LOADING

Type to search

Puisi Literasi 2

Dc.aryadi 8 bulan ago
Share

KAMPOENG KAMI

kampung kami adalah literasi. ditepi ladang diantara rimbun rerumput. ditepinya air kali mengalirkan sunyi.rumah kami dikapung literasi tempat kami merajut benang menjadi pepohon yang rimba. atapnya disusun dari ilalang tempat para nabi melepas sauh.di kampung literasi. rumah kami berlantai kelam tempat anak kami menangis disitu sambil menjambak bumi tempat para kiyay dikuburkan dan tempat para pujangga menayakan malam.seperti biasa kami menuliskan mimpi disiturumah kami dikampung ditepi ayat-ayat dibelakang surau tempat kami belajar agama tempat tuhan menitipkan kata

Rangkasbitung, 2017

 

PENYAIR DAN AYAT YANG TERCECER

seperti para penyair yang dulu menanam usia di ladangladang tanpa air dan sajadah. kita menuliskannya kembalikedalam sebuah kisah dan menjadi ceritalalu anak-anak memungut serpihan tuliasan itu dikit demi sedikit lalu menjadi doa yang tercecer di tepi jalan menuju pasar milik orang lainlalu kemudian langit satu persatu turun menjadi kabut di ujung jalanpara penyair berjalan menelusuri kertaskertas dan kata dengan sekeranjang makna

bulungan jaksel. 5 feruari 2017

 

SEKOLAH. MATAHARI DAN REMBULAN

besok atau lusa matahari tak terbit dari jendela kelas yang retak dimakan usia lalu dibuatnya sebuah cerita dituliskan seperti kitab tentang sekolah tak berjendela matahari.  sekolah berubah menjadi pembrontak mengajarkan kami cara membuat pencakar langit dan nuklir dengan waktu yang tidak tepat

sedangkan di kampung anak-anak petani menebar benih padi memikat burung pipit yang berbagai  rupa dan sebagian bermain bola dibawah hujan berpakaian matahari. anak-anak dikampung belajar membaca , menulis dan menari. belajar terbang untuk melihat bumi dari atas. dan menggambar bulan.

besok atau luasa  ia  akan bercerita bahwa dikampung ia belajar segala hal. sebab matahairi  tak terbit dari bangku sekolah, diatas meja guru atau di papan tulis. ia hanya bercerita bahwa di surau ada matematika, fisika, pendidikan moral, agama dan biologi

dibangku sekolah ia tak menemukan nafas tuhan.

AKHIR TAHUN  2017

MENATAPKU DENGAN PUISI

Di perpustakaan aku menyelinap diantara musyafir yang akan ku bunuh hanya dengan menggunakan mantra para kaoolotan adat yang sebanarnya tak ingin kita gunakan untuk saling membunuh.

seperti dikejar waktu. dengan menyeret usia yang terjepit diatara meja makan dan piring-piring di dapur yang berserakan lalu untuk dimaknai bersama sebagai sebuah simbol bahwa kita tak pernah hadir dalam ruangan itu. Padahal ia seolah menunggu diruaangan perpustakaan itu sambil menulis pesan kepada sanak saudara untuk mereka tak meninggalkan ku

Lantas hilang untuk beberapa lama. Lagu yang kubuat dinyanyikan gadis kecil sambil mengitari kuburan tanpa pohon kamboja. Matanya menagis mengalir sambil membakar sebuah kitab kosong tanpa doa ataupun bait mantra didalamnya.

Matanya yang sendu seperti sebuah roman didalamnya, matanya yang sendu menatap langit dengan puisi yang dipungut di belakang perpustakaan

Orang-orang lalu membakar rumah kita yang tanpa pondasi dan tanpa jendela. Membakar semua pakaian yang pernah kita kenakan hanya sekedar menghapus jejak perlarian

AKHIR TAHUN 2017

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Facebook Comments

Artikel yang mungkin Anda sukai

Spread the love

Leave a Comment

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…