, ,

Anak Marah-marah? Redakan dengan Membacakan Buku


Father reading a story to his little sons - family time together
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
dibaca normal: 4 menit

Saya awalnya tidak percaya, jika membacakan buku ke anak yang sedang marah-marah dapat meredakan marahnya, bahkan membuat anak takluk, tidak menangis, kemudian duduk manis, dan mendengarkan suara-suara merdu orang tua yang membacakan buku.

Tapi, siang itu Istriku bercerita, “Ayah harus tahu, sudah beberapa kali Nera (6 tahun) dan Zaka (4 tahun) sering marah-menangis karena kecapekan. Jika sudah demikian, keduanya mengamuk, saya hanya bisa bingung. Dalam bingung saya mengambil buku. Saya bacakan buku. Awalnya suara saya kalah dengan suara tangisnya. Tapi, entahlah, pelan-pelan, saat lembar-lembar buku dibaca, suara tangisan mereda. Kemudian anak tersungkur mendengarkan buku yang saya bacakan, sebelum kemudian tertidur lelap!”

Saya pun menyaksikan sendiri kejadian itu. Waktu itu Nera kelelahan. Saat diledekin Kakaknya, maka terjadilah pertengkaran. Nera menangis dan langsung marah-marah. Istri saya menjadi korbannya. Istri saya berusaha menenangkan dengan berbagai cara, tetapi tidak mempan. Nera terus meronta. Terus menangis.

Kemudian Istri saya mengambil buku. Membacakan buku, Nera terus saja menangis. Suara membacakan buku kalah dengan tangisan, tetapi beberapa saat kemudian, Nera mereda tangisnya. Perhatiannya mulai tertuju pada gambar dalam buku. Kedua telinganya pun mendengarkan suara Ibunya yang terus meluncurkan kata-kata. Dan Nera benar-benar berhenti menangisnya, kemudian menyimak dengan baik suara Ibunya yang membacakan buku. Sampai cerita selesai dan minta lagi, Istri saya pun kembali membacakan buku lagi. Sampai kemudian Nera tertidur.

Pertanyaannya, kenapa membacakan buku dapat meredakan kemarahan anak? Saya pun memikirkan jawaban ini berhari-hari, mencoba mengkaji dengan kemampuan yang saya miliki, dan saya menemukan berbagai argumen yang tidak ilmiah, tetapi siapa tahu bermanfaat bagi kita.

Pertama, sudah menjadi takdir manusia sebagai “mahluk yang membaca”. Kita adalah mahluk yang takdirnya membaca. Ini dipertegas dalam Islam yang menyatakan bahwa manusia adalah mahluk yang berpikir. Dengan ciri khasnya berpikir, maka membaca harus menjadi menu utama manusia. Di sinilah, Tuhan dalam al-Qur’an ayat yang diturunkan pertama kalinya adalah memerintahkan kita untuk membaca (iqro). Membacalah yang membuat kesempurnaan pikiran kita, jadi membaca adalah fitrah suci kita.

Sebagai fitrah suci, tugas untuk membaca begitu berat karena Iblis dan jajarannya tidak setuju jika manusia sempurna. Iblis melalui berbagai sistem jalan sesatnya akan membuat kita bodoh dengan tidak boleh membaca. Iblis membuat sistem mekanisme malas dalam diri kita; membuat mekanisme persepsi sesat bahwa membaca tidak penting dan membuang waktu, bahkan tidak bisa menghasilkan uang; sampai membuat mekanisme kenyataan bahwa kesibukan akut membuat kita tidak mau membaca.

Jadi, saat anak-anak sedang marah kemudian orang tua membacakan buku, maka anak-anak menerimanya dengan baik, sebab dalam diri anak ada fitrah suci untuk menerima suara-suara yang bersumber dari bacaan. Suara-suara yang membuat anak-anak takjub dengan berbagai bahasa yang diikat intonasi yang menarik, suara-suara yang mengembangkan imajinasi anak, sampai suara-suara yang membuat anak-anak mendapatkan banyak ilmu pengetahuan.

Montessori (1982) menjelaskan bahwa tidak ada suara yang lebih memukau anak-anak kecuali suara yang keluar dari mulut manusia. Apalagi suara itu indah berintonasi menarik, dengan banyak imajinasi dan pengetahuan di dalamnya, pasti membuat anak-anak terpukau dan sangat menyukai suara orang tua yang membacakan buku.

Kedua, membacakan buku itu bahasa kasih sayang yang hangat. Dengan fitrah membaca, anak-anak memahami bahwa tak ada bahasa kasih sayang paling mulia selain yang diungkapkan dengan membacakan buku. Sebab saat kita membacakan buku, maka ada dua komunikasi penting antara anak dengan orang tua, yaitu komunikasi kasih sayang dan intelektualitas. Kasih sayang karena akan selalu merindukan momen orang tuanya memeluk erat, pelukan yang mendamaikan perasaan anak. Namun, dalam pelukan itu orang tua melakukan pemenuhan kebutuhan berpikir anak, yang dapat dilakukan melalui membacakan buku.

Istri saya mengatakan, pada awalnya anak meronta. Suara saya kalah dengan tangisannya, tetapi lama-lama luruh. Perasaaanya hanyut dalam setiap kata yang saya bacaan dengan penuh kasih sayang, dan pikirannya mengembara dalam setiap kata yang membawanya berimajinasi melalui gambar dan kata dalam buku yang saya bacakan. Sempurna bahwa membacakan buku adalah bentuk kasih sayang yang dibutuhkan anak.

Ketiga, memenuhi kebutuhan imajinasi paling dasar anak. Salah satu kekuatan anak-anak yang pada mulanya adalah berpikir dari nol adalah persepsi imajinasinya. Tumbuhnya pengetahuan anak berawal dari segala suara yang didengar. Dan suara yang paling menakjubkan bagi anak adalah suara yang bersumber dari alat ucap manusia. Suara yang ditangkap pada mulanya tanpa persepsi.

Tapi, saat anak kemudian bisa menggunakan indra penglihatannya, dunianya terbuka luas. Anak mulai tahu bahwa suara yang didengar dan disimpan dalam pikirannya ternyata bukan suara kosong tanpa makna, tetapi suara yang memiliki kaitan dengan dunia. Di situ anak-anak memahami segala suara dari alat ucap manusia itu membentuk dunia. Dua kekuatan: suara dan melihat dunia membuat anak-anak mempersepsi diri dengan imajinasinya. Dari sinilah imajinasi literal anak dibentuk.

Anak-anak sangat menyukai ini. Anak yang sejak dini imajinasi literalnya dibentuk, akan menjadi anak memiliki daya imajinasi bagus. Dan membacakan buku menjadi kebutuhan wajib untuk anak dalam memuaskan kebutuhan imajinasi literal. Saat kita membacakan buku dengan suara menarik, “Di hutan yang lebat, saat hujan turun lebat, sekor kelinci sedang kedinginan.” Maka imajinasi anak mengembara menggambarkan kejadian itu dalam benaknya yang tanpa batas.

Saya pun menyaksikan, anak-anak saya yang sejak kecil dibacakan buku, tumbuh menjadi anak-anak dengan imajinasi yang kaya karena kebutuhannya sudah saya penuhi. Dalam tumbuh kembangnya anak-anak saya terbiasa dengan bermain menggunakan imajinasinya. Bermain sendiri dengan tokoh benda apapun kemudiang mengembangkannya dalam cerita yang dibuat sendiri. Dan anak-anak ini tumbuh dalam kreativitas tinggi dan kecerdasan yang baik. Maka membacakan buku menjadi kebutuhan wajibnya.

Dengan tiga dasar ini, saya membayangkan, sesungguhnya jika sejak usia dini anak-anak bisa menyampaikan keinginannya, maka saat anak melihat buku, anak-anak kita akan berkata, “Ayah, Ibu! Bacakan buku itu buatku!”. Tapi, karena tak memiliki kemampuan itu, anak hanya diam. Padahal jika kita cermat mengamati, anak-anak kecil selalu tertarik dengan buku, saat menemukan buku, anak kecil selalu membolak-balik buku dan menyobeknya. Ini pertanda anak ingin dibacakan buku.

Andai anak bisa berkata, barangkali anak akan mengatakan, “Yang membuat saya tidak suka membaca itu karena orang tua saya! Sampai saya juga tidak boleh memegang buku yang memukau miliknya. Apalagi berharap orang tua mau membacakan buku untuk saya!” Padahal dengan membacakan buku bisa meredakan kemarahanku.[]

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Facebook Comments
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 2

Upvotes: 1

Upvotes percentage: 50.000000%

Downvotes: 1

Downvotes percentage: 50.000000%

Tinggalkan Balasan