LOADING

Type to search

iBUKU, BUKU Kehidupanku….

Redaksi 4 bulan ago
Share

 

Pagi ini seperti membaca buku harian seorang ibu tentang anaknya.

Saat menikah, tak pernah terpikir bakal punya anak seperti apa, bagaimana merawat dan membesarkannya, bagaimana membiayai pendidikannya. “Jalani saja,” kata ibuku.

Kata orang, saat melahirkan, ibu mengalami rasa sakit setara dengan 20 tulang patah bersamaan—melebihi rasa sakit yang mampu ditanggung oleh laki-laki mana pun di dunia ini. Tetapi ketika aku melahirkan, hampir aku menyerah. Namun, demi melihatnya lahir dan hidup ke dunia, aku terus berjuang melawan ancaman ketakutan akan kematian itu.

Pertama kali melihatnya, air mataku tetes menitik sekaligus bangga, dan bersumpah untuk membesarkannya dengan kedua tanganku—seberat apa pun dan sesulit apa pun.

Tak mudah membesarkan anak. Dia bandel sekali ketika kecil, suka bermain lupa waktu, tidak mau makan kecuali disuapi olehku, susah disuruh mandi, susah dibujuk tidur waktu malam, kadang marah dan membentak padaku. Bahkan kadang, dia mengejekku, kadang juga dia menghinaku.

Ketika besar, dia merasa dirinya terlalu dibatasi. Tidak boleh ini dan itu, menganggapku terlalu kolot, ketinggalan zaman, tidak pernah bisa mengerti apa maunya. Bahkan untuk jalan bersama pun, anakku kerap seperti orang yang malu beriringan dengan seorang perempuan tua yang tertatih, berbusana ketinggalan zaman, dan bau minyak angin. Dia berjalan jauh di depan dan aku di belakang ditemani seorang suster.

Jujur, kadang sakit hati sekali diriku ini. Tapi mengingat ketika pertama kali menggendongnya, ketika melahirkannya, semua sakit ini hilang seketika. Dia anakku, anak kesayanganku. Jadi, apa pun, aku cinta padamu, anakku. Karena kaulah yang menguatkanku, membuatku mau bekerja keras seharian, tak takut luka, duka, derita, dan sakit.

Karena kehadiranmulah aku merasa berarti, apalagi bila mendengarmu memanggilku: Ibu.

Ibu mungkin sudah tua; badan sudah sekarat, kerutan muka sudah banyak, perjalanan usiaku tidak lama lagi. Anakku, jika kamu bekerja sangat keras, tidak perlu sampai memberikan istana yang mewah, atau uang yang bertumpuk. Gunakan dan simpan untukmu saja.

Ibu hanya berharap kamu mau menyisihkan sedikit saja waktumu untuk menemani masa-masa tua ibu; bisa di samping ibu, berbincang dengan ibu, itu sudah cukup bagi ibu.

Ibu bangga denganmu, Nak, dan maafkan jika ibu pernah memarahimu, melukaimu, melarangmu. Percayalah, semata karena ibu ingin kamu baik. Ibu cinta padamu dari dulu, sekarang, dan selamanya.

***

Dan, Ibu, di dalam kata ‘mOtHER’ ada kata ‘HERO’. Karena ibu memang seorang pahlawan sejati.

Hatimu, Ibu, adalah tempat teristimewa, di mana kami (anak-anakmu) selalu menemukan rumah dan surga sejati.

Selamat Hari Ibu, peluk dan sayang untukmu selalu, iBUKU, yang menggoreskan tinta darah, air mata dan peluh di dalam BUKU kehidupanku tanpa sedikit pun berkeluh kesah.

(Maman Suherman)

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Facebook Comments
Spread the love

Leave a Comment

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…