LOADING

Type to search

Kemelaratan Melawan Integritas

Munawir Syahidi 5 bulan ago
Share

“Leiden is Lijden” Memimpin adalah menderita.

Dalam fikiran saya yang awam, yang beberapa tahun ini bersinggungan terus dengan kata “Integritas” menjadi sangat sulit sekali berbicara tentang integritas. Makna dasar yang saya ketahui tentang integritas itu adalah tentang “Kebenaran” orang harus berbuat sesuai dengan aturan dan kebenarannya. Tetapi mari kita berbicara tentang tantangan berintegritas.

Menurut KBBI Integritas adalah “mutu,sifat, atau keadaan yang menunjukan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran”  sedangkan menurut istilah integritas adalah nilai yang dipegang teguh yang menjadi kebiasaan.

Tulisan ini sebagai kegelisahan saya yang dalam satu kesempatan sempat berdiskusi dengan teman beberapa bulan yang lalu.

“Kalau saya ditanya apakah saya memiliki nilai itegritas, saya akan menjawab saya memiliki integritas” kata teman yang persis berhadapan dengan saya pada sebuah meja yang melingkar.

Kemudian saya menceritakan tentang satu tokoh yang ada pada buku Orange Juice  yang diterbitkan Komisi Pemberantasan Korupsi itu. Saya ceritakan tokoh pertama dalam buku yang memuat beberapa tokoh dimasa lalu.

Saya bercerita tentang Haji Agus Salim tokoh yang lahir di Koto Gadang Sumatera Barat pada 08 Oktober 1884 itu. Yang didalam hidup dia sangatlah sederana. Padahal beberapa jabatan prestisius pernah dipeganngya, lelaki yang mahir berbicara dan menulis dalam sembilan bahasa itu memiliki kesederhanaan, sederhana itu yang menjadi salahsatu sikap integritas yang dimiliki oleh Haji Agus Salim.

Pada satu kesempatan ketika dia menjadi diplomat di dratan Eropa dialah yang paling mudah dibedakan, karena dia memiliki janggut putih dengan perawakan yang kecil jelas menjadi pembeda dari diplomat asal Eropa, selain itu jas yang digunakan Haji Agus Salim itu penuh dengan jahitan. Yang tentu saja berbeda dengan diplomat lain yang berpenampilan necis dan glamor. Bahkan Haji Agus Salim pernah tidak memiliki rumah dan hanya memiliki kontrakan. Prinsip itu yang kemudian disebut Mohmamad Roem sebagai “Leiden is Lijden” Memimpin adalah menderita. Lebih jauh lagi, masih tentang Haji Agus Salim yang kadang kontrakannya bocor dan istrinya Zainatun Nahar malah asik memasang ember kemudian mengajak anak-anaknya untuk membuat perahu dari kertas dan bermain bersama.

Kawan saya itu beberapakali memotong, bahwa ada sesuatu yang tidak logis kesederhanaan itu dilakukan pada masa yang sangat “edan ini” waktu itu saya sendiri enggan melanjutkan diskusi itu, karena menyadari diri ini bahkan jauh dari nilai-nilai integritas. Tapi ada hal yang menganjal dalam fikiran saya, bahwa kita belum bisa melakukan integritas bukan berarti kita berhenti untuk berusaha, dengan segala cara.

“siapa yang akan kuat hidup menderita sekarang ini? “ Tidak ada yang mau menderita, dan jika kita tidak mengikuti “Kebiasaan” itu maka kita akan kalah, karena seolah tidak ada satupun jabatan yang disandang tanpa kita mengikuti alur yang biasa tanpa ada jalur lain yang kita tempuh “Deukeut, Dulur dan Duit” Memaknai itu semua membangun integritas haruslah menjadi kerja semua orang.

Dalam acara Taman Tali Integritas yang di gagas KPK dan FTBM Indonesia itu salahsatu pimpinan KPK mengatakan pemberantasan korupsi dan menumbuhkan integritas itu tidak harus mencari musuh, karena musuh akan datang sendiri. Bahkan musuh itu adalah diri kita sendiri, perut yang lapar, rumah yang bocor, kendaraan yang sudah rusak. Dia adalah musuh terberat. Tetapi kita tidak boleh menyerah, kita harus ingat pada kalimat pendek pada buku Orang Juice itu “Bukan tak mampu, tapi tak mau” berat memang, dan harus siap “menderita” ketika kejujuran, anti korupsi selalu sama dengan perut yang lapar, atau Integritas sama dengan perut lapar.

Benarkah, mungkin benar, tapi mari tanya hati nurani kita semua, sebenarnya kita juga ingin melakukan segala sesuatu dengan benar dan sesuai aturan, tetapi kadang perut kita telah keroncongan terlebih dahulu.

Mari kita berinvestisai untuk masa depan, bahwa kita bisa mengajarkan integritas kepada generasi bangsa, suatu saat bangsa kita akan menjadi bangsa yang kuat adil dan sejahtera. Suatu hari. Dimana ada orang yang berani melawan perutnya yang lapar untuk tetap dapat berintegritas.

Tulisan ini pertama kali terbit di Situs yang dikelola TBM Saung Huma www.semburat.com

*Penulis adalah Pegiat di TBM Saung Huma

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Facebook Comments

Artikel yang mungkin Anda sukai

Spread the love

Leave a Comment

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…