LOADING

Type to search

KITA Literat, KITA Antikorupsi, KITA Bahagia (Bukan: Aku)

Redaksi 9 bulan ago
Share

Aristoteles mengatakan, kebahagiaan sejati berasal dari batin yang telah DIDIDIK, dan karenanya harus dimulai sedari dini. Pendidikan yang baik tidak membiarkan seseorang  berkembang “sesuai seleranya sendiri”, tetapi perlu dibuka dimensi hatinya agar orang tersebut merasa bangga dan gembira apabila ia berbuat baik, sedih dan  malu apabila melakukan sesuatu yang buruk. Melalui perasaan-perasaan itu seseorang, tanpa paksaan, BELAJAR berbuat baik dengan gampang dan menolak dengan sendirinya yang jelek atau memalukan.

Dan menjadi bahagia, ujar Aristoteles, disadari atau tidak, adalah tujuan semua manusia. Motif yg menggerakkan manusia melakukan apa pun adalah untuk mencapai kebahagiaan!

Apa itu bahagia?
Ada kalimat indah yang mendefinisikannya dengan sangat sederhana, tetapi menurut saya, sangat tepat menggambarkan apa itu bahagia:

Jika kamu berbuat dan memberi sesuatu semata kepada dirimu, itulah KESENANGAN. Baru di tahap kesenangan. Tetapi jika kamu berbuat dan memberi sesuatu — yang sama seperti yang kamu berikan pada dirimu — kepada orang lain, itulah KEBAHAGIAAN.

Pesan ini sekaligus menyiratkan, untuk mendapat senang, bisa kita lakukan seorang diri. Untuk bahagia, kita perlu orang lain. Itu juga sebenarnya esensi dasar dari pentingnya bersinergi selain, tak ada seorang pun di muka bumi ini yang bisa melakukannya seorang diri.

Ingat 4 C atau 4K yang menjadi kompetensi dasar untuk mewujudkan 6 keliterasian dasar? Tak cukup mampu berKomunikasi, Kreatif dan Kritis dalam berpikir, tapi harus mampu membangun konektivitas, keterhubungan, berjejaring, bersama-sama: Kolaborasi.

Lalu apa hubungannya: kebahagiaan, kolaborasi dengan apa yang teman-teman pegiat literasi sejati sudah lakukan selama ini dan dirayakan kembali hari ini untuk mengawali tanggal 17 pertama di 2018?

Pertama:
Kita tahu, dan sering kita kutip di mana-mana, Indonesia adalah negara literatif kedua dari bawah, 60 dari 61, dan hanya setingkat di atas Botswana. Dan lima-enam negara paling literatif di dunia adalah:
1. Finlandia
2. Norwegia
3. Islandia
4. Denmark
5. Swedia
6. Swiss
.
.
8. German
15. Selandia Baru
Dan di Asean, paling literat:
36. Singapura
59. Thailand.
(Hasil Riset  bertajuk “World’s Most Literate Nations Ranked” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity, Maret 2016).

Kedua:
Negara-negara mana saja yang indeks persepsi korupsinya paling tinggi — dengan skala 0 – 100 — dan sekaligus menggambarkan negara yang paling  terendah korupsinya di dunia ? Data indeks persepsi korupsi 2016 yg dilansir Transparansi International (TI) menyebutkan:
1. Denmark (negara nomor 4 paling literatif di dunia) – skor 90
2. Selandia Baru (15) – 90
3. Finlandia (1) – 89
4. Swedia (5) – 88
5. Swiss (6) – 86
6. Norwegia (2) – 85
7. Singapura (negara yang paling literat di Asean) – 84
8. Belanda – 83
9. Kanada – 82
10. Jerman – 81
adalah 10 negara yang paling tinggi nilai indeks persepsi korupsinya di dunia — yang ternyata adalah juga negara-negara paling literatif.

Makanya tepat sekali kalau KPK mau berkolaborasi dan bersinergi dengan para pegiat literasi lewat pembentukan Panglima Tali Integritas dan berbagai kegiatan lain. Karena korupsi tak semata dilawan lewat OTT (operasi tangkap tangan), tetapi lewat mencerdaskan kehidupan bangsa, menciptakan masyarakat literat yang dasarnya adalah: meningkatkan kualitas hidup. Semakin berkualitas hidup manusia semakin benci mereka pada ketidakjujuran, karena selain sudah tercerahkan, mereka juga bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang baik dan benar. Dan, tidak mengambil yang bukan haknya. Sebaliknya, memberi kebaikan kepada orang lain dengan tidak mengambil haknya. Bukankah itu inti kebahagiaan yang disebut Aristoteles.

Oh iya, di mana posisi Indonesia menurut TI?
Jawabnya di posisi ke 90 dari 176 negara dengan  skor 37 ( rentangnya 0 – 100, kalau ikut Ujian Nasional, berarti Indonesia belum lulus, nilainya masih jauh di bawah 50). Ingat, Denmark, Selandia Baru itu skornya 90, dan Finlandia 89….

Ketiga:
Negara paling bahagia di dunia menurut World Happiness Report 2017 yang dikeluarkan PBB adalah:
1. NORWEGIA (negara nomor 2 paling literatif di dunia)
2. DENMARK (4)
3. ISLANDIA (3)
4. SWISS (6)
5. FINLANDIA (1),
yang notabene adalah negara-negara yang warganya paling literatif di dunia. (SWEDIA, negara nomor 5 paling literatif berada di posisi ke-10 paling bahagia di dunia).

Benang merahnya apa?
Negara Paling Literatif adalah negara yang warganya paling tidak ingin menghinakan dirinya dengan perbuatan memuakkan, koruptif. Sebaliknya, warganya terdorong kuat untuk membahagiakan sesama dengan, setidaknya, tidak mengganggu dan mencuri/mengkorupsi hak milik orang lain. Dan, mereka juga adalah negara yang paling bahagia.

Sungguh tepatlah kita semua berkumpul di sini, bersinergi, saling mendukung, karena untuk mencapai bahagia — saya mengutip kembali apa yang saya sampaikan di awal — adalah dengan bersama-sama orang lain. Berbuat untuk diri, itu semata kesenangan, tetapi berbuat untuk orang lain itulah kebahagiaan.

Salah satu wujud nyata, langkah konkret dari semua itu, kita berkumpul bersama saling dukung untuk berdonasi buku. Bukan membentuk “jalur sutra” atau “jalur rempah” — yang kental nuansa ekonomi dan kemegahan serta kemewahannya — tapi membentuk “jalur buku”. Bersinergi membahagiakan sesama dengan meliteratkan satu sama lain.

Buku adalah pilihan tepat. Sekaligus jadi penutup refleksi pagi ini, saya mengutip pernyataan Borges yang dikutip Baez dalam bukunya, “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa”:
“Dari berbagai instrumen manusia, tak syak lagi yang paling mencengangkan adalah BUKU. Yang lain adalah perpanjangan ragamu.
“Mikroskop dan teleskop adalah perpanjangan penglihatan.
“Telepon adalah perpanjangan suara.
“Lalu kita memiliki bajak dan pedang, perpanjangan lengan.
“Namun buku berbeda:
“Buku adalah PERPANJANGAN INGATAN dan imajinasi.”

Bukulah yang memberi wadah bagi ingatan manusia. Buku adalah pelembagaan ingatan; dan perpustakaan, arsip atau museum adalah warisan budaya dan semua bangsa memandangnya sebagai kuil-kuil ingatan.

Mari terus bersinergi dengan bersedekah buku, meningkatkan kualitas hidup sesama, antimengambil hak dan milik orang lain, dan membuat orang lain sekaligus negeri ini menjadi bahagia.

Sekali lagi, untuk itu, kita tidak bisa melakukannya seorang sendiri. Harus bersinergi, berkolaborasi, mengingat besarnya jumlah penduduk, banyaknya pulau, dan luasnya bentang negeri ini dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote.

Ada 17.500 pulau — 13.466 di antaranya sudah bernama dan dilaporkan ke PBB, yang jika satu pulau saja kita datangi selama 3 hari, butuh 2 kali untuk hidup (hidup, mati dan hidup lagi), jika dihitung dari usia harapan hidup manusia Indonesia. Dan, kita punya sekitar 1340 suku bangsa (Suku Dayak saja memiliki 7 rumpun suku dengan 405 subsuku kecilnya). Semuanya harus dicerdaskan bersama, diliteratkan bersama-sama, karena demikianlah amanat preambule UUD 1945. Tanpa kecuali.

Terakhir,
Teringat apa kata Pramoedya Ananta Toer dalam “Jejak Langkah”:
“Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya.”

Mari bersama-sama, berkolaborasi tularkan kebajikan, lewat aksara lewat kata, lewat kalimat, lewat buku.

Tabik.

(Refleksi singkat yang disampaikan pada 17 Januari 2018, dalam rangka Silaturahim dan Donasi Buku, yang diadakan Forum TBM bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Edukasi Antikorupsi KPK, PT Pos Indonesia, dan Perpustakaan Nasional RI, di Kantor Pos, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat)

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Facebook Comments

Artikel yang mungkin Anda sukai

Spread the love

Leave a Comment

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…