LOADING

Type to search

Lima Ciri Anak yang Miliki Kecerdasan Emosional Tinggi

DELAPAN (8) BULIR REKOMENDASI LITERASI 2018

Redaksi 1 bulan ago

SEKOLAH LITERASI: Bermain Pola Huruf dalam Kata

Redaksi 1 bulan ago

Tumbuh dan Berkembang Bersama Anak.

Kemandirian adalah faktor penting dalam membentuk rasa percaya diri. Kemandirian adalah suatu kondisi yang terdiri dari gabungan kecerdasan dan tata nilai. Pada akhirnya, kemandirian menentukan daya saing seseorang. Kualitas inilah merupakan impian setiap orangtua untuk dimiliki anak-anaknya. Kualitas yang dimaksud bisa kita indentifikasi, sebagai berikut : (1) naluri untuk bertahan ketika menghadapi masa-masa sulit; (2) keyakinan diri untuk mengungkapkan ide-ide baru, inovatif, dan berpotensi besar; (3) kesabaran untuk berhenti, berefleksi, dan membuat keputusan dengan bijaksana saat menghadapi dilema yang tak terduga; (4) kemampuan untuk berpikir lateral dan menemukan solusi yang mengejutkan atas masalah-masalah yang pelik; (5) keinginan untuk menyelesaikan masalah dengan pikiran terbuka dan cerdik; (6) keberanian untuk bertaruh pada saat yang tepat dan kekuatan untuk bangkit kembali serta mencoba lagi ketika menghadapi kegagalan (Simister, 2009). Tak dapat disangkal lagi jika suatu kualitas dilahirkan dari seuatu yang berkualitas juga. Dimaksud disini adalah sebuah keluarga sebagai lingkungan terdekatnya. Kebiasaan-kebiasaan yang terjadi, komunikasi yang dibangun, dan pola asuh dalam keluarga akan sangat berpengaruh akan menjadi seperti apa seorang anak nantinya. Orangtua dapat mengoptimalkan fungsinya dalam mengasuh anaknya dengan menjadi contoh bagi anak-anaknya, mendorong mereka untuk senantiasa berproses dengan memberikan apresiasi terhadap setiap progress yang dicapainya, dan tetap fokus pada pola asuh dengan memulai sejak awal serta dari hal kecil (Simister, 2009). Memberikan contoh kepada anak, dapat dilakukan dengan membiasakan tidak berbohong ketika membujuk anak. John Ruskin mengatakan bahwa membuat anak-anak berkata jujur adalah permulaan pendidikan. Untuk itu, dalam berkomunikasi, kita sebagai orangtua harus menunjukan gestur, bahasa tubuh, raut muka, pilihan kata dan intonasi yang mudah dipahami oleh mereka. Sehingga komunikasi yang dilakukan harus dapat membangun citra diri yang positif. Komunikasi yang positif dapat mengembangkan kepercayaan diri anak. Anak yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi akan lebih mampu menghargai dan berempati terhadap orang lain (Dewayani, 2016). Menanamkan kepercayaan diri menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak. Kepercayaan diri anak sangat ditentukan oleh persepsi mereka mengenai bagaimana orang lain memandang diri mereka. Untuk itu, dengan memberikan kepercayaan bahwa mereka kreatif, kritis, terampil dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan, akan mengasah mereka (Simister, 2009). Memberikan apresiasi terhadap keberanian mereka untuk mencoba dan mengimplementasikan kepercayaan kita, sangatlah berarti bagi mereka. Perlihatkan gambaran kepada mereka mengenai progress yang telah mereka lakukan dan bandingkan apabila mereka tidak melakukannya. Hal tersebut dapat menstimulasi anak untuk memotivasi dirinya agar terus berkreasi (self-creative motivated). Pola asuh yang demikian dapat membentuk konsep diri bermuatan positif, sehingga anak tersebut merasa dicintai oleh orang-orang terhebat dalam hidupnya, merasa memiliki kemampuan untuk berhasil dan pada akhirnya mampu mengendalikan hidupnya sendiri, menjadi anak mandiri (Cline & Fay, 2009). Bagaimanapun kemandirian adalah bekal dari orangtua kepada anak-anaknya dalam menyongsong masa depan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orangtua kepada anak-anaknya agar dapat mengembangkan inisiatif dan memilki pemikiran berorientasi masa depan. Kita harus dapat membuka mata anak-anak kita untuk melihat berbagai pilihan, mengajari mereka untuk menyusun tujuan-tujuan yang jelas, mendorong agar mereka mengenali dirinya sendiri, memberikan banyak kesempatan untuk mengambil tanggung jawab dan menunjukan inisiatif, serta apapun hasilnya harus tetap menunjukan bahwa kita memercayai mereka sepenuhnya (Simister, 2009). Mengingat luasnya kesempatan yang ada didunia ini, maka sangat mengejutkan penemuan dari Higher Education Statistic Agency (HESA) yang menunjukan bahwa betapa kurangnya informasi mengenai pilihan pendidikan yang dapat dipilih oleh anak-anak kita. Hal ini berkenaan dengan temuan lainnya dari World Economic Forum 2015 bahwa sistem pendidikan formal bisa menggerus potensi kecerdasan dan kreatiftas anak kita hingga tinggal tersisa 3% saja pada usia 25 tahun. Sehingga disini menunjukan betapa pentingnya peran orangtua dalam melatih anak-anaknya untuk dapat terus berpikir kritis sehingga mereka dapat terus melihat berbagai pilihan dalam hidupnya. Pada usia 1-3 tahun dapat mulai belajar untu mandiri. Pada rentang usia ini, anak-anak sudah dapat membuat pilihan. Pada saat meninginkan sesuatu, mereka akan berusaha mengendalikan diri guna mencapai keinginannya tersebut. Namun, anak-anak yang tidak bisa mandiri pada rentang waktu ini, akan tumbuh jadi pemalu dan tidak percaya diri (Erikson, 1902). Mengingat sangat pentingnya pembelajaran tentang kemandirian pada kurun usia tersebut. Artinya, orangtua harus memanfaatkan masa batita (bawah tiga tahun) sebaik mungkin dengan, antara lain, melatih mereka untuk membuat keputusan sendiri. Tujuannya, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tak lain agar mereka terbiasa berpikir kritis. Terhadap pilihan-pilihan yang dimilikinya, maka anak-anak ini harus diajari bagaimana menyusun tujuan-tujuan yang jelas, sehingga mereka memiliki gambaran dan berbagai pendekatan terhadap pilihan-pilihannya tersebut menurut tujuan yang telah mereka tetapkan. Saat mereka bertambah besar, secara bertahap, dampingi mereka dalam menyusun tujuan. Ajari mereka skala prioritas, berdasarkan ukuran seberapa penting dan frame waktu pengerjaannya. Dengan dibiasakan memiliki tujuan sejak dini, akan membantu mereka untuk mengenali potensi dirinya sendiri. Orangtua yang membekali anak-anaknya dengan kemandirian adalah orangtua yang memberi kesempatan mereka untuk mempersiapkan masa depannya yang bahagia, produktif dan bertanggung jawab. Selain itu, dengan pola asuh ini, orangtua juga dapat tetap mersakan tumbuh dan berkembang bersama mereka, orangtua yang menjadi sahabat anak-anaknya. Aris Munandar. Pegiat di Komunitas Matahari Pagi. *)   Tulisan ini pertama kali dimuat di www.mataharipagi.tk.


Kolaborasi Semangat Integritas

Literasi menghadiahi kita kompetensi yang sangat berharga, yaitu : berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif. Jejaring integritas yang diinisiasi oleh Komunitas Matahari Pagi, Jemari (Jejaring Matahari Pagi), mencoba menawarkan kolaborasi kepada para entitas literasi untuk berkolaborasi dalam aspek semangat antikorupsi (baca: menumbuhkan integritas). Berbeda dengan jejaring yang berbasiskan gerakan, dimana setiap entitas yang tergabung didalamnya dituntut untuk memiliki gerakan yang serupa, disini kita hanya mengharapkan nilai-nilai integritas lebih ditekankan dalam setiap kegiatan yang sudah dijalankan selama ini. Diantara entitas yang berinteraksi di Jemari, terdapat 5 entitas yang keberadaannya cukup menonjol dan unik. Mereka adalah Pustaka QorAn – Bandung, Komunitas Banzai – Sukabumi, FTBM Lampung Timur, TB Amandraya – Nias Selatan, Pustaka Salimah – Karawang, Vespa Pustaka – Sukabumi. Banyak yang bisa kita gali dari kelima entitas literasi tersebut. Pustaka QorAn Bandung diinisasi oleh Ibu Yusrianti Y Pontoh, merupakan potret kegiatan literasi yang mengedepankan pendidikan anak dengan mengenalkan kepedulian sosial secara langsung. Dalam kegiatanya, Pustaka QorAn menggandeng sekolah-sekolah dan pelibatan masyarakat sekitar. Sepertihanlnya, donasi sampah dan penyelenggaraan dapur umum untuk warga yang terdampak banjir. Kegiatan-kegiatan tersebut sangat efektif dalam membangun empati, karakter dan integritas anak. Kesalehan sosial dicontohkan secara nyata. Sementara itu, di Sukabumi, terdapat Komunitas Bazai. Komunitas tersebut merupaka komunitas tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki ketertarikan untuk mempelajari bahasa dan budaya Jepang. Dalam konteks ini, terdapat irisan masalah integritas yang cukup relevan untuk menautkan kami. Jepang adalah bangsa yang sangat menjunjung tinggi integritas. Bahkan para pelaku korupsi lebih takut terhadap sanksi sosial daripada sanksi hukum yang akan diterimanya. Mempelajari bagaimana terbentuknya integritas yang kuat pada bangsa Jepang sambil menginternalisasi nilai-nilai integritas merupakan keunikan tersendiri dari kegiatan Komunitas Banzai ini. Di Lampung Timur, 15 Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang tergabung dalam Forum TBM Lampung Timur menggagas kegiatan Safari Literasi. Yaitu TBM Rubah Jabung, TBM Pematang Ilmu, TBM Benteng Ilmu, TBM Gubuk Woco, TBM Keramat, TBM Mekar Jaya, TBM Bhineka Jaya, TBM Cordova, TBM Wacana, TBM Zulfa, TBM Adinda, TBM Tri Sukses, TBM Cerdas, TBM Cengkir, TBM Raman Aji. Kegiatan yang tema Generasi Literat Berintegritas tersebut digawangi oleh      I Nyoman Gali Darmawan, M.Pd dari TBM Widya Utama. Tujuannya untuk memperkuat persatuan dan kebersamaan  visi, visi dan tujuan antar TBM se-Lampung Timur dalam membentuk generasi-generasi literat berintegritas. Agenda kegiatannya adalah sosialisasi program Tali Integritas, saresehan dan donasi buku. Ini merupakan gerakan yang sangat masif yang diselenggarakan selain oleh Panglima Integritas. TB Amandraya memiliki cerita tersendiri. Taman baca ini digagas oleh Achmad Masruri, S.Pd, seorang pendidik yang tergabung dalam program Guru Garis Depan (GGD) 2016. Yang menariknya, TB Amandraya ini telah mengenalkan nilai-nilai integritas melalui kerjasamanya dengan Kejaksaan Negeri Nias Selatan. Bukan suatu hal yang kebetulan, karena Kepala Kejaksaan Nias pernah bertugas menjadi Jaksa KPK selama 10 tahun. Sehingga dengan demikian, TB Amandraya mendapatkan bahan pustaka dari KPK. Berbagai variasi kegiatan selalu dilakukan, dari mulai literasi dasar sampai dengan literasi budaya. Tidak lupa juga binaan dari TB Amandraya dibekali keterampilan dan kerajinan tangan. Yanti Kurniasih ketika mendirikan Pustaka Salimah di Karawang memiliki visi Cerdik bersama Pustaka Salima, yang merupakan kependekan dari Cerdas Energik Religius Dermawan Innovatif dan Kreatif. Visi tersebut diimplementasikan dalam kegiatan yang cukup beragam, mulai dari gelar baca gratis, road to school, road to ponpes, mendongeng, hingga nonton bareng. Selain itu ada beberapa program juga yang diselenggarakan oleh Pustaka Salimah, diantaranya : Pustaka Salimah Berbagi, Donasi Buku dan Peminjaman Buku Nusantara. Dengan semangat untuk selalu belajar dan menebar kebaikan. Pustaka Salimah terus bergerak, termasuk kali ini dalam menebarkan nilai-nilai integritas. Sekumpulan anak muda yang memiliki hobi terhadap Vespa berinisiatif mendirikan Vespa Pustaka Sukabumi. Selain dari touring, mereka mengadakan lapak buku gratis setiap hari Sabtu dan Minggu di Taman Kota Karangtengah. Meskipun baru fokus pada kegiatan menebarkan virus baca bagi masyarakat sekitar, inisiatif para pemuda ini sangat layak untuk mendapatkan apresiasi. Melihat profile entitas literasi tersebut diatas, gerakan literasi sudah menunjukan modal yang cukup berharga untuk dapat mengambil peran dalam upaya permberantasan kroupsi. Negeri bebas korupsi merupakan impian kita semua. Karena kondisi negeri kita yang masih belum bisa dikatakan makmur dan sejahtera, ditengah jumlah penduduk, potensi wilayah dan potensi sejarah, hal tersebut salah satunya dikarenakan oleh korupsi. Peran yang bisa diambil oleh entitas literasi adalah jalur edukasi dan kampanye, terutama menanamkan nilai-nilai integritas. Jalur ini merupakan jalan yang panjang, karena menyangkut perbaikan generasi, namun sangat strategis. Dikatakan strategis, karena keberhasilan kita dalam upaya perbaikan generasi, sangat menentukan keberadaan negeri kita dimasa yang akan datang. Untuk itu, melalui Jemari, mari kita mantapkan peran kita dengan kegiatan literasi seraya berseru : “Saatnya ber-AKSI!”. Aris Munandar. Pegiat di Komunitas Matahari Pagi. Catatan : Tulisan ini pertamakali dipublikasikan di www.mataharipagi.tk


Kelas Integritas Mengajak Kita Membaca Tantangan

Kita dihadapkan pada satu paradoks. Suatu pertentangan dengan gap yang saling bertolak belakang. Disatu sisi, suka atau tidak, kemampuan membaca kita masih sangat rendah. Meskipun geliat literasi semakin terasa dan menyebar, namun harus diakui belum merata. Disisi lain, era internet of things yang ditunggangi oleh globalisasi seolah hanya menampilkan wajah buruknya saja. Pengaruh negatif teknologi informasi dan komunikasi terhadap gaya hidup kita, serta pudarnya nilai-nilai religiusitas dan kearifan lokal bangsa. Tiga besar pengaruh buruk tersebut adalah pornografi, hoaks dan sadisme. Internet of things adalah era baru, yaitu masa depan yang aka kita jalani nantinya. Rhenald Kasali (2017) mengatakan bahwa telah tercipta dunia baru. Adanya dunia baru tersebut merupakan buah dari kemajuan teknologi informasi. Teknologi informasi memaksa kita menjadi serba real time. Peradaban ini memaksa kita untuk berpikir dan bekerja lebih cepat untuk bisa tetap relevan. Namun kesalahan memahami tuntutan untuk serba cepat bukan membawa kita menjadi relevan, melainkan akan menjerumuskan kita kedalam ketiadaan. Sepertihalnya banyak sistem pendidikan, menurut Laporan Forum Ekonomi Dunia 2015, banyak yang tidak sejalan lagi dengan kebutuhan kompetensi dimasa depan. Kompetensi yang dibutuhkan oleh seseorang di abad 21 adalah berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Kompetensi yang dikenal dengan 5 C tersebut (critical thinking, creative, communicative, dan collaborative) bisa dihasilkan melalui kegiatan literasi. Pada umumnya, kegiatan literasi dimaknai dengan kegiatan membaca. Meskipun ruang lingkup literasi sangatlah luas, tidak terbatas pada kegiatan membaca saja. Namun kali ini kita fokuskan pembahasan pada sisi kegiatan membaca. Kegiatan membaca sebenarnya adalah kegiatan interaksi kita dengan teks. Dalam teks tersebut terkandung ilmu pengetahuan. Sehingga, membaca sebenarnya kegiatan menginternalisasi ilmu pengetahuan. Ketika membaca, kita sedang melakukan transformasi. Dalam arti, kita menjaga ilmu pengetahuan yang diserap supaya tetap kontekstual dan relevan. Kelas Integritas sebagai salah satu implementasi dari program Tali Integritas yang dilakukan oleh Komunitas Matahari Pagi, merupakan aksi literasi dengan pendekatan dalam konteks ini. Sasaran utamanya, kami analogikan terhadap remaja. Kenapa dianalogikan sebagai remaja? Karena remaja adalah fase krusial sebagai masa peralihan dari fase anak-anak ke fase dewasa. Pada fase remaja, seseorang mencari jati diri yang akan menjadi karakter difase dewasa. Bagi remaja, pencarian jati diri adalah upaya untuk menemukan eksistensinya. Oleh karenanya terdapat keingintahuan yang besar dalam diri mereka. Disisi lain, pada dasarnya sebagai manusia, remaja juga cenderung mencari kenyamanan dalam eksistensinya. Sehingga eksistensi bagi mereka adalah tempat dimana mereka merasa diterima dan diakui keberadaannya. Kami menemukan fenomena kenyamanan tersebut pada diri kita. Kenakalan-kenalakan yang awalnya kita maknai sebagai bentuk pemberontakan terhadap kemapanan dan keinginan akan situasi serta kondisi yang baru, ternyata salah. Motifnya hanya kenyamanan, merasa cukup dengan hanya dianggap “ada”. Hal tersebut kami tanggapi sebagai peristiwa terjadinya degradasi motivasi untuk bertransformasi, self-creative motivated. Bertolak dari hal tersebut, kami melakukan uji coba dengan merancang kegiatan di Kelas Integritas berbasiskan teks. Ini dimaksudkan untuk melihat sampai sejauh mana kita dapat melihat dan menangkap situasi dan pengetahuan yang terkandung dalam suatu wacana. Pada tema Karsa dan Teladan, sudah dipelajari mengenai unsur-unsur pembentuk cerita rekaan, modifikasi, mind map, 5W+1H, menyimak (dengan melakukan identifikasi, interpretasi dan uji relevansi), serta membaca kritis.  Semuanya dapat dianggap sudah mewadahi kompetensi 5C tadi. Miasalnya kita ambil berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan langkah awal menuju kontekstualisasi sebuah teks. Dengan berpikir kritis, kita dapat melihat situasi teks tersebut pada saat ditulis dengan pada saat dibaca. Tentu saja ada kesenjangan/gap diantara keduanya. Begitu juga dengan pengetahuan yang terkandung didalamnya, ada gap antara pemaknaan teks menurut penulis dan pembaca. Dengan berpikir kritis, seharusnya gap tersebut dapat dihilangkan. Kenapa dengan berpikir kritis dapat menghilangkan gap situasi dan pengetahuan antara penulis dengan pembaca? Karena dengan berpikir kritis kita akan melakukan identifikasi terhadap teks tersebut, sehigga ditemukan signifikasi/relevansi teks tersebut dengan persoalan yang dihadapi oleh kita. Namun, jika kita lemah dalam pemahaman gramatika dapat menyebabkan kegagalan kita dalam melakukan identifikasi tersebut. Hal itu disebabkan oleh kesulitan kita dalam mengklasifikasikan antara tema yang diusung dengan strukturnya. Tema sebenarnya merupakan pokok pikiran yang ingin dibahas oleh penulis atau pembicara. Sedangkan strukturnya adalah kerangka bagaimana tema tersebut akan disajikan menurut persfektif penyaji tadi. Meskipun demikian, berpikir kritis hanyalah menyajikan kemungkinan-kemungkinan realitas yang “ada”, yang bisa kita temui. Karenanya transformasi tidak ditentukan oleh pemikiran, melainkan oleh keputusan. Keputusan akan membuat kemungkinan-kemungkinan realitas yang “ada” itu “menjadi” kenyataan. Penggeraknya adalah “care-why?” sebagai kreatifitas memotivasi diri. Apakah kita dalam Kelas Integritas berhasil menaklukan tantangan yang disajikan dalam teks-teks? Apakah kita telah “menjadi”? ataukah hanya cukup dengan hanya “ada”?. Jika kita hanya merasa cukup dengan menjadi “ada”, maka sebenarnya “ada” adalah “tiada”. Sedangkan “tiada” adalah tidak pernah “ada”. Apakah kita telah merasa begitu nyaman dalam “ketiadaan”?. Aris Munandar. Pegiat di Komunitas Matahari Pagi. Catatan : Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di www.mataharipagi.tk.


Remaja Diadang Gelombang Zaman

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ditempa oleh gelombang zaman. Jauh sebelum republik berdiri, persatuan dan kesatuan telah menjadi syarat mutlak bangsa ini dalam mencapai kejayaannya. Dipuncak-puncak itu ada Sriwijaya dan Majapahit. Kolonialisme sempat membuat bangsa ini tertidur cukup lama, pusaka saktinya tertimbun oleh lumpur devide et i mpera penjajah. Baru ketika pada akhir Perang Dunia II, bangsa Indonesia menemukan kembali momentumnya. Kembali menjadi pemain utama diantara bangsa-bangsa merdeka lainnya. Momentum tersebut, satu sisi, telah menjadikan bangsa Indonesia sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat. Disisi lain, kemerdekaan tersebut menuntut kita untuk bersikap terhadap situasi geopolitik yang terjadi pada saat itu. Pasca Perang Dunia II, kita dihadapkan pada perang dingin yang menempatkan Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat berhadapan dengan Blok Timur dibawah kendali Uni Soviet. Kondisi tersebut seolah membagi dunia kepada kondisi yang saling bertolak belakang. Dimana pengaruh Blok Barat dengan liberalismenya yang serba kapitalistik, sebaliknya pengaruh Blok Timur dengan komunismenya yang serba terpusat dan tertutup. Kita mengenal istilah Uni Soviet sebagai negara tirai besi dan Tiongkok sebagai negeri tirai bambu. Pada dekade 90-an, kita dikejutkan oleh keruntuhan Uni Soviet. Pada saat itu diramalkan yang mengambil alih pimpinan Blok Timur adalah Tiongkok. Namun sebuah anomali kembali terjadi. Kini kita dapat menyaksikan transformasi Tiongkok menjadi semakin kapitalistik. Sebaliknya, Amerika Serikat dibawah pimpinan Donald Trump dengan misi “make America great again” menjadi lebih tertutup dengan segala proteksinya. Disamping kekhawatiran kita terhadap penetrasi kekuatan ekonomi Tiongkok yang semakin agresif dan Amerika Serikat yang semakin menuntut transaksi perdagangan yang lebih fair, kita dihadapkan tantangan yang lain lagi. Tantangan tersebut merupakan globalisasi di dunia maya. Globalisasi yang dinamai internet of things. Saking kuat pengaruhnya, seolah-olah tiada ruang yang tidak bisa ditembusnya, tidak ada lagi batasan mana ranah privat dan mana ranah publik. Pada akhirnya kita dapat merasakan bagaimana kejadian-kejadian di dunia maya tersebut sangat berpengaruh terhadap kehidupan di dunia nyata. Gambaran diatas sedikit gambaran bagaimana gelombang perubahan zaman terjadi. Cragun & Sweetman mencatat dari tahun 1980 hingga 2015 saja terdapat 20 episode kejutan. Jika diklasifikasikan, kejutan-kejutan tersebut disebabka oleh 5 kategori penyebab, yaitu : teknologi (khususnya teknologi informasi), teori manajemen, peristiwa ekonomi, daya saing global, dan geopolitik (Kasali, 2017). Dewasa ini teknologi informasi menjadi penyebab perubahan yang terjadi. Rhenald Kasali (2017) mengatakan bahwa telah tercipta dunia baru. Adanya dunia baru tersebut merupakan buah dari kemajuan teknologi informasi. Teknologi informasi memaksa kita menjadi serba real time. Peradaban ini memaksa kita untuk berpikir dan bekerja lebih cepat untuk bisa tetap relevan. Sejatinya ada gelombang baru perubahan zaman menanti kita. Akankah kita telah mempersiapkan diri sehingga dapat dengan piawai menungganginya? Ataukah kita akan digulung dan dihempas kedasar nadir peradaban?. Kami mengidentifikasi bahwa fase krusial kita dalam mempersiapkan diri terletak pada fase remaja. Jika kita berhasil menciptakan dukungan sosial bagi remaja dalam melewati fase transisinya, maka kita akan menghasilkan generasi penerus yang memiliki eksplorasi personal, kemandirian, self control. Alih-alih memberikan dukungan sosial yang dibutuhkan remaja. Kita malah disibukan oleh kegiatan menangkal pengaruh pornografi, hoaks dan sadisme yang mudah diakses di dunia maya. Bagaimana usaha kita yang sekuat tenaga memfilter dan membatasi pengaruh-pengaruh tersebut, namun seolah tidak menghasilkan apa-apa. Kita bersusah payah menangkal hantu-hantu menakutkan tersebut, namun dengan cara yang sporadis. Sehingga kita tidak memiliki pertahanan yang kokoh, mudah goyah dan menyisakan banyak celah disana-sini. Kegagapan kita tersebut sebagai generasi yang lebih dulu atau sering disebut digital immigrants, adalah kegagalan dalam memahami fenomena ini. Sehingga remaja sebagai digital natives, semakin rentan terjebak pada kebingungan-kebingungannya dalam era internet of things dewasa ini. Sehingga tak jarang semakin remaja yang terjerumus kepada perilaku menyimpang. Setidaknya terdapat dua perilaku menyimpang yang sering kita dapati, yaitu : kenakalan remaja serta penyalahgunaan narkoba dan alkohol. Sebenarnya jika kita generalisir, pangkal dari permasalahan remaja adalah kebutuhan akan pengakuan terhadap eksistensinya. Sering kali kita hanya melihat keberadaan remaja, sehingga memperlakukan mereka sebagai objek. Padahal dibalik itu ada kegairahan luar biasa untuk mengekspresikan potensinya. Mereka hendaknya tidak cukup dianggap “ada”, tetapi perlu penanganan yang tepat kearah “menjadi”. Dimaksud dengan penanganan tepat adalah seperangkat proses yang meliputi penguatan daya nalar, pengukuhan jati diri dan kesempatan untuk menampilkan sikap. Kesediaan ruang untuk proses tersebut saat ini masih merupakan barang mewah bagi remaja. Mereka harus dibiasakan untuk berpikir kritis dengan memperkenalkan berbagai teknik analisis. Dengan berpikir kritis akan membentuk remaja sebagai problem solver. Untuk bisa memecahkan masalah-masalahnya, sama dengan mendorongnya menggunakan berbagai pendekatan (lateral thinking). Pertanyaan mendasarnya, dimanakah remaja menemukan ruang tersebut? Dimanakah seharusnya ruang tersebut berada? Karena tentu saja, kita tidak berharap remaja-remaja kita terjerumus kedalam ketidak-stabilan emosi karena tidak menemukan jawaban ambigutasnya. Aris Munandar. Pegiat di Komunitas Matahari Pagi. Catatan : Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di www.mataharipagi.tk.


Remaja Berintegritas : Kuncup Generasi Emas Masa Depan

Fase remaja adalah suatu fase yang penuh dengan perubahan. Dibanding dengan fase pemuda yang lebih menunjukan kematangan dan kemantapan, remaja dalam konteks ini lebih mewakili perubahan itu sendiri, baik perubahan dirinya sebagai individu maupun sebagai yang akan menentukan suatu bangsa nantinya. Definisi remaja, menurut Santrock, adalah masa perkembangan transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosio emosional. Menurut fasenya, remaja terbagi menjadi fase remaja awal (12-14 tahun), remaja menengah (15-17 tahun) dan remaja akhir (18-21 tahun). Dalam proses perkembangan tersebut, kita dapat memotretnya dari sisi fisik dan psikologis. Memotret remaja dari sisi perkembangan fisik, yaitu dimulai saat pertama kali menunjukan tanda-tanda mencapai kematangan seksual. Fase ini disebut masa pubertas. Sementara Dilihat dari psikologi perkembangan, perkembangan remaja adalah fase penggantian moralitas dari konsep-konsep moral khusus ke konsep moral individual. Dampaknya, remaja akan mengalami ambiguitas pola pemikiran kognitif dan afektif sebagai pengaruh kepada perilaku yang akan ditampilkan. Contoh: pencarian identitas diri. Sehingga, remaja dikatakan sebagai masa restrukturisasi kesadaran sebagai konsep diri, yang terdiri dari: pemekaran diri sendiri (extension of self), kemampuan melihat diri secara objektif (self obejectivication), dan memiliki falsafah hidup tertentu (unfying philosophy of life). Perkembangan remaja jika dilihat dari psikologi sosial, remaja ketika menghadapi fase ambiguitas, apabila mendapatkan dukungan sosial yang memadai maka akan memunculkan eksplorasi personal, kemandirian, self control. Sebaliknya, jika kurang dan atau tidak mendapatkan dukungan sosial maka remaja tersebut akan terus mengalami kebingungan-kebingungan yang akan berlanjut kepada ketidak-stabilan emosi. Remaja yang dapat melakukan eksplorasi personal, kemandirian, self control adalah kondisi yang kian langka belakangan ini ditengah tantangan yang begitu besar. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengelompokan, setidaknya ada, 6 tantangan yang dihadapi remaja saat ini, yaitu : (1) harmonisasi pengembangan potensi remaja yang belum optimal, baik itu pengembangan potensi olah hati (etik), olah pikir (literasi) maupun olah raga (kinestetik); (2) besarnya populasi remaja yang tersebar diseluruh Indonesia; (3) belum optimalnya sinergi tanggungjawab antara sekolah, orangtua dan masyarakat; (4) tantangan globalisasi berupa pengaruh negatif teknologi informasi dan komunikasi terhadap gaya hidup remaja, serta pudarnya nilai-nilai religiusitas dan kearifan lokal bangsa; (5) terbatasnya pendampingan orangtua yang mengakibatkan krisis identitas dan disorientasi tujuan hidup anak; (6) keterbatasan sarana belajar dan infrastruktur. Bagaimanakah remaja tersebut menghadapinya? Sementara itu kita memiliki mimpi besar pada 100 tahun Indonesia merdeka, yaitu pada 17 Agustus 2045, yang digadang-gadang akan lahir generasi emas bangsa ini. Generasi yang akan membawa Indonesia pada puncak kemajuannya. Generasi tersebut haruslah sebuah generasi yang berasal dari proses transformasi yang terus menerus dilakukan. Untuk memastikan kesinambungan transformasi tersebut, maka mereka yang berada pada fase remaja haruslah mendapatkan dukungan sosial yang memadai supaya dapat meneruskan estafet cita-cita bangsa ini dengan baik. Hal tersebut dikarenakan fase remaja merupakan fase ujian yang krusial terhadap fondasi karakter yang dibangun dilingkungan keluarga menuju sosok warga bangsa yang diinginkan, yakni generasi emas. Seperti apakah yang dimaksud dengan generasi emas? Yaitu generasi yang cerdas berintegritas, yakni yang cerdas, berkarakter dan berintegritas. Kecerdasan merupakan komponen dasar dari suatu perubahan. Cerdas, mencerdaskan dan pembelajar sepanjang hayat. Darinya mencerminkan pola pikir kritis, kreatif dan inovatif. Kecerdasan yang seperti itu membentuk mindset dalam karakter seseorang. Karakter berfungsi sebagai pola dasar dari visi seseorang. Karakter yang dibentuk oleh literasi, etika, estetika dan kinestetik. Karakter yang demikian memastikan seseorang dapat beradaptasi pada lingkungan yang dinamis. Dengan senjata utamanya literasi, kemampuan yang dimilikinya bisa dikombinasikan sehingga menghasilkan problem solving. Remaja dengan problem solving yang baik adalah mereka yang terus menerus bertransformasi. Transformasi itu sendiri sejatinya tergantung dimana posisi kita melihat. Jikalaulah kita berada pada posisi yang statis, maka zaman akan seolah-olah sebagai ancaman yang senantiasa berubah. Namun sebalinya, jika kita terus menerus bertransformasi maka pada gilirannya hal tersebut akan mendorong zaman untuk berubah, bergerak sejalan dengan pergerakan kita. Dalam fungsi sebagai transformator tersebut, kehadiran entitas-entitas literasi yang kian marak diharapkan dapat mendorong terjadinya perubahan. Meminjam istilah Bung Karno, kita hanya perlu mentransformasikan 10 pemuda untuk bisa mengguncangkan dunia. Bukan bermaksud untuk menggampangkan dalam melakukan usaha perubahan. Sebaliknya, dari sekian ribu remaja yang ada, apakah kita sanggup menghasilkan sepuluh pemuda yang dibutuhkan untuk mengguncangkan dunia? Hal tersebut menunjukan bahwa usaha mentransformasikan mereka menjadi generasi emas adalah usaha yang luar biasa sulit. Dalam menghadapi kesulitan, saat itulah kekokohan integritas kita diuji. Apakah kecerdasan dan karakter kita merupakan satu kesatuan yang utuh ataukah dua sisi mata uang yang berlainan muka?  Integritas itu sendiri memiliki tiga dimensi, yaitu : dimensi inti, dimensi etos kerja dan dimensi sikap. Kejujuran, disiplin dan tanggung jawab merupakan inti dari integritas yang dibingkai dalam karakter sebagai DNA-nya. Etos kerja merupakan dimensi yang terdiri dari kerja keras, kesederhanaan dan kemandirian. Etos kerja itu sendiri didorong oleh empati. Pancaran kedua dimensi tadi terwujud dalam dimensi sikap yang adil, berani dan peduli. Pada jejak-jejak yang lalu, kita bisa menelusuri keberadaan bangsa kita, kadang menjulang dan kadang pula tenggelam oleh gelombang zaman. Remaja selalu terlahir dalam setiap terjangan gelombang tersebut. Bukan sekedar untuk hadir, namun acapkali menghadang gelombang untuk kemudian menentukan arah zaman. Aris Munandar. Pegiat di Komunitas Matahari Pagi. Catatan : Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di www.mataharipagi.tk.


Membaca Kejujuran dalam Cerita SI KUMBI

  “Orang yang jujur adalah ciptaan Tuhan paling mulia” Alexander Pope. Pada kegiatan ke-2 Kelas Integritas bertema : Si Kumbi, Angin di Perut Osyi, kami fokuskan untuk lebih mematangkan pemahaman terhadap unsur-unsur cerita. Jika pada kegiatan ke-1 analisa terhadap unsur-unsur cerita dilakukan dengan pendekatan keterampilan menyimak film Sahabat Pemberani, untuk kegiatan ke-2 ini menggunakan pendekatan keterampilan membaca cerita Si Kumbi, Angin di Perut Osyi. Pada proses menyimak, keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan memahami, menganalisa dan mensintesa. Menyimak sebagai suatu proses mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna yang disampaikan (Tarigan, 1987). Artinya pada kegiatan tersebut siswa diajak untuk mengidentifikasi adegan-adegan kritis yang menguji integritas para tokohnya. Hasil identifikasi tersebut kemudian dianalisa, kenapa tokoh-tokoh dalam film Sahabat Pemberani mengambil sikap demikian. Disini dimungkinkan para siswa untuk bisa lebih menggali mengenai makna dari integritas berdasarkan sudut pandang mereka masing-masing. Sebagai akhir dari kegiatan, para siswa diberi project untuk mensintesakan film Sahabat Pemberani kedalam bentuk sinopsis. Keberlanjutan pembelajaran ke kegiatan ke-2, melalui pemahaman unsur-unsur cerita, adalah penguatan fondasi kebahasaan. Oleh karena pada kegiatan ini, para siswa didorong untuk menggunakan keterampilan membacanya. Membaca adalah  Ada persamaan dalam aktivitas menyimak dan membaca. Keduanya memiliki persamaan sifat dan tujuan, yaitu sama-sama bersifat aktif reseptif dan bertujuan memperoleh informasi / pengetahuan. Selain itu, juga memiliki persamaan dalam prosesnya, meliputi : mengidentifikasi bunyi-bunyi (fonem), memahami dan menafsirkan maknanya. Persamaan terakhir terletak pada persiapannya. Menyimak dan membaca membutuhkan persiapan, berupa kemampuan linguistik (kebahasaan) dan kemampuan non linguistik (pengalaman, wawasan dan penalaran). Pada cerita Si Kumbi, Angin di Perut Osyi mengandung nilai-nilai integritas, diantaranya : kesederhanaan, keberanian dan kejujuran. Kesederhanaan adalah nilai integritas yang diklasifikasikan sebagai etos kerja. Kesederhanaan itu sendiri berarti hidup bersahaja, tidak berlebih-lebihan. Pada nilai inilah, konflik dalam cerita dimulai. Yakni ketika Osyi terlalu banyak memakan sambal sehingga menyebabkan sakit perut. Permasalahan terus berlanjut karena Osyi tidak berani untuk mengemukakan permasalahannya dan memilih untuk diam. Keberanian sebagai kemantapan hati, percaya diri serta tidak gentar dalam menghadapi kesulitan. Nilai integritas ini sebenarnya yang menjadi kunci dari penyelesaian masalah. Pada akhirnya Osyi memiliki keberanian untuk mengungkapkan masalahnya. Inti dari integritas adalah nilai kejujuran. Kejujuran sebagai kelurusan hati, tidak berbohong dan tidak curang, merupakan pesan utama yang ingin disampaikan dalam cerita ini. Untuk bisa mengeksplorasi nilai-nilai integritas yang terkandung dalam cerita ini, para siswa diarahkan menggunakan pendekatan 3 (tiga) jenis membaca, yaitu membaca kritis, membaca kreatif dan membaca fiksi. Membaca kritis merupakan kegiatan membaca dengan bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluatif, serta analitis. Membaca kreatif diperlukan untuk memahami maksud penulis, mengorganisasi dasar tulisan, menilai penyajian penulis dan menerapkan pola 5W+1H. Pada kegiatan ini, organisasi dasar tulisan dirujuk pada unsur-unsur cerita. Oleh karena tulisan yang dipelajari dalam kegiatan ke-2 ini merupakan karya fiksi, maka diperlukan juga pendekatan membaca fiksi. Cerita Si Kumbi, Angin di Perut Osyi termasuk kedalam karya interpretatif. Maksudnya adalah karya yang mengandung penghayatan dan kesadaran makna kehidupan yang luas dan mendalam, dalam konteks ini nilai-nilai integritas. Muara dari seluruh kegiatan di Kelas Integritas adalah menulis. Untuk kegiatan ke-2, projectnya berupa menulis resensi. Yang mau dicapai dalam menulis resensi ini supaya para siswa bukan hanya mengapresiasi cerita Si Kumbi sebagai sebuah karya, melainkan juga agar para siswa mendapatkan manfaat dari cerita tersebut bagi perkembangan pribadinya dan bagi perkembangan masyarakatnya. Sehingga para siswa diharapkan memiliki 2 (dua) lapis penilaian dan pertimbangan, yaitu : nilai literer dan nilai manfaat untuk kehidupan. Keterampilan-keterampilan berbahasa, yang terdiri dari berbicara, membaca, menulis dan menyimak akan terus menerus diperkuat melalui kegiatan-kegiatan pembelajaran di Kelas Integritas. Hal tersebut dimaksudkan supaya kita dapat membangun komunikasi yang sehat dalam menanamkan nilai-nilai integritas. Penting bagi kita untuk selalu mengembangkan komunikasi secara sehat, jelas dan efektif. Seperti yang termaktub dalam buku Agar Anak Jujur, Panduan Menumbuhkan Kejujuran kepada Anak Sejak Dini bahwa hal itu dapat membangun citra positif, membangun empati dan mengungkapkan pandangan secara jujur. Ditengah makin marak dan mengakarnya tindak pidana korupsi, seolah yang demikian adalah budaya yang akan terus diwariskan. Sedangkan jika kita melihat pada sejarah, bangsa ini didirikan oleh para bapak bangsa yang berintegritas. Sebuah suatu ironi, kini begitu sulit mencari mencari tokoh yang patut untuk diteladani. Kelas Integritas adalah kegiatan literasi dengan mededahkan nilai-nilai integritas. Salah satunya kita dapat membaca kejujuran pada cerita Si Kumbi. Aris Munandar. Pegiat di Komunitas Matahari Pagi. Tulisan ini pertama kali dimuat di www.mataharipagi.tk.


Diskusi Film SAHABAT PEMBERANI di Kelas Integritas

  Menarik mencermati diskusi film Sahabat Pemberani di Kelas Integritas minggu ini, baik itu yang reguler maupun yang digital. Seperti telah ditulis sebelumnya (baca : Sahabat Pemberani, Pembelajaran Kelas Integritas), jika film sahabat pemberani dijadikan bahan utama pembelajaran di Kelas Integritas. Strategi pembelajaran yang diterapkan adalah analisis cerita dengan mengacu kepada unsur-unsur cerita. Hal itu dimaksudkan untuk mengeksplorasi kecerdasan majemuk para siswa, terutama aspek lingustik, logis matematis, visual spasial, interpersonal, dan intrapersonal. Untuk itu, kegiatan utamanya terjadi pada sesi diskusi. Tanggapan-tanggapan menggelitik dari para siswa cukup menggembirakan kami. Diantara tanggapan-tanggapan tersebut diantaranya adalah mengenai karakter yang ada di film tersebut, yaitu : Panji, Kirana dan Khrisna. Salah seorang siswa yang memang sangat menggilai anime berpendapat jika ada kesamaan antara ciri fisik dari para tokoh Sahabat Pemberani dengan anime-anime yang pernah dia tonton. Dia mencontohkan jika karakter tokoh Khrisna yang digambarkan gemuk dan berkacamata identik dengan  karakter penakut, kurang bisa diandalkan, manja dan suka membuat susah orang lain. Hal tersebut juga mirip dengan tokoh Ehsan pada kartun Ipin dan Upin. Kemudian dia membandingkan karakter fisik seperti Khrisna dengan pengalamannya dikehidupan sehari-hari. Menurut dia, dalam pergaulannya, sering menemukan karakter fisik seperti itu justeru memiliki karakter yang bertolak belakang. Bahkan beberapa diantaranya merupakan pemimpin suatu komunitas. Tanggapan lainnya mengenai alur cerita atau plot. Seorang siswa menanggapi jika plot film ini sangat tipikal sekali. Misalnya ketika adegan awal, yaitu saat adegan pak guru dan pak sopir sedang berbincang-bincang. Dalam adegan itu, pak sopir berkata bahwa ada isu tentang hutan yang sedang lewati tersebut. Tetapi pembicaraan tersebut sempat terpotong karena tiba-tiba ada rusa yang menghadang. Siswa tersebut dibuat menjadi gregetan. Tanggapan-tanggapan tersebut kami sengaja dorong untuk bisa lebih dieksplorasi. Melalui diskusi ini kami menginginkan supaya mereka mendapat tantangan untuk selalu memperbaharui asumsi-asumsi mereka. Karena seperangkat asumsi-asumsi akan membentuk suatu mindset. Mindset yang terus tumbuhlah yang dibutuhkan generasi ini dalam menghadapi tantangannya. Diskusi inilah menjadi sarana mereka dalam melatih muscle memory. Kami sedang mengembangkan suatu konsep pembelajaran yang menempatkan para siswa bukan hanya sebagai penampung pengetahuan, tetapi menempatkan mereka sebagai subjek dari kegiatan pembelajaran itu sendiri. Risikonya, para siswa harus dilatih untuk belajar bagaimana menggunakan pengetahuannya tersebut. Melalui diskusi pula, para siswa dapat melatih kemampuan mereka dalam mengelola informasi dengan cepat dan tepat. Dalam melatih keterampilan berpikir tersebut harus disesuaikan dengan kecerdasan majemuk paling dominan yang mereka miliki (multiple intelligentcies approach). Dengan demikian setiap siswa dibiasakan berorientasi pada pemecahan masalah (problem solving). Hal inilah yang menjadi tujuan kita berliterasi. Disisi yang lain, kegiatan diskusi dimaksudkan supaya pengetahuan yang diterima oleh para siswa dapat dicerna dengan pemahaman yang lebih mendalam. Kedalaman pemahaman merupakan modal dasar bagi seseorang untuk mendapatkan keterampilan pemecahan masalah, kreatifitas, berpikir kritis dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan yang seringkali kita abaikan, karena terlalu fokus pada masalah kognitif. Kegiatan ke-1 ini sebenarnya untuk memberikan dasar-dasar pemahaman untuk kegiatan selanjutnya. Nantinya, pada kegiatan ke-2, akan dijelaskan apa sebenarnya yang mereka pelajari. Yaitu mereka sedang mempraktekan salah satu keterampilan berbahasa yang banyak diabaikan oleh orang lain, yakni menyimak. Menyimak adalah suatu proses mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna (Tarigan, 1987). Menyimak memiliki peran, antara lain : sebagai dasar belajar bahasa, penunjang keterampilan berbahasa lainnya (berbicara, membaca, dan menulis), memperlancar komunikasi dan menambah pengetahuan. Ketika menyimak, setidaknya kita menggunakan 3 (tiga) keterampilan, yaitu memahami, menganalisis dan mensintesis. Dalam memahami kita dituntut untuk mampu mengidentifikasi bunyi-bunyi dan menghubungkan kata-kata. Saat menganalisis kita diharuskan mengidentifikasi aspek-aspek gramatika dan aspek-aspek pragmatik. Terakhir, ketika mensintesis kita harus berupaya memadukan unsur-unsur lingusitik dengan unsur-unsur lain yang diperlukan dengan cara memanfaatkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Melalui proses menyimak kita dibiasakan untuk berpikir progresif dengan terus mengembangkan asumsi-asumsi yang telah ada (growth mindset). Lebih jauhnya, kita dapat terus mengelaborasi nilai-nilai luhur kehidupan yang telah kita miliki. Sehingga pilihan problem solving yang kita miliki ada nilai-nilai yang selalu diperbaharui sehingga senantiasa relevan. Bukan pilihan balik kanan mengulangi masa lalu. Banyak hal yang sering kita lalaikan. Untuk itu, melalui kelas integritas yang sejatinya merupakan kelas literasi fungsional, kita diarahkan untuk dapat bertransformasi menjadi manusia pembelajar, long life education. Sehingga untuk dapat mempertahankan dan mengembangkan potensi-potensi kreatifitas yang sudah dimiliki semenjak lahir, kita harus menerapkan life long play. Perubahan bukan lagi suatu momok yang menakutkan, tetapi harus sudah menjadi tantangan yang menyenangkan. Aris Munandar. Pegiat di Komunitas Matahari Pagi. Tulisan ini pertama kali dimuat di www.mataharipagi.tk.


API UNGGUN yang Terus Menyala

  “Kudu lawung pada lawung, sajajaran pancakaki, gumelar lebah alamna, maju teuing mundur teuing, matak sarosopan rasa, pinggan diéntép jeung piring”. H. Hasan Mustapa Acara Kopdar Pegiat TBM se-Jawa Barat yang diselenggarakan di Sanggar Pramuka IKOPIN Jatinangor dari mulai tanggal 26 sampai dengan 27 Desember 2017 memang dapat dimaknai dengan banyak cara. Kegiatan dengan tajuk “Dari kita, oleh kita, untuk kemajuan literasi Jabar tercinta” ini menghasilkan 8 (delapan) poin rekomendasi sebagai amanat untuk ditindaklanjuti. Acara Kopdar tersebut memang telah lama berlalu. Sebagai suatu kegiatan, sudah tidak update lagi menuliskannya. Namun, sebagai suatu momentum, acara ini memiliki amanat sebagai sejenis semangat yang selalu membuatnya relevan. Relevansi tersebut ibaratnya energi yang selalu terbarukan dan memperbaharui diri. Dan itu menjadi alasan utama kami menuliskannya sekarang, yaitu untuk membuktikannya. Bukankah pembuktian (fakta) merupakan kekuatan bagi kata-kata?. Bagi saya dan Komunitas Matahari Pagi ini seolah kami, untuk kedua kalinya, merayakan tahun baru 2018 lebih awal. Setelah pelatihan program Tali Integritas yang mendorong kami untuk memulai tahun 2018 lebih cepat. Pada kegiatan tersebut pula kami mengetahui Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) lebih mendalam. Pada kesempatan tersebut juga, saya mengenal kawan-kawan pengurus dan pegiat FTBM Jawa Barat. Sepertihalnya reaksi berantai dari aksi literasi. Salah satunya adalah kegiatan Kopdar di Jatinangor ini. Acara yang kami pandang semarak dengan antusiasme dan kebersamaan, sehingga merupakan energi positif untuk mengarungi tahun yang baru dengan semangat. Karena pada tahun 2018 banyak hal yang harus ditindaklanjuti. Salah satu amanat Kopdar yang harus ditindaklanjuti adalah mengaktifkan dan membentuk FTBM kabupaten dan kota. Hal tersebut kami tindaklanjuti dengan melakukan, setidaknya, 3 (tiga) kali pertemuan yang bertempat di Taman Baca Gentong Pasir (Macatongsir), Rumah Baca Garda Persada dan Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Sukabumi. Pada pertemuan pertama di Macatongsir dihasilkan beberapa point yang disepakati, yaitu : (1) dipandang perlu untuk segera membentuk FTBM Kabupaten dan Kota Sukabumi; (2) melakukan pendataan TBM-TBM di Kabupaten dan Kota Sukabumi yang dikoordinir Roni Fardiansyah; (3) menetapkan tenggat waktu pendataan sampai dengan akhir bulan Januari 2018; (4) menginisiasi terbentuknya TBM-TBM baru; (5) mencari solusi akan kebutuhan, keragaman dan kebaruan bahan pustaka bagi TBM-TBM; (6) mendukung pelaksanaan Program Tali Integritas; (7) memandang gerakan literasi ini dalam cakrawala Sukabumi Raya (gerakan sinergis dan terpadu yang mencakup Kabupaten dan Kota Sukabumi). Pertemuan kedua bertempat di Rumah Baca Garda Persada, bersamaan dengan launching program Garda Persada 2018. Hasil dari pertemuan ini, meliputi : (1) memperkuat point-point yang disepakati pada pertemuan pertama di Macatongsir; (2) pencanangan Rumah Baca Garda Persada sebagai bagian dari Jejaring Integritas (perlu diketahui jika Jejaring Integritas adalah salah satu implementasi dari Program Tali Integritas yang dilaksanakan oleh Komunitas Matahari Pagi); (3) penjadwalan pertemuan ketiga yang bertempat di Perpusda Kabupaten Sukabumi. Perpusda Kabupaten Sukabumi menjadi tempat pertemuan ketiga. Pada pertemuan ini diberikan beberapa catatan pada kesepatan-kesepakatan sebelumnya supaya lebih kongkrit lagi, yaitu : (1) melakukan kunjungan ke TBM-TBM yang kegiatannya telah eksis dengan tujuan merangkul dan memberikan penjelasan secara langsung mengenai maksud dan tujuan pembentukan FTBM di Kabupaten dan Kota Sukabumi; (2) kunjungan tersebut dalam rangka memaksimalkan proses pendataan TBM-TBM; (3) diusulkan delegasi dalam kunjungan tersebut, yaitu Roni Fardiansyah selaku koordinator panitia pembentukan FTBM Kota dan Kabupaten Sukabumi dan Fajar Sumantri selaku pegiat literasi senior; (4) koordinasi kepada TBM-TBM yang berada dibawah PKBM, sehingga dapat memperkaya keragaman kegiatan literasi di Sukabumi Raya, yang akan dilakukan oleh Ade Saprudin; (5) mengamanatkan FTBM Kabupaten dan Kota Sukabumi harus sudah terbentuk pada bulan Februari 2018; (6) melakukan pendekatan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi yang akan dilakukan oleh Ade Saprudin; (7) Perpusda Kabupaten Sukabumi yang diwakili oleh Dedi Mulyadi dan Nani Nafisah bersedia memfasilitasi dan mendukung penuh terhadap terlaksananya seluruh niatan ini demi bergeliatnya gerakan literasi di Sukabumi Raya. Dari rangkaian pertemuan tersebut, satu hal utama yang dapat kami pelajari, yaitu silaturahmi yang baik akan membawa kepada kebaikan-kebaikan yang lain. Untaian kebaikan tersebut adalah niat yang tulus dan semangat yang tetap terjaga, sepertihalnya api unggun yang terus menyala. Api unggun abadi yang menghadirkan kehangatan dan penerangan tersebut dinyalakan oleh energi yang terus terbarukan dan memperbaharui diri, seperti yang telah disebut sebelumnya. Sepertihalnya menulis, sebagai salah satu rukun literasi, merupakan suatu proses penalaran logika. Begitu juga kegiatan-kegiatan ini, yang kami lakukan bersama-sama dengan para pegiat literasi Sukabumi Raya, adalah suatu proses penalaran sosial. Aris Munandar. Pegiat di Komunitas Matahari Pagi. Tulisan ini pertama kali dimuat di www.mataharipagi.tk.


Berliterasi Bersama KAK UPI

  Judul                     : Antri Bersama Kak Riri Penulis                 : Palupi Mutiasih Penerbit              : Asas Upi, 2017 ISBN                      : 478-602-6675-02-6 Sinopsis                : “Rino bersiap pergi jalan-jalan bersama kak Riri. Ia ingin sekali melihat pertunjukan  lenong Betawi. Ia pergi dengan gembira. Namun sesampainya disana antrian sudah mengular. Rino tak sabar. Panjangnya antrian membuat Rino belajar. Rino belajar mengantri bersama kak Riri”. Membaca buku ini, saya tergoda untuk memahami lebih dalam mengenai isi yang tersirat didalamnya. Saya tidak bisa menahan diri untuk memperlakukan buku ini lebih dari sekedar buku bacaan untuk anak-anak. Setidaknya ada 2 (dua) hal yang melatar-belakangi hal ini. Pertama, adanya pesan mengenai pembentukan karakter dan pengenalan budaya daerah dalam buku ini dan keduanya masih merupakan tema besar bagi bangsa Indonesia. Kedua, faktor keberadaan penulisnya yang melahirkan karya ini. Persoalan manusia saat ini bukan lagi sekedar menjaga eksistensinya, tetapi juga harus mampu memberikan nilai agar keberadaannya tersebut selalu relevan dengan kebutuhan zaman. Dimasa depan, Jacob Oetama meramalkan dengan terjadinya revolusi teknologi informasi, maka tantangan utama yang akan dihadapi berupa gaya hidup, pola hidup dan intinya berupa pertaraungan pandangan hidup. Oleh sebab itu, rilis The World Economic Forum berupa Human Capital Report dengan sub-judul : “Preparing People for the Future of Work”, menjadi bahan diskusi dibanyak kalangan. Literasi diyakini mampu memberdayakan masyarakat dalam menghadapi tantangan zaman tersebut. Geliat gerakan literasi yang terasa semakin menguat belakangan ini diharapkan membawa banyak perubahan-perubahan. Jika membaca, menurut Jacob Oetama, berarti mengambil jarak, bersikap aktif dan kritis, berpikir dan bergulat. Maka kemampuan seseorang untuk bisa mengkonversikan pandangan yang demikian kompleks menjadi sesuatu yang sederhana dan mudah dipahami akan menjadi faktor penentu keberhasilan seseorang. Salah satu contoh kongkrit misalnya bagaimana sebuah buku dengan isi yang bagus bisa dikemas secara menarik sehingga dapat memikat para pembaca. Khususnya untuk buku anak telah banyak bertransformasi, baik secara tampilan maupun penyampaian menjadi bentuk yang lebih inovatif. Buku berjudul “Antri Bersama Kak Riri” ini sebagai salah satu buku anak yang menanamkan karakter dan pengenalan budaya lewat pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam buku ini, disiplin tidak ditanamkan secara dogmatis maupun melalui petatah petitih yang membosankan, melainkan melalui hubungan hangat antara kakak dengan adiknya. Kak Riri tampil dengan profile sangat manusiawi sebagai seorang kakak dalam membimbing adiknya, Rino. Sebaliknya, sosok Rino tidak kehilangan ciri khas anak seusianya, yakni aktif dan energik. Disiplin sebagai salah satu fondasi karakter sudah seharusnya diperkuat sejak dini dengan kegiatan yang menyenangkan bagi si anak. Karakter menjadi suatu masalah yang demikian serius karena kita saat ini sedang mengalami transisi generasi dari generasi analog ke generasi digital. Dimana generasi yang lebih tua, yakni generasi analog yang bermigrasi ke generasi zaman digital, yang selama ini dianggap mendapat tanggung jawab moral membentuk karakter generasi berikutnya sering mendapat kesulitan dan bahkan gagal memahami fenomena yang terjadi. Dampaknya, generasi muda sebagai digital natives semakin rentan terjebak pada kebingungan-kebingungan dalam menghadapi tantangannya. Hal ini perlu dijembatani semenjak dini sebelum terjadi kesalahpahaman yang dapat memperparah keadaan. Salah satu jembatan itu adalah buku sebagai media untuk mentransfer pengetahuan melalui kegiatan literasi. Buku ini merupakan salah satu contoh jembatan yang baik. Keunikan lain dari buku ini, menampilkan budaya daerah (Betawi) yang diceritakan secara ringan dan natural. Selain bersetting tempat di Setu Babakan yang merupakan cagar budaya betawi, juga pertunjukan lenong digambarkan cukup lengkap dengan adanya tari cokek sebagai pembuka dan ondel-ondel sebagai maskot Betawi. Kita mesti cermat dalam menempatkan budaya sebagai warisan agung leluhur kita. Gempuran budaya pop dari luar demikian gencar dan hampir mustahil untuk dibendung, sedikit banyak akan menimbulkan goncangan. Buku ini seakan dapat membaca persoalan tersebut, sehingga budaya daerah (dalam buku ini diwakili oleh budaya betawi) disajikan secara aktual dan menjadi faktor penguat dalam pesannya dalam membangun karakter anak semenjak dini. Semua kelebihan buku ini tidak lepas dari kecerdasan penulisnya, Palupi Mutiasih. Bagaimana tidak, Upi (demikian ia akrab disapa) sebagai seorang penulis muda mampu mengelola kegelisahan-kegelisahannya sehingga terlahir karya ini. Hal ini tidak mengherankan karena latar belakang Upi sebagai sarjana pendidikan, pendiri Fun Garden of Literacy, duta Gemari Baca Dompet Dhuafa 2016, mahasiswa berprestasi 3 Universitas Negeri Jakarta, Mawapres Terinspiratif 2016, serta peraih silver medal dan best education World Young Investors Exhibition di Malaysia tahun 2017. Tidak dapat disangkal lagi jika literasi sanggup melahirkan figur generasi muda sepertihalnya Upi yang memiliki daya  dan mengambil tanggung jawab terhadap generasinya. Melihat hal tersebut, tentunya kita sangat berharap literasi dapat lebih banyak melahirkan figur yang semakin bekualitas kedepannya. Karena bangsa Indonesia membutuhkan banyak penulis muda yang menghasilkan buku-buku sejenis ini untuk memperteguh jati diri sedari dini. Aris Munandar. Pegiat di Komunitas Matahari Pagi. Tulisan ini pertama kali dimuat di www.mataharipagi.tk.


SAHABAT Pemberani, Pembelajaran Kelas Integritas

Akhirnya kick off Kelas Integritas telah dilakukan pada tanggal 15 Janari 2018. Banyak kejutan-kejutan yang terjadi. Dari jumlah siswa yang berminat ternyata melebihi dari yang kami targetkan sebelumnya. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Memang kebanyakan pelajar dan mahasiswa, yang merupakan target sasaran utama kami. Kejutannya justeru dengan adanya pegiat literasi, wirausahawan, PNS, Dosen dan Guru yang tertarik ikut bergabung. Sampai dengan jangkauan domisili siswa Kelas Integritas yang tidak hanya diikuti oleh siswa dari Sukabumi, melainkan juga dari Batam, Ciamis, Bandung dan Purwakarta. Ternyata tawaran pembelajaran kelas digital merupakan hal yang membuat banyak orang penasaran. Hal ini membuktikan juga bahwa dengan adanya jaringan internet membuat jarak dan wilayah semakin tidak relevan. Hal ini makin menantang dan melecut semangat kami sehingga tidak sabar rasanya menanti feedback seperti apa yang akan tersaji dari materi pembelajaran yang disampaikan. Seperti yang kami rencanakan sebelumnya, jika kelas ini lebih menekankan pada kualitas. Maksudnya ialah para siswa yang mengikuti kelas ini diproyeksikan untuk menjadi penggerak dalam mengkampanyekan nilai-nilai anti korupsi dilingkungannya masing-masing. Kami memang bermaksud menjadikan siswa Kelas Integritas kali ini sebagai pionir terbentuknya Jaringan Integritas, selain dari mengajak entitas literasi yang sudah ada supaya turut serta mengimplementasikan program Tali Integritas. Untuk Kelas Integritas kali ini, kami menekankankan penerapan metode pembelajaran mandiri. Kami ingin merangsang sikap proaktif para siswa dan meninjau sampai sejauh mana kepedulian mereka terhadap isu-isu antikorupsi yang disampaikan melalui aksi literasi. Terutama bagi siswa yang mengikuti pembelajaran di kelas digital (lebih lanjut mengenai kelas digital, silahkan baca : Kelas Digital, seperti apa?). Pada kegiatan kesatu ini, kami menyajikan film Sahabat Pemberani : Terdampar di Hutan Lindung sebagai materi pembelajarannya. Oleh karena para siswa bukan anak-anak, tentu saja kegiatan utamanya bukan menonton film tersebut, melainkan didorong untuk menggali mengenai pesan yang terkandung didalam film tersebut. Kegiatan menggali pesan yang terkandung dalam film Sahabat Pemberani dimaksudkan untuk dapat mengeksplorasi kecerdasan majemuk para siswa, terutama aspek linguistik, logika matematika, visual spasial, interpersonal dan intrapersonal. Eksplorasi tersebut bertujuan agar para siswa menjadi terampil untuk mengemukakan pendapat, berkomunikasi, berinteraksi dan memecahkan permasalahan. Penggalian pesan yang terkandung dalam film Sahabat Pemberani mengunakan teknik analisa terhadap unsur-unsur cerita yang membangun film tersebut. Unsur cerita adalah bagian-bagian yang membangun suatu cerita sehingga pesan cerita tersebut dapat disampaikan kepada audiens. Maksud dari penerapan metode ini adalah supaya para siswa mampu menafsirkan secara lebih utuh dan kemudian menginterpretasikannya kembali pemahamannya tersebut. Unsur-unsur yang membangun suatu cerita terdiri dari : (1) Karakter tokoh, pelaku dalam cerita; (2) Latar waktu dan tempat, masa dan lokasi cerita tersebut berlangsung; (3) Konflik yang terjadi, masalah dalam cerita / benturan berbagai keinginan yang saling bertentangan; (4) Plot atau alur cerita, berupa urutan kronologis semua kejadian dalam cerita; (5) Paparan atau eksposisi, berupa pembuka cerita dan pengenalan latar serta tokoh cerita; (6) Rising action, berupa pengenalan masalah; (7) Klimaks, puncak dari permasalahan dalam cerita; (8) Falling action, fase dimana masalah mulai terpecahkan; (9) Akhir cerita, penyelesaian dari masalah; dan (10) Tema, pesan yang ingin disampaikan dalam cerita. Setidaknya ada 3 (tiga) momen menarik dalam film Sahabat Pemberani tersebut, yaitu : (1) ketika Krisna kehabisan jatah makanan sementara masih ada persediaan makanan milik teman-temannya; (2) ketika Panji dan Kirana tiba disuatu kebun pisang, Kirana merasa sangat lapar; (3) ketika pemilik kebun pisang itu memergoki Panji dan Kirana. Ketiga hal tersebut menjadi point yang menarik untuk didiskusikan dalam kerangka nilai-nilai integritas apa yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Dengan melakukan analisa terhadap unsur-unsur cerita diatas, para siswa diharapkan dapat menginternalisasi pesan dalam fim Sahabat Pemberani secara utuh dan mendalam. Tentu saja disini dibuka ruang yang sangat luas untuk dapat menampung persfektif kritis para siswa. Bukan hanya menguji kedalaman pemahaman para siswa sebagai penerima pesan, juga merangsang kepekaan para siswa dalam posisi outside persfective mengenai pesan dalam film tersebut terhadap anak-anak sebagai sasaran utamanya. Sebagai project dari pembelajaran ini, para siswa diberi tugas untuk membuat sinopsis film sahabat pemberani berdasarkan hasil analisa terhadap unsur-unsur ceritanya. Hal itu sebagai tahapan eksternalisasi dari pemahaman yang telah diperoleh para siswa dalam pembelajaran ini. Sehingga dengan demikian, nilai-nilai anti korupsi, terutama nilai disiplin, jujur dan tanggung jawab dapat menjadi pengetahuan, kesadaran, karakter dan integritas para siswa. Diadakan project dalam setiap akhir pembelajaran juga dimaksudkan sebagai sebagai indikator untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan pembelajaran dilaksanakan.   Aris Munandar. Pegiat di Komunitas Matahari Pagi. Tulisan ini pertama kali dimuat di www.mataharipagi.tk.


Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…