LOADING

Type to search

Bangga pada Penulis, Respek pada Karya, Peduli pada Pembaca

Redaksi 5 bulan ago
Share

Oleh: Wien WM Muldian *)

Dua minggu ini saya bersinggungan dan berinteraksi dengan teman-teman di dunia kepenulisan yang tergabung di perkumpulan SatuPena yang dikomandoi bang Nasir Tamara, seorang tokoh, juga sahabat lama yang hampir 20 tahun lalu bekerja bersama mewujudkan ide media, mencipta dan merealisasikan pasarnya.

Saya merasakan ada impian dan cita-cita yang hendak dibangun bersama mengangkat dunia kepenulisan kita.

Bagaimana pun dunia penerbitan Indonesia punya kekhasan tersendiri dibandingkan negara-negara lain. Dominasi rantai distribusi dan penguasaan konglomerasi tertentu di tingkat hilir terasa dominan. Jadinya pembaca harus banyak berkorban untuk menjangkau karya penulis. Begitu juga penulis yang harus berjuang di segala hal terkait karyanya sampai ke pembaca.

Ketergantungan penulis pada perilaku penerbit yang beragam dari yang major label, indie sampai yang mengatasnamakan organisasi masyarakat masih enggak tertebak.

Profesi penulis masih menjadi sebuah profesi yang besar sekali aspek spekulasinya. Sebagian malah baru menjadikannya sebagai status sosial atau akademik secara individu atau kolektif, belom sampai ke tingkat eksekusi capaian pesan & efek dari karya serta capaian ekonomi yang terukur.

Penerbit pun masih harus survive mengangkat potensi yang ada dengan kondisi lapangan yang belum sehat dan perilaku pembaca yang masih terbatas. Belum lagi bicara ukuran dan kapasitas pemuasan pada karya yang beragam antar generasi.

Iklim yang ada sekarang otomatis dampak nya ya ke kualitas karya yang bisa jadi tanpa capaian baru. Masih muter-muter dan terus melakukan pola yang berulang dari karya-karya yang sudah ada sebelumnya… belum ada kurasi yang fair dan mudah dipahami terkait beragam fenomena karya, subjek, konten apalagi mapping tingkat kebutuhan beragam pembaca di Indonesia.

Hal ini yang sama-sama perlu kita simak, rancang dan benahi. Jangan karya hanya berhenti pada cerita pengalaman hidup, proses kreatif yang memiliki pola seragam, reportase yang miskin akurasi data dan sarat opini, fiksi yang hanya genit dan pamer sensasi, dan macam lainnya.

Potensi individual dan pemahaman lokalitas yang perlu kita angkat bukan hanya dalam proses karya tercipta, tetapi juga setelah karya itu selesai dan dikonsumsi publik. Begitu juga ketika alih wahana dan mengalami proses transliterasi.

Apakah karya bermanfaat dalam peningkatan perilaku positif masyarakat?

Apakah karya menggugah kesadaran dan mencapai kebaruan dalam kualitas pengetahuan individu?

Apakah karya membangun daya imaji yang kemudian menciptakan kreativitas baru?

Dan lain sebagainya sebagai karya cipta yang menjadi bagian proses dan tumbuhnya kompetensi serta keterampilan di setiap perikehidupan masyarakat sipil.

Sesuatu yang mau enggak mau menjadi PR bersama kalau kita bicara kualitas dan capaian karya dari penulis. Bukan sekadar bicara kuantitas karya yang sudah dikonsumsi publik tapi miskin makna.

Penulis sebagai artist yang bukan artis pastinya akan memiliki apresiasi dari beragam argumen setiap kita, terkait capaian proses kreatif masing2. Ini adalah anugerah, bukan pertentangan yang tidak berujung. Respek yang utama.

Lainnya, dengan kesadaran kita bersama, rancangan yang harus berani kita wujudkan adalah berbagi kerja menjadikan penulis-penulis Indonesia mendunia tanpa sekadar berspekulasi dan pertemanan semata. Tetapi memang memiliki karya berkualitas dengan capaian baru yang menggugah setiap pikir dan hati umat manusia dalam membangun kesadaran hidupnya menjadi lebih baik.

Selama dan setelah di pulau Buru, dalam proses kreatif Pramoedya Ananto Toer ada Yusuf Isak dan Hasyim Rahman yang selalu mendampinginya dalam menghasilkan karya-karya yang kemudian mendunia.

Jangan biarkan penulis bekerja sendirian. Mari kita bergotong royong membangun dunia kepenulisan Indonesia, menciptakan karya yang diapresiasi di masyarakat kita dan dihargai di mata Internasional… Aamiin…

Bravo SatuPena…
bergerak bersama
untuk literasi Indonesia
yang lebih baik…

*) pegiat literasi di Perkumpulan Literasi Indonesia

👌🏻
#respekpadakarya
#respekpadapencipta

**) Foto dari Facebook penulis

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Facebook Comments
Spread the love

Leave a Comment

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…