LOADING

Type to search

Sejumlah Puisi Syaifuddin Gani

Syaifuddin Gani 3 minggu ago
Share

KONAWE, PINTU YANG TERBUKA

: Untuk Firman Venayaksa

Di Konawe, pintu-pintu selalu terbuka

Menganga dan mengulum yang terluka

Siapa yang bertandang, disongsong aduhan gong

Oleh tangan tak nampak, oleh hati tak berjarak

Di Konawe, jendela-jendela selalu terjaga

Sebab di sini, masih terdengar suara tetangga

Darah dan gembira masih satu rumah

Sesiapa bernafsu ganjil, di leher kerbau, syahwatnya terjagal

Jika luka leleh, dicuci di arus Sungai Konaweeha

Menjelma pohon-pohon abadi di hutan Lambuya

Jika pisau hunus, menjelma air doa-doa

Menjadi ketabahan Yunus di lingkar Kalosara

Dingin api di mulut Pabitara

Tetapi jika aib terburai, kampung ditangisi sembilan sungai

Semua diam, luka jadi mendiang, berdarah dalam penyembelihan

dalam penyaliban Mosehe Wonua

Kawan, engkau tertawan di sungai Nun

Engkau bidik hilir, di lensamu sungai diseberangi Hidir

Kita terpana purnama segi empat, sebuah alamat

Lensamu takluk di isyarat yang tak tampak

Di langit Konawe, negeri serupa alam hikayat

Wahai jika ada yang bertandang

Orang Tolaki molulo, mengekalkan kedatangan

Bergenggaman jari-jari, bersahutan mata kaki

Mata dan tubuh beradu dalam rakaat gerak

Kelenjar syahwat memuih bersama dengusan keringat

Lenguhan gulita memekat, merajam malam yang sekarat

Seumpama bumi andaikan matahari

Merayakan hari Penciptaan

Wahai jika ada yang pergi

Pongasih amsal kepahitan sang kekasih, kebeningannya yang tandas, mengair jadi rasa belati

Direguk, mengabadikan kehilangan

Tapi di tiap pertemuan dan perjamuan

Namamu disebut sebagai Oheo sebagai Anaway

Menjelma Oanggo, lagu abadi dalam darah dalam sejarah Konawe

Di hari penciptaan Konawe, bumi leleh

Oheo kekalkan silsilah cintanya menjadi syair pedih Pabitara

Anaway awetkan perawan dan rajah tubuhnya menjadi bandul Kalosara

Meski tubuh dan darah, memutih memerah, di anyir silsilah, di kesumat sejarah

Agar di Bumi Konawe, sirna burai barah, doa darah, selamanya

Konawe, 24 Juni 2013

Kalosara: Simbol adat Suku Tolaki dalam bentuk lingkaran rotan

Pabitara: Juru bicara dalam pernikahan atau ritual adat lain

Mosehe Wonua: Ritual “mencuci” kampung

Molulo: Tarian khas Suku Tolaki

Oanggo: Sastra lisan Suku Tolaki

Pongasih: Minuman khas Suku Tolaki dari sulingan air beras

DOKUMEN BUTON

Saat kapalmu bertaut di teluk

Engkau disambut kepala naga, agar bagimu jiwa raga

Disafaatkan seribu doa-doa

Didendangkan keajaiban pamali

Mata naga menyala, debur ombak bercahaya

Memahat wajah Butuni, di keremangan istana

Di lembar pustaka, abjad yang linang dalam pusaka

Di Dermaga Murhum kita saling mencari

Nafas menggelantung di jangkar kapal

Riwayat sekelam cincin batu aspal

Kuselusuri jejakmu di aksara Wolio

Kutemukan Arung Palakka pada tahiat meriam

Jejak Belanda dalam silang sengketa, sulang singgasana

Sisa mesiu mengepul, mengepung Hasanuddin

Sebab Makassar dan Ternate amsal laut menggelombang

Dan Buton tak pernah tenang tiada tidur

Dalam patroli panjang labu rope labu wana

Wa Ode

Kuburu engkau di Keraton Wolio, di bukit-bukit batu Baadia

Engkau mematung jadi penghormatan abadi naga di Kamali

Sukmamu disebut Idrus Kaimuddin sebagai Bulan yang Tenang

Kotamu dibangunkan Amirul Tamim

Dirindukan pelaut, lalu kapal-kapal bertolak dan berlabuh

Di bukit Baadia, kata-kata abadi, pesan-pesan terberkati

Digali dari meditasi khusu’ manusia Buton

Biar harta raib asal manusia tiada aib

Walau manusia guyah tetapi negeri terjaga

Biar negeri papa asal pemerintah di titian adil

Tetapi biar pemerintah rubuh asal tegak tiang agama

Tetapi Wa Ode

Di Festival Pulau Makassar, ina-ina yang rumahkan senja di matanya

Tangisi kenangan 1969 dalam lagu kerabat yang hilang

Tepukan dan permainan tangan orang dalam

Di Senayan, aspal meleleh dalam diplomasi batas tapal

Semua semu nan nyata

Dalam getir irisan gambus Kabanti

Kita menggenggam nasib

Menyelusuri pintu belakang kegulitaan istana raja

Penjara Kasim yang murung

Menjelma belasungkawa abadi

Mengoar di gelegak gelombang laut Buton

Baubau, 6 April 2016—28 September 2017

Catatan:

Labu rope labu wana: Ungkapan bahasa Wolio di Buton yang artinya berlabuh haluan (depan), berlabuh buritan (belakang)yang bermakna menjaga serangan Kerajaan Gowa dan Kerajaan Ternate.

– 1969, Buton diklaim sebagai basis PKI oleh militer

– Muh. Kasim adalah Bupati Buton yang meninggal “gantung diri” di penjara tahun 1969 akibat dituduh sebagai PKI. Sebuah tuduhan yang tidak pernah dibuktikan oleh militer saat itu.

LEMBAH MOWEWE, PERAWAN TERSALIB

: Untuk Jenny

Perjalanan itu menderukan gemamu yang ranggas

Serupa raung mesin mengebor rahim Mekongga

Matamu pijar adalah puncak pinus

Memergoki cakrawala

Aku istirah di Lembah Mowewe

Merenungi pertemuan merah

Di dermaga Kolaka

Sambil meradang memandang nanah tanah

Dikeruk baja dan raja

Hidup seumpama perahu menjala

Lalu kalah terdampar di tebing senja.

O, betapa merdeka gelombang

Bergulung lalu berguling

Di dada-dada pantai

Sementara kita membilang butir pasir yang rekat

Di tubuh pendosa.

Kau kenangkah isyarat dan tabiat

Berkobar di deru waktu

Sebagian seumpama lintah

Yang lain haus darah

Lapar daging?

Lembah Mowewe yang gaib, perawan tersalib

Aku memetik bunga Sorume

Menancapkan di rambutmu warna Mekongga

Sebelum aus digerus gerigi

Sebelum raib dirajah para raja

Aku istirah di lembah Mowewe

Di lembah matamu yang meleleh

Mowewe, 13 Agustus 2007

SYAIFUDDIN GANI lahir di kampung Salubulung, Kelurahan Talippuki, Kecamatan Mambi, Kab. Polmas (kini, Kab. Mamasa), Prov. Sulsel (kini, Sulbar), 13 September 1978. Setamat di SMAN 1 Polewali tahun 1997, ia kemudian ke Kendari dan menjadi mahasiswa Universtas Haluoleo (kini, Halu Oleo), Jurusan Pendirikan Bahasa dan Seni, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia & Daerah, FKIP. Sejak tahun 1998, bergabung dengan Teater Sendiri, belajar sastra dan teater di komunitas tersebut di bawah bimbingan Achmad Zain. Bersama Teater Sendiri pentas teater di berbagai kota di Indonesia seperti Kendari, Banjarmasin, Surabaya, Solo, Yogyakarta, dan Jakarta. Tahun 2006 menjadi pegawai Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara. Puisinya tersebar di berbagai media dan buku antologi puisi. Sejak 2014 menjadi peneliti sastra di kantor tersebut. Akhir tahun 2016 mendirikan Pustaka Kabanti di rumahnya bersama Ita Windadari dan Iwan Konawe. Di Pustaka Kabanti kini, menjadi arena menulis bagi setiap anggotanya. Sejak tahun 2014 (akan berakhir 2019) menjadi Ketua Forum TBM Sulaesi Tenggara.

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Facebook Comments
Spread the love

Leave a Comment

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

    Processing files…