LOADING

Type to search

KELUARGA Pembaca

Endah Kusumaningrum 10 bulan ago
Share

Siang menjelang sore tadi semua sibuk. Relawan sibuk menata panggung. Anak-anak sibuk latihan pentas. Saya, sibuk menyaksikannya. Sebab, saya memang sedang ada jadwal menjaga TBM.

Singkat cerita, seorang gadis bersenyum manis datang membawa setumpuk buku. Dia lah Malfa, pengunjung TBM paling rajin. Bukan hanya karena rumahnya yang berjarak seperlemparan batu dari TBM, tetapi jam terbang bacanya juga sangat tinggi.

Kami, TBM Wadas Kelir punya sebuah jurnal mandiri untuk setiap anggotanya. Jurnal itu berisi tiga kolom. Kolom satu meminjam buku, akan terisi 0,5 poin jika anak-anak meminjam buku dari TBM. Kolom dua: membaca buku, akan terisi satu poin jika anak-anak telah meminjam buku. Untuk mengetahui kedalaman pemahamannya pada buku, kami petugas jaga diharuskan membuat semacam waawancara tentang isi buku pada anak.

Awal-awal memang terasa berat bagi mereka. Lama-lama malah terasa asyik. Mereka mengembalikan buku sambal antre untuk ditanyai. Kolom terakhir: mengembalikan buku, akan terisi 0,5 jika anak-anak mengmbalikan buku yang dipinjam dengan tepat waktu (rentang peminjaman adalah 1 minggu)

Hari ini Malfa datang membawa 7 buku. Saya kontan bertanya, “Loh, kok banyak banget? Kan satu orang boleh pinjam maksimal dua,”

Lalu dia memilah-milah setumpuk buku itu“Ini punya Bilqis,” katanya menunjukkan dua majalah anak-anak. Bilqis adalah nama adiknya. “Ini punya mama,” katanya menunjukkan satu buku novel anak.“Ini punya embah,” katanya menunjukkan satu buku kumpulan resep masakan Indonesia.“Ini punyaku,” katanya menunjukkan dua buku terakhir. Buku dongeng dunia dan dongeng nusantara.

Saya tersenyum menerimanya. Hebat sekali keluarga ini. Dari simbah sampai ke cucunya, semua membaca. betapa menyenangkannya membayangkan atmosfer ilmu ada di rumah mereka.

Dari seseorang, saya pernah mendengar, “Belajar itu menular,”

Ya, saya setuju. Sebab, saya sendiri merasakannya. Ada di lingkungan yang mempunyai kegemaran belajar menularkan energy itu pada saya. Saya jadi suka dan cinta belajar.

Lalu, jika sekarang saya merasakan sebuah lingkungan yang belum terbangun atmosfer belajar, apakah yang akan saya lakukan?

Meninggalkannya? Tidak peduli? Atau, berusaha menjadi orang yang lebih dari biasa: menciptakan atmosfer belajar di lingkungan itu, dimulai dari diri kita sebagai seseorang yang menularkan belajar.

Semoga, semoga itu bisa kita capai.[]

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Facebook Comments

Artikel yang mungkin Anda sukai

Spread the love

Leave a Comment

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…