Carolus S. Waikelak

@caroluswaichilla

aktif 1 minggu, 4 hari lalu

Chef Sisca

  Sejak kecil Sisca sering bermain bersama dengan teman – teman seperti memasak. Ketika memasuki bangku sekolah jenjang tingkat atas, ia menyampaikan kepada kedua orang tuanya untuk menyekolahkannya di sekolah yang bisa memasak. “Saya mau jadi chef kok”, ketus Sisca ketika berbicara dengan orang tuanya. Bapak dan ibunya kaget mendengar apa yang disampaikan Sisca kepada mereka karena selama ini Sisca tidak pernah berbicara tentang rencananya untuk sekolah menjadi seorang chef. Dengan bahagia Sisca menjalani masa sekolah tingkat atasnya bersama teman – temannya yang lain dari berbagai SMP. Mereka hanya berjumlah 30 peserta didik dalam satu kelas ketika awal masuk sekolah. Kekompakan, kebersamaan, menghargai perbedaan seperti agama, dan persaudaraan di antara mereka sekelas maupun dengan kelas yang lain sangat terasa. Walaupun sekolah itu milik swasta katolik, namun menerima peserta didik tanpa memandang perbedaan, entah apapun  perbedaan itu. Yayasan yang mengelola SMK tempat Sisca bersekolah adalah tarekat religius yang dalam gereja katolik disebut biarawati. Niat dan tekad mereka adalah bisa belajar dan lulus serta bisa mengharumkan nama sekolah. Memasuki kelas XII di SMK itu, teman Sisca yang bernama Robby pindah sekolah ke kota lain karena mengikuti perpindahan tugas ayahnya. Ayahnya adalah seorang perwira TNI. Sisca dan temannya yang lain merasa sangat kehilangan Robby. Robby adalah salah satu dari sembilan teman laki – laki yang ada dalam kelas mereka. Dengan berat hati mereka merelakan Robby untuk pindah sekolah mengikuti ayahnya. Mendekat hari perpindahan Rooby, bersama dengan kedua orang tuanya, Robby berpamitan dengan Kepala Sekolah, para guru, dan teman sekelasnya. Sisca dan teman – temannya tak dapat menahan rasa sedih dalam hati, air mata pun menetes perlahan ketika bersalaman dengan Robby. Waktu Ujian Nasional (UN) tinggal dua bulan. Sisca dan teman – teman sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi UN. Setelah selesai UN, tibalah waktu yang ditunggu – tunggu, pikiraan dan perasaan diliputi dengan rasa bimbang dan ragu, antara lulus atau tidak. Pengumuman kelulusan pun dilaksanakan, Sisca dan teman – teman dinyatakan LULUS 100 %. Semua menyambut dengan gembira hasil kelulusan ini. “Hore........ kita lulus semua...” teriak mereka setelah keluar dari ruang pengumuman dan berada di halaman. Setelah dinyatakan lulu, Sisca mengurus semua administrasi ijazahnya dan menyerahkan ijazah kepada orang tuanya. Melihat kondisi kehidupan keluarganya yang pas - pasan, Sisca pun tidak berniat untuk melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi. Ayahnya sebagai seorang buruh bangunan dan ibunya hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Penghasilan kedua orang tuanya hanya mencukupi kebutuhan untuk hidup sehari – hari.  Sedikit membantu untuk membayar uang sekolah Sisca dan kedua adiknya. Ketika masih sekolah, Sisca dan kedua adiknya memperoleh bantuan dana pendidikan untuk orang tua kurang mampu sehingga dapat meringankan  beban orang tuanya. Agar bisa membantu kedua orang tuanya, Sisca memutuskan untuk bekerja. Sisca pun melamar pekerjaan ke sebuah restoran berbekal membawa ijazah SMK yang dimiliki. Setelah dua minggu menunggu, Sisca dipanggil pihak restoran untuk bekerja. Ia sangat bersyukur telah memperoleh pekerjaan yang dapat membantu ekonomi keluarganya. Walaupun telah memiliki pekerjaan, namun Sisca tetap hidup sederhana. Menggunakan uang yang dimiliki sesuai kebutuhannya ataupun kebutuhan dalam keluarga. Sisca bahagia menjalani hari – hari hidupnya bersama keluarga dalam kesederhanaan.


Gema Pencandu Literasi Zaman Now

  Pada umumnya masyarakat populer dengan membaca (lihat) dan mendengar dengan ucapan pecandu narkoba, pecandu mainan (game), pecandu alkohol, pecandu gadget, pecandu buku, pecandu kopi, dan masih banyak kata lain yang bisa dipadankan dengan kata “pecandu”. Setiap orang akan memahami dan memaknai menurut nalar logikanya serta sesuai dengan pemahaman dan pengetahuannya. Maknanya bisa secara positif tetapi bisa juga bermakna negatif. Seperti pecandu narkoba akan memberi kesan dan makna yang negatif, pengguna narkoba tingkat tinggi, hidupnya selalu dengan narkoba, tiada hari tanpa narkoba yang membawa efek gangguan kesehatan pada orang yang memakai narkoba. Sedangkan seperti pecandu buku maka akan bermakna positif, orang yang suka (gemar) dengan buku, suka membaca, tentunya membaca buku tentang hal – hal positif bukan hal – hal negatif. Menurut KBBI online, pecandu berarti 1) n: pemadat; pengisap candu; 2) ki: penggemar dan pencandu artinya n: pecandu. Dapat disimpulkan bahwa pecandu dan pencandu memiliki arti yang sama karena pencandu merujuk pada pecandu. Tetapi yang lebih sering digunakan adalah pecandu bukan pencandu. Untuk tulisan ini, penulis lebih cenderung menggunakan “pencandu” untuk mengakrabkan akan kekayaan yang terdapat dalam ilmu Bahasa Indonesia. Jarang kita mendengar tentang “pencandu literasi”, kalaupun mendengar atau menyebut akan merujuk pada “pecandu literasi”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online bila di-search tidak ditemukan kata “literasi”. Namun dari website Komunikasi Praktis, dapat ditemukan arti kata literasi. Kata literasi dalam bahasa Inggris yaitu “literacy” artinya kemampuan membaca dan menulis (the ability to read and write) dan “kompetensi atau pengetahuan di bidang khusus” (competence or knowledge in a specified area). Secara harafiah, “literacy” berasal dari bahasa Latin yaitu “literatus” artinya “a learned person” yaitu orang yang belajar, atau bahasa Latin lainnya yaitu “litera”(huruf) serta dari kamus Merriam – Webster disebut “literature”dan bahasa Inggris “letter”. Menurut Nationale Institute for Literacy (NIFL), Literasi adalah kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat." Menurut Education Development Center (EDC), literasi merupakan kemampuan individu untuk menggunakan potensi dan keterampilan (skills) dalam hidupnya yang mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia. Dari pengertian – pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa literasi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang tentang membaca dan menulis serta menggunakan potensi, pengetahuan, keterampilan (skills) yang dimiliki untuk memecahkan masalah hidup yang dihadapi pada tingkat pekerjaan, keluarga, serta masyarakat, dan kemampuan untuk membaca dunia. Maka “Pencandu Literasi” merujuk pada makna yang positif. Pencandu Literasi adalah orang yang gemar dalam kegiatan literasi seperti membaca, menulis, menciptakan kreativitas dalam hubungan dengan pekerjaan, kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat sekitar, dan kemampuan membaca tentang kejadian dan peristiwa dunia. Arti lain pencandu literasi sama dengan pegiat literasi, dalam konteks ini adalah para pencandu literasi secara online seperti Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan Pustaka Bergerak Indonesia (PBI), para pengelola TBM yang tersebar di seluruh pelosok nusantara, para koordinator dan penggerak literasi wilayah (kota, kabupaten, dan provinsi), dan semua yang telah bergabung serta memanfaatkan taman bacaan di tempatnya secara baik dari anak – anak sampai oang dewasa (lansia pun bisa). Ada beberapa paradigma dalam kaitan dengan pencandu literasi dalam sudut pandang ini.
  1. Membaca dan menulis : meningkatkan kepedulian membaca bagi semua orang, mengajar dan melatih anak – anak usia PAUD/ TK untuk belajar membaca dan menulis serta anak SD kelas bawah (I – III), menulis sebuah karangan sederhana seperti kisah pengalaman pribadi, menulis sebuah pemikiran yang dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan, melatih dari hal yang sederhana akan berkembang menuju luar biasa. Membuat sebuah mading sehingga dapat mengakomodasi dan menyalurkan kegiatan membaca dan menulis secara konkret dari hasil karya sendiri baik pribadi maupun bersama dalam komunitas taman baca.
  2. Menciptakan kreativitas dalam pekerjaan : pekerjaan menjadi pengelola taman baca adalah pekerjaan sukarela, tidak dibayar tetapi atas kemauan dan ketulusan hati untuk menjalankan. Para pengelola bisa menciptakan kreativitas kegiatan pada taman baca sehingga tidak menyebabkan bosan dengan kegiatan yang sama, seperti membuat game, ekspresi dalam gerak dan lagu, menciptakan kegiatan membaca dan menulis outdoor, dan kreativitas lain yang bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.
  3. Menciptakan kreativitas dalam kehidupan keluarga : keluarga yang dimaksud adalah keluarga baru dalam komunitas taman baca bukan keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, dan anak – anak. Keluarga baru ini turut ambil bagian dan mendukung kegiatan yang dilaksanakan sehingga kreativitas – kreativitas pribadi atau kelompok dapat tersalurkan untuk mendukung apa yang telah ada pada menciptakan kreativitas dalam pekerjaan. Setiap pribadi bisa menciptakan kreativitasnya sendiri untuk mengatasi kejenuhannya dalam pengembangan kemandirian dan tanggung dan menciptakan kreativitas untuk bersama dalam mengembangkan kekompakan, kebersamaan, dan persaudaraan. .
  4. Menciptakan kreativitas dalam Masyarakat sekitar : keberadaan komunitas keluarga taman baca tak lepas dari lingkungan masyarakat di sekitar. Kreativitas yang telah dimulai dalam komunitas taman baca dapat ditularkan dalam lingkungan masyarakat, misalnya mengadakan dialog bersama dengan aparat pemerintah desa dan masyarakat, mengajak masyarakat yang belum terlibat untuk terlibat, mengadakan suatu diskusi yang berkaitan dengan komunitas taman baca dan pencandu literasi sehingga ada masukkan dan evaluasi untuk perkembangan masa mendatang.
  5. Kemampuan membaca kehidupan dunia : adanya kegiatan membaca dapat membantu para pencandu literasi untuk mengetahui perkembangan dunia baik dalam negeri maupun luar negeri. Kejadian dan situasi yang terjadi dapat diikuti. Tidak hanya itu, dapat menulis tentang sesuatu yang berhubungan dengan dunia, menuangkan ide – ide yang baik dalam sebuah tulisan, bercerita dan berpendapat tentang dunia.
Sebagai pencandu literasi dalam hubungan dengan TBM dan PBI yang telah dikenal oleh masyarakat membutuhkan adanya gerakan bersama. Dengan kode khusus #BERGERAK, memudahkan interaksi bagi para pecandu literasi dalam mengirimkan paket buku dan dapat menjalin relasi persaudaraan bagi pegiat literasi yang baru pertama kali bertemu. Pemerintah bekerja sama dengan PT. Pos Indonesia telah mensuport dan memfasilitasi bagi semua pencandu literasi nusantara untuk pengiriman paket buku secara gratis pada tanggal 17 setiap bulan. Kemauan, kerja keras, pengorbanan, dan niat tulus akan membangkitkan semangat untuk melanjutkan “Gema Pencandu Literasi Zaman Now”. Oleh: Carolus S. Waikelak Pegiat Literasi Buku Bagi NTT Regio Malang – Jawa Timur   #TBMStory2017


Sahabatku

Sahabatku Adalah sebuah anugerah indah akan kisah pertemuan kita Walaupun kita berbeda dan lemah namun kita sama - sama diciptakan – Nya Sahabatku...... Bukan karena elok tubuhmu Tapi karena tulus hatimu Bukan karena gagah ragamu Tapi karena rendah hatimu Sahabatku....... Terima kasih akan kisah kita bersama Tentang kisah hidup ini Akan getir dan suka hidup kita Sahabatku...... Terima kasih atas kasihmu Terima kasih atas pengorbananmu Terima kasih atas kebaikanmu Sahabatku........ Terimalah pinta maafku atas ketakberdayaan dan kelemahanku atas lancangnya kataku atas kilaf tingkahku Sahabatku...... Selamat jalan menuju seberang Doaku menyertaimu Panjatkan doa pada Tuhan Untuk perjalananmu nanti Sahabatku...... Satu harapanku Dalam bergilirnya waktu Kita akan bertemu lagi Untuk membagikan kisah kita kembali  


Pemulung Cilik

  Cuaca tampak agak cerah. Di langit sedikit dibayangi mendung menyelimuti angkasa sekitar kota Malang. Bocah cilik itu memikul sebuah karung berukuran sedang. Bekas karung beras yang berukuran 20 kg nampak pada tulisan karung itu. Dengan semangat ia berjalan menghampiri kotak sampah yang berada dekat bangsal SDK Mardi Wiyata 1 Malang. Dilihat dan diambilnya beberapa botol dan gelas plastik bekas dari kotak sampah berwarna hijau dan menyimpan dalam karungnya sambil dipikul. Dihampirinya kembali kotak sampah berwarna kuning berada sekitar 15 m dari kotak sampah hijau. Namun ia tak menemukan sesuatu dari kotak kuning. Hanya melihat lalu meninggalkan tanpa mengambil sesuatu. Dari jauh mataku memandang dan mengamati. Perlahan mengikuti dan mendekatinya yang bergegas hendak meninggalkan kotak sampah itu. Hallo dek, ku coba menyapanya. Iya kak, jawabnya singkat. Kami melanjutkan percakapan. Saya pun bertanya tentang dirinya. Namamu siapa ya ...? Fio, ia menjawab sambil memandang ke arahku. Truussss, kamu sudah sekolah...? jawabnya: sudah.... di mana ...? TK Bina Putra, ia pun menjawab. Aku pun kaget. Tempat Fio mengenyam pendidikan sebelum ke tingkat SD hampir setiap hari saya lewati dan lihat. Dalam hatiku bergumam, anak seumur Fio tapi memulung mengadu nasib untuk hidupnya. Apakah ia disuruh orang tuanya atau melakukan sendiri untuk memulung? Semua penuh tanda tanya dalam hatiku. Saya pun membatasi diri untuk bertanya tentang hidup Fio. Kebetulan di tanganku sedang memegang salad buah dan sepotong kue (kue itu seperti pizza) yang tadi dibelikan teman di kantin sekolah tempat ia bertugas. Kebetulan kami bertemu ketika saya hendak ke sekolah di seberang yang melewati jembatan kecil kali Brantas. Saya coba menawarkan salad dan kue kepada Fio dan menyuruh Fio untuk memilih mana yang dia mau. Ia pun menunjukkan ke tanganku yang memegang kue. Kue itupun saya berikan kepadanya. Ia mengambilnya. Raut wajahnya kelihatan senang dan gembira. Fio asyik memakan kuenya itu. Saya pun pamit dan meninggalkan Fio yang sedang menghabiskan kuenya. “Syukur dan terima kasih Tuhan atas pengalaman ini yang telah mengajarkanku untuk mensyukuri hidup ini, atas anugerah rezeki Tuhan berikan. Berikanlah jalan bagi semua orang yang mengalami kesusahan, penderitaan, dan kemalangan dalam hidup mereka” pintaku dalam hati sambil berjalan melewati jembatan besi menuju tempat kerjaku. []  


Secercah Harapan

Secercah Harapan  Jauh sepi dari keramaian dan kegaduhan kota Melewati hutan, bukit, dan arah tujuan Di sini kami menanti asa Akan indahnya titah  dan harapan Dari balik gunung menyambut pagi Sang mentari menyapa kami Membawa sinar terang bagi bumi Dapat menghangatkan tubuh dan jiwa  kami Hadir secercah harapan hidup kami Membawa terang penghalau rintang Membuka nalar dan budi kami Menyongsong hari depan yang cemerlang  


Efektivitas TBM dan Gerakan Literasi Nusantara


Perkembangan akhir tentang Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sesuai data online pada Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) dan website Donasi Buku Kemdikbud mengalami pertambahan kuantitas yang signifikan pada pertengahan November 2017. Semakin banyak penggerak literasi nusantara dalam menggerakan dan mengembangkan kegiatan membaca bagi masyarakat terutama yang teletak di daerah pelosok yang sulit terjangkau oleh infrastruktur yang baik seperti jalan, listrik, dan jaringan komunikasi. Melalui media sosial, perkembangan kegiatan di hampir seluruh TBM berjalan baik. Secara umum tergambar anak-anak sebagai generasi penerus tersapa dengan adanya TBM karena kegiatan berlangsung nonformal. Para penggerak literasi begitu antusias dalam mengembangkan kegiatan di TBM yang dikelola. Melalui gerakan literasi dengan cita-cita agar terbentuknya TBM di seluruh penjuru tanah air, maka terbentuklah sebuah sistem sosial yang menandakan adanya kesalingtergantungan. Sistem sosial membentuk rangkaian interaksi semua pihak yang terlibat baik individu dengan individu, kelompok dengan kelompok, dan individu dengan kelompok ataupun sebaliknya. Habermas mengemukakan bahwa agar sebuah sistem dapat tetap dipertahankan dan direproduksi maka ada empat persoalan mendasar yang harus di selesaikan dikenal dengan AGIL yaitu: [A] Adaptation, [G] Goal attainment, [I] Integration, dan [L] Pattern Maintenance (Fanani & Endriyani, 2004:5). Keempat persoalan ini perlu diketahui, diantisipasi, dan diselesaikan sehingga membentuk suatu sistem sosial yang dapat mempengaruhi perkembangan dan kemajuan sistem tersebut. Muncul sebuah pertanyaan, bagaimana sebagai penggerak literasi dalam menghadapi empat persoalan mendasar di atas? Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin maju dewasa ini mempengaruhi berbagai bidang kehidupan manusia yang mengindikasikan akan sebuah interaksi sosial yang tidak dibatasi lagi oleh ruang dan waktu. Para penggerak literasi nusantara juga mengalami efek ini dalam menjalin interaksi dengan individu atau kelompok lain tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu, sebagai penggerak literasi nusantara perlu mengetahui, mengantisipasi, dan menyelesaikan permasalahan dasar (AGIL) yang dikemukakan oleh Habermas.
  • Adaptasi / Adaptation (A) : TBM memiliki pola adaptasi dengan situasi yang terjadi di luar. TBM dituntut untuk responsif (menanggapi) adanya perubahan yang terjadi di luar lingkungan TBM, sehingga dapat menghadapi, menyesuaikan, dan menghadapi perubahan yang terjadi dan dampak-dampaknya karena faktor luar dalam keberlangsungan kegiatan TBM yang dikelola. Para pengelola TBM dan semua pemakai TBM memiliki peran dalam pola adaptasi ini baik dari segi ide maupun tindakan.
  • Pencapaian Tujuan / Goal attainment (G) : TBM menentukan tujuan yang dapat dicapai bersama. Pencapaian tujuan ini, TBM bisa merumuskan visi, misi, tujuan, dan moto bila diperlukan. Tujuan-tujuan yang ingin dicapai perlu dirumuskan dan dicetak sehingga dapat diketahui oleh semua pihak yang tergabung dalam TBM. Pengelola dapat berperan mengadakan kegiatan dan praktik yang terkait, memberikan arahan serta pengertian sistem tindakan secara keseluruhan kepada para pemakai TBM dalam rangka mencapai tujuan yang ditentukan.
  • Integrasi / Integration (I) : TBM dapat mempertahankan integrasi sosial berkaitan dengan aturan yang berlaku dalam lingkungan dan kegiatan TBM. Para pengelola dapat merumuskan dan menetapkan aturan-aturan yang berlaku sehingga semua pihak yang terkait dapat mematuhi dan mentaati. Peraturan-peraturan yang dibuat dapat disesuaikan situasi dan kondisi lingkungan sekitar sehingga dapat mendukung kegiatan yang dilaksanakan.  Semua pihak yang terkait wajib mematuhi perturan-peraturan tersebut sehingga dapat dilaksanakan bersama dengan baik.
  • Pola Pemeliharaan / Pattern maintenance (L) : TBM dapat mempertahankan integrasi sistem nilai yang melandasi dan mendukung kegiatan di TBM. Adaptasi, pencapaian tujuan, dan integrasi berhubungan erat dengan pola pemeliharaan. Ketiganya mendorong sehingga keberlangsungan kegiatan TBM dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Kemajuan suatu TBM dapat bergantung pada masukan-masukan dari pihak lain berupa pemikiran dan hal-hal yang berkaitan dengan materil sehingga dapat mendukung kegiatan pada TBM sesuai dengan yang diinginkan dan diharapkan. Gerakan literasi nusantara menghubungkan pola interaksi bersama dalam cakupan nasional baik dari kota sampai dengan daerah pelosok Indonesia. Hubungan interaksi ini menggambarkan “adanya pola sistem input yang dibutuhkan dan output yang dihasilkan sebagai hubungan pertukaran seperti yang dikemukakan oleh Parsons” (Fanani & Endriyani, 2004:9-10).[]