Oleh Supardi Kafha

 

“Aku lihat di facebook, Mbak Tias lagi isolasi mandiri ya?” tanya Dwi Yanuarti.

“Iya, ini hari ke …” jawab Tias Tatanka sembari mengingat dan menghitung hari. “Berapa ya, dari mulai tanggal 8, sudah 17 atau 18 hari mungkin ya!”

Ya, dua generasi literat beda zaman bertemu dalam jamuan Aku, Buku, dan TBM episode #9. Tias Tatanka menjadi tamu siang itu, Jumat 26 Maret 2021. Dwi Yanuarti, dari Pengurus Pusat Forum TBM, host ciamik menggali lebih dalam curahan hati istri Gol A Gong itu.

Tias Tatanka memang besar dari keluarga pembelajar di Solo. Ayahnya seorang wartawan, dan ibunya seorang aktivis. Tias kecil bertumbuh dalam asupan keluarga yang gemar baca. Buku apa saja telah dilahapnya, dan akhirnya ia menemu Liano Estacado, kisah perjalanan karya Karl Friedrich May. Kisah yang sedemikian mempengaruhi perjalanan hidupnya. Ia jadi menggemari segala yang serba petualangan.

Termasuk hari-hari ini, ia tetap berjibaku untuk Rumah Dunia, sebuah wahana belajar yang ia bentuk bersama sang suami. Meski kini, Rumah Dunia, dan siapa saja serta di mana pun saja, lagi terdera pandemi corona, Tias tetap mengurus banyak hal. Mulai dari antologi cerpen Kelas Menulis Gol A Gong, bikin craft, bikin strap masker, dan menyusun buku solo.

“Tapi memang, Covid-19 ini bikin tenaga saya menyusut drastis. Tidak bisa full.” tutur Tias. “Walau begitu, saya tetap mencoba sibuk. Kalau tidak, ya, yang diingat sakit terus. Merana jadinya.”

Benar, pandemi saat ini telah “memaksa” Rumah Dunia tidak bebas lagi mengumpulkan anak-anak. Rumah Dunia, dan semua saja, untuk melakukan “re-kalibrasi”, mengatur ulang cara hidup secara drastis. Rumah Dunia lebih banyak bergerak melalui online. “Namun, bagaimanapun kegiatan literasi tetap harus bergerak!” tandas Tias.

Bagi Tias, ide-ide kreatif itu tidak boleh mandek. Mandek sama dengan menganggur, tidak beraktivitas. Karena, ide kreatif itu sebetulnya terbit dari diri sendiri, justru saat dikelilingi oleh keterbatasan-keterbatasan. Sehingga, keadaan “merana” tidak semestinya memutus rantai kreativitas. Pandemi tidak lantas mengganggu ritme berliterasi.

Dan, Tias membuktikannya. Ia tidak lantas memelihara hati dan pikiran terus merana, meski terpapar Covid-19. Ia tetap memantau perkembangan relawan-relawan Rumah Dunia via online. Ya, relawan-relawan yang datang dari pelbagai penjuru, usai mengikuti kelas menulis Rumah Dunia. Relawan-relawan yang ditempa untuk terus mendidik diri menjadi manusia literat. Relawan-relawan yang bisa belajar menulis secara gratis, bisa praktik menjadi wartawan, belajar mengelola acara, dan seterusnya.

Rumah Dunia, semenjak tahun 2000 berada di belakang rumahnya, mengambil core menulis. “Ya, bisanya kami (ia dan suami) itu kan menulis, maka genre Rumah Dunia seputar tulis-menulis. Rangkaian menulis itu ada membaca, mendengar, dan berdiskusi.”

Namun demikian, terutama penting buat para relawan, Rumah Dunia tetap menyisipkan jadwal untuk keterampilan tangan. Kegiatan di luar menulis yang bernilai ekonomi.  Hal itu juga berfungsi untuk memupuk atmosfer kreatif di lingkungan Rumah Dunia. Membikin sesuatu dari bahan yang ada, dan tak harus mahal.

Tias merumuskan, seyogianya pegiat TBM itu bisa mencipta lingkungan yang mendorong siapa pun untuk melakukan tiga hal sekaligus, yakni apa yang disukai, apa yang menjadi passion-nya (klik), dan yang bernilai ekonomi.

Maka, dan apa boleh buat, kini kita mengenal Rumah Dunia sebagai trademark literasi, brand TBM. Rumah Dunia telah mencontohkan betapa TBM mesti bisa melibatkan masyarakat di setiap event-nya. Rumah Dunia adalah atmosfer kreatif. Sehingga, masyarakat sekitar Serang benar-benar merasakan kehadiran Rumah Dunia, kehadiran Tias Tatanka, terlebih keberadaan Gol A Gong.