Aris

@arismunandae

aktif 2 hari, 1 jam lalu

Diskusi Film SAHABAT PEMBERANI di Kelas Integritas

  Menarik mencermati diskusi film Sahabat Pemberani di Kelas Integritas minggu ini, baik itu yang reguler maupun yang digital. Seperti telah ditulis sebelumnya (baca : Sahabat Pemberani, Pembelajaran Kelas Integritas), jika film sahabat pemberani dijadikan bahan utama pembelajaran di Kelas Integritas. Strategi pembelajaran yang diterapkan adalah analisis cerita dengan mengacu kepada unsur-unsur cerita. Hal itu dimaksudkan untuk mengeksplorasi kecerdasan majemuk para siswa, terutama aspek lingustik, logis matematis, visual spasial, interpersonal, dan intrapersonal. Untuk itu, kegiatan utamanya terjadi pada sesi diskusi. Tanggapan-tanggapan menggelitik dari para siswa cukup menggembirakan kami. Diantara tanggapan-tanggapan tersebut diantaranya adalah mengenai karakter yang ada di film tersebut, yaitu : Panji, Kirana dan Khrisna. Salah seorang siswa yang memang sangat menggilai anime berpendapat jika ada kesamaan antara ciri fisik dari para tokoh Sahabat Pemberani dengan anime-anime yang pernah dia tonton. Dia mencontohkan jika karakter tokoh Khrisna yang digambarkan gemuk dan berkacamata identik dengan  karakter penakut, kurang bisa diandalkan, manja dan suka membuat susah orang lain. Hal tersebut juga mirip dengan tokoh Ehsan pada kartun Ipin dan Upin. Kemudian dia membandingkan karakter fisik seperti Khrisna dengan pengalamannya dikehidupan sehari-hari. Menurut dia, dalam pergaulannya, sering menemukan karakter fisik seperti itu justeru memiliki karakter yang bertolak belakang. Bahkan beberapa diantaranya merupakan pemimpin suatu komunitas. Tanggapan lainnya mengenai alur cerita atau plot. Seorang siswa menanggapi jika plot film ini sangat tipikal sekali. Misalnya ketika adegan awal, yaitu saat adegan pak guru dan pak sopir sedang berbincang-bincang. Dalam adegan itu, pak sopir berkata bahwa ada isu tentang hutan yang sedang lewati tersebut. Tetapi pembicaraan tersebut sempat terpotong karena tiba-tiba ada rusa yang menghadang. Siswa tersebut dibuat menjadi gregetan. Tanggapan-tanggapan tersebut kami sengaja dorong untuk bisa lebih dieksplorasi. Melalui diskusi ini kami menginginkan supaya mereka mendapat tantangan untuk selalu memperbaharui asumsi-asumsi mereka. Karena seperangkat asumsi-asumsi akan membentuk suatu mindset. Mindset yang terus tumbuhlah yang dibutuhkan generasi ini dalam menghadapi tantangannya. Diskusi inilah menjadi sarana mereka dalam melatih muscle memory. Kami sedang mengembangkan suatu konsep pembelajaran yang menempatkan para siswa bukan hanya sebagai penampung pengetahuan, tetapi menempatkan mereka sebagai subjek dari kegiatan pembelajaran itu sendiri. Risikonya, para siswa harus dilatih untuk belajar bagaimana menggunakan pengetahuannya tersebut. Melalui diskusi pula, para siswa dapat melatih kemampuan mereka dalam mengelola informasi dengan cepat dan tepat. Dalam melatih keterampilan berpikir tersebut harus disesuaikan dengan kecerdasan majemuk paling dominan yang mereka miliki (multiple intelligentcies approach). Dengan demikian setiap siswa dibiasakan berorientasi pada pemecahan masalah (problem solving). Hal inilah yang menjadi tujuan kita berliterasi. Disisi yang lain, kegiatan diskusi dimaksudkan supaya pengetahuan yang diterima oleh para siswa dapat dicerna dengan pemahaman yang lebih mendalam. Kedalaman pemahaman merupakan modal dasar bagi seseorang untuk mendapatkan keterampilan pemecahan masalah, kreatifitas, berpikir kritis dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan yang seringkali kita abaikan, karena terlalu fokus pada masalah kognitif. Kegiatan ke-1 ini sebenarnya untuk memberikan dasar-dasar pemahaman untuk kegiatan selanjutnya. Nantinya, pada kegiatan ke-2, akan dijelaskan apa sebenarnya yang mereka pelajari. Yaitu mereka sedang mempraktekan salah satu keterampilan berbahasa yang banyak diabaikan oleh orang lain, yakni menyimak. Menyimak adalah suatu proses mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna (Tarigan, 1987). Menyimak memiliki peran, antara lain : sebagai dasar belajar bahasa, penunjang keterampilan berbahasa lainnya (berbicara, membaca, dan menulis), memperlancar komunikasi dan menambah pengetahuan. Ketika menyimak, setidaknya kita menggunakan 3 (tiga) keterampilan, yaitu memahami, menganalisis dan mensintesis. Dalam memahami kita dituntut untuk mampu mengidentifikasi bunyi-bunyi dan menghubungkan kata-kata. Saat menganalisis kita diharuskan mengidentifikasi aspek-aspek gramatika dan aspek-aspek pragmatik. Terakhir, ketika mensintesis kita harus berupaya memadukan unsur-unsur lingusitik dengan unsur-unsur lain yang diperlukan dengan cara memanfaatkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Melalui proses menyimak kita dibiasakan untuk berpikir progresif dengan terus mengembangkan asumsi-asumsi yang telah ada (growth mindset). Lebih jauhnya, kita dapat terus mengelaborasi nilai-nilai luhur kehidupan yang telah kita miliki. Sehingga pilihan problem solving yang kita miliki ada nilai-nilai yang selalu diperbaharui sehingga senantiasa relevan. Bukan pilihan balik kanan mengulangi masa lalu. Banyak hal yang sering kita lalaikan. Untuk itu, melalui kelas integritas yang sejatinya merupakan kelas literasi fungsional, kita diarahkan untuk dapat bertransformasi menjadi manusia pembelajar, long life education. Sehingga untuk dapat mempertahankan dan mengembangkan potensi-potensi kreatifitas yang sudah dimiliki semenjak lahir, kita harus menerapkan life long play. Perubahan bukan lagi suatu momok yang menakutkan, tetapi harus sudah menjadi tantangan yang menyenangkan. Aris Munandar. Pegiat di Komunitas Matahari Pagi. Tulisan ini pertama kali dimuat di www.mataharipagi.tk.


API UNGGUN yang Terus Menyala

  “Kudu lawung pada lawung, sajajaran pancakaki, gumelar lebah alamna, maju teuing mundur teuing, matak sarosopan rasa, pinggan diéntép jeung piring”. H. Hasan Mustapa Acara Kopdar Pegiat TBM se-Jawa Barat yang diselenggarakan di Sanggar Pramuka IKOPIN Jatinangor dari mulai tanggal 26 sampai dengan 27 Desember 2017 memang dapat dimaknai dengan banyak cara. Kegiatan dengan tajuk “Dari kita, oleh kita, untuk kemajuan literasi Jabar tercinta” ini menghasilkan 8 (delapan) poin rekomendasi sebagai amanat untuk ditindaklanjuti. Acara Kopdar tersebut memang telah lama berlalu. Sebagai suatu kegiatan, sudah tidak update lagi menuliskannya. Namun, sebagai suatu momentum, acara ini memiliki amanat sebagai sejenis semangat yang selalu membuatnya relevan. Relevansi tersebut ibaratnya energi yang selalu terbarukan dan memperbaharui diri. Dan itu menjadi alasan utama kami menuliskannya sekarang, yaitu untuk membuktikannya. Bukankah pembuktian (fakta) merupakan kekuatan bagi kata-kata?. Bagi saya dan Komunitas Matahari Pagi ini seolah kami, untuk kedua kalinya, merayakan tahun baru 2018 lebih awal. Setelah pelatihan program Tali Integritas yang mendorong kami untuk memulai tahun 2018 lebih cepat. Pada kegiatan tersebut pula kami mengetahui Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) lebih mendalam. Pada kesempatan tersebut juga, saya mengenal kawan-kawan pengurus dan pegiat FTBM Jawa Barat. Sepertihalnya reaksi berantai dari aksi literasi. Salah satunya adalah kegiatan Kopdar di Jatinangor ini. Acara yang kami pandang semarak dengan antusiasme dan kebersamaan, sehingga merupakan energi positif untuk mengarungi tahun yang baru dengan semangat. Karena pada tahun 2018 banyak hal yang harus ditindaklanjuti. Salah satu amanat Kopdar yang harus ditindaklanjuti adalah mengaktifkan dan membentuk FTBM kabupaten dan kota. Hal tersebut kami tindaklanjuti dengan melakukan, setidaknya, 3 (tiga) kali pertemuan yang bertempat di Taman Baca Gentong Pasir (Macatongsir), Rumah Baca Garda Persada dan Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Sukabumi. Pada pertemuan pertama di Macatongsir dihasilkan beberapa point yang disepakati, yaitu : (1) dipandang perlu untuk segera membentuk FTBM Kabupaten dan Kota Sukabumi; (2) melakukan pendataan TBM-TBM di Kabupaten dan Kota Sukabumi yang dikoordinir Roni Fardiansyah; (3) menetapkan tenggat waktu pendataan sampai dengan akhir bulan Januari 2018; (4) menginisiasi terbentuknya TBM-TBM baru; (5) mencari solusi akan kebutuhan, keragaman dan kebaruan bahan pustaka bagi TBM-TBM; (6) mendukung pelaksanaan Program Tali Integritas; (7) memandang gerakan literasi ini dalam cakrawala Sukabumi Raya (gerakan sinergis dan terpadu yang mencakup Kabupaten dan Kota Sukabumi). Pertemuan kedua bertempat di Rumah Baca Garda Persada, bersamaan dengan launching program Garda Persada 2018. Hasil dari pertemuan ini, meliputi : (1) memperkuat point-point yang disepakati pada pertemuan pertama di Macatongsir; (2) pencanangan Rumah Baca Garda Persada sebagai bagian dari Jejaring Integritas (perlu diketahui jika Jejaring Integritas adalah salah satu implementasi dari Program Tali Integritas yang dilaksanakan oleh Komunitas Matahari Pagi); (3) penjadwalan pertemuan ketiga yang bertempat di Perpusda Kabupaten Sukabumi. Perpusda Kabupaten Sukabumi menjadi tempat pertemuan ketiga. Pada pertemuan ini diberikan beberapa catatan pada kesepatan-kesepakatan sebelumnya supaya lebih kongkrit lagi, yaitu : (1) melakukan kunjungan ke TBM-TBM yang kegiatannya telah eksis dengan tujuan merangkul dan memberikan penjelasan secara langsung mengenai maksud dan tujuan pembentukan FTBM di Kabupaten dan Kota Sukabumi; (2) kunjungan tersebut dalam rangka memaksimalkan proses pendataan TBM-TBM; (3) diusulkan delegasi dalam kunjungan tersebut, yaitu Roni Fardiansyah selaku koordinator panitia pembentukan FTBM Kota dan Kabupaten Sukabumi dan Fajar Sumantri selaku pegiat literasi senior; (4) koordinasi kepada TBM-TBM yang berada dibawah PKBM, sehingga dapat memperkaya keragaman kegiatan literasi di Sukabumi Raya, yang akan dilakukan oleh Ade Saprudin; (5) mengamanatkan FTBM Kabupaten dan Kota Sukabumi harus sudah terbentuk pada bulan Februari 2018; (6) melakukan pendekatan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi yang akan dilakukan oleh Ade Saprudin; (7) Perpusda Kabupaten Sukabumi yang diwakili oleh Dedi Mulyadi dan Nani Nafisah bersedia memfasilitasi dan mendukung penuh terhadap terlaksananya seluruh niatan ini demi bergeliatnya gerakan literasi di Sukabumi Raya. Dari rangkaian pertemuan tersebut, satu hal utama yang dapat kami pelajari, yaitu silaturahmi yang baik akan membawa kepada kebaikan-kebaikan yang lain. Untaian kebaikan tersebut adalah niat yang tulus dan semangat yang tetap terjaga, sepertihalnya api unggun yang terus menyala. Api unggun abadi yang menghadirkan kehangatan dan penerangan tersebut dinyalakan oleh energi yang terus terbarukan dan memperbaharui diri, seperti yang telah disebut sebelumnya. Sepertihalnya menulis, sebagai salah satu rukun literasi, merupakan suatu proses penalaran logika. Begitu juga kegiatan-kegiatan ini, yang kami lakukan bersama-sama dengan para pegiat literasi Sukabumi Raya, adalah suatu proses penalaran sosial. Aris Munandar. Pegiat di Komunitas Matahari Pagi. Tulisan ini pertama kali dimuat di www.mataharipagi.tk.


Berliterasi Bersama KAK UPI

  Judul                     : Antri Bersama Kak Riri Penulis                 : Palupi Mutiasih Penerbit              : Asas Upi, 2017 ISBN                      : 478-602-6675-02-6 Sinopsis                : “Rino bersiap pergi jalan-jalan bersama kak Riri. Ia ingin sekali melihat pertunjukan  lenong Betawi. Ia pergi dengan gembira. Namun sesampainya disana antrian sudah mengular. Rino tak sabar. Panjangnya antrian membuat Rino belajar. Rino belajar mengantri bersama kak Riri”. Membaca buku ini, saya tergoda untuk memahami lebih dalam mengenai isi yang tersirat didalamnya. Saya tidak bisa menahan diri untuk memperlakukan buku ini lebih dari sekedar buku bacaan untuk anak-anak. Setidaknya ada 2 (dua) hal yang melatar-belakangi hal ini. Pertama, adanya pesan mengenai pembentukan karakter dan pengenalan budaya daerah dalam buku ini dan keduanya masih merupakan tema besar bagi bangsa Indonesia. Kedua, faktor keberadaan penulisnya yang melahirkan karya ini. Persoalan manusia saat ini bukan lagi sekedar menjaga eksistensinya, tetapi juga harus mampu memberikan nilai agar keberadaannya tersebut selalu relevan dengan kebutuhan zaman. Dimasa depan, Jacob Oetama meramalkan dengan terjadinya revolusi teknologi informasi, maka tantangan utama yang akan dihadapi berupa gaya hidup, pola hidup dan intinya berupa pertaraungan pandangan hidup. Oleh sebab itu, rilis The World Economic Forum berupa Human Capital Report dengan sub-judul : “Preparing People for the Future of Work”, menjadi bahan diskusi dibanyak kalangan. Literasi diyakini mampu memberdayakan masyarakat dalam menghadapi tantangan zaman tersebut. Geliat gerakan literasi yang terasa semakin menguat belakangan ini diharapkan membawa banyak perubahan-perubahan. Jika membaca, menurut Jacob Oetama, berarti mengambil jarak, bersikap aktif dan kritis, berpikir dan bergulat. Maka kemampuan seseorang untuk bisa mengkonversikan pandangan yang demikian kompleks menjadi sesuatu yang sederhana dan mudah dipahami akan menjadi faktor penentu keberhasilan seseorang. Salah satu contoh kongkrit misalnya bagaimana sebuah buku dengan isi yang bagus bisa dikemas secara menarik sehingga dapat memikat para pembaca. Khususnya untuk buku anak telah banyak bertransformasi, baik secara tampilan maupun penyampaian menjadi bentuk yang lebih inovatif. Buku berjudul “Antri Bersama Kak Riri” ini sebagai salah satu buku anak yang menanamkan karakter dan pengenalan budaya lewat pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam buku ini, disiplin tidak ditanamkan secara dogmatis maupun melalui petatah petitih yang membosankan, melainkan melalui hubungan hangat antara kakak dengan adiknya. Kak Riri tampil dengan profile sangat manusiawi sebagai seorang kakak dalam membimbing adiknya, Rino. Sebaliknya, sosok Rino tidak kehilangan ciri khas anak seusianya, yakni aktif dan energik. Disiplin sebagai salah satu fondasi karakter sudah seharusnya diperkuat sejak dini dengan kegiatan yang menyenangkan bagi si anak. Karakter menjadi suatu masalah yang demikian serius karena kita saat ini sedang mengalami transisi generasi dari generasi analog ke generasi digital. Dimana generasi yang lebih tua, yakni generasi analog yang bermigrasi ke generasi zaman digital, yang selama ini dianggap mendapat tanggung jawab moral membentuk karakter generasi berikutnya sering mendapat kesulitan dan bahkan gagal memahami fenomena yang terjadi. Dampaknya, generasi muda sebagai digital natives semakin rentan terjebak pada kebingungan-kebingungan dalam menghadapi tantangannya. Hal ini perlu dijembatani semenjak dini sebelum terjadi kesalahpahaman yang dapat memperparah keadaan. Salah satu jembatan itu adalah buku sebagai media untuk mentransfer pengetahuan melalui kegiatan literasi. Buku ini merupakan salah satu contoh jembatan yang baik. Keunikan lain dari buku ini, menampilkan budaya daerah (Betawi) yang diceritakan secara ringan dan natural. Selain bersetting tempat di Setu Babakan yang merupakan cagar budaya betawi, juga pertunjukan lenong digambarkan cukup lengkap dengan adanya tari cokek sebagai pembuka dan ondel-ondel sebagai maskot Betawi. Kita mesti cermat dalam menempatkan budaya sebagai warisan agung leluhur kita. Gempuran budaya pop dari luar demikian gencar dan hampir mustahil untuk dibendung, sedikit banyak akan menimbulkan goncangan. Buku ini seakan dapat membaca persoalan tersebut, sehingga budaya daerah (dalam buku ini diwakili oleh budaya betawi) disajikan secara aktual dan menjadi faktor penguat dalam pesannya dalam membangun karakter anak semenjak dini. Semua kelebihan buku ini tidak lepas dari kecerdasan penulisnya, Palupi Mutiasih. Bagaimana tidak, Upi (demikian ia akrab disapa) sebagai seorang penulis muda mampu mengelola kegelisahan-kegelisahannya sehingga terlahir karya ini. Hal ini tidak mengherankan karena latar belakang Upi sebagai sarjana pendidikan, pendiri Fun Garden of Literacy, duta Gemari Baca Dompet Dhuafa 2016, mahasiswa berprestasi 3 Universitas Negeri Jakarta, Mawapres Terinspiratif 2016, serta peraih silver medal dan best education World Young Investors Exhibition di Malaysia tahun 2017. Tidak dapat disangkal lagi jika literasi sanggup melahirkan figur generasi muda sepertihalnya Upi yang memiliki daya  dan mengambil tanggung jawab terhadap generasinya. Melihat hal tersebut, tentunya kita sangat berharap literasi dapat lebih banyak melahirkan figur yang semakin bekualitas kedepannya. Karena bangsa Indonesia membutuhkan banyak penulis muda yang menghasilkan buku-buku sejenis ini untuk memperteguh jati diri sedari dini. Aris Munandar. Pegiat di Komunitas Matahari Pagi. Tulisan ini pertama kali dimuat di www.mataharipagi.tk.


SAHABAT Pemberani, Pembelajaran Kelas Integritas

Akhirnya kick off Kelas Integritas telah dilakukan pada tanggal 15 Janari 2018. Banyak kejutan-kejutan yang terjadi. Dari jumlah siswa yang berminat ternyata melebihi dari yang kami targetkan sebelumnya. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Memang kebanyakan pelajar dan mahasiswa, yang merupakan target sasaran utama kami. Kejutannya justeru dengan adanya pegiat literasi, wirausahawan, PNS, Dosen dan Guru yang tertarik ikut bergabung. Sampai dengan jangkauan domisili siswa Kelas Integritas yang tidak hanya diikuti oleh siswa dari Sukabumi, melainkan juga dari Batam, Ciamis, Bandung dan Purwakarta. Ternyata tawaran pembelajaran kelas digital merupakan hal yang membuat banyak orang penasaran. Hal ini membuktikan juga bahwa dengan adanya jaringan internet membuat jarak dan wilayah semakin tidak relevan. Hal ini makin menantang dan melecut semangat kami sehingga tidak sabar rasanya menanti feedback seperti apa yang akan tersaji dari materi pembelajaran yang disampaikan. Seperti yang kami rencanakan sebelumnya, jika kelas ini lebih menekankan pada kualitas. Maksudnya ialah para siswa yang mengikuti kelas ini diproyeksikan untuk menjadi penggerak dalam mengkampanyekan nilai-nilai anti korupsi dilingkungannya masing-masing. Kami memang bermaksud menjadikan siswa Kelas Integritas kali ini sebagai pionir terbentuknya Jaringan Integritas, selain dari mengajak entitas literasi yang sudah ada supaya turut serta mengimplementasikan program Tali Integritas. Untuk Kelas Integritas kali ini, kami menekankankan penerapan metode pembelajaran mandiri. Kami ingin merangsang sikap proaktif para siswa dan meninjau sampai sejauh mana kepedulian mereka terhadap isu-isu antikorupsi yang disampaikan melalui aksi literasi. Terutama bagi siswa yang mengikuti pembelajaran di kelas digital (lebih lanjut mengenai kelas digital, silahkan baca : Kelas Digital, seperti apa?). Pada kegiatan kesatu ini, kami menyajikan film Sahabat Pemberani : Terdampar di Hutan Lindung sebagai materi pembelajarannya. Oleh karena para siswa bukan anak-anak, tentu saja kegiatan utamanya bukan menonton film tersebut, melainkan didorong untuk menggali mengenai pesan yang terkandung didalam film tersebut. Kegiatan menggali pesan yang terkandung dalam film Sahabat Pemberani dimaksudkan untuk dapat mengeksplorasi kecerdasan majemuk para siswa, terutama aspek linguistik, logika matematika, visual spasial, interpersonal dan intrapersonal. Eksplorasi tersebut bertujuan agar para siswa menjadi terampil untuk mengemukakan pendapat, berkomunikasi, berinteraksi dan memecahkan permasalahan. Penggalian pesan yang terkandung dalam film Sahabat Pemberani mengunakan teknik analisa terhadap unsur-unsur cerita yang membangun film tersebut. Unsur cerita adalah bagian-bagian yang membangun suatu cerita sehingga pesan cerita tersebut dapat disampaikan kepada audiens. Maksud dari penerapan metode ini adalah supaya para siswa mampu menafsirkan secara lebih utuh dan kemudian menginterpretasikannya kembali pemahamannya tersebut. Unsur-unsur yang membangun suatu cerita terdiri dari : (1) Karakter tokoh, pelaku dalam cerita; (2) Latar waktu dan tempat, masa dan lokasi cerita tersebut berlangsung; (3) Konflik yang terjadi, masalah dalam cerita / benturan berbagai keinginan yang saling bertentangan; (4) Plot atau alur cerita, berupa urutan kronologis semua kejadian dalam cerita; (5) Paparan atau eksposisi, berupa pembuka cerita dan pengenalan latar serta tokoh cerita; (6) Rising action, berupa pengenalan masalah; (7) Klimaks, puncak dari permasalahan dalam cerita; (8) Falling action, fase dimana masalah mulai terpecahkan; (9) Akhir cerita, penyelesaian dari masalah; dan (10) Tema, pesan yang ingin disampaikan dalam cerita. Setidaknya ada 3 (tiga) momen menarik dalam film Sahabat Pemberani tersebut, yaitu : (1) ketika Krisna kehabisan jatah makanan sementara masih ada persediaan makanan milik teman-temannya; (2) ketika Panji dan Kirana tiba disuatu kebun pisang, Kirana merasa sangat lapar; (3) ketika pemilik kebun pisang itu memergoki Panji dan Kirana. Ketiga hal tersebut menjadi point yang menarik untuk didiskusikan dalam kerangka nilai-nilai integritas apa yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Dengan melakukan analisa terhadap unsur-unsur cerita diatas, para siswa diharapkan dapat menginternalisasi pesan dalam fim Sahabat Pemberani secara utuh dan mendalam. Tentu saja disini dibuka ruang yang sangat luas untuk dapat menampung persfektif kritis para siswa. Bukan hanya menguji kedalaman pemahaman para siswa sebagai penerima pesan, juga merangsang kepekaan para siswa dalam posisi outside persfective mengenai pesan dalam film tersebut terhadap anak-anak sebagai sasaran utamanya. Sebagai project dari pembelajaran ini, para siswa diberi tugas untuk membuat sinopsis film sahabat pemberani berdasarkan hasil analisa terhadap unsur-unsur ceritanya. Hal itu sebagai tahapan eksternalisasi dari pemahaman yang telah diperoleh para siswa dalam pembelajaran ini. Sehingga dengan demikian, nilai-nilai anti korupsi, terutama nilai disiplin, jujur dan tanggung jawab dapat menjadi pengetahuan, kesadaran, karakter dan integritas para siswa. Diadakan project dalam setiap akhir pembelajaran juga dimaksudkan sebagai sebagai indikator untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan pembelajaran dilaksanakan.   Aris Munandar. Pegiat di Komunitas Matahari Pagi. Tulisan ini pertama kali dimuat di www.mataharipagi.tk.


KELAS Digital, Seperti Apa?

  Seperti yang sudah diketahui bahwa dengan terpilihnya Komunitas Matahari Pagi sebagai penyelenggara utama proram Tali Integritas turut mentransformasikan kelas literasi yang selama ini telah berjalan dan kini diperkenalkan dengan nama kelas integritas (baca: Metamorfosa Kelas Matahari Pagi). Kelas literasi yang diselenggarakan oleh Komunitas Matahari Pagi bertujuan untuk membentuk individu transformatif atau pembelajar. Dalam fungsinya sebagai human capital creation tersebut, maka disana tempat pengetahuan dibagikan / ditransfer. Komunikasi memegang peranan penting dalam proses tersebut. Jika sejenak merujuk kembali pada tema utama dari kelas ini yakni untuk menguatkan fondasi kebahasaan. Kebahasaan sebagai penemuan umat manusia yang paling paripurna dan selalu diperbaharui melalui perkembangan cara berbahasa/berkomunikasi. Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat turut mempengaruhi cara manusia berkomunikasi, termasuk dalam proses transfer pengetahuan. Saat ini kita berada di era internet of things atau era digital, sehingga jika ingin tetap relevan maka sudah seharusnya kita berubah menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Tuntutan untuk segera menyesuaikan diri supaya tetap relevan, mendorong kelas literasi ini hadir dalam format digital. Kelas literasi yang asalnya masih dalam klasifikasi literasi tradisional, sedikit bergeser kearah literasi digital. Meskipun demikian, tetap mempertahankan penguatan fondasi kebahasaan sebagai tema utamanya. Kami memiliki alasan kuat untuk mempertahankan tema utama tersebut, yakni supaya peserta lebih bisa mengeksplorasi potensi-potensi yang ada dalam dirinya. Dengan memiliki fondasi kebahasaan yang kuat, maka peserta dapat mengartikulasikan pandangannya secara cermat, cerdas dan bermartabat. Jika kita mau lihat lebih spesifik lagi, misalnya dengan memiliki kemampuan berbicara yang baik maka akan membentuk pemikiran kita lebih terbuka terhadap setiap gagasan (open minded). Keterampilan berbicara dapat dilatih melalui sering melakukan diskusi dan atau brainstoming. Atau kemampuan membaca misalnya, dengan memiliki kemampuan ini kita akan memiliki daya analitis yang kuat sehingga bisa bersikap kritis terhadap teks, mencari latar belakang teks, membandingkan antar teks sehingga dapat melahirkan gagasan mandiri. Selanjutnya dengan kemampuan menyimak, kita akan terlatih untuk dapat lebih menerima, terbuka, empati dan penghargaan. Terakhir, dengan memiliki kemampuan menulis kita akan terbiasa berpikir secara terstruktur, sistematis, runtut/konsisten, koheren/logis, komprehensif dan bertanggungjawab. Tema tersebut dimaksudkan untuk menyasar kalangan remaja, yang merupakan digital natives. Remaja saat ini dihadapkan pada perubahan dunia yang sangat dinamis disertai dengan segala tantangan dan ancamannya. Remaja perlu dibekali kekuatan untuk bisa menghadapi dunia (baca : Integritas, bekal remaja menghadapi dunia). Dengan dihadirkannya kelas digital, maka diharapkan remaja berkesempatan untuk tetap bisa memperkuat fondasi kebahasaannya ditengah kesibukan mereka. Hal itu dimungkinkan karena kelas digital sangat fleksibel bagi peserta yang memiliki aktivitas yang cukup padat. Syaratnya, peserta memiliki kemudahan akses internet. Diharapkan kelas digital ini benar-benar dapat mengatasi kendala ruang dan waktu. Pembelajaran dalam kelas digital ini memanfaatkan aplikasi edmodo disertai bantuan layanan pembelajaran TDW connect. Edmodo adalah sebuah aplikasi edukasi berbasis jejaring sosial. Edmodo dipilih karena selain mudah dan praktis, juga cukup komprehensif sebagai course management system. Aplikasi ini juga memberikan keleluasaan bagi seluruh yang terlibat dalam pembelajaran sehingga bisa dengan leluasa berinteraksi satu sama lain. Hal ini penting karena di kelas literasi ini mengembangkan pola belajar bersama sesuai dengan tagline Komunitas Matahari Pagi itu sendiri, yaitu "bersinar bersama dan menyinari kebersamaan". Nantinya, peserta kelas literasi akan diberikan 6 digit kode grup supaya bisa mengakses 3 modul pembelajaran sesuai dengan minatnya. Namun demikian, dihimbau kepada seluruh peserta agar dapat mengikuti dan menyelesaikan 3 modul pembelajaran tersebut sehingga bisa mengikuti modul ke-4. Modul ke-4 dikhususkan untuk pembelajaran secara langsung bagaimana menerapkan prinsip-prinsip good governance. Lalu, seperti apakah layanan bantuan pembelajaran TDW connect? Jangan membayangkan TDW connect sepertihalnya aplikasi-aplikasi yang dimiliki beberapa TV swasta. TDW connect hanyalah sebuah WA group sebagai sarana komunikasi interaktif. Karena dalam konteks belajar online, konektivitas merupakan faktor yang sangat penting. TDW connect dimaksudkan sebagai sarana diskusi diantara peserta kelas digital sehingga dapat berbagi pemahaman mengenai konsep, wawasan keilmuan dan membentuk kemandirian belajar. Meskipun kelas digital ini masih berupa bentuk yang sederhana, namun pesan yang disampaikannya cukup jelas, yakni kita jangan melihat perkembangan teknologi informasi yang demikian pesat sebagai sebuah ancaman. Sebaliknya, kemajuan teknologi informasi merupakan suatu peluang dan masa depan. Teknologi informasi merupakan bentuk mutakhir dari sarana berkomunikasi kita, sehingga kita jangan terlalu silau dan terlena dengan itu. Sebaliknya, dengan memiliki fondasi kebahasaan yang kuat, maka kita akan dapat dengan leluasa memanfaatkan secara maksimal sarana komunikasi apapun, dalam konteks ini adalah teknologi informasi. Aris Munandar. Pegiat di Komunitas Matahari Pagi. Tulisan ini pertama kali dimuat di www.mataharipagi.tk.


Untuk Apa Jejaring Integritas?

  Jejaring Integritas merupakan salah satu implementasi Program Taman Literasi (Tali) Integritas yang dilakukan oleh Komunitas Matahari Pagi diperuntukan bagi entitas literasi yang peduli akan upaya pemberantasan korupsi melalui aksi literasi, selain dari Kelas Literasi yang diperuntukan bagi individu / perorangan, dengan tajuk yang sama : yaitu Cerdas Berintegritas. Tali Integritas itu sendiri merupakan program yang digagas oleh KPK melalui Pusat Edukasi Anti-korupsi bersama Forum TBM. KPK melalui Pusat Edukasi Anti-korupsi bersama Forum TBM telah memilih 40 TBM / lembaga literasi di seluruh Indonesia sebagai Panglima Integritas dan menjadi penyelenggara utama Program Tali Integritas, dimana Komunitas Matahari Pagi salah satu diantaranya. Kita sudah sama-sama mengetahui jika korupsi sebagai salah satu kejahatan luar biasa dan sudah menjangkiti hampir seluruh sendi kehidupan, sehingga menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa Indonesia. Dilain pihak, entitas literasi merupakan motor utama dalam menghadirkan harapan akan masa depan yang lebih baik, untuk itu sangat berkepentingan dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi. Untuk itu, Komunitas Matahari Pagi melalui Jejaring Integritas mengajak entitas literasi untuk bergerak bersama dalam memperkuat penanaman nilai-nilai anti korupsi dimasyarakat. Belum lagi jika kita mendefinisikan korupsi sebagai sebuah persekongkolan, baik itu oknum maupun sistem. Maka untuk menghadapinya diperlukan lebih dari sekedar jejaring, tetapi sudah membutuhkan kekuatan bersama, suatu gerakan yang masif. Namun demikian, dalam kaitan gerakan literasi merupakan suatu gerakan budaya, sehingga hal ini perlu dipandang sebagai sesuatu yang strategis, suatu usaha jangka panjang, usaha yang berkelanjutan dan berkesinambungan. Semestinya, jika gerakan literasi ini berhasil melahirkan generasi yang literat, maka korupsi dan kejahatan-kejahatan luar biasa lainnya akan teratasi dengan sendirinya. Anggap saja Jejaring Integritas ini sebagai suatu usaha rintisan menuju kearah sana, sebagai suatu ikhtiar menjadikan literasi sebagai gerakan fungsional yaitu yang mengajak kita untuk yang rasional, kritis terhadap gelombang informasi, memiliki kepekaan sosial dan memiliki integritas yang tinggi. Jejaring Integritas dirancang sebagai sarana interaksi entitas literasi dalam membentuk persepsi yang sama mengenai nilai-nilai anti korupsi untuk kemudian dapat dikembangkan menjadi berbagai kegiatan sesuai dengan ciri khas / karakteristik, sasaran maupun kondisi masing-masing entitas tersebut. Secara sederhana, misalnya persepsi mengenai 9 (sembilan) sifat integritas yaitu : kejujuran, kepedulian, kemandirian, kedisiplinan, keberanian, keadilan, kerja keras, tanggung jawab dan kesederhanaan. Nantinya dari kesembilan sifat tersebut, masing-masing entitas dapat memaknainya menjadi nilai-nilai yang aktual dalam kehidupan sehari-hari. Dari hasil memaknai 9 (sembilan) sifat integritas tersebut, setiap entitas dapat menggali lebih dalam pesan yang terkandung dalam bahan pustaka yang telah disediakan oleh KPK. Dengan pemahaman yang lebih dalam (deep understanding) kita bukan saja sekedar memanfaatkan bahan pustaka KPK, yang lebih penting dari itu, kita menularkan semangat anti korupsi kepada audiens di entitas literasi kita. Jejaring Integritas sebagai wadah untuk mempersamakan persepsi mengenai nilai-nilai anti korupsi akan suguhkan dalam bentuk kelas interaktif. Kelas tersebut tersedia dalam format kelas reguler dan kelas digital. Kelas reguler merupakan format interaksi secara langsung / tatap muka yang bertempat di sekretariat Komunitas Matahari Pagi. Kelas digital merupakan format online yang memanfaatkan aplikasi Edmodo. Peserta dapat mengikuti kelas secara fleksibel, baik waktu maupun tempat. Jejaring Integritas akan mulai dilaksanakan pada tanggal 12 Februari 2018 dan akan menjadi agenda utama Komunitas Matahari Pagi sepanjang tahun 2018. Komunitas Matahari Pagi telah menyiapkan 4 (empat) modul sebagai panduan dalam memahami Integritas dalam konteks pemberantasan korupsi. Pertama, modul pengenalan mengnai “Program Tali Integritas” yang terdiri dari 4 (empat) sub modul yaitu : mengenal Program Tali Integritas, mengenal bahan pustaka Tali Integritas, contoh kegiatan Tali Intgeritas dan rencana aksi Program Tali Integritas. Kedua, modul “Siap Beraksi” terdiri dari 5 (lima) sub modul yakni : Aku Ingin Indonesia Tanpa Korupsi, Dampak Masif dan Biaya Korupsi, Pengertian, Bentuk-Bentuk, Contoh Kasus dan Rencana Aksi Berantas Korupsi, Strategi Pemberantasan dan Rencana Aksi Berantas Korupsi, Mimpi Indonesia Tanpa Korupsi. Ketiga, modul “Cermin Integritas” yang terdiri dari 3 (tiga) sub modul yaitu : Aksi Integritas untuk Berantas Korupsi, Contoh Tokoh Berintegritas, Refleksi Integritas Diri. Keempat, pada akhir tahun diharapkan bisa terselanggara Festival Integritas yang menampilkan kegiatan-kegiatan dari masing-masing peserta Jejaring Integritas. Aris Munandar. Pegiat di Komuitas Matahari Pagi *)   Tulisan ini pertama kali dimuat di www.mataharipagi.tk.


Biarlah Malaikat yang Menjaga Kita

  Judul tulisan ini tentu saja diambil dari judul buku Novel Baswedan : “Biarlah Malaikat yang Menjaga Saya”. Buku biografi Novel, salah seorang penyidik senior KPK, ditulis oleh Zaenuddin HM atau ZHM dan diterbitkan oleh Mizan. Dengan mengganti kata “saya” menjadi “kita” dimaksudkan untuk menghadirkan sosok Novel sepertihalnya kita, namun memiliki integritas yang kokoh meskipun dihujani berbagai teror. Tulisan ini berdasarkan pengalaman saya mengikuti pelatihan Tali Integritas, pengalaman menghadiri bedah buku dan pengalaman membaca bukunya itu sendiri. Menurut ZHM bahwa teror yang dihadapi oleh Novel dimulai jauh sebelum menjadi penyidik KPK dan ZHM menjanjikan dalam buku yang ditulisnya ini akan banyak mengungkap hal mengenai Novel yang belum diketahui publik. Dalam prolognya, Haris yang menegaskan bahwa buku ini bukan sekedar mengupas sosok Novel yang pantas dijadikan sebagai role model, melainkan juga perlawanan terhadap korupsi sebagai kejahatan luar biasa harus menjadi perjuangan setiap orang. Buku ini dimulai dengan gambaran yang dramatis mengenai penggeledahan yang dilakukan oleh KPK terhadap Direktur Korlantas Polri. Dimana peristiwa itu ditengarai sebagai asal muasal adanya teror terhadap Novel dan merupakan pemicu kasus Cicak vs Buaya jilid 2. Hal tersebut, senada dengan uraian dari Haris. Saya punya penemuan lain ketika membaca buku ini. Mungkin iya, penggeledahan yang dilakukan oleh KPK (didalamnya ada Novel yang memimpin penyidikan kasus simulator SIM) terhadap Direktur Korlantas Polri. Sehingga dengan itu, Novel dianggap “berkhianat” terhadap “korps” oleh sebagian koleganya (halaman 35). Perlu diketahui jika Novel merupakan penyidik KPK yang berasal dari unsur Polri. Tetapi, temuan lain saya itu, adalah adanya teror yang diterima oleh Novel merupakan risiko dari integritas yang dimilikinya. Dari mana integritas tersebut berasal? Dijawab dengan flashback pada masa ketika Novel dilahirkan. Integritas yang dimiliki oleh Novel merupakan buah dari pendidikan keluarga. Novel bukan saja salah seorang keturunan pahlawan nasional, AR Baswedan, tapi standar pendidikan di keluarga Baswedan banyak melahirkan sosok-sosok yang berintegritas. Pendidikan keluarga yang seperti apa sehingga dapat melahirkan sosok berintegritas? Pendidikan yang berpijak pada kesederhanaan, empati dan religius. Hal tergambar dari mulai masa kecil Novel, masa sekolah, Akpol, menjadi polisi, hingga memutuskan memilih sebagai pegawai tetap di KPK (Bab 2-5). Yang ingin saya katakan adalah integritas bisa dimiliki siapa saja, dari institusi mana saja, bahkan oleh orang biasa seperti kita sekalipun. Kenapa saya berani menyimpulkan demikian? Karena jauh sebelum menjadi penyidik KPK pun Novel telah sering diteror. Sebut saja ketika Novel memberantas perjudian dan illegal logging, keduanya di Bengkulu. Dikisahkan dalam buku ini, setelah Novel di KPK, teror itu semakin menjadi-jadi karena banyak kasus besar yang berhasil diungkap oleh Novel, seperti kasus suap pemilihan Deputi Gubernur BI, kasus Hambalang, kasus simulator SIM, dan yang paling hangat adalah korupsi e-KTP (Bab 6 & 8). Apa rahasia keberhasilan Novel dalam mengungkap kasus-kasus besar tersebut? Bambang Widjojanto – mantan komisioner KPK mengungkapkan rahasia keberhasilan Novel dan juga penyidik-penyidik KPK lainnya dalam mengungkap kasus. Yaitu : teamwork; proses dilakukan secara cermat, terperinci utuh, matang dan prudent. Hal tersebut ditunjang oleh komitmen yang tinggi terhadap upaya pemberantasan korupsi, independen, pengetahuan dan kompetensi yang memadai (Bab 7). Dalam wawancaranya dengan ZHM, Novel mengungkapkan bahwa dia menemukan adanya oknum pengusaha besar yang mengendalikan negara, mengendalikan pejabat-pejabat utama di eksekutif, legislatif dan yudikatif (Bab 16). Bahkan, dalam epilognya, Prof Mochtar menyampaikan secara tajam bahwa ketidakseriusan penanganan kasus Novel bisa dilihat sebagai sebuah persekongkolan jahat. Sedikit mengutip materi presentasi Firman Hadiansah – Ketua Forum TBM yang berjudul “Membangun Generasi “L” melalui Pendidikan Antikorupsi” bahwa salah satu karakteristik TBM adalah gerakan budaya. Yang dimaksud disini bukan sekedar kekuatan untuk unjuk rasa, bahkan lebih dahsyat dari itu. TBM-TBM dapat melahirkan generasi baru yang juga sanggup menghantam “kelainan” integritas generasi alay, sekaligus akan menggerus persekongkolan jahat tindakan korupsi. Karena kelemahan integritas generasi muda sama berbahayanya dengan kejahatan luar biasa seperti korupsi dan atau narkoba, yaitu sama-sama mengancam masa depan bangsa. Generasi baru tersebut adalah generasi literat atau Gen L. Yaitu generasi yang rasional, kritis terhadap gelombang informasi, memiliki kepekaan sosial dan memiliki INTEGRITAS yang tinggi. Tinggal masalahnya bagaimana kita bisa bersinergi dalam menghadapi minat baca yang masih rendah dan kemampuan menulis yang apa adanya, sedangkan tantangan zaman sudah menuntut kita beraksi dengan literasi fungsional. Seperti jawaban Prof Mochtar atas pertanyaan saya, kita harus terus menempa diri dengan ilmu pengetahuan hingga menemukan kesalehan sosial. Itulah semangat yang bisa melintasi generasi, yaitu nyala abadi semangat anti korupsi. Aris Munandar. Pegiat di Komuitas Matahari Pagi *)   Tulisan ini pertama kali dimuat di www.mataharipagi.tk.


Integritas : Bekal Remaja Hadapi Dunia

  “Hadiah terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan” – Carol Dweck, The New Psichology of Success. Tantangan seperti apa yang dihadiahkan oleh orangtua untuk dihadapi oleh anak-anaknya (selanjutnya disebut remaja) dewasa ini? Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengelompokan, setidaknya ada, 6 tantangan yang dihadapi remaja saat ini, salah satunya adalah harmonisasi pengembangan potensi remaja yang belum optimal, baik itu pengembangan potensi olah hati (etik), olah pikir (literasi) maupun olah raga (kinestetik). Remaja sebagai fase ambiguitas, apabila tidak dibekali / dipersiapkan untuk menghadapi tantangan tersebut diatas maka akan mengalami kebingungan-kebingungan yang akan berlanjut kepada ketidakstabilan emosi dan stimulasi-stimulasi sosial negatif lainnya, seperti: social disorganization (berkurangnya pranata-pranata masyarakat), strain (tekanan besar dalam masyarakat), differential association (salah pergaulan), labelling, dan male phenomenon. Kebingungan-kebingungan pada remaja banyak disebabkan karena kurangnya bekal yang mereka miliki dalam menghadapi dunia baru mereka. Dunia peralihan dari fase anak-anak menuju fase dewasa. Pendidikan yang didapatkan pada umumnya tidak berkesinambungan dengan realita yang mereka hadapi. Belum lagi mereka dijadikan sebagai target utama oleh para pemilik kapital dengan menawarkan modernitas dalam bentuk identitas anak gaul dan kekinian. Tantangan tersebut tidak hanya hadir dalam dunia nyata, justeru sebaliknya, dunia maya menghadirkan tantangan yang jauh lebih besar bagi remaja. Celakanya, generasi yang lebih dulu atau sering disebut digital immigrants, seringkali gagal memahami fenomena ini. Sehingga remaja sebagai digital natives, semakin rentan terjebak pada kebingungan-kebingungannya dalam era internet of things dewasa ini. Sungguh suatu tantangan yang sangat berat dan tak terhindarkan. Menurut The Future Jobs Report terdapat 3 keterampilan utama yang harus dimiliki dalam menghadapi revolusi industri keempat sebagai masa depan bagi remaja saat ini, yaitu : complex problem solving, berpikir kritis dan kreatifitas. Remaja wajib memiliki ketiga keterampilan tersebut sebagai bekal menghadapi tantangannya. Lebih dari itu, dalam menghadapi masa depan yang sangat dinamis, remaja tidak cukup dengan dibekali kompetensi tadi. Dalam memaknai eksistensinya, remaja juga harus memiliki nilai-nilai religius, nasionalis, mandiri serta gotong-royong dan nilai-nilai tersebut harus dijadikan sebagai konsep diri yang ajeg. Tidak kalah penting juga, sebagai jangkar agar tidak terombang-ambing gelombang di tengah samudera globalisasi, remaja harus memiliki kualitas diri berupa integritas. Integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkaan kewibawaan; kejujuran (Badudu & Zain, 1996). Didalam integritas sudah termaktub karakter dan kecerdasan, karena merupakan suatu keutuhan antara pikiran, wacana dan perilaku. Dengan memiliki integritas, dipastikan seseorang telah memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap. Singkatnya, integritas akan mengharmonisasikan perkembangan remaja, baik itu potensi olah hati (etik), olah pikir (literasi) maupun olah raga (kinestetik). Literasi merupakan karpet merah bagi seseorang untuk memantapkan integritasnya. Literasi sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah menggunakan berbagai keterampilan dan pengetahuan dalam kehidupan. Dalam arti, dengan literasi seseorang bukan saja hanya akan memperoleh pengetahuan, melainkan juga mengetahui bagaimana pengetahuan yang telah diperolehnya tersebut harus digunakan. Melalui literasi, pengetahuan tidak lagi berada dimenara gading, tapi sudah menjejak pada persoalan dan realita yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Contoh permasalahan yang ada dan sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah korupsi. Korupsi merupakan permasalahan serius yang mengancam kelangsungan kehidupan bangsa kita. Untuk itu, Program Taman Literasi (Tali) Integritas yang digagas oleh KPK melalui Pusat Edukasi Anti-korupsi bersama Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) merupakan sebuah terobosan yang sangat patut diapresiasi. Selain menyajikan persoalan yang riil dihadapi dalam keseharian, yaitu perlunya penyembaran dan penguatan nilai-nilai anti-korupsi, juga menggunakan literasi sebagai sarana penyajiannya. Menangkap pesan ini, Komunitas Matahari Pagi sebagai salah satu Panglima Integritas dan penyelenggara utama Program Tali Integritas, merepresentasikannya dalam  Kelas Literasi : Cerdas Berintegritas. Salah satu terobosannya, kelas tersebut disajikan dalam format kelas digital, selain kelas reguler seperti yang sudah dilaksanakan selama ini. Kelas digital ini merupakan pembelajaran secara online dengan memanfaatkan platform pembelajaran digital Edmodo. Tujuannya, selain menyebarkan nilai-nilai anti-korupsi agar dapat dijangkau lebih luas, juga mengenalkan konsep literasi digital. Literasi digital merupakan kemampuan berkomunikasi dan menggunakan konten positif melalui dunia digital secara bijak. Sehingga kemajuan teknologi informasi jangan lagi dijadikan sebagai suatu ancaman bagi remaja. Diharapkan, remaja lebih leluasa merentangkan cakrawala masa depannya. Cakrawala yang dapat mengembalikan mimpi dan harapan seluruh bangsa Indonesia yang sekarang seolah terenggut akibat korupsi. Dengan demikian, remaja harus ambil bagian sejak dini dalam mewujudkan Indonesia bebas korupsi. Aris Munandar. Pegiat di Komunitas Matahari Pagi. Tulisan ini pertama kali dimuat di www.mataharipagi.tk.


Cerdas Berintegritas

  Komunitas Matahari Pagi merupakan salah satu dari 40 TBM / lembaga literasi yang terpilih sebagai Panglima Integritas dalam program Taman Literasi (Tali) Integritas yang digagas oleh KPK melalui Pusat Edukasi Anti Korupsi bersama Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM). Tugas utamanya adalah mengimplementasikan Program Tali Integritas, yaitu menebarkan nilai-nilai anti korupsi melalui literasi. Program Tali Integritas yang akan diimplementasikan oleh Komunitas Matahari Pagi, kami beri nama CERDAS BERINTEGRITAS. Penamaan tersebut sesuai dengan gagasan pokok Rancangan Program Terpadu, yaitu kombinasi antara TDW Program kami dengan Materi Pustaka Integritas yang dimiliki oleh Pusat Edukasi Anti Korupsi KPK. Istilah kombinasi merujuk pada The Concept of Ba yang dikemukakan oleh Ikujiro Nonaka mengenai proses interaksi terciptanya pengetahuan. Menurut Nonaka bahwa pengetahuan tercipta dari pengetahuan tacit dan eksplisit yang berinteraksi dalam suatu proses yang berbentuk spiral (proses spiral). Proses tersebut terdiri dari sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi dan internalisasi. Proses kombinasi itu sendiri digambarkan sebagai proses konversi pengetahuan eksplisit kedalam pengetahuan eksplisit yang lebih kompleks. Proses konversi bertujuan untuk menemukan dan menjadikan pengetahuan tersebut berguna. Sehingga maksudnya disini, TDW Program sebagai pengetahuan eksplisit dengan Materi Pustaka Integritas yang merupakan pengetahuan eksplisit juga, dikombinasikan dan dikonversikan menjadi pengetahuan eksplisit yang lebih kompleks, yaitu Rencana Implementasi Kegiatan Tali Integritas yang diberi judul CERDAS BERINTEGRITAS. Cerdas Berintegritas setidaknya mengandung 3 (tiga) kata kunci, yaitu kecerdasan, karakter dan integritas. Ketiga sifat dan sikap tersebut merupakan hal yang harus dimiliki oleh kita dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Hal itu dikarenakan tidak mungkin bangsa Indonesia mencapai keemasan jika korupsi masih merupakan kejahatan luar biasa. Untuk itu, upaya menumbuhkembangkan kesadaran akan nilai-nilai integritas dalam kehidupan masyarakat, sepertihalnya tujuan diadakannya program ini, harus kita tindaklanjuti dengan serius. Kata kunci pertama, kecerdasan. Kecerdasan atau cerdas adalah pandai sekali, pintar, dapat menggunakan akal secara sempurna dalam berpikir (Badudu & Zain, 1996). Yang dimaksud dengan kecerdasan ini merujuk pada konsep kecerdasan majemuk. Kecerdasan majemuk merupakan teori kecerdasan yang dikemukakan oleh Howard Gardner, yang dibagi kedalam 8 jenis kecerdasan, yaitu : kecerdasan kinestetik. Kecerdasan interpesonal, kecerdasan linguistik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan naturalis, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan visual-spasial, dan kecerdasan musikal. Kami berencana menjadikan kecerdasan lingustik merupakan gerbang untuk dapat mengeksplorasi jenis kecerdasan lainnya. Kecerdasan linguistik adalah kemampuan menggunakan kata secara efektif. Pandai berbicara, gemar bercerita dan dengan tekun mendengarkan cerita atau membaca merupakan tanda seseorang memiliki kecerdasan linguistik yang menonjol. Komponen inti dari kecerdasan linguistik adalah kepekaan kepada bunyi, struktur, makna, fungsi kata dan bahasa. Kemampun seseorang yang memiliki kecerdasan linguistik adalah membaca, menulis, berdiskusi, berargumentasi, dan berdebat. Hal tersebut dikarenakan kecerdasan linguistik sebagai elemen utama pembentuk kemampuan literasi. Kemampuan literasi sangat berguna bagi seseorang untuk mendapatkan deep understanding, yakni kemampuan seseorang dalam menagkap hubungan-hubungan kompleks dalam sebuah konsep, sehingga orang tersebut dapat berpikir kritis, logis, fleksibel dan kreatif. Deep understanding sendiri harus dilatih dengan mempraktekan ilmu pengetahuan. Selain itu, mengembangkan kecerdasan linguistik dapat dilakukan melalui penguatan keterampilan berbahasa. Dalam kegiatan ini kami meletakannya sebagai kegiatan utama dalam pembelajaran. Keterampilan berbicara dituangkan dalam kegiatan diskusi dan brainstroming, dimaksudkan untuk membentuk pemikiran yang terbuka terhadap setiap gagasan (open minded). Keterampilan dan kegiatan membaca merupakan penguatan daya analitis sehingga dapat kritis terhadap teks, menggali lebih dalam mengenai latar belakang teks, membandingkan antar teks sehingga dapat melahirkan gagasan mandiri. Menyimak merupakan kegiatan untuk membentuk sikap penerimaan, empati dan penghargaan. Sedangkan menulis merupakan pembisaan berpikir secara terstruktur sistematis, runtut/konsisten, koheren/logis, komprehensif dan bertanggungjawab. Hal ini menunjukan bahwa keterampilan berbahasa dapat menjadikan seseorang dapat mengartikulasikan pendapat dengan cermat, cerdas dan bermartabat. Singkatnya, kecerdasan sebagai mindset dapat membentuk karakter seseorang. Kata kunci kedua, karakter. Karakter adalah tabiat, perangai, sifat-sifat seseorang (Badudu & Zain, 1996). Ki Hajar Dewantara telah meletakan filosofi pendidikan karakter, yang meliputi : oleh pikir (literasi), olah hati (etika), olah raga (kinestetik), olah karsa (estetika). Terlihat jika kecerdasan dan literasi memegang peranan penting dalam pembentukan karakter. Karakter akan sangat mempengaruhi integritas seseorang. Kata kunci ketiga, integritas. Integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkaan kewibawaan; kejujuran (Badudu & Zain, 1996). Keutuhan yang termaktub dalam integritas seseorang, meliputi bagaimana dia berpikir, berbicara dan berperilaku. Ada sembilan sifat integritas yang harus terpancar dalam seseorang berpikir, berbicara dan berperilaku, yaitu : kejujuran, kepedulian, kemandirian, kedisiplinan, keberanian, keadilan, kerja keras, tanggung jawab dan kesederhanaan. Tentu saja, integritas dalam menjunjung nilai-nilai anti korupsi tidak berhenti sampai dimiliki oleh orang per orang atau individu saja, tetapi sama pentingnya juga harus dimiliki oleh suatu organisasi. Sepertihalnya salah satu cara yang dilakukan oleh KPK dalam memberantas korupsi, yaitu perbaikan sistem. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh KPK, meliputi : upaya refresif, perbaikan sistem dan edukasi. Dalam memperbaiki suatu sistem, kita setidaknya harus mengetahui prinsip-prinsip dasar suatu sistem. Sistem sebagai alur proses suatu organisasi memiliki minimal 3 fase, yaitu input, proses dan output. Supaya proses tersebut dapat berjalan dengan baik, maka digerakan oleh suatu manajemen. Manajemen yang baik, secara garis besar memiliki 4 unsur, yakni planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pelaksanaan) dan controlling (pengawasan). Dari itu, jika suatu organisasi ingin memiliki integritas maka integritas tersebut harus tercermin dalam keempat unsur tersebut. Komunitas Matahari Pagi berkomitmen menyelenggarakan kegiatan untuk menumbuhkan kesadaran akan nilai-nilai integritas dalam kehidupan melalui penyelenggaraan Kelas dan Jejaring Integritas pada tahun 2018. Kegiatan tersebut merupakan implementasi dari program Tali Integritas. *) Tulisan pernah dipublikasikan di laman www.mataharipagi.tk.


Kelas Literasi Matahari Pagi: Pengetahuan yang Membebaskan

Akhirnya, setelah 6 enam bulan, materi mengenai keterampilan dasar kebahasaan telah kami selesaikan. Dalam diskusi yang kami lakukan mengenai evaluasi pembelajaran tersebut, para siswa tertantang untuk lebih tegas dalam mengambil peranannya. Mereka berinisiatif untuk mengkampanyekan budaya literasi dilingkungan sekitar mereka, dalam hal ini keluarga dan sekolah. Inisiatif yang diusulkan para siswa adalah satu langkah yang tegas, berani, sekaligus merupakan tanggung jawab yang besar. Untuk itu, kami selanjutnya memprogramkan pembelajaran studi kasus. Supaya keterampilan bahasa mereka lebih tereksplorasi lagi, kami tampilkan materi pembelajaran tematik. Dalam pembelajaran tersebut kami menayangkan film yang bertema transformasi. Kemudian, kami akan melatih ketajaman analisa kami melalui metoda brainstroming dan diskusi. Sebagai kesimpulan dari kegiatan tersebut, kami semua akan menulis esai mengenai pendapat kami mengenai tema itu. Minggu ini, sebagai pemicu pembelajaran, kami menayangkan film berjudul Freedom Writers. Film yang diangkat dari catatan harian para siswa ruang 203 di Sekolah Menengah Woodrow Wilson. Film tersebut dimulai dengan adegan yang menggambarkan kerusuhan rasial dan kekerasan geng yang terjadi di Amerika Serikat. Pertanyaan pertama, kenapa kerusuhan dan kekerasan bisa terjadi? Jawaban mudahnya karena adanya perbedaan. Apakah perbedaan akan selalu menimbulkan pertikaian? Tentu saja tidak, kita bisa melihat banyak contoh perbedaan yang menyatukan. Lalu, kenapa perbedaan selalu diidentikan sebagai penyebab timbulnya pertikaian? Tentu saja jika kita lihat lebih jauh, permasalahannya bukan terletak pada perbedaan itu sendiri. Pada dasarnya, setiap pertikaian dan perselisihan dikarenakan adanya komunikasi yang tersumbat. Oleh karena kebekuan komunikasi tersebut, akhirnya masing-masing pihak dalam menyampaikan pesannya kepada pihak lain dengan menonjolkan identitas mereka. Maka, yang nampak kepermukaan adalah perbedaan itu sendiri. Sebenarnya, manusia sebagai mahluk sosial sangat memerlukan ruang untuk berekspresi dan mendapatkan apresiasi agar dapat menunjukan eksistensinya. Meskipun, menurut Rhenald Kasali, telah terjadi pergeseran dari I think, therefore I am-nya Descrates menjadi I selfie, therefore I am-nya Sherry Turkle. Dikarenakan menurut Sherry Turkle, selfie merupakan cara seseorang merekam momen untuk diperlihatkan kepada orang lain. Selfie menjadi sarana seseorang dalam berekspresi dan mendapatkan apresiasi agar dapat menunjukan eksistensinya. Dalam hal ini, elemen tersulit dalam keterampilan berbahasa adalah menyimak. Banyak yang belum menyadari jika menyimak, dalam konteks ini adalah mengapresiasi, karya orang lain merupakan wujud kongkrit seseorang dalam berekspresi. Dengan menyimak, kita akan mendapatkan gambaran yang jelas dan utuh mengenai orang tersebut. Komunikasi yang tersumbat banyak dikarenakan adanya salah satu pihak atau bahkan kedua belah pihak yang merasa kurang mendapatkan ruang untuk berekspresi dan diapresiasi. Kemungkinan lainnya, salah satu pihak atau keduanya tidak dapat menyimak dengan jelas dan utuh ekspresi dari pihak yang lainnya. Sumbatan yang terjadi dalam komunikasi bisa disebabkan karena seseorang menggunakan saluran yang salah sehingga disalah artikan oleh pihak lain atau tidak adanya akses untuk dapat menggunakan saluran yang tepat. Setidaknya hal tersebut yang tertangkap dalam film ini. Digambarkan sekolah yang seharusnya menjadi institusi yang mentransformasikan seseorang, malah tampil sebagai sistem yang mekanis, kaku, defensif dan tidak peduli. Sekolah tersebut hanya peduli pada kepeda eksistensinya yang sempit, dia tidak peduli pada hal lainnya. Jelas disini kita mendapat gambaran mengenai sekolah yang telah kehilangan tujuan mulianya. Film ini berhasil memantik kesadaran para siswa di kelas literasi Matahari Pagi. Mereka tergugah terhadap isu-isu perubahan, bahwa isu-isu yang mendasar sebenarnya berada disekeliling kita. Hal tersebut menjadi besar oleh karena telah ide perubahan telah bekerja dan memperlihatkan hasilnya, kemudian mendapatkan perhatian yang luas. Untuk mendapatkannya, kita hanya perlu lebih peduli. Sepertihalnya Miss G, tokoh utama dalam cerita Freedom Writers, terinspirasi oleh ayahnya seorang aktivis pembela hak-hak sipil. Oleh karena di sekolah menengah Woodrow Wilson menyelenggarakan program integrasi, maka dia tertarik untuk menjadi pengajar disana. Program integrasi sendiri merupakan program yang mengharuskan sekolah terbuka untuk seluruh kalangan. Kami ingin menggaris bawahi mengenai peran seorang ayah disini. Seorang ayah, setidaknya bagi Miss G, menjelma sebagai sahabat tempat berbagi gagasan, pengalaman, sekaligus berkeluh kesah. Ayah yang menjadi suri tauladan bagi anaknya, ayah yang ing ngarso sung tulodo. Dalam menyikapi kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh Miss G, sang ayah dengan pengalaman dan kedewasaannya berhasil memberikan saran-saran dan motivasi yang menggugah sehingga Miss G mendapatkan kembali semangatnya. Sang ayah tidak memberikan jarak terhadap permasalahan anaknya, melainkan dia menempatkan diri sebagai bagian dari anaknya tersebut. Miss G tidak merasa digurui dan dihakimi oleh ayahnya, sebaliknya dia merasa mendapatkan seseorang yang dapat menguatkannya. Disini ayahnya memfungsikan peran ing madyo mangun karso. Dengan kata lain, ayahnya menjadi seorang pendorong utama dalam langkah-langkah Miss G tanpa mereduksi originalitas ide dan gagasan anaknya tersebut, yakni mengamalkan prinsip tut wuri handayani. Sepertinya, saya melihat sosok Ki Hajar Dewantara pada tokoh ayah Miss G ini. Itulah peran orangtua (baik orangtua kandung, guru maupun kita generasi yang lebih senior) sebagai pendidik sejati bagi anak-anaknya. Akhirnya, setelah melewati semua rintangan dengan kegigihan, Miss G dengan para siswanya berhasil meyakinkan para pengambil kebijakan mengenai semangat perubahan yang diusungnya. Mereka berhasil berdamai dengan masa lalunya, merobohkan apriori akan perbedaan yang awalnya seolah tembok yang tebal menjadi modal keberagaman dalam kesatuan mimpi, dan yang paling penting bahwa mimpi-mimpi yang telah terampas berhasil direbut kembali dalam pelukan mereka. Memang tidak mudah untuk melakukan perubahan. Banyak dimensi yang harus bersinergi disana. Namun, kita tidak bisa menunggu didalam badai dan ditenggelamkannya. Satu-satunya jalan adalah menerobosnya. Akan ada kehangatan matahari pagi disana. Matahari pagi yang akan bersinar bersama semangat perubahan dan menyinari kebersamaan itu sendiri. Aris Munandar. Pegiat di Komunitas Matahari Pagi. *) Tulisan pernah dimuat di www.mataharipagi.tk. Referensi :
  • Lagravenese, Richard. (2007). Freedom Writers. Produksi : Double Feature Films, MTV Films, Paramount Pictures. Durasi 02:02:56.
  • Kasali, Rhenald. (2017). Strawberry Generation : Anak-Anak Kita Berhak Keluar dari Perangkap yang Bisa Membuat Mereka Rapuh. Penerbit : Mizan.
  • Munandar, Aris. (2016). TDW Program : Sebuah Kurikulum Transformasi. Tidak diterbitkan.