LOADING

Type to search

Rest Area dan Intimidasi Rasa

Irfan Suparman 2 bulan ago
Share

     Didalam bis itu bersama sakit dan gelisah aku memikirkan sebuah upaya untuk menjelaskan perasaanku kepadanya. Bahwa aku mencintainya, sangat mencintainya. Beberapa sketsa telah kubuat dan beberapa sketsa itu pula kurasa tidak semestinya kupakai. Namun waktu semakin berjalan dan terus berjalan, aku tak mau jadi orang yang paling menyesal selamanya setelah aku melewati waktu tanpa bersamanya kemarin. Seiring waktu berjalan pikiranku terus diguncangkan oleh hati yang menangis sedih karena takut hancur lebur.

     Masih ditempat duduk yang sama terus berimajinasi tentang bagaimana cara penyampaiannya. Sesekali aku melihat dia berdiri mengambil barang yang ada di atas AC bis. Jarak tempat dudukku dengan dia hanya beberapa baris, aku duduk di kursi paling belakang sedangkan dia lima baris di depanku. Dengan jaket berwarna susu strowberry yang membuat ia semakin cantik nan jelita, sekaligus membuatku semakin ingin menjelaskan tentang sebuah rasa yang selama ini ada. Ia berdiri; sambil bermain dengan gadgetnya, dan kita sama-sama tahu bahwa kita sedang tidak bersahabat hari itu. Entah, aku tak tahu jeladsnya karena apa, mungkin karena aku yang masih cemburu dan kekanak-kanakan.

     Pikiranku semakin kacau, aku tak bisa membayangkan apa-apa terhadap apa-apa selain aku membayangkan dirinya bisa mengerti apa yang sedang aku rasakan. Namun waktu dan supir bis sepakat untuk berhenti di Rest area, kulihat ia sudah turun duluan. Dalam keadaan kacau balau aku turun mencari dia. Bukan apa, aku hanya takut ada seseorang lain yang menyampaikan ini kepadanya. Akhirnya, aku menemukan dia dalam keadaan bersama dua orang temannya lalu aku memanggil dia.

     “Mel, aku ingin bicara sesuatu.” berlari mengerjarnya.

     “Bicara apa? Cepat!” cemberut lelah.

     “Sebenarnya aku… Ee.. Sebenarnya..” aku dalam keadaan paling gelisah.

     “Apa?” sambil mengusap-usap mata karena sedang lelah.

     “Aku..” skeptis.

     “Aku Mel..” mulai berani.

     “Kau mau bicara apa sih! Lama sekali” dengan nada sedikit agak tinggi.

     Tiba-tiba datang temanku, berniat mengajak aku untuk makan. Dia yang sangat peduli terhadap keadaanku, dia tahu aku sedang sakit dan dalam keadaan memikirkan sesuatu.

     “Woy Pan, makan hayuk cepat, nanti keabisan lho!”

“iya duluan”

     “irfan, lama banget sih! Lu mau ngomong apa. Gua mau makan, gua ditinggalin temen gua noh. Udahlah!” bentak Melisa kepadaku dihadapan temanku.

     Setelah dia langsung menyatakan sikap seperti itu aku langsung; terdiam, melongo, melihat ia pergi berlari megejar temannya. Sekarang tatapanku tertuju kepada temanku, mataku tajam dan penuh amarah namun dengan hati yang sedang rapuh aku tak bisa berbuat jauh selain berucap “Ah elu sih…”

     “Cewe banyak boy bukan dia aja, udah-udah”.

20 April 2017 Rest Area Tegal.

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Facebook Comments

Artikel yang mungkin Anda sukai

Spread the love

Leave a Comment

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

    Processing files…