Mukhamad Hamid Samiaji [Relawan Pustaka TBM Wadas Kelir]

@emhasamiaji

aktif 4 hari, 19 jam lalu

Bersua dengan Orang yang Resah

Siang tadi, tanpa sengaja, saya bertemu dengan salah satu kepala sekolah Madrasah Aliyah yang ada di wilayah Purwokerto. Beliau pun bercerita tentang keresahannnya. Ada seorang anak yang biasa ranking satu di sekolahnya dan belum lama juga si anak itu mendapatkan beberapa penghargaan yang membuat bangga seluruh warga sekolahnya. Namun, tidak dengan si anak itu. Sebab setelah mendapatkan penghargaan, ia tidak lagi mendapatkan ranking satu perihal beberapa guru tidak memberikan nilai yang sepadan dengan alasan beberapa kali tidak mengikuti pelajarannya. Padahal ketidakikutsertaan dalam pelajaran itu si anak tengah mempersiapkan diri untuk perlombaan agar mendapatkan hasil maksimal. Di sinilah, terkadang membuat saya merasa sedih. Melihat seorang guru terlalu saklek dalam menilai hasil belajar siswa. Padahal dengan cara seperti itu, seorang guru dapat mengutuk semangat belajar dan perkembangan potensi siswa. Selebihnya siswa tidak lagi bisa bergerak bebas untuk mengekspresikan kemampuannya yang barangkali dengan cara seperti ini bisa mengharumkan nama sekolahnya. Sayangnya seorang guru terkadang tidak berpikir sampai sejauh itu. Lebih memperhatikan nilai hasil ulangan dan kurang memperhatikan keterampilan siswa dan masa depannya. Harapannya cara pandang seperti inilah yang seharusnya tidak ada lagi dalam mindsite seorang guru. Guru setidaknya objektif dalam menilai dan memahami karakteristik tiap individu siswa yang berbeda. Sebab saat di kehidupan siswa nantinya, yang ditanyakan masyarakat bukan sekadar seberapa besar nilai yang diperoleh saat sekolah, namun seberapa besar keterampilan yang dimilikinya yang bisa memberikan manfaat dan keberkahan bagi orang-orang di sekelilingnya. Sekilas cerita ini semoga bisa mengantarkan pendidikan di Indonesia menjadi lebih indah. Di sisi lain, dari peristiwa ini saya pun menjadi belajar dan tahu. Setidaknya ada tiga hal yang akan kita dapatkan saat berjumpa dengan orang dalam keadaan resah. Yakni pengalaman, ilmu pengetahuan, dan harapan. 


Berpikir Kreatif

Gerobak baca selalu berdiri terbuka menyambut kedatangan anak-anak, remaja, hingga orang tua di Taman Baca Wadas Kelir. Di kursi cokelat Taman Baca itu terkadang mengingatkanku pada sosok muda yang berpikir kreatif dan bermimpi kreatif. Ya, sebut saja guruku, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir. Mungkin sebelumnya penulis telebih dahulu membawa pembaca untuk merenungkan bersama makna dari berpikir kreatif. Sebab kebanyakan orang menghubungkan berpikir kreatif dengan hal-hal penemuan seperti penemuan atau pengembangan teknologi, sains, maupun karya tulis. Dari sini tentu saja penemuan semacam itu merupakan bukti dari cara berpikir kreatif. Akan tetapi, berpikir kreatif tidak hanya terbatas untuk pekerjaan tertentu dan juga tidak untuk orang yang ekstra cerdas. Lantas, apa yang dimaksud dengan berpikir kreatif? Sebuah keluarga yang memiliki ekonomi menengah kebawah memiliki cita-cita untuk menyekolahkan anaknya ke universitas. Inilah berpikir reatif. Sebuah sekolah non formal yang mengubah lingkungan belajar tidak bersih menjadi rapid an indah. Inilah berpikir kreatif. Seorang guru yang mengembangkan kuriukulum membaca untuk meningkatkan kecintaan pada buku anak didiknya. Inilah berpikir kreatif. Memikirkan cara-cara untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah, menjual produk kepada pelanggan melalui media sosial, membuat anak agar tetap gemar membaca – semua ini adalah contoh berpikir kreatif sehari-hari yang praktis di wadas kelir. Dari sini kita menjadi tahu bahwa sebenarnya berpikir kreatif adalah menemukan cara-cara baru yang lebih baik untuk mengerjakan segala hal yang hasilnya tergantung pada cara apa yang dilakukan. Untuk mengembangkan cara berpikir kreatif ini tidak semudah yang kita bayangkan. Sebab terkadang cara berpikir kita dibekukan oleh cara berpikir lama yang membuat kita sulit untuk berhasil menjadi pribadi yang kreatif. Cara berpikir lama atau cara berpikir tradisional ini pulalah yang teradang menghambat kemajuan kita dan mengutuk perkembangan kekuatan kreatif kita. Untuk itu, sekiranya ada tiga cara yang bisa memerangi hal tersebut Pertama, jadilah orang yang tebuka. Mau menerima pendapat atau gagasan dari orang lain. Hilangkan pikiran “Tidak akan mungkin bisa”, “Buat apa melakukannya”, dan “Ini tidak ada faedahnya”. Sebab jika kita masih mempertahkan hal demikian, otak kita akan selalu terteror dengan pikiran yang negative tersebut. Akan tetapi juga sebaliknya, jika kita selalu terbuka dan berpikir positif maka segala hal bisa dilakukan dan segala hal bisa tercapai. Kedua, jadilah orang yang suka mengamati kejadian-kejadian atau permasalahan-permasalahan sederhana dilingkungan sekitar atau bahasa ilmiahnya adalah melakukan mini riset. Amati setiap kejadian dan temukan solusi yang bisa mengubahnya menjadi perihal yang lebih baik. Ketiga, jadikan diri kita sebagai orang yang progresif bukan regresif. Artinya disini kita dituntut untuk out of the box atau berpikir di luar kebiasaan kita. Bukan berarti inilah cara yang biasa kita lakukan sehingga cara ini yang harus kita lakukan. Namun, bagaimana kita bisa mengerjakan agar lebih baik dengan cara yang bisa kita lakukan. Inilah yang dimaksud progresif, berpikir kedepan bukan regresif, berpikir kebelakang. Dengan ketiga cara inilah sekiranya kemampuan berpikir kreatif bisa terwujud secara ideal. Ini pun saya kira juga tegantung pada seberapa besar keyakinan dan pikiran positif kita. semakin besar keyakinan dan pikiran positif kita maka akan semakin besar pula kekuatan berpikir kreatif kita. begitu juga sebaliknya, semakin kecil keyakinan dan pikiran positif kita terhadap kemampuan berpikir kreatif kita maka sekecil itulah kekuatan berpikir kreatif kita.[]


Jangan Salahkan Kami!

Hampir setiap hari saya selalu disajikan fenomena hidangan khas Rumah Kreatif Wadas Kelir. Fenoma relawan yang duduk melingkar bersama anak-anak di sudut gerobak baca dan teriak kencang anak-anak yang asyik bermain misalnya. Bahkan tidak jarang pula saya melihat para relawan sampai berjingkrak-jingkrak gembira bersama anak hanya sekadar untuk mengabadikan ilmu pengetahuan melalui kegiatan membacakan buku pada anak. Berawal dari fenomena itu, saya mendadak teringat bahwa mata saya pernah singgah di sebuah buku Human Development Edisi Kesembilan karya Diane E. Papalia yang menyebutkan setidaknya ada tiga gaya membacakan buku pada anak. Pertama, describer style atau gaya membacakan cerita dengan fokus pada mendeskripsikan apa yang terjadi di dalam gambar dan mengajak anak untuk melakukan hal yang sama. Misalnya, “Apa yang akan dilakukan ayam saat pagi hari? Sekarang coba tirukan suara ayam berokok!” Dengan gaya ini menghasilkan manfaat memperkaya kosa kata, memahami kata yang diucapkan, dan keterampilan menggambar yang amat besar. Kedua, comprehender style atau gaya membacakan cerita dengan mendorong anak untuk melihat lebih dalam pada mana cerita dan untuk membuat kesimpulan serta prediksi. Misalnya, “Apa kira-kira yang akan dilakukan oleh ayam setelah itu?”. Dari sini imajinasi anak akan meningkat dan memahami makna ataupun nilai dari sebuah cerita Ketiga, permformance-oriented style atau gaya membacakan cerita secara langsung, memperkenalkan inti dari cerita tersebut sebelum memulai dan memberikan pertanyaan setelah pembacaan selesai. Gaya ini akan membuat perbendaharaan kata anak dan keterampilan bahasa meningkat sehingga anak bisa mengucapkan kata demi kata yang tersusun menjadi sebuah kalimat yang baik dan benar. Dari ketiga gaya membacakan buku tersebut, ternyata tanpa disadari sudah dilakukan oleh kami para relawan setiap harinya. Bahkan jika dihitung ada lebih dari tiga gaya membacakan buku pada anak yang asyik dan menyenangkan yang dilakukan oleh relawan. Salah satunya adalah membacakan buku pada anak dengan basis permainan kreatif, mebacakan buku dengan saling bergantian, bahkan hingga iming-iming hadiah menarik yang akan dibagikan secara cuma-cuma di setiap penghujung membaca cerita. Hasilnya, setiap kami para relawan bertemu dengan anak-anak, mereka selalu menarik baju relawan dan memintanya untuk dibacakan buku. Bahkan terkadang relawan sampai keteteran saat anak-anak mengajukan beribu pertanyaan yang membuat relawan harus berpikir lebih keras. Dengan gaya membacakan buku ala relawan wadas kelir seperti ini, anak-anak menjadi cinta kepada buku, merawat buku, dan sayang kepada buku. . Sehingga jangan salahkan relawan, jika setiap anak pulang ke rumah selalu meminta dibacakan buku. Janganlah orang tua di rumah marah, jika setiap hendak tidurnya anak meminta dibacakan cerita. Dan, jangan salahkan kami, jika anak-anak kalian menjadi gila buku. Sebab, barangkali jejak cerita di wadas kelir inilah yang paling berkesan bagi hidup anak, yang akan menjadi memori indah dan motivasi bagi anak. Bahkan, mungkin akan menjadi artefak yang selalu membekas hingga akhir hayat. Namun, hal terpenting yang biasa kami lalukan dan orang tua juga harus lakukan adalah memahami hal-hal yang wajar dan tidak wajar yang terjadi saat proses tumbuh kembang anak. Sebab setiap manusia pasti akan mengalami tahap pertumbuhan dan perkembangan, termasuk anak. Tahap inilah yang nantinya akan menjadi prasyarat untuk menentukan ketercapaian anak menjadi seorang yang berkompeten di sepanjang hidupnya.[]


Cara Kreatif TBM Wadas Kelir Menjaga Irama Minat Baca Masyarakat

Menumbuhkan dan menjaga irama minat baca masyarakat tidaklah semudah yang kita bayangkan, akan tetapi juga tidak sulit untuk dilakukan.  TBM Wadas Kelir sebagai salah satu unit dalam komunitas Rumah Kreatif Wadas Kelir yang berada di daerah Puwokerto Kabupaten Bunyumas – Jawa Tengah ini telah membawa angin segar dalam menumbuhkan dan menjaga irama minat baca masyaraat melalui cara-cara yang kreatif dan inovatif. Setidaknya ada empat cara kreatif dan inovatif yang dilakukan oleh TBM Wadas Kelir dalam menumbuhkan sekaligus menjaga irama membaca masyarakat. Pertama, penyediaan kartu poin baca. Masing-masing anak, remaja hingga orang tua memiliki kartu poin baca yang setiap kali masyarakat meminjam buku maka akan mendapatkan satu poin. Semakin banyak buku yang dipinjam maka semakin besar poin yang didapatkan. Dan, semakin besar poin yang terkumpulkan maka semakin besar pula untuk mendapatkan hadiah menarik yang terpajang rapi di dalam almari. Dengan penyedian kartu baca ini, anak-anak, remaja, hinga orang tua berlomba-lomba untuk meminjam buku setiap hari. Dari sini, anak-anak usia dini aktif membaca buku, bahkan mendengar cerita dari orang tua seorag anak terkadang anak itu tidak mau tidur sebelum orang tua membacakan buku cerita kepadanya. Kedua, kegiatan bercerita (read aloud). Kegiatan bercerita ini dilakukan oleh petugas TBM Wadas Kelir setiap hari. Tidak hanya itu, petugas juga diwajibkan untuk mempromosikan buku pada masyarakat sehingga anak tertarik untuk membaca buku yang ditawarkan. Dengan stimulasi seperti ini, masyarakat selalu termotivasi untuk meminjam buku dan irama membaca pun terjaga. Ketiga, penyediaan fasilitas pojok baca bagi orang tua di PAUD. Fasilitas ini sediakan khusus untuk orang tua untuk menghilangkan rasa bosan saat menunggu anak sampai pulang sekolah. Selain itu, dalam pojok baca ini juga dijadikan sebagai klinik baca-tulis bagi anak usia dini. Anak-anak diajari dasar-dasar membaca dan menulis. Bagi orang tua di sini juga diwajibkan meminjam minimal satu buku untuk dibacakan pada anaknya saat di rumah. Keempat, pentas seni dan literasi. Adalah kegiatan yang dilaksanakan setiap dua bulan sekali untuk mengeksplorasikan hasil pengalaman membaca masyarakat dalam bentuk kegiatan seni seperti penampilan tari, pantomim, dance, menyanyi, maupun beatbox. Kegiatan ini juga dijadikan sebagai ajang apresiasi bagi masyarakat yang rajin membaca buku dan mendapatkan poin paling tinggi. Dalam ajang apresiasi ini masyarakat mendapatkan banyak kejutan dan hadiah menarik. Dari sinilah anak-anak hingga orang tua menjadi selalu tergugah untuk membaca, membaca, dan terus membaca. Dengan keempat cara kreatif ini mampu memberikan keajaiban pada masyarakat. Mulai dari tumbuhnya keberanian dan rasa percaya diri yang tinggi, berkembangnya keterampilan berkomunikasi, hingga tingginya minat baca yang dalam kurun waktu sehari masyarakat bisa membaca tiga hingga lima buku. Semoga cara kreatif dan inovatif ini bisa menginspirasi pegiat literasi di seluruh nusantara dalam menumbuhkan dan menjaga irama membaca masyarakat.[]


Berkat Tangan Yang Tak Terlihat Bocah-bocah Menjadi Literat

“Ka, ada buku baru tidak?” Pertanyaan dari bocah-bocah wadas kelir yang akhir-akhir ini viral di telinga kami, para relawan. Tidak sedikit relawan yang merasa kebingungan untuk menjawab pertanyaan sederhana ini. Berbagai alasan pun kami lontarkan agar bocah ini tidak patah semangat untuk terus membaca dan berdatangan ke TBM Wadas Kelir. Padahal baru saja kami mendapat hadiah beberapa buku dari KPK namun seketika itu pula, mata bocah-bocah wadas kelir menatap tajam pada setiap kata dalam bukunya. Alhasil, semua buku pun kembali habis dibaca. Kami para relawan pun kembali khawatir jika irama minat baca bocah-bocah wadas kelir tak lagi terjaga. Sosial media pun pada akhirnya menjadi alat untuk berbagi informasi mendapatakan buku baru. Beruntungnya kami. Ada tangan-tangan yang tak terlihat yang peduli dan mendonasikan bukunya. Ibu Siti Zulaekha namanya. Beliau kepala sekolah di SD Negeri Pasir Lor Karang Lewas – Purwokerto. Tiba-tiba beliau ingin bermain bersama murid-muridnya ke TBM Wadas Kelir untuk belajar menulis dan membawakan satu kardus buku penuh. “Mas, katanya bocah-bocah disini kehausan buku yak?” Tanya Bu Zulaekha. “Hehe” saya hanya tersenyum malu. “Maaf ya mas ini buku-buku lama dan beberapa kayaknya ada yang sedikit robek” tambah Bu Zulaekha. “Wah tidak apa-apa, Bu. Diberi buku saja kami sudah bahagia. Ini sangat bermanfaat untuk bocah-bocah disini. Terima kasih, Bu.” Ya, diberi buku pun kami sudah bahagia. Kami tidak pernah menghiraukan kondisi buku seperti apa dan seberapa lama usianya. Sebab di dalam buku itu selalu ada pengetahuan yang tak terduga. Dari pengetahuan tak terduga inilah membuat perilaku dan sikap bocah-bocah wadas berubah. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang hebat dan literat. Terima kasih untuk tangan-tangan yang tak terlihat yang membuat minat baca bocah-bocah wadas kelir kembali bersemangat dan terus meningkat.


Atasi Anak yang Berkelahi dengan Literasi

Pagi itu saya hendak sarapan. Namun pintu mendadak dikunci dari dalam. Rupanya Bunda Dian, kepala sekolah PAUD Wadas Kelir Purwokerto itu sedang melerai dua anak kakak beradik yang berkelahi tanpa henti. Berbagai cara dilakukan untuk mendamaikan kedua anak tadi. Tetapi, rupanya anak itu masih saja saling bersikeras untuk berteriak dan mengejek dari balik pintu. Tak lama kemudian, Bunda Dian mengambil buku cerita yang baru saja dipinjam di Taman Baca Masyarakat Wadas Kelir sore kemarin. Terdengar lirih penuh sabar, lembar demi lembar buku terbitan KPK yang berjudul “Angin dari Perut Osyi” dibacakan. Seketika itu anak tadi pun teralihkan dalam alur cerita Osyi yang sering kentut akibat makan sambal. Osyi yang tadinya malu dengan teman-temannya akhirnya berani jujur mengatakan bahwa bau tak sedap itu berasal darinya. Teman-teman yang tadinya tidak suka akhirnya kembali bermain bersama. “Nah, sekarang kalau Osyi berani jujur, sebagai kakaknya berani meminta maaf nggak sama adiknya?” Tanya Bunda Dian yang tahu bahwa perkelahian itu dimulai dari keusilan kakaknya. “Baiklah, Bunda. Aku akan meminta maaf padanya.” Jawabnya. Saat waktu belajar telah usai, kedua anak itu berjalan dan berhadap-hadapan sebentar. Tak lagi berkelahi. Namun pemandangan kakak adik yang bermaaf-maafan.Mereka pun pulang sambil bergandeng tangan. Inilah cara kreatif yang dilakukan Bunda Dian saat mengatasi anak berkelahi. Bukannya emosi dan memarahi. Tetapi menjadikan kegiatan literasi sebagai media untuk mengatasi anak yang berkelahi. Semoga cara ini dapat menginspirasi bagi orang yang peduli pada terbentuknya anak-anak yang berani dan berintegritas tinggi. Selamat Mencoba!


Pendidikan Mengubah Diri Kita dan Kita Adalah Penentu Bangsa

"Pendidikan Mengubah Diri Kita dan Setiap Diri Kita Adalah Penentu Bangsa".  Demikianlah yang saya rasakah dan alami. Mungkin semua orang juga merasakan hal itu. Anda boleh setuju dengan pernyataan itu ataupun tidak. It’s not problem. Yang jelas, di tengah merdunya rintik hujan sore tadi, tuhan mempertemukanku dengan mahasiswa Technical University of Ukraina, yang untuk datang ke Wadas Kelir – Indonesia saja butuh waktu empat hari dengan singgah ke beberapa Negara terlebih dahulu. Selain itu tuhan juga mempertemukanku dengan mahasiswa dari University of India. Setiap pertemuanku dengan seseorang, saya selalu meminjam istilah kerabat dekat saya bahwa setiap tuhan menakdirkan diri kita bertemu dengan seseorang maka yakinlah bahwa orang itu akan menyampaikan ilmu kepada kita. Ternyata benar. Kita saling berbincang berbagi ilmu dan pengalaman perihal pendidikan. Antara Indonesia, Ukraina, dan India tidak jauh berbeda tentang model pendidikannya. Indonesia dengan basis kurikulum 2013 nya, uraina dengan pendidian profesinya setelah lulus dari jenjang SMA nya dan India dengan model pendidian yang selain menekankan akademiknya juga mengorientasikan pada pendidikan keterampilan hidupnya. Meskipun sedikit perbedaannya, namun pada hakikatnya tujuan dari pada pendidikan adalah sama; membentuk karakter dan mencerdaskan sumber daya manusianya.  Sehingga dari sini kualitas sumber daya manusia dibentuk dan ditempa melalui proses pendidikan. Semakin baik kulitas sumber daya manusianya maka semakin baik pula bangsanya. Sebab bangsa adalah kita dan setiap diri kita adalah bangsa. Jika kita berbuat baik maka baik pula bangsa kita. Begitu juga sebaliknya, jika kita berbuat buruk maka buruklah bangsa kita. Dari sini karakter sebuah bangsa pada hakikatnya hanyalah ditentukan oleh diri kita; warga negara. Untuk itu, berikanlah yang terbaik untuk bangsa. Dimulai dari diri hal sederhana Dari kita untuk bangsa, Indonesia. []


Membaca Bikin Kreatif dan Imajinatif

Inilah kisah tentang Fatur. Anak usia TK yang sudah gemar membaca buku. Meskipun aku tau, ia belum bisa membaca buku. Tapi ia selalu memintaku dan orang yang ada di sekelilingku untuk membacakan buku. Setiap pulang sekolah, ia selalu balap lari bersama Vista ke taman baca. Berebut buku lalu duduk di pangkuanku. Hanya untuk memintaku membacakan buku. Buku ini dan itu. TIdak cukup satu buku. Bahkan lima sampai sepuluh buku. Setelah hampir selesai dibacakan buku, aku menyodorkan sebuah buku. Di dalamnya ada gambar kura-kura. Ada dinosaurus. Ada ikan. Ada telor. Ada buaya. Dan ada burung.  Lalu, aku memintanya untuk bercerita. “Aku tidak bisa membaca, Ka.” ucapnya. “Ayo, cobalah ceritakan. Pasti kamu bisa” Jawabku sambil mengusap kepalanya. “Ceritakan saja gambarnya” tambahku. “Baik Ka. Kucoba, ya.” Jawabnya. Baru hitungan detik, ia mengambil buku yang ada ditanganku dan mulai bercerita malu-malu. “Suatu saat dinosurus pergi ke sungai. Dinousaurus mencuri telor burung. Ia kabur. Menyebrangi sungai dan meloncat ke punggung kura-kura. Kura-kuranya terbalik dan dinousaurus tenggelam” Siapa sangka, bocah sekecil itu bisa bercerita! Cerita yang begitu kreatif! Begitu imajinatif! Aku paham betul fatur sama sekali belum bisa baca. Inilah ajaibnya membaca. Membaca bukan hanya sekadar membaca tulisan di dalam buku. Tapi juga membaca hasil pengalaman cerita. Membaca apa yang dibacakan seseorang kepadanya. Luar Biasa!


Ayahku Malaikatku, Guruku Pustakaku #4

Antara Aku, Waktu, dan Guruku Guruku. Guruku itu Pak Guru. Pak Guru itu kaya akan ilmu, suka berbagi ilmu, dan tidak suka menyianyiakan waktu. Saat sore, guruku selalu membaca buku dan menunggu. Menunggu anak-anak yang haus perihal ilmu. Mengajak anak-anak bermain dan berkarya dengan media buku. Guruku juga sepertihalnya perpustakaan berjalan. Yang seketika ditanya tentang ini dan itu selalu saja menghadirkan jawaban kreatif dan diluar ekspektasi kebanyakan orang. Bahkan apa yang disampaikan mampu merangsang ide gagasan anak-anak dan relawan hingga tumbuh berkeliaran. Sesibuk apapun menjadi relawan, guruku selalu mengatakan satu hal. Sempatkan waktu untuk berkarya. Jangan menjadi relawan yang menyerupai lilin, menyala terang untuk banyak orang tapi ia sendiri luntur terbakar. Malam hari. Adalah saat-saat yang mulia bagi relawan. Setelah pagi dan siang mengalirkan keringat untuk mengabdi dan mengabadikan ilmu untuk masyarakat, kini girilan relawan duduk santai melingkar penuh khidmat. Tidak lain hanya untuk menantikan seseorang. Yang sekali bicara membuat semuanya terdiam. Tidak ada satu hal pun yang ingin terlewat. Kata-katanya begitu menyihir semangat relawan. Siapa lagi kalau bukan guruku. Setiap malam. Setiap malam guru itu selalu meluangkan waktu. Membimbingku dan memotivasiku. Tersebab hobiku bermain dengan buku maka saya menggeluti dunia kepenulisan dan dunia buku. Berbagai kompetisi lomba pun disarankan untuk selalu ambil bagian oleh sang guru. Alhasil, atas bimbingan yang disertai iklim kompetisi yang ketat antar relawan mendorongku mengikuti berbagai ajang perlombaan. Hasilnya adalah Juara III Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional 2016, TOP 20 Nominator Cipta Esai Tingkat Nasional 2016, Juara II Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2017, Juara I Pemuda Pelopor Kabupaten Banyumas 2017, dan berbagai kejuaraan lainnya. Apa yang semua dilakukan bukanlah untuk eksistensi relawan. Namun untuk membiayai kontrakan dan pendidikan. Ya, semua relawan didik untuk mandiri dan tidak berharap pada uluran tangan. Menulis buku dan ikut perlombaan adalah cara relawan mendapatkan penghasilan. Dalam memenuhi kebutuhan. Begitulah yang diajarkan oleh guruku. Guruku yang mengajarkan kebaikan dan kemandirian. Guruku yang meluangkan waktunya hingga larut malam. Guruku yang membangun pikiran dan wawasan. Guruku yang membuat lingkungan sekitar berpendidikan. Kaulah Guruku, Kaulah Pustakaku! Guruku, pustakaku!   Antara Sekarang dan Masa Depan Apa yang diperbuat saat ini adalah penentu apa yang akan didapat di masa depan. Begitu juga dengan apa yang dilakukan teman-teman relawan pustaka hari ini. Mengabdikan dirinya untuk membimbing dan mendampingi masyarakat dengan buku sebagai media berkegiatan. Setidaknya apa yang dilakukan relawan pustaka hari ini tidak hanya mencerdaskan diri pribadi namun juga dapat melahirkan generasi masyarakat yang berkarakter, masyarakat yang cerdas, dan masyarkat yang berwawasan luas.


Ayahku Malaikatku, Guruku Pustakaku #3

Antara Rela dan Melawan Bukan suatu hal yang mudah untuk menjadi relawan. Terlebih relawan pustaka. Tanggung jawab dan kewajiban harus selalu dihadirkan. Mulai dari kegiatan membaca buku. Mengisi tas yang selalu dibawa pergi dengan buku. Bercerita kepada orang disekitar tentang buku. Selalu ada di setiap kerumunan anak-anak, remaja dan orang tua yang tidak lain untuk membicarakan dan menceritakan tentang buku. Membangun komunikasi yang bagus terhadap orang lain dengan media buku. Menulis sebagai bentuk eksplorasi hasil pengalaman membaca buku. Mempublikasikan tulisannya ke media massa dan penerbit buku. Dan, mengajak orang disekitar untuk gemar membaca buku. Menjadi relawan tidak seindah apa yang dibicarakan bukan? Begitulah pengalaman menjadi seorang relawan. Mungkin begitu juga teman-teman relawan lainnya. Melaksanakan kewajiban dan banyak hal di atas keterbatasan. Menebar kebaikan sebagai media investasi masa depan. Oleh sebabnya, relawan itu setidaknya memiliki dua sisi. Terkadang rela dan terkadang melawan. Rela. Rela untuk berjuang memikirkan masa depan orang disekitar. Rela mengeluarkan tenaga untuk mencangkul tanah yang dipenuhi pepohonan lebat. Yang kemudian disulap sebagai tempat bermain dan belajar masyarakat. Rela setiap hari mengumpulkan pundi-pundi rupiah (sistem jimpitan 500-1000 rupiah per relawan) untuk membuat kegiatan masyarakat yang meriah. Rela menghutang untuk pengadaan barang penunjang. Melawan. Melawan ketentuan yang telah disepakati diri sendiri dan teman-teman. Melawan untuk memenangkan ego sendiri dalam memenuhi kebutuhan. Dan melawan dengan segala bentuk perlawanan yang menyakitkan. Meski sampai saat ini tak berani diucapkan. Diantara dua sisi yang dimiliki relawan, Pak Guru selalu menyampaikan beberapa hal. Lampaui keterbatasan dan tebarlah kebaikan. Keterbatasan. Keterbatasan bukan menjadi alasan. Alasan yang dijadikan untuk tidak melakukan banyak hal. Oleh sebabnya, keterbatasan harus dilawan. Meski tidak memiliki sesuatu (terbatas), akan tetapi kita masih bisa berpikir untuk mendapatkan (sesuatu yang diinginkan). Kemudian menebar kebaikan. Menebar kebaikan itu sama dengan menebar harapan. Meskipun kita tidak berharap untuk mendapatkan imbalan atas kebaikan yang dilakukan namun barangkali setidaknya anak-anak keturunan kitalah yang nantinya akan mendapatkan keberkahan.