LOADING

Type to search

Membangun Ruang Ketiga

Redaksi 10 bulan ago
Share

 

Borges yang dikutip Baez dalam bukunya, “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa”, mengungkapkan:
“Dari berbagai instrumen manusia, tak syak lagi yg paling mencengangkan adalah BUKU. Yg lain adalah perpanjangan ragamu.
“Mikroskop dan teleskop adalah perpanjangan penglihatan.
“Telepon adalah perpanjangan suara.
“Lalu kita memiliki bajak dan pedang, perpanjangan lengan.
“Namun buku berbeda:
“Buku adalah PERPANJANGAN INGATAN dan imajinasi.”

Bukulah yang memberi wadah bagi ingatan manusia. Buku adalah pelembagaan ingatan; dan perpustakaan, arsip atau museum adalah warisan budaya dan semua bangsa memandangnya sebagai kuil-kuil ingatan.

Di sisi lain, masih dari buku itu kita diingatkan, tak ada identitas tanpa ingatan. Jika kita tidak ingat siapa kita, kita tidak akan mengenal siapa diri kita. Dan sejarah membuktikan, bahwa ketika suatu kelompok atau bangsa berusaha menguasai kelompok atau bangsa lain, yang pertama mereka lakukan adalah menghapus jejak-jejak ingatan dalam rangka membentuk ulang identitasnya!

Karenanya, penghancuran buku, pembakaran perpustakaan, arsip atau museum, atau setidaknya melakukan pembiaran terhadap perampokan dan penjarahan perpustakaan, arsip dan museum menjadi bagian dari proses penaklukan sebuah bangsa.

“Hilangkan identitasnya, bentuk identitas baru untuk mereka sesuai mau kita (sang penakluk, sang penjajah), lalu curi kekayaan intelektual dan kearifan lokalnya dan klaim sebagai milik kita,” adalah penaklukan paling mengerikan, yang “bersembunyi” di balik penaklukan bersenjata dan genosida.
“Lakukan bibliosida, pemusnahan buku, agar mereka kehilangan ingatan dan otomatis kehilangan identitas/jati diri!”

KARENANYA, aku selalu menaruh penghargaan tinggi pada siapa pun yang bergerak di “jalan buku”. Menjodohkan buku dan manusia. Tak semata membawa buku, lalu menghamparkannya begitu saja. Karena keliterasian tak semata itu.

Betul, keaksaraan dan kewicaraan adalah pintu, tetapi tidak berhenti dari semata membangun pintu, tetapi mengisi apa-apa yang ada di balik pintu itu. Karena keliterasian bukan semata keberaksaraan — keaksaraan dan kewicaraan. Bukan semata meningkatkan minat baca. Tetapi, dalam bukunya “Suara dari Marjin”, Sofie Dewayani, tersirat dan tersurat menyebutnya sebagai kemampuan menggunakan dan memanfaatkan informasi untuk kepentingan dirinya.

Keliterasian teknis, baca-tulis, harus melangkah ke level fungsional dan budaya: bagaimana memaknai teks untuk meningkatkan kualitas hidup. Lebih jauh, dalam bincang-bincang di acara Kopdar Pegiat TBM Jawa Barat di Bumi Perkemahan Ikopin, Jatinangor (26/12), Sofie dengan sangat cerdas menyebutnya sebagai “mothering literacy”. Saya menangkapnya — mudah-mudahan tidak salah– literasi sebagai “ruang” pengasuhan, perawatan nilai, ingatan, nalar; tempat pulang yang merekatkan, membahagiakan seperti kedekatan anak kepada ibunya. Menjadikan literasi sebagai “ruang ketiga” setelah hal-hal yang bersifat fisik (semata) dan intelektual. Ruang afeksi yang merekatkan.

Penghancuran buku sungguh sebuah upaya memisahkan anak manusia dengan ibunya, memisahkan anak bangsa dengan ibu pertiwi. Jadi teringat pada apa yang kerap kusampaikan dalam sejumlah pertemuan, bahwa tak cukup mengandalkan “Hand” ( tangan, fisik), dan Head (kepala, intelektual), dalam semua langkah, lengkapi dengan Heart (Hati, kasih, sayang kearifan ibu).

Sekali lagi, itu yang membuat saya  “jatuh hati” kepada para pegiat literasi — pelaku babat alas, perawat, pengembang — “jalan buku” dengan berbagai gerakan dan moda yang digunakannya. Sampai pada satu titik, aku bermimpi, ah indahnya dunia jika aku kaya raya. Bisa punya 100 taman baca, dan minimal satu taman baca kubiayai sejuta rupiah sebulan. Artinya, aku harus mengeluarkan donasi 100 juta perbulan untuk menggerakkan taman baca, tak semata menjalankan fungsi menghampar buku, tapi menghidupkan buku guna meningkatkan kualitas hidup pembacanya dan masyarakat yang terpapar virus literasi yang disebar para pecinta baca, para pembelajar sepanjang hayat.

Tapi, aku bukan miliuner, yang sanggup melakukan hal itu? Yang bisa dengan gagah berani, membusungkan dada seraya berteriak akulah pemilik seratus taman baca itu!

Patahkah semangatku?

Tidak! Sekali lagi tidak!

Setiap melihat para pegiat literasi sejati bergerak, berkumpul bersama dalam kerelawanan, rasa optimisku bangkit. Tak padam. Dalam kopdar kali ini, misalnya, berkumpul orang-orang baik yang datang dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Barat dengan semangat kerelawanan yang tinggi. Mereka digerakkan bukan oleh uang dan tenaga (fisik semata), bukan oleh pemikiran semata, tapi oleh “ruang ketiga” yang selama ini mereka bangun: naluri ibu, hati ibu yang hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.

Teringat aku pada 4 kompetensi dasar yang dibutuhkan untuk  mewujudkan enam keliterasian dasar yang dibutuhkan dalam menghadapi abad digital ini. Ada yang menyebutnya 4C, ada yang sukses mengindonesiakannya menjadi 4 K: Komunikasi, KOLABORASI, Kreatif dan Kritis dalam Berpikir.

Dengan berkolaborasi, berjejaring dalam kesetaraan — bukan atas dasar komando, perintah dan klaim kepemilikan — “ruang ketiga” itu bisa dibangun bersama, oleh orang-orang sederhana yang mewakafkan dirinya di jalan buku.

Teruslah menjadi ibu. Madrasatul ula*, guru utama anak-anak negeri agar mereka tak kehilangan ingatan dan identitas dirinya.

Respek.
Tabik.

– Kang Maman

*Sebuah syair Arab menuliskan “Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.” Artinya: Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

* Catatan kecil di pagi 27 Desember 2017 selepas menyaksikan pembagian buku untuk para pengelola TBM yang hadir di Kopdar Pegiat TBM se Jawa Barat, di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.

Leave your vote

-1 points
Upvote Downvote

Total votes: 1

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 1

Downvotes percentage: 100.000000%

Facebook Comments

Artikel yang mungkin Anda sukai

Spread the love

Leave a Comment

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…