LOADING

Type to search

MENEMBUS LANGIT (Part 1) – Melukis Delusi

Edi Dimyati 1 bulan ago
Share

 If You Can Dream It

You Can Do It

Dua baris tulisan itu terpatri pada batu besar yang dilumuri lumut hijau. Dilihat dari bentuk bongkahannya, umur batu yang berbentuk menyerupai kubus setinggi pinggang orang dewasa  itu  diperkirankan sudah lebih dari setengah abad. Permukaannya sudah tidak lagi  mulus. Sebagian besar bidangnya penuh lubang akibat pukulan titik-titik air yang jatuh dari langit. Meski demikian, ukiran kalimat dua baris itu masih bisa terbaca.

Dibalik kekusaman batu, pesan yang entah siapa memahatnya itu  telah memancarkan spirit luar biasa. Buatku, kata-kata itu menusuk jiwa. Apalagi dalam kondisi sekarang dimana aku memang sedang mempunyai segudang cita. Ya, sebuah kalimat itu sukses menjadi pemantik semangatku dan kata-kata tersebut berubah wujud menjadi perintah sakti yang punya peran menggedor keinginanku dulu. Ya, keinginanku kala duduk di bangku sekolah dasar. Saat aku kecil, aku punya cita-cita yang orang lain tak pernah terpikirkan. Sebuah keinginan yang banyak dihujani respon antipati dan segudang pendapat yang memihak kepada sebuah kemustahilan.

Aku melihat-lihat ke sekeliling dimana aku sedang berpijak. Mataku menelisik ke semua sudut tangkai-tangkai dan daun-daun yang menutupi sinar matahari. Banyak sekali pohon pinus berbaris rapih. Berderet, seolah mereka sedang mengawal saat kakiku melangkah, berjalan melewati jalan setapak ini. Konon, kalau kita berada diantara pohon-pohon pinus selama 15 menit saja tubuh menjadi lebih fresh. Dan, asrinya pohon-pohon lebat itu juga bisa mengurangi stres karena mereka telah menyuplai oksigen yang luar biasa. Rindang, teduh dan menyejukan hati.

Benar, suasananya membuatku terasa segar sekali, tapi aku mulai bertanya. Heran dengan kondisi yang ada. Mengapa tiba-tiba aku berada di tengah hutan ?. Seorang diri di tengah rimba,  tanpa teman di sisi. Mengapa juga tiba-tiba saja aku dihadapkan oleh bongkahan batu besar ini ?. Aku tak ingat sama sekali dengan suasana yang belum dimengerti kronologis hingga sampai di sini. Seperti manusia yang baru dilahirkan dan pertama kalinya menginjak bumi.

Lama aku berfikir. Mencari tahu sebab musabab aku bisa berdiri di sini. Namun, aku tak mendapatkan  satu alasan pun yang menjadi penyebabnya. Tidak ada jawaban mengapa dan siapa yang  mengantarkanku ke tengah belantara.

Saat hatiku berkeluh, tak berapa lama kemudian ada sesuatu yang bergerak dalam semak di samping batu tadi. Pergerakannya mengusiku untuk mencari tahu ada apa dibalik kumpulan ilalang itu. Semoga saja yang aku khawatirkan tidak pernah terjadi. Jangan sampai sosok yang mencuri perhatianku itu adalah ular besar atau malah hadir macan berperawakan seram yang siap menerkam manusia dihadapannya. Jantungku berdegup keras, dan bersiap untuk berlari sekencang mungkin kalau saja rasa was-was itu  menjadi nyata.

Kumpulan ilalang yang tumbuh di sisi batu itu terus bergoyang. Goyangannya menandakan sebentar lagi sosok teka-teki yang membuatku penasaran akan keluar. Perlahan, wujud mahkluk bernyawa itu muncul. Ternyata seekor kuda bercula satu menampakan kepalanya. Giginya meringis, ia melihatku malu-malu. Sebentar muncul dan sekejap kemudian mundur. Nampaknya ia sedang mencari tahu apakah aku ini membahayakan atau tidak. Aku tak akan mengusiknya, biarlah kuda manis itu memutuskan sikapnya. Setelah aku tunggu beberapa menit akhirnya mahkluk yang bersembunyi tadi keluar juga. Binatang yang punya perawakan bagus itu menampakan diri dan  menghampiriku dengan rasa khawatir.

Kalau dilihat dari mimik wajah dan gestur tubuh, sepertinya ia kesepian. Nampak kuda manis itu punya keinginan mencari sahabat. Kalem sekali bawaannya. Sosoknya terlihat maskulin, tapi kalau dilihat dari sisi berbeda nampak terlihat feminim. Ya aku tahu, ini adalah Unicorn. Makhluk legendaris yang dikenal dari cerita rakyat Eropa.

Namun, bukankah Unicorn hanya mau mendekat dengan wanita suci saja? Sementara aku ini bukan gadis perawan. Aku adalah lelaki tulen yang berwajah rupawan, seorang remaja yang sedang beranjak dewasa.  Ah, mungkin saja kali ini Unicorn sedang memakluminya. Karena aku yakin di tengah hutan sepi ini mustahil ada seorang wanita suci.

Barangkali juga, untuk saat ini ia ingin bercengkrama denganku. Pasalnya tak ada manusia lain selain diriku. Lagi pula, aku sama sekali tak ada niat jahat untuk melukai kuda putih bersih yang berkarakter itu.

Kini, aku saling berhadapan. Saling menatap rupa. Tak ada suara diantara keduanya. Tak ada kata yang terujar dari mulutku dan tak ada pula ringikan  dari gigi-gigi Unicorn. Aku terkagum dengan binatang yang seumur hidupku tak pernah bertemu. Aku hanya tahu dari dongeng yang pernah dikisahkan oleh guruku. Pun dengan Unicorn dihadapanku. Pastinya ia heran melihat wajah asingku. Masih dalam tatapan bisu, kami berdua saling mencari tahu. Dalam keheningan itu aku merasakan ada sebuah dialog yang tengah berlangsung. Kami seperti sedang berbicara dalam diam, bertukar cerita dalam sunyi.

Perlahan, aku dan Unicorn melihat langit. Perubahannya begitu cepat. Setahuku belum lama sinar matahari menerobos pohon-pohon pinus. Kini langit berubah hitam dibarengi kemunculan bulan, malam tiba dengan cepat. Pohon-pohon Pinus mengalah dengan kehadiran cahaya di langit hingga aku bisa melihatnya. Ya, di atas ada banyak cahaya yang berkedap-kedip. Kedipan cahaya satu dan lainnya silih berganti dalam hitungan setengah detik.  Bak layar lebar yang menyuguhkan gambar-gambar luar biasa.  Bintang-bintang itu bergerak, berkumpul membentuk seperti Menara Eiffel. Kemudian berubah lagi menyerupai Pyramid, Taj Mahal  dan Ka’bah. Pemandangan luar biasa yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Takjub dan sukses membuatku menganga.

Semakin terpukau. Ini adalah pemandangan benda-benda langit yang sedang berdansa. Kepalaku tak bergerak, tetap menengadah ke angkasa. Terkesima melihat bintang-bintang yang kompak  saling bekerjasama. Membuat pola gambar-gambar yang menarik dan menampilkan sebuah permaianan cahaya indah nan megah. Menghiburku dalam keheningan, mengerti apa yang ada di dalam pikiran dan keinginanku.

Semilir angin mulai berkelebat, dingin mulai terasa menusuk tubuh. Dan, bintang-bintang itu  mulai bergerak dan terus bergerak  lagi. Kali ini pergerakannya tidak beraturan, malah semakin cepat dari sebelumnya. Hingga pada akhirnya kumpulan bintang tadi berubah menjadi sosok kuda bercula satu. Kaget, akupun segera mengalihkan pandangan. Unicornku menghilang.  Pohon-pohon pinus mendadak merunduk semua. Sinar rembulan meredup. Cahaya langit sontak menghilang. Kini, yang ada hanya kegelapan. Mataku seperti buta, tak bisa melihat apa-apa lagi. Kemana aku harus melangkah. ? Aku bersandar saja pada bongkahan batu tadi. Duduk bersila, menunggu keajaiban yang akan terjadi.

Dalam keadaan hitam pekat aku mendengar suara melengking dari kejauhan. Derit roda besi kereta uap yang masuk ke  Stasiun Kereta Serang telah membangunkanku dari peraduan. (*)

 

 

 

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Facebook Comments
Spread the love

Leave a Comment

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…