Malam Sakura
113 Halaman
Alex Runggeary
Indie Book Corner
Terbit 2018

“Bila kau ingin jadi terbaik dalam satu bidang, jangan pernah surutkan niatmu. Hadapi semua tantangan yang diberikannya. – Kita ini adalah apa yang dilakukan berulang kali. Karena itu, keunggulan bukanlah sebuah tindakan melainkan sebuah kebiasaan.”

Alex Runggeary, sesama teman-teman anggota de Takas memanggilnya dengan nama Pak Let. Pak Let adalah sematan bagi dirinya, mempunyai ceritanya sendiri yang bisa kau ketahui dengan membaca buku ini. De takas, komunitasnya di kampus Universitas Cenderawasih, yang artinya adalah takaruang atau tak becus.

Sebuah komunitas yang bersifat terbuka bisa menerima anggota dari fakultas mana saja, suku, agama dan semua angkatan. Syarat masukannya yang longgar, juga tak ada pengurus secara resmi tidak berarti membuat kelompok ini pasif. Komunitas ini menciptakan legendanya sendiri, salah satunya melalui menggerakkan dan menumbuhkan “Malam Sakura”.

Malam Sakura sendiri adalah sebuah malam dansa dansi, malam muda-mudi yang berlangsung tepat di saat purnama indah memesona, di kala bunga-bunga sedang bermekaran. Bunga yang orang-orang pada saat itu menamakannya bunga sakura. Malam Sakura begitu membekas bagi diri banyak orang, termasuk pada pengantar kita dapat menemukan testimoni dari salah seorang peserta yang dulu pernah hadir dan ia mengingat memori puluhan tahun lalu tersebut. “Pada pesta dansa kali ini ,saya bertemu dan berkenalan dengan seorang kakak ganteng berkumis tipis dari Uncen…, ia telah merebut hatiku.”

Ini adalah memoar dari Pak Alex Runggeary, sebuah memoar itu semacam undangan bagi kita untuk mengenal hal privat dan dibagikan oleh sang penulis dan dari tulisan ini kita menjadi lebih mengerti tentang penulisnya, di mana ia bisa dibilang salah satu penulis yang produktif di Papua saat ini, karena jika tak salah hitung, telah menulis beberapa buku antara lain: Menyingkap takbir, Teknik Menyusun Rencana Strategis, Memutus Siklus, The Darkened Valley, Burung Muray, Berpapasan dengan Kematian, Penulis Pinggiran. Dan Malam Sakura adalah buku kelima yang ditulisnya.

Rangkaian kisah sedih, menggetarkan juga jenaka pada masa muda Alex Runggeary, ia mengajak kita berkenalan lebih dalam dengan dirinya. Pada beberapa bagian ceritanya, saya merasa terhubung dengan ceritanya, karena, rasanya ada ceritanya yang seolah saya juga mengalaminya, termasuk perasaan minder yang begitu hebat menghantam diri ini.

Ada banyak kelucuan dan kecerdasan untuk menyiasatinya, seperti yang dikisahkan sang penulis dalam cerita tentang kaleng susu ini ”sebelum susu dalam kaleng habis tuntas tertuang ke dalam belanga, kau harus pintar berpura-pura menggoyang kaleng itu, pertanda sudah kosong. Walau masih banyak susunya yang lengket dan menempel di tepian kaleng. Kau harus melatih diri untuk memiliki keterampilan ini. Berpura-pura di depan puluhan pasang mata yang sedang menatap kaleng yang sama. Kau harus membiasakan diri tentang dalam suasana tegang ini. Melatih saraf baja.”

Sebagai pengingat, penulis mengajak kita untuk mau terus mencoba, baik ketika ia menceritakan kisahnya tentang bagaimana perannya memainkan drum, di mana ia merasa “Aku kadang melakukan kesalahan mengikuti irama secara tepat. “Belum pas ketukannya.” Apapun kemahiran atau hobi yang kau miliki, jangan segan untuk mencobanya. Meskipun awalnya salah, lama-kelamaan kau juga bisa.”

Atau juga pesannya tentang perjuangan untuk menyelesaikan skripsi yang rasanya begitu sulit dan rumit. Bukan karena proses atau penguasaan materi mata kuliah, melainkan disiplin diri. Dalam lingkungan yang tak membangun disiplin, kita harus berjuang sendiri untuk survive. Dan itu artinya, demi masa depan, jangan sampai kita drop out. Hidup ini seperti permainan kartu, kita harus punya kartu yang kuat untuk dimainkan. Karena semangat dan doa saja tidaklah cukup. Kita harus pula melengkapi diri dengan pengetahuan yang luas. Dan tentu, disiplin yang tinggi sebagai dasarnya.

Tak kalah menggugah adalah sebuah kesadaran pada penulis, ketika ia menceritakan pengalamannya tes beasiswa ke Filipina, di mana pada waktu itu tidak ada satupun dari peserta yang dari Papua lulus. Kemudian pada dua tahun berikutnya, mereka diberikan kesempatan entrance test sekali lagi. Dari lima kandidat, yang berangkat ke Jakarta untuk tes dengan puluhan atau mungkin ratusan peserta lainnya dari seluruh Indonesia hanya dua di antara mereka yang dari Papua yang lulus, sehingga bersama alm. Louis Kambuaya, berenam dari Indonesia yang bersekolah di Asian Institute of Management-Manila.

Sebagai instropeksi pernah tak lulus, ia mengatakan ”orang minta diproteksi agar memiliki privilege atau perlakukan khusus walaupun nilai tes tidak memenuhi syarat. Katrol nilai pada kompetisi begini itu ibarat bunuh diri sendiri. Percaya atau tidak, yang seperti ini akan hangus sendiri sebelum api dinyalakan. Kompetisi akan menjamin kualitas hasil yang diinginkan. Kalau terus berlindung dengan kriteria agar diproteksi, maka kita menempatkan diri di bawah tempurung, takut bersaing. Sampai kapanpun kita tidak akan ke mana-mana.”

Tentu saja, begitu banyak pemikiran penulis dari buku ini yang menyentak kesadaran saya, hingga saya merasa perlu menuliskan semacam resensi sederhana dari buku ini, yang berkisah tentang seorang remaja yang menyandang hampir semua aspek yang sama sekali tak menjanjikan. Rasa rendah diri akut, badan kerempeng, pemuda yang mudah gugup, dan miskin pastinya. Penyakit jiwa dan fisik ini menghadangnya untuk bisa bergaul luas di kalangan muda – mudi. Ia harus bangkit mencari identitas diri, mendapatkan pengakuan dan berjuang mati-matian melawan diri sendiri.

Tetapi, hanya diri sendiri yang mengalami sendiri situasi menantang inilah, yang mampu mengatasinya. Menjadi diri sendiri adalah tonggak utama dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan ketidakpastian, dan Alex Runggeary menceritakan sepenggal kisah hidupnya yang layak kita pelajari. Selamat membaca.