Maret 2020, aula sekolah yang tadinya hening tiba-tiba gaduh, ratusan siswa yang dikumpulkan spontan menjerit kegirangan saat Wakil Kesiswaan mengumumkan, “Hari ini kalian pulang ke rumah masing-masing, dan mulai besok kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah.”  Dalam sekejap, mereka berhamburan keluar dan berlari menuju gerbang, menjemput kebebasan, menjemput liburan yang diberi label ‘sampai batas waktu yang tidak ditentukan’. Mereka tak pernah menduga, itu jejak terakhir mereka di sekolah, hari terakhir mereka memakai seragam sekolah, momen terakhir berkumpul dengan guru-guru dan kawan-kawan. Sampai mereka tamat (kelas VI, IX, dan XII) tak pernah lagi kembali belajar, berkumpul, tak ada ujian nasional dan autolulus, tanpa perpisahan, tanpa kenangan. Mereka berlarian gembira tanpa menyadari semua harus dibayar dengan tercerabutnya indahnya masa sekolah yang jadi kenangan manis saat dewasa kelak.

 

Tak hanya mereka, para guru dan stakeholder sekolah pun tak pernah menyangka hari itu adalah hari pertama bencana panjang bernama dampak covid-19 bagi pendidikan. Beberapa kasus kenakalan siswa belum usai diproses, beberapa aksi protes wali murid belum tuntas diselesaikan, beberapa dan rencana proyek infrastruktur sekolah akhirnya batal dilaksanakan. Semua tinggal kenangan, ketika Indonesia resmi mengumumkan kasus covid-19 pertama, 2 Maret 2020.  Lalu kita pun tersadar, ini tidak sebentar, kegelisahan mulai menyebar. Tak hanya anak yang rindu ingin sekolah, orang tua pun kerepotan mengurus anak yang hanya di rumah. Pihak sekolah pun risau karena akhir tahun pelajaran sudah di ambang pintu, bagaimana mereka lulus atau naik kelas nanti?

 

Apa mau dikata, semua berubah drastis dan ini terjadi di luar kehendak manusia. Perubahan-perubahan yang terjadi merambah pada pola-pola perilaku, norma-norma sosial, interaksi sosial, bahkan lapisan dalam masyarakat, baik struktur maupun dinamika masyarakat. Mulai dari gaya hidup, ekonomi, budaya, dan pendidikan. PSBB diberlakukan, semua sekolah, kantor, hotel, dan rumah ibadah ditutup, social distancing diberlakukan, larangan keluar dan bepergian, wajib di rumah saja melakukan semua kegiatan sehari-hari. Kita akhirnya menjalankan segala aktivitas di rumah. Rutinitas yang biasa dilakukan di luar berubah menjadi rutinitas di sosial media, seperti kerja, sekolah, rapat, bahkan konser musik melalui daring (dalam jaringan). Manusia modern saat ini hidup di alam virtual, mereka sibuk melakukan dialektika dengan layar gadget masing-masing. Selamat tinggal alam nyata.

 

Maka dalam keadaan darurat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengambil kebijakan penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar online atau daring. Namun, PJJ rupanya menghadirkan sejumlah permasalahan yang harus dihadapi, baik oleh tenaga pendidik maupun siswa, terutama terkait dengan infrastruktur. Permasalah tersebut antara lain, ketersediaan listrik dan jaringan internet. Selain itu, tidak sedikit keluarga yang tidak memiliki gawai sebagai sarana untuk mengikuti PJJ. Sebagai catatan, ada lebih dari 47.000 satuan pendidikan yang tidak memiliki akses listrik serta internet (dikutip dari Kompas.com).

 

Salah satunya kendala sinyal jaringan yang tidak mendukung jalannya aktivitas daring tersebut. Selain itu, perangkat media yang belum mampu melengkapi kebutuhan aktivitas secara sempurna. Efektifitas dalam bekerja atau belajar dari rumah selama pandemi sangat buruk, ada pula yang mengeluhkan kurang menunjangnya aplikasi-aplikasi daring yang tersedia. Belum lagi jika berbicara masalah ekonomi, belajar daring membutuhkan gawai dan kuota, hal yang tak mudah bagi masyarakat Indonesia yang masih banyak berada di garis kemiskinan.

 

Kendala lain kurangnya kesiapan mental untuk belajar daring yang tak lepas dari teknologi. Sebenarnya pembelajaran daring tentu memberi ruang yang cukup untuk memberdayakan kita untuk suntuk dalam kegiatan membaca dan menulis. Namun kenyataannya, waktu yang berlimpah belumlah bisa dimanfaatkan secara maksimal. Para siswa pun malah lebih asyik bermain ponsel pintar dibandingkan suntuk dalam kegiatan membaca apalagi kegiatan menulis. Di berbagai tempat, warnet dan PS makin dipadati anak-anak sekolah bukan untuk belajar tetapi bermain game online.

 

Hal ini terjadi bisa saja karena bosan dengan pemberian materi dari guru-guru via daring (yang tak pernah lepas dari tugas-tugas padahal mereka belum memahami materi yang disampaikan), dan di lain pihak, orang tua yang diminta kerja sama pun cenderung lepas tangan percaya begitu saja pada anaknya. Ini pun tak bisa disalahkan karena mereka sudah direpotkan dengan tanggung jawab sehari-hari mencari nafkah dan mengurus anak-anak.

 

Tak mengherankan mulai banyak keluhan. Para wali murid berharap sekolah dibuka lagi karena mereka tak sanggup lagi terus-terusan mendampingi anaknya belajar daring. Orang tua yang dulu sibuk menghujat guru pun akhirnya menyadari anaknya memang ‘layak’ dimarahi. Secara tak sadar, orang tua mulai memahami betapa besarnya peranan guru dalam mendidik anak-anak mereka. Kita sama-sama tahu, sebelum datang pandemi begitu banyak berita perundungan guru oleh wali murid, bahkan tak segan-segan mereka memenjarakan guru yang sudah berjasa mendidik anak-anak mereka.

 

Bahkan di tempat saya mengajar juga demikian. Seminggu sebelum pandemi datang, seorang wali murid mengancam akan mempidanakan pihak sekolah karena tidak terima anaknya diskors. Begitu wabah covid-19  menyerang, masalah itu menguap sendiri, hingga suatu malam saya tanpa sengaja bertemu dengannya di sebuah kedai kopi. Wajahnya terlihat amat lelah tetapi bersemangat menyapa. “Apa kabar, Pak? Lama kita tak berjumpa. Lama kita libur seperti ini, Pak? Pusing saya sekarang ini, kedua anak saya kerjanya bermain terus tak pernah belajar. Sejak sekolah libur, mereka makin kurang ajar dan sudah pandai melawan saya.”

 

Dia tidak sendirian. Selama PJJ rata-rata siswa yang ikut belajar daring paling banyak 30% dari jumlah siswa. Meskipun pihak sekolah sudah memberi peringatan hingga pemanggilan ke sekolah, tak pernah ada kemajuan signifikan. Akibatnya ketika semester ganjil berakhir dan rapor dibagikan, banyak orang tua yang kaget melihat hasil belajar anak-anaknya. Mau protes pun tak ada gunanya karena pihak sekolah punya data dan aplikasi lengkap mulai dari kehadiran dan keaktifan siswa.

 

Kesimpulannya simpel saja, PJJ gagal. Para siswa belum siap dan belum mampu belajar daring. Demikian juga halnya orang tua dan guru pun tidak semua siap mengikuti perubahan mendadak ini. Di lain pihak, pemerintah pun terkesan kurang tanggap memberikan solusi kepada pendidik untuk menyikapi realita. Memang ada sosialisasi, tapi tak pernah memberi solusi yang baik karena pemangku kebijakan masih berpedoman pada sampel masyarakat yang berekonomi menengah ke atas. Menganggap setiap orang punya gawai canggih dan mampu membeli kuota internet padahal masyarakat masih antre bansos, raskin, dan terbelit kemiskinan yang makin masif sejak pandemi.

 

Yang menyedihkan, nampaknya negara kita masih belum selesai bermain dengan pandemi. Sembilan bulan setelah pengumuman kasus pertama itu, kasus-kasus baru infeksi virus corona tak pernah berhenti dan kian meningkat hingga kini. Belum ada tanda-tanda bahwa penularan bisa dikendalikan, trennya bahkan masih mengalami kenaikan. Berdasarkan data dari covid19.go.id hingga Rabu (2/12/2020), jumlah kasus Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 549.508 orang. Dalam periode waktu yang sama, korban meninggal dunia akibat Covid-19 juga masih terus bertambah mencapai 17.199 orang. Selain itu masih ada 73.429 orang yang berstatus kasus aktif covid-19 di Indonesia. Mereka adalah pasien yang masih menjalani perawatan atau isolasi mandiri.

 

Jadi, bagaimana? Agaknya pemerintah menyadari PJJ memang gagal. Sudah ada kebijakan baru bahwa di awal semester genap akan kembali diperlakukan belajar tatap muka yang sesuai dengan protokol kesehatan. Kebijakan yang disambut lega semua pihak, seolah menyatakan bahwa pandemi yang begitu lama benar-benar memberikan pelajaran berharga akan peranan guru dalam mendidik anak-anak mereka. Peran yang tak tergantikan oleh gawai dan tenologi secanggih apa pun, sampai kapan pun.(*)

 

 

Penulis adalah guru SMPN 2 Bangkinang Kota, Kampar Riau, anggota Ikatan Guru Indonesia, dan pengurus Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Riau