LOADING

Type to search

Kisah Anak Cahaya

Redaksi 17 jam ago

Merawat Relawan

Redaksi 6 hari ago

Berbagi Rasa Merdeka Bersama TBM Mandiri

Edy Sofiyan 1 minggu ago

Satu Posyandu Satu Poslitera

Stunting baru-baru ini mendapat perhatian khusus dari Kepala Bappenas dan bahkan Presiden Joko Widodo dalam rapat Istana Negara yang secara khusus membahas masalah ini. Data kesehatan terakhir menunjukkan dari 24,5 juta anak usia di bawah lima tahun (balita) di Indonesia sekitar 9 juta atau 37 persen menderita stunting.[1]   Stunting merupakan kondisi anak balita gagal tumbuh yang diukur berdasarkan tinggi badan menurut umur. Stunting menciptakan risiko kematian yang lebih besar, menurunkan kemampuan kognitif anak serta rentan terserang penyakit degeneratif saat dewasa.[2]    Mengurai Sumber Permasalahan   Jika kita telaah, pada hakikatnya ada dua sumber permasalahan stunting yang terjadi pada masyarakat, yakni tidak sadar sehat dan tidak tahu sehat.   Pertama, tidak sadar sehat. Ketidaksadaran masyarakat tentang kesehatan ini disebabkan karena kurang maksimalnya peran pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Hal inilah yang memunculkan gangguan pada pertumbuhan masyarakat seperti rendahnya kualitas output kelahiran, yaitu berat bayi rendah (<2,5 kg), terjangkitnya penyakit anemia karena asupan gizi yang kurang cukup dan pola pangan kurang seimbang.   Kedua, tidak tahu sehat. Peran pemerintah sekadar memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat saja tidak cukup, perlu juga upaya layanan edukasi untuk mencedaskan masyarakat. Mengapa demikian? Analoginya, orang sudah sadar akan pentingnya kesehatan, tapi jika tidak diimbangi dengan pengetahuan untuk menjaga kesehatan maka orang itu tidak akan melakukannya. Ketidaksadaran dan ketidaktahuan terhadap kesehatan inilah yang menimbulkan rendahnya kualitas sumber daya manusia.   Untuk mengatasi kedua persoalan di atas maka antara sadar sehat dan tahu sehat harus dilakukan secara bersaamaa. Sebab kesadaran akan kesehatan yang diimbangi dengan pengetahuan akan sehat maka akan membentuk sikap untuk hidup dan berperilaku sehat.       Layanan Poslitera Sebagai Sebuah Solusi   Rendahnya kualitas generasi stunting membuat wawasan mereka kalah dengan anak-anak yang pertumbuhannya normal. Dampaknya, kemampuan intelektual yang rendah ini akan mengancam daya saing generasi mendatang. Untuk itu, layanan poslitera perlu digalakkan untuk mewujudkan Indonesia bebas stunting.   Layanan poslitera ini diselenggarakan satu waktu dengan posyandu. Di sini diperlukan sinergitas dan kerja sama yang solid untuk mewujudkan Indonesia bebas stunting. Sederhananya, dimana ada layanan posyandu maka disitu ada poslitera untuk masyarakat.   Posyandu sebagai ujung tombak program gizi di lapangan harus benar-benar maksimal dan didongkrak kinerjanya. Persepsi masyarakat terhadap posyandu hanya sekadar tempat penimbangan anak balita dan pembagian bubur serta biskuit gratis sudah saatnya dibenahi dan diperbaiki. Sebab sehat secara pertumbuhan tubuh saja tidak cukup, perlu adanya asupan gizi literasi untuk perkembangan intelektual.   Poslitera memberikan layanan dan fasilitas kepada masyarakat berupa pojok baca, kelas balita dan kelas ibu hamil, serta penyuluhan kesehatan. Pertama, pojok baca. Dalam pojok baca ini nantinya menyediakan beberapa buku kesehatan yang bisa dipinjam dan dibaca oleh masyarakat saat mengantri/ menunggu untuk diperiksa kesehatannya saat posyandu berlangsung.  Hal ini dilakukan untuk memberikan pengetahuan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.   Kedua, kelas ibu hamil. Kelas ini adalah fasiltas layanan yang disediakan khusus untuk para ibu-ibu yang sedang hamil. Dalam kelas ini, nantinya diberikan penyuluhan dan pendampingan bagi ibu hamil secara kontinyu agar bayi yang ada di dalam kandungan sehat dan tidak mengalami gangguan pertumbuhan atau perkembangan yang dapat memicu persoaln stunting.  Ketiga, kelas balita. Kelas ini diselenggarakan untuk mendampingi anak-anak balita, terutama balita yang ada di desa. Sebab pengetahuan orang tua terhadap perkembangan anak-anaknya kurang begitu mumpuni sehingga terkadang tidak jarang balita yang mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan maupun perkembangannya. Kelas balita yang intensif inilah yang nantinya memberikan bekal pengetahuan kepada orang tua untuk mendidik dan mendampingi tumbuh kembang balita secara baik dan maksimal.             Dari layanan poslitera dengan tiga basis yang berkolaborasi dengan posyandu diatas inilah yang nantinya dapat menyeimbangkan antara masyarakat sadar sehat dan tahu sehat yang menciptakan sikap untuk hidup sehat dan masyarakat bebas stunting.       Program Satu Posyandu Satu Poslitera Dengan adanya program satu posyandu satu poslitera di tiap desa ini, selain mewujudkan Indonesia bebas stunting juga dapat melahirkan generasi yang memiliki gizi literasi tinggi sehingga terbentuk karakter sumber daya manusia yang sehat, cerdas, berkualitas dan berdaya saing. Mari galakkan bersama gerakan satu posyandu satu poslitera untuk Indonesia bebas Stunting! Indonesia Berdaya Saing! *Tulisan ini telah diikutsertakan dalam kegiatan lomba menulis artikel kesehatan yang diselenggarakan oleh LKNU Banyumas Tahun 2018      [1] Ali Khomsan, Lingkaran Setan “Generasi Pendek”, Koran Kompas, 25 April 2018, kolom opini hal. 7       [2] Sonny Harry B Harmadi, Mengungkit IPM dari Desa, Koran Kompas 27 April 2018, kolom opini hal. 6      


Mengenalkan Api pada Anak Usia Dini

"Bunda Anis, itu apa?" tanya Zaka, bocah berumur 3 tahun itu. "Ini adalah lilin" jawab Bunda sambil menunjukkan lilin yang baru saja dibuatnya. Zaka dan temannya pun mendekati dan merasa penasaran. "Hati-hati yah" ucap Bunda. Anak usia dini memang memiliki rasa ingin tahu lebih dan selalu saja ingin mencoba hal-hal baru. Pada usia tersebut pula seringkali anak tidak memperdulikan apakah hal baru yang dilakukan itu membahayakan dirinya atau tidak. Seperti bermain api misalnya. Bermain api bagi anak usia dini adalah sesuatu yang bahaya, terlebih jika di luar pengawasan dari orang tua. Sering kali kita melihat berita di televisi ataupun surat kabar yang menginformasikan peristiwa kebakaran yang disebabkan keteledoran orang tua yang membiarkan anaknya bermain api. Dari sini, maka orang tua harus lebih waspada dan selalu mendampingi anak di setiap tindakannya. Untuk itu, tidak ada salahnya jika orang tua mengenalkan api dan bahayanya sedini mungkin pada anaknya. Pertama, ajak anak untuk menyalakan lilin. Biarkan anak sejenak untuk mengamati lilin yang telah dinyalakan. Mintalah kepada anak untuk mendekatkan tangannya kearah sumbu api. Setelah itu mintalah anak untuk mendekatkan kertas pada api hingga terbakar. Kedua, berikan kesempatan pada anak untuk mengungkapkan pendapat. Mintalah anak untuk mengungkapkan pendapatnya tentang rasa panas saat tangan dekat dengan api. Dengan begitu dapat diketahui apakah anak sudah mengetahui apa belum bahwa sifat api itu panas dan bisa membakar sesuatu yang lainnya. Ketiga, mulailah memberikan pengetahuan pada anak kenapa tidak boleh bermain api. Orang tua bisa memberikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak. Seperti “Nak, api itu panas, jika mengenai tubuh kita maka kulit melepuh dan terbakar. Kamu tahu bagaimana rasanya? Ya, sakit dan perih”. Keempat, selain mengenalkan panas, orang tua juga perlu mengajarkan cara mengatasi atau mengobati anggota tubuh saat terkena api dan bagaimana cara memadamkan api sehingga anak menjadi semakin paham tentang api dan bahayanya.


Mengapa Anak Usia SD Sudah Suka Membentuk Geng?

Minggu lalu, teman saya bercerita di Forum Studi Literasi tentang pengalaman dan tantangan mengajar di sekolah dasar. Terutama pengalaman dan tantangan saat menjumpai anak didiknya sudah mulai membentuk geng atau kelompok teman bermainnya. Yang menjadi permasalahan dan terkadang membuat guru bingung adalah saat ada satu anak yang kurang disukainya oleh suatu geng, kemudian kelompok geng itu pun biasanya turut membenci dan menjauhi. Fenomena di atas wajar saja terjadi saat anak usia SD mulai suka membentuk geng atau kelompok. Sebab itu semua termasuk bagian dari proses perkembangan dan pertumbuhan anak. Dimana pada usia antara 6-12 tahun, anak sudah mulai mencari pertemanan dan mengenal lingkungan di luar lingkungan keluarga. Anak-anak mulai suka dengan teman-temannya yang bisa membuat nyaman dan memiliki kesukaan yang sama. Lalu, apa saja penyebab anak usia SD sudah mulai suka membentuk geng? Pertama, usia SD adalah usia seorang anak yang sedang mencari jati diri. Anak sudah mulai mencoba berpikir rasional dan mencari tahu siapa sebenarnya dirinya itu sendiri. Kedua, usia SD adalah usia dimana seorang anak ingin mendapat perhatian banyak orang di sekelilingnya. Biasanya anak atau geng akan melalkukan “caper” atau cari perhatian dengan membuat polah kepada guru atau orang lain yang ada di sekitarnya. Sehingga akan mendapatkan sorotan dan kepuasan sendiri. Ketiga, usia SD adalah usia seorang anak yang sedang belajar berinteraksi sosial. Anak mencoba belajar untuk memahami karakteristik orang lain, sehingga dari sini anak bisa belajar menghargai dan menghormati perbedaan antara anggota geng satu dengan yang lainnya.  []


Mengapa Orang Tua Perlu Menghadirkan Sosok Inspiratif Untuk Anak?

Setiap orang tua dapat dipastikan memiliki impian dan cita-cita terhadap keluarganya. Termasuk cita-cita untuk mengantarkan anaknya menjadi sukses misalnya. Sukses tidaknya orang tua dalam mengantarkan anak pun juga masih tergantung pada usaha yang dilakukan. Semakin baik usaha yang dilakukan maka semakin dekat pula mengantarkan anaknya pada pintu kesuksesan. Akan tetapi, terkadang motivasi orang tua untuk mengantarkan anaknya sukses sangat kurang dan hanya sekadar ucapan lisan. Terlebih orang tua yang tinggal di desa dan berlatar belakang ekonomi pas-pasan. Orang tua seperti ini biasanya akan membiarkan anaknya bertumbuh kembang dengan sendirinya dan hanya berharap nasibnya tidak sama seperti bapak atau ibunya. Pandangan orang tua seperti ini sudah sepantasnya mulai dirubah sejak sekarang. Sebab seorang anak juga berhak meraih masa depan dan cita-cita mulianya. Untuk itu, salah satu langkah yang bisa orang tua lakukan dalam mengantarkan anaknya menuju pintu kesuksesan adalah dengan cara menghadirkan sosok inspiratif pada anak. Seperti menghadirkan sosok orang sukses di usia muda, pengusaha,dokter, masinis, pilot, atau sosok-sosok inspiratif lainnya. Meskipun menghadirkannya sekadar berkenalan sebentar dan mencium tangan saja namun akan memberikan energi positif yang luar biasa bagi anaknya. Beberapa orang tua mungkin akan mempertanyakan mengapa orang tua perlu menghadirkan sosok inspiratif pada anak? dan bertanya pula apa manfaatnya bagi anak? Berikut adalah ketiga alasan pentingnya dan manfaat yang bisa didapat oleh si anak saat bertemu dengan sosok inspiratif. Pertama, mengenalkan sosok inspiratif sama halnya membuka cakrawala anak. Anak yang semula masih awam, hanya tahu guru adalah profesi yang menjanjikan, dan atau bahkan sama sekali tidak tahu dengan dunia luar kini menjadi tahu ternyata macam-macam profesi yang bisa membuat sesorang sukses itu beragam jenisnya. Dari sinilah anak akan mendapatkan kesan pertama dan sudah mulai terbuka pikirannya perihal masa depannya mau jadi apa dan bagaimana. Kedua, menghadirkan sosok inspiratif berarti menanamkan mimpi pada anak. Anak yang barangkali tadinya tidak memiliki mimpi atau biasanya bingung saat ditanya perihal mimpi, kini setelah bertemu sosok inspiratif anak memiliki keyakinan yang besar tanpa ragu terhadap mimpinya. Dari sini, setidaknya anak terinspirasi untuk mencoba meniru dan meyakini dalam hatinya esok akan menjadi sosok yang menginspirasinya itu. Ketiga, menghadirkan sosok inspiratif adalah membangun harapan pada anak. Saat anak melihat orang lain saja bisa sukses pasti dalam hatinya muncul rasa keinginan untuk menjadi sukses. Selanjutnya anak meyakini bahwa orang lain saja bisa pasti saya juga bisa. Dari sinilah anak akan membangun sebuah harapan untuk masa depannya. Harapan untuk hidup sukes, harapan untuk hidup bahagia, ataupun harapan-harapan lainnya yang diyakini bisa dicapai dengan kerja kerasnya.[]


Snake GENERATION #1

Ada tiga pola perilaku generasi muda di era milenial yang bisa menghawatirkan masa yang akan datang jika dibiarkan secara terus menerus. Pertama, perilaku eat (budaya konsumtif). Tidak dapat dipungkiri bahwa perilaku generasi muda saat ini lebih suka makan di tempat yang terlihat mewah dari pada makan di rumah atau makan yang dimasak sendiri. Cara makannya pun sudah berbeda, yang dahulu barangkali diawali dengan doa kini justru semakin ribet. Kebiasaan sebelum makan di awali dengan selfie bersama makanan terlebih dahulu kemudian dibuat caption menarik atau status di media sosial, dan barulah mulai makan. Kedua, perilaku sleep (memilih tidur/ malas gerak). Tidak sedikit kita jumpai generasi muda seperti mahasiswa selepas dari kampus tercintanya memilih untuk tidur di rumah atau kos dari pada melakukan hal positif yang bermanfaat untuk lingkungan sekitarnya. Selain tidur, mereka juga asyik ngeliker menghabiskan waktunya di tempat tidur dengan gawainya. Ketiga, perilaku hunting (suka jalan-jalan). Hunting seolah-olah menjadi hobby yang paling diminati oleh generasi muda kita. Mereka berlomba-lomba untuk sampai pada tempat wisata untuk memfoto diri dan memamerkan kepada teman-temannya melalui lebih dari satu media, seperti whatsapp, instagram, ataupun media sosial lainnya. Dari ketiga perilaku generasi muda kita ini, jika ditanya gambaran nyata pemuda saat ini seperti apa? Maka saya akan jawab seperti ular. Sebabnya, generasi muda kita saat ini sedang suka ngeliker di tempat (malas gerak), budaya konsumtif tinggi, memakan sesuatu secara mentah-mentah tanpa dikunyah, garang dan mudah menyerah, lebih suka memotret diri dan lingkungannya untuk diunggah di sosial media, tetapi action-nya kurang dalam menyikapi persoalan pribadi atupun persoalan lingkungan sekitar. Untuk itu, gambaran fenomena generasi muda saat ini saya sebut sebagai snake generation. Snake generation adalah generasi yang mindsite nya dipenuhi dengan lingkaran kemalasan dan ke-instan-an. Sehingga malas untuk bergerak, bekerja, apalagi berkarya. Terlebih jika generasi ini dibenturkan dengan sebuah masalah, maka ia hanya akan mengambil sikap menghindar atau sekadar berwacana tanpa memberikan solusi yang konkret dan nyata.[]


Pendidikan Antikorupsi dari Ruang Keluarga

Sebut saja Zaka dan Nera, kakak beradik yang dimintai tolong oleh ibunya untuk membeli sabun dan sikat gigi di warung dekat rumahnya. Di tengah perjalanan Zaka, sang adik berjalan sambil melamun. Seolah-olah seperti hendak memikirkan dan menghitung berapa uang kembalian yang bisa digunakan olehnya untuk membeli jajan. Nera pun merasa kebingungan sebab tidak seperti biasanya adik yang kesehariannya suka ngomel itu, kini tiba-tiba diam begitu saja. Sang kakak pun mengusap lembut kepalanya seraya berkata “apa yang kamu pikirkan, Zak?”. Begini kak, bagaimana kalau sebagian uang kembalian ibu kita gunakan untuk jajan, tanyanya. Si kakak pun berpikir sedikit keras untuk menjawab pertanyaan adiknya. Di sisi lain ia merasa kasihan terhadap adiknya, di sisi lain ia teringat pesan ibunya. Akhirnya, dengan bahasa yang baik ia memutuskan untuk tidak memenuhi permintaan adiknya karena ia teringat pesan ibunya agar tidak menggunakan uang sisanya untuk apapun. Sesampainya di rumah, kedua anak kakak beradik ini pun mengembalikan uang pada ibunya secara utuh. Dari kejadian ini, kita menjadi tahu bahwa lewat sebuah kejadian keseharian seorang anak belajar segala hal, termasuk yang berurusan dengan uang dan kejujuran. Sepertihalnya dua anak yang membantu orang tua untuk membelikan sesuatu, anak-anak belajar menghitung dan menjaga amanah yang diterimanya dengan baik, yakni mengembalikan uang sampai aman pada ibunya. Dalam benak kita, barangkali menggunakan uang kembalian, sekalipun sedikit untuk jajan tanpa sepengetahuan atau seizin orang tua tampak sepele. Akan tetapi kebiasaan seperti ini lama kelamaan dapat membentuk pribadi dewasa yang suka “menyelundupkan” uang. Dari sini kita sebagai orang tua menjadi tahu bahwa jiwa atau karakter seorang anak akan tumbuh dan terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan yang dilihat di lingkungan terdekat seperti lingkungan keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Artinya, tumbuhnya jiwa belajar antikorupsi pada anak pun dapat terbentuk dari ruang keluarga. Lantas bagaimana ruang keluarga dapat membentuk karakter antikorupsi? Dalam bukunya “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja”, Syamsul Yusuf menjelaskan bahwa setidaknya keluarga memiliki tujuh fungsi, yakni fungsi biologi, ekonomi, pendidikan, sosialisasi, perlindungan, rekreatif, dan agama. Keluarga sebagai pendidik utama, sangat tepat untuk dijadikan solusi atas berbagai persoalan yang menimpa anak usia dini. Melalui pendidikan keluarga, anak akan terdidik dan terbiasa dengan aktivitas yang berguna dan bermanfaat bagi kehidupannya di masa mendatang. Sosok Ibu dalam ruang keluarga menjadi faktor yang sangat menentukan terhadap proses pembentukan karakter anak agar terhindar dari perbuatan yang melanggar norma agama dan hukum. Dari sini keterampilan mengajarkan nilai-nilai kejujuran pada anak sebagai kemampuan dasar dalam berinteraksi sosial dengan lingkungan sekitar manjadi peran penting dari seorang ibu. Kejujuran sebagai prestasi yang berharga menjadi nilai paling utama dalam pendidikan antikorupsi, sebab tanpa memiliki kejujuran, seseorang tidak akan pernah mendapatkan kepercayaan dari siapa pun. Sehingga sedini mungkin orang tua segera menanamkan nilai-nilai kejujuran terhadap anaknya.   Tidak kalah pentingnya, nilai-nilai antikorupsi yang harus diajarkan sejak dini adalah bagaimana mengajarkan anak untuk hidup sederhana. Sebab dengan gaya sederhana inilah seorang anak akan terbiasa untuk hidup tidak boros dan menerima sesuatu yang sudah menjadi takdirnya. Selain itu, penanaman nilai kesederhanaan ini juga akan membentengi anak dari sifat tamak dan serakah. Begitu juga sebaliknya, jika dalam ruang keluarga tercipta iklim pola hidup yang penuh dengan kemewahan, anak akan terbiasa hidup berfoya-foya dan konsumtif. Bahayanya pola hidup seperti ini akan memicu anak untuk korupsi dan ego yang tinggi untuk memenuhi kepuasan diri. Secara demikian, ruang keluarga sebagai tempat pendidikan utama memiliki peran penting dalam mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan cinta mendalam. Perihal tentang kejujuran, kesederhanaan, dan kedisiplinan yang ada di dalam ruang keluarga yang barangkali disebut dengan bentuk-bentuk literasi antikorupsi yang dapat menjadi awal yang baik untuk mencegah tindak korupsi. #kpk #beranijujurhebat  


Kenali Tahap Kemampuan Membaca Anak

Bagi seorang anak membaca bukanlah sebuah pengetahuan. Akan tetapi membaca merupakan salah satu cara terbaik untuk mengahasilkan nutrisi dan gizi literasi yang menyehatkan pikiran anak.  Sedini mungkin anak membaca, maka semakin sehat pula pikiran anak di saat usia dewasa. Semakin sehat pikiran anak, maka akan semakin sehat pula negaranya. Sebab anak merupakan aset paling berharga sebuah negara. Persoalannya sekarang adalah bagaimana kemampuan membaca anak-anak hari ini? Terlebih melihat fenomena di era digital saat ini, anak-anak lekat sekali dengan yang namanya gadget.  Untuk itu perlu adanya keterampilan mengajarkan membaca yang dibiasakan sejak dini. Akan tetapi sebelum sampai pada hal itu perlu diketahui tahap-tahap kemampuan membaca seorang anak. Cochrane Efal sebagaimana dikutip Brewer dijelaskan setidaknya ada lima tahapan perkembangan membaca anak. Pertama, magical stage atau tahap fantasi. Pada tahap ini, anak akan mejadikan buku sebagai media mainan yang menyenangkan. Anak menggunakan buku untuk bermain dengan temannya, melihat, membalik halaman buku, juga membawa buku kesukaannya kesana kemari. Kedua, self concept stage atau tahap pembentukan konsep diri. Pada tahap ini anak sudah mulai terlibat dalam kegiatan membaca dengan berpura-pura membaca buku dan memahami gambar berdasarkan pengalaman yang diperoleh. Dari sini anak juga akan menggunakan bahasa yang tidak sesuai dengan tulisan yang ada di dalam buku. Ketiga, bridging reading stage atau tahap membaca gambar. Pada tahap ini anak mulai tumbuh kesadaran akan tulisan dalam buku dan menemukan kata yang pernah ditemui sebelumnya, anak juga sudah mulai mengenal huruf abjad. Keempat, take off reader stage atau tahap pengenalan bacaan. Pada tahap ini anak mulai tertarik pada bacaan, dapat mengingat tulisan dalam konteks tertentu, berusaha mengenal tanda-tanda pada lingkungan, serta membaca berbagai tanda, misal: papan iklan, kotak susu, rambu lalu lintas, dan lain-lain. Kelima, independent reader stage atau tahap membaca lancar. Pada tahap ini anak sudah dapat membaca tulisan dengan lancar tanpa dampingan dari orang terdekat. Bahkan anak juga mampu memahami dan berpikir kritis terhadap hasil pengalaman membacanya. Kelima tahapan ini tentu perlu diketahui bersama, terutama orang tua dan guru agar kelak anak-anak menjadi pembaca yang baik. Bukan hanya sekadar baik dalam membaca buku namun juga mampu membaca perihal fenomena yang terjadi disekelilingnya sehingga dari hasil pengalaman membacanya mampu merubah keadaan yang ada di sekitarnya. Ke arah yang lebih baik, tentunya. (Mukhamad Hamid Samiaji - Mahasiswa IAIN Purwokerto dan Pegiat Literasi di Taman Baca Masyarakat Wadas Kelir Purwokerto)


Bersua dengan Orang yang Resah

Siang tadi, tanpa sengaja, saya bertemu dengan salah satu kepala sekolah Madrasah Aliyah yang ada di wilayah Purwokerto. Beliau pun bercerita tentang keresahannnya. Ada seorang anak yang biasa ranking satu di sekolahnya dan belum lama juga si anak itu mendapatkan beberapa penghargaan yang membuat bangga seluruh warga sekolahnya. Namun, tidak dengan si anak itu. Sebab setelah mendapatkan penghargaan, ia tidak lagi mendapatkan ranking satu perihal beberapa guru tidak memberikan nilai yang sepadan dengan alasan beberapa kali tidak mengikuti pelajarannya. Padahal ketidakikutsertaan dalam pelajaran itu si anak tengah mempersiapkan diri untuk perlombaan agar mendapatkan hasil maksimal. Di sinilah, terkadang membuat saya merasa sedih. Melihat seorang guru terlalu saklek dalam menilai hasil belajar siswa. Padahal dengan cara seperti itu, seorang guru dapat mengutuk semangat belajar dan perkembangan potensi siswa. Selebihnya siswa tidak lagi bisa bergerak bebas untuk mengekspresikan kemampuannya yang barangkali dengan cara seperti ini bisa mengharumkan nama sekolahnya. Sayangnya seorang guru terkadang tidak berpikir sampai sejauh itu. Lebih memperhatikan nilai hasil ulangan dan kurang memperhatikan keterampilan siswa dan masa depannya. Harapannya cara pandang seperti inilah yang seharusnya tidak ada lagi dalam mindsite seorang guru. Guru setidaknya objektif dalam menilai dan memahami karakteristik tiap individu siswa yang berbeda. Sebab saat di kehidupan siswa nantinya, yang ditanyakan masyarakat bukan sekadar seberapa besar nilai yang diperoleh saat sekolah, namun seberapa besar keterampilan yang dimilikinya yang bisa memberikan manfaat dan keberkahan bagi orang-orang di sekelilingnya. Sekilas cerita ini semoga bisa mengantarkan pendidikan di Indonesia menjadi lebih indah. Di sisi lain, dari peristiwa ini saya pun menjadi belajar dan tahu. Setidaknya ada tiga hal yang akan kita dapatkan saat berjumpa dengan orang dalam keadaan resah. Yakni pengalaman, ilmu pengetahuan, dan harapan. 


Berpikir Kreatif

Gerobak baca selalu berdiri terbuka menyambut kedatangan anak-anak, remaja, hingga orang tua di Taman Baca Wadas Kelir. Di kursi cokelat Taman Baca itu terkadang mengingatkanku pada sosok muda yang berpikir kreatif dan bermimpi kreatif. Ya, sebut saja guruku, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir. Mungkin sebelumnya penulis telebih dahulu membawa pembaca untuk merenungkan bersama makna dari berpikir kreatif. Sebab kebanyakan orang menghubungkan berpikir kreatif dengan hal-hal penemuan seperti penemuan atau pengembangan teknologi, sains, maupun karya tulis. Dari sini tentu saja penemuan semacam itu merupakan bukti dari cara berpikir kreatif. Akan tetapi, berpikir kreatif tidak hanya terbatas untuk pekerjaan tertentu dan juga tidak untuk orang yang ekstra cerdas. Lantas, apa yang dimaksud dengan berpikir kreatif? Sebuah keluarga yang memiliki ekonomi menengah kebawah memiliki cita-cita untuk menyekolahkan anaknya ke universitas. Inilah berpikir reatif. Sebuah sekolah non formal yang mengubah lingkungan belajar tidak bersih menjadi rapid an indah. Inilah berpikir kreatif. Seorang guru yang mengembangkan kuriukulum membaca untuk meningkatkan kecintaan pada buku anak didiknya. Inilah berpikir kreatif. Memikirkan cara-cara untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah, menjual produk kepada pelanggan melalui media sosial, membuat anak agar tetap gemar membaca – semua ini adalah contoh berpikir kreatif sehari-hari yang praktis di wadas kelir. Dari sini kita menjadi tahu bahwa sebenarnya berpikir kreatif adalah menemukan cara-cara baru yang lebih baik untuk mengerjakan segala hal yang hasilnya tergantung pada cara apa yang dilakukan. Untuk mengembangkan cara berpikir kreatif ini tidak semudah yang kita bayangkan. Sebab terkadang cara berpikir kita dibekukan oleh cara berpikir lama yang membuat kita sulit untuk berhasil menjadi pribadi yang kreatif. Cara berpikir lama atau cara berpikir tradisional ini pulalah yang teradang menghambat kemajuan kita dan mengutuk perkembangan kekuatan kreatif kita. Untuk itu, sekiranya ada tiga cara yang bisa memerangi hal tersebut Pertama, jadilah orang yang tebuka. Mau menerima pendapat atau gagasan dari orang lain. Hilangkan pikiran “Tidak akan mungkin bisa”, “Buat apa melakukannya”, dan “Ini tidak ada faedahnya”. Sebab jika kita masih mempertahkan hal demikian, otak kita akan selalu terteror dengan pikiran yang negative tersebut. Akan tetapi juga sebaliknya, jika kita selalu terbuka dan berpikir positif maka segala hal bisa dilakukan dan segala hal bisa tercapai. Kedua, jadilah orang yang suka mengamati kejadian-kejadian atau permasalahan-permasalahan sederhana dilingkungan sekitar atau bahasa ilmiahnya adalah melakukan mini riset. Amati setiap kejadian dan temukan solusi yang bisa mengubahnya menjadi perihal yang lebih baik. Ketiga, jadikan diri kita sebagai orang yang progresif bukan regresif. Artinya disini kita dituntut untuk out of the box atau berpikir di luar kebiasaan kita. Bukan berarti inilah cara yang biasa kita lakukan sehingga cara ini yang harus kita lakukan. Namun, bagaimana kita bisa mengerjakan agar lebih baik dengan cara yang bisa kita lakukan. Inilah yang dimaksud progresif, berpikir kedepan bukan regresif, berpikir kebelakang. Dengan ketiga cara inilah sekiranya kemampuan berpikir kreatif bisa terwujud secara ideal. Ini pun saya kira juga tegantung pada seberapa besar keyakinan dan pikiran positif kita. semakin besar keyakinan dan pikiran positif kita maka akan semakin besar pula kekuatan berpikir kreatif kita. begitu juga sebaliknya, semakin kecil keyakinan dan pikiran positif kita terhadap kemampuan berpikir kreatif kita maka sekecil itulah kekuatan berpikir kreatif kita.[]


Jangan Salahkan Kami!

Hampir setiap hari saya selalu disajikan fenomena hidangan khas Rumah Kreatif Wadas Kelir. Fenoma relawan yang duduk melingkar bersama anak-anak di sudut gerobak baca dan teriak kencang anak-anak yang asyik bermain misalnya. Bahkan tidak jarang pula saya melihat para relawan sampai berjingkrak-jingkrak gembira bersama anak hanya sekadar untuk mengabadikan ilmu pengetahuan melalui kegiatan membacakan buku pada anak. Berawal dari fenomena itu, saya mendadak teringat bahwa mata saya pernah singgah di sebuah buku Human Development Edisi Kesembilan karya Diane E. Papalia yang menyebutkan setidaknya ada tiga gaya membacakan buku pada anak. Pertama, describer style atau gaya membacakan cerita dengan fokus pada mendeskripsikan apa yang terjadi di dalam gambar dan mengajak anak untuk melakukan hal yang sama. Misalnya, “Apa yang akan dilakukan ayam saat pagi hari? Sekarang coba tirukan suara ayam berokok!” Dengan gaya ini menghasilkan manfaat memperkaya kosa kata, memahami kata yang diucapkan, dan keterampilan menggambar yang amat besar. Kedua, comprehender style atau gaya membacakan cerita dengan mendorong anak untuk melihat lebih dalam pada mana cerita dan untuk membuat kesimpulan serta prediksi. Misalnya, “Apa kira-kira yang akan dilakukan oleh ayam setelah itu?”. Dari sini imajinasi anak akan meningkat dan memahami makna ataupun nilai dari sebuah cerita Ketiga, permformance-oriented style atau gaya membacakan cerita secara langsung, memperkenalkan inti dari cerita tersebut sebelum memulai dan memberikan pertanyaan setelah pembacaan selesai. Gaya ini akan membuat perbendaharaan kata anak dan keterampilan bahasa meningkat sehingga anak bisa mengucapkan kata demi kata yang tersusun menjadi sebuah kalimat yang baik dan benar. Dari ketiga gaya membacakan buku tersebut, ternyata tanpa disadari sudah dilakukan oleh kami para relawan setiap harinya. Bahkan jika dihitung ada lebih dari tiga gaya membacakan buku pada anak yang asyik dan menyenangkan yang dilakukan oleh relawan. Salah satunya adalah membacakan buku pada anak dengan basis permainan kreatif, mebacakan buku dengan saling bergantian, bahkan hingga iming-iming hadiah menarik yang akan dibagikan secara cuma-cuma di setiap penghujung membaca cerita. Hasilnya, setiap kami para relawan bertemu dengan anak-anak, mereka selalu menarik baju relawan dan memintanya untuk dibacakan buku. Bahkan terkadang relawan sampai keteteran saat anak-anak mengajukan beribu pertanyaan yang membuat relawan harus berpikir lebih keras. Dengan gaya membacakan buku ala relawan wadas kelir seperti ini, anak-anak menjadi cinta kepada buku, merawat buku, dan sayang kepada buku. . Sehingga jangan salahkan relawan, jika setiap anak pulang ke rumah selalu meminta dibacakan buku. Janganlah orang tua di rumah marah, jika setiap hendak tidurnya anak meminta dibacakan cerita. Dan, jangan salahkan kami, jika anak-anak kalian menjadi gila buku. Sebab, barangkali jejak cerita di wadas kelir inilah yang paling berkesan bagi hidup anak, yang akan menjadi memori indah dan motivasi bagi anak. Bahkan, mungkin akan menjadi artefak yang selalu membekas hingga akhir hayat. Namun, hal terpenting yang biasa kami lalukan dan orang tua juga harus lakukan adalah memahami hal-hal yang wajar dan tidak wajar yang terjadi saat proses tumbuh kembang anak. Sebab setiap manusia pasti akan mengalami tahap pertumbuhan dan perkembangan, termasuk anak. Tahap inilah yang nantinya akan menjadi prasyarat untuk menentukan ketercapaian anak menjadi seorang yang berkompeten di sepanjang hidupnya.[]


Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…