat interpretasi dan imajinasi tanpa batas.

Ketika teks menyebutkan warna merah, tentu tiap pembaca akan memilih merah yang berbeda-beda untuk disambung-hubungkan dengan gambaran dalam benaknya (hal ini tentu berbeda dengan merah yang dengan nyata direpresentasi-informasikan warna kebaya seorang aktris dalam sebuah film). Maka, literasi secara teks adalah pemproduksi metafora dan atau kode-kode yang langsung-atau-tidak-langsung meng-upgrade kekritisan pembaca. Dan daya-kritik ini adalah salah satu kekuatan yang bila diaplikasikan ke dalam sejumlah pemikiran, rencana, dan program kebudayaan yang dibincang-matangkan bersama mereka yang melek-literasi, gagasan-gagasan baru pun akan lahir dan berdaya guna. Inilah kekuatan membaca. Kekuatan mendapatkan subtext; memproduksi energi lain yang tampaknya tidak berurusan dengan teks yang dibaca atau pancaran energi yang didapatkan untuk melahirkan karya yang ternyata memiliki jejak replikasi atas teks (atau karya) yang mengilhaminya. Untuk sampai pada kecakapan ini, seorang pegiat kebudayaan tentu dengan sabar menjalani proses internalisasi nilai-nilai literasi itu ke dalam dirinya; membaca banyak buku, membaca lebih banyak teks, menamatkan lebih banyak narasi.

Seorang Andrie takkan mampu menjadikan Desa Kepek sebagai lokasi kampung literasi apabila ia tidak mencintai buku, membacanya terus-menerus, hingga akhirnya hasil (pem)bacaan itu berdesakan. Bisa saja ia dengan khidmat menanaknya dalam pikiran, namun ada kemungkinan lain; membiarkan semuanya berjejalan di dalam kepala hingga nyala api semangatnya berkibar-kibar atau bahkan menjadi lahar yang meletus hingga membangunkannya dari perenungan yang panjang; Duaaarr! tiap rumah di Desa Kepek pun memiliki perpustakaannya, tiap pohon di desa itu ditempeli informasi biologi dan manfaatnya, dan kesenian-kebudayaan setempat menjadi bagian yang tak terpisahkan untuk menyemarakkan lingkungan buku itu.

Kekuatan membaca adalah memperoleh kemampuan menafsirkan ilmu pengetahuan yang diperoleh ke dalam bentuk yang lain. Yang kreatif. Yang inovatif. Artinya, para pembaca buku tentu bukan mereka yang hanya sesekali membaca bukumemiliki kekuatan untuk mengkonversi kemampuannya tersebut ke dalam lini kehidupan yang lain, termasuk dalam urusan membangun kampung literasi. Para pembaca adalah mereka yang mampu menjadikan asupan energi dari mana pun itu sebagai analogi kreatif.

Maka, pekerjaan-rumah besar bagi pegiat literasi adalah (berproses) menjadi pembaca yang baik. Telahkah kita merasakan sensasi menyenangkan saban menghirup aroma kertas? Telahkah kita mengapresiasimembeli dan membincangkanbuku-buku? Atau kita malah tidak merasakan getaran sedikit pun setiap beriteraksi dengan teks? Kalau sekadar menjadi pengumpul buku (terlebih buku-buku gratis), kita harusnya malu menyebut diri sebagai pegiat buku, pegiat literasi. Kita belum berbicara tentang kecakapan menulis yang sejatinya sangat relevan dengan target-menerbitkan-buku sebagai salah satu parameter keberhasilan kampung literasi. Kita belum bicara tentang itu. Belum bisa bicara sejauh itu selama membaca tidak dianggap sebagai urusan esensial dalam gerakan ini. Tentu saja, kecakapan bersosialisasi dengan masyarakat dan militansi mengusahakan tiap kegiatan, adalah urusan yang lain.[]

Leave your vote

-1 points
Upvote Downvote

Total votes: 1

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 1

Downvotes percentage: 100.000000%

Facebook Comments

Artikel yang mungkin Anda sukai

Spread the love

Leave a Comment

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…