LOADING

Type to search

MENEMBUS LANGIT (Part 1) – Melukis Delusi

Edi Dimyati 2 minggu ago

TBM Lentera Pustaka Gagas Zona Baca Hijau 1.000 Tanaman Polybag

TBM Lentera Pustaka 2 minggu ago

Berburu Ilmu Menulis dari Pakarnya

Redaksi 4 minggu ago

BERTAHAN DAN BERINOVASI: Catatan Awal 2018

Kami punya mimpi. Mimpi gila untuk menjadikan Rumah Kreatif Wadas Kelir sebagai pusat pendidikan masyarakat yang mampu menciptakan generasi handal melalui bidang pendidikan. Generasi yang kami impikan kelak menjadi pemimpin bangsa ini. Generasi yang mampu memimpin bangsa ini yang labih baik lagi. Generasi yang mampu mambuat kita bangga berbangsa Indonesia karena bangsa kita adalah yang terbaik. Mimpi yang entah kapan bisa diwujudkan. Tapi, keyakinan kami harus selalu ada. Dan untuk mewujudkan mimpi itu kami harus bergerak. Bersinergi dengan relawan, remaja, anak-anak dan masyarakat untuk mengadakan berbagai kegiatan yang mendidik. Kegiatan yang bisa membekali banyak pengalaman pendidikan penting untuk jadi pondasi manusia cerdas yang berkarakter. Dalam melakukan banyak kegiatan itu, berbagai hambatan selalu datang. Menjelma menjadi monster menakutkan yang sering menciutkan nyali kami. Kami mendadak merasa harus menghentikan apa yang sudah kami lakukan. Tidak meneruskannya lagi sebab merasa sia-sia dan tidak ada gunanya. Rasanya ingin menyerah saja dan lari dari kenyataan yang sudah kami ciptakan sendiri. Namun, dalam keadaan putus asa ini, kami selalu ingat kata yang menjadi filosofi kami: bertahan. Kami telah lima tahun bergerak melalui Rumah Kreatif Wadas Kelir. Usia lima tahun ini mengajarkan satu hal penting: lebih banyak kegagalan yang kami dapat daripada keberhasilan. Untuk itulah, bertahan menjadi benteng pertahanan paling akhir kami. Tanpa bertahan maka kami punah. Kami gambarkan: awal mendirikan Bimbingan Belajar (Bimbel) Wadas Kelir untuk anak-anak dan remaja dengan harga infak sukarela, awal berdirinya kami langsung diserbu seratusan anak-anak. Setelah beberapa bulan, kami dilanda isu bahwa Bimbel di Wadas Kelir nilainya akan turun, jadi tidak mungkin dapat rangking di kelas. Hasilnya seratus anak dan remaja menghilang. Yang tersisa tinggal sepuluh. Menyikapi kenyataan ini, saya langsung katakan pada Tim Bimbel untuk bertahan. Jangan ditutup. Sebab pasti akan ada jalan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Dan setelah bertahan denga terus bergerak, kami membuat inovasi kecil yang menakjubkan. Dimulai dengan mengadakan rapat dengan orang tua, mengajak outing class, mengenalkan belajar bahasa Inggris, program literasi, dan belajar dengan metode yang menarik, membuat semuanya berubah. Perlahan-lahan kepercayaan masyarakat datang lagi. Satu per satu orang tua datang dan mengamanatkan anak-anak dan remaja untuk belajar di Bimbel Wadas Kelir. Sampai jumlah anak-remaja yang bimbel mencapai tiga puluh anak dalam keadaan yang stabil. Kemudian pelahan-lahan bergerak. Dan setiap ada persoalan yang membuat kegiatan menurun kami selalu bertahan. Dalam bertahan kami melakukan inovasi. Dengan konsep bertahan dan berinovasi inilah Rumah Kreatif Wadas Kelir masih hidup dan bergerak. Semua persoalan kami selesaikan dengan cara demikian. Tidak hanya soal kegiatan, tetapi keuangan, sarana dan prasarana, pengelolaan sumber daya manusia, dan sebagainya kami kelola dengan prinsip bertahan dan berinovasi. Dengan dua pondasi ini, perlahan-lahan kami tumbuh menjadi orang-orang yang kuat dan kreatif. Kuat dalam bertahan dan kreatif dalam berinovasi memecahkan berbagai masalah. Hasilnya, konsep bertahan dan berinovasi ini tidak hanya membentuk Rumah Kreatif Wadas Kelir kokoh, tetapi memperkuat kekuatan kami sebagai manusia yang harus siap diserang oleh berbagai persoalan. Dalam keadaan demikian, kami pun harus bertahan dengan perasaan campur aduk tak menentu. Namun, dalam keadaan demikian, kami tidak boleh baper (terbawa perasaan) sehingga tidak rasional. Kami harus memecahkan persoalan itu dengan berpikir keras dan kreatif. Sampai kami menemukan formula kreatif untuk mengatasi persoalan itu. Saat formula ditemukan setengah kebahagiaan kami lahir. Kami merasa menjadi orang beruntung bisa menemukan ide-gagasan dengan cara yang payah. Dan kebahagiaan berlipat saat formula gagasan kami tepat dapat mengatasi persoalan itu. Dari sinilah, Rumah Kreatif Wadas Kelir membentuk kami menjadi orang-orang yang memiliki daya bertahan yang baik dan daya berinovasi yang terlatih. Hasilnya berbagai label kami sebagai orang kreatif kami dapat. Orang kreatif yang lahir di Rumah Kreatif Wadas Kelir yang makanan sehari-harinya persoalan dan minuman sehatnya ide-gagasan yang kreatif. Semoga menginspirasi untuk selalu bertahan dan berinovasi dalam segala hal untuk menempa lembaga dan diri kita menjadi mempesona. HERU KURNIAWAN Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir


Ada Pelajaran Hidup Sore Ini di Wadas Kelir

Sabtu sore, 4 November 2017, hujan turun lebat. Dalam guyuran hujan, dari balik pintu rumah saya menyaksikan pemandangan menakjubkan. Ibu-ibu berangkan ke Sekolah Paket B dan C Wadas Kelir. Anak-Remaja berkumpul tiga kelompok di teras belajar Wadas Kelir. Semuanya akan belajar. Ada yang belajar seni. Ada yang belajar pelajaran sekolah. Ada juga yang belajar dengan membaca-baca buku di TBM Wadas Kelir. Ada yang berdiskusi. Semuanya dalam gegap gempita merayakan ilmu pengetahuan. Dalam dingin hujan dengan kondisi saya yang kurang sehat, saya mendapatkan energi dan kehangatan tersendiri atas kejadian hari ini. Saya senang belajar, tetapi saya lebih bahagia melihat orang lain belajar, ini gambaran filosofi saya. Atas kejadian yang menakjubkan ini, saya pun ingat kejadian sebaliknya, sebulan yang lalu. Para Relawan datang ke saya. Kami bermusyawarah. Salah satu Relawan menyampaikan keprihatianannya karena anak-anak dan remaja sedang susah untuk belajar di Wadas Kelir. Saya pun hanya bisa mengatakan, “Jangan kalah dengan anak-anak dan remaja!” Relawan menatap saya agak bingung. Saya paham, Relawan ingin bertanya, “Maksudnya apa?” Saya pun menjelaskan, “Terus melayani yang mau belajar dengan sabar dan ikhlas, sekalipun yang datang cuma satu. Jangan kalah dengan yang tidak mau datang untuk belajar. Mereka akan kalah dan datang lagi untuk belajar ke Wadas Kelir jika kita bisa menunjukan kesungguhan mengajar dengan sabar dan ikhlas. Tapi sebaliknya, jika menyikapi fenomena sepi karena anak-anak dan remaja tidak mau belajar dengan marah, kemudian tidak mau mengajar lagi, maka kita kalah. Wadas Kelir akan ditinggalkan. Kekuatan kita mengajar masyarakat ada pada sikap mengalah, sabar, sambil menghadirkan ikhlas.” Relawan sepertinya paham dengan yang saya inginkan. Sejak saat itu, berapapun yang mau belajar ke Wadas Kelir, kami selalu melayani dengan sebaik mungkin. Tidak ada hari libur, sekalipun yang datang hanya beberapa anak dan remaja. Kegiatan belajar terus dilakukan tanpa henti. Setidaknya Wadas Kelir sudah berjalan empat tahun dengan pasang surut yang luar biasa, dan kami terus bertahan. Dan hari ini perjuangan itu membuahkan hasil, atas inovasi kegiatan ingin mengadakan pentas anak-anak sekolah dasar yang akan disutradarai langsung oleh remaja, anak-anak dan remaja ramai datang ke Wadas Kelir. Mereka ingin belajar. Saya senang. Saya semakin meyakini bahwa kekuatan sebuah pengabdian terletak pada kemampuan dalam mempertebal sabar dan menghadirkan ikhlas dalam sanubari kita. Bersekolah dan belajar di Wadas Kelir tidak diwajibkan. Tidak dihukum jika tidak berangkat. Tidak mendapatkan nilai. Jadi tidak ada yang bisa mengikat. Tapi, saya meyakini, saat anak-anak dan remaja melihat dedikasi para Relawan yang tertanam sabar dan ikhlas, maka kekuatan belajar di Wadas Kelir menjadi magnet kemanusian yang dahsyat. Anak-anak, remaja, dan masyarakat pun akan datang. Untuk belajar dan membaca. Atau barang kali untuk tahu karena merasa penasaran. Dan saat mereka berhadapan dengan Relawan yang mencoba melayani dengan sebaik mungkin, dengan menghadirkan sabar dan ikhlas dalam bekerja, maka komunikasi hati terbentuk. Anak-anak, remaja, dan orang tua akan merasakan hal yang indah belajar di Wadas Kelir. Mereka pun akan datang di kemudian hari. “Teman-teman Relawan, inilah yang saya maksud dengan belajar hidup. Kita harus belajar dari anak-anak, remaja, dan orang tua yang kita ajar. Sebab jika kita berposisi seperti mereka, kita juga akan melakukan hal yang sama seperti yang merea lakukan. Jadi kita harus menyatu dengan mereka. Jangan merasa lebih karena yang merasa lebih tak akan bisa menghadirkan sabar dan ikhlas!” Dan di tengah guyuran hujan yang lebat, dari balik pintu rumah, dengan kondisi yang kurang sehat, saya berkata dalam hati, “Wadas Kelir bisa tumbuh dan berkembang karena dikelola oleh Relawan-Relawan yang hatinya tebal dengan sabar dan ikhlas. Saya akan belajar pada kalian.” Dan saat sayup-sayup saya mendengar anak-anak dan remaja berteriak, saya tersenyum senang. Rasanya kenyataan ini menjadi obat tersendiri bagi saya untuk segera pulih dan kembali berkumpul dengan mereka. Untuk merayakan kebahagiaan dan kemerdekaan dalam belajar di Wadas Kelir. Untuk bisa belajar pada anak-anak, remaja, orang tua, dan relawan. Mereka guru-guru terbaik saya yang mengajarkan banyak kehidupan. Kelihatannya saja saya gurunya, yang dipanggil dengan Pak Guru. Tapi, ilmu satu orang guru akan kalah dengan ilmu puluhan dan ratusan relawan dan masyarakat yang belajar di Wadas Kelir. Jadi, tak perlu mempertahankan sakit terlalu lama sebab kehidupan di luar, di Wadas Kelir, penuh dengan ilmu kehidupan yang sayang untuk dilewatkan. Saya tersenyum senang mendapatkan arti kehidupan sederhana yang mengagumkan sore ini. []


Anak Marah-marah? Redakan dengan Membacakan Buku

Saya awalnya tidak percaya, jika membacakan buku ke anak yang sedang marah-marah dapat meredakan marahnya, bahkan membuat anak takluk, tidak menangis, kemudian duduk manis, dan mendengarkan suara-suara merdu orang tua yang membacakan buku. Tapi, siang itu Istriku bercerita, “Ayah harus tahu, sudah beberapa kali Nera (6 tahun) dan Zaka (4 tahun) sering marah-menangis karena kecapekan. Jika sudah demikian, keduanya mengamuk, saya hanya bisa bingung. Dalam bingung saya mengambil buku. Saya bacakan buku. Awalnya suara saya kalah dengan suara tangisnya. Tapi, entahlah, pelan-pelan, saat lembar-lembar buku dibaca, suara tangisan mereda. Kemudian anak tersungkur mendengarkan buku yang saya bacakan, sebelum kemudian tertidur lelap!” Saya pun menyaksikan sendiri kejadian itu. Waktu itu Nera kelelahan. Saat diledekin Kakaknya, maka terjadilah pertengkaran. Nera menangis dan langsung marah-marah. Istri saya menjadi korbannya. Istri saya berusaha menenangkan dengan berbagai cara, tetapi tidak mempan. Nera terus meronta. Terus menangis. Kemudian Istri saya mengambil buku. Membacakan buku, Nera terus saja menangis. Suara membacakan buku kalah dengan tangisan, tetapi beberapa saat kemudian, Nera mereda tangisnya. Perhatiannya mulai tertuju pada gambar dalam buku. Kedua telinganya pun mendengarkan suara Ibunya yang terus meluncurkan kata-kata. Dan Nera benar-benar berhenti menangisnya, kemudian menyimak dengan baik suara Ibunya yang membacakan buku. Sampai cerita selesai dan minta lagi, Istri saya pun kembali membacakan buku lagi. Sampai kemudian Nera tertidur. Pertanyaannya, kenapa membacakan buku dapat meredakan kemarahan anak? Saya pun memikirkan jawaban ini berhari-hari, mencoba mengkaji dengan kemampuan yang saya miliki, dan saya menemukan berbagai argumen yang tidak ilmiah, tetapi siapa tahu bermanfaat bagi kita. Pertama, sudah menjadi takdir manusia sebagai “mahluk yang membaca”. Kita adalah mahluk yang takdirnya membaca. Ini dipertegas dalam Islam yang menyatakan bahwa manusia adalah mahluk yang berpikir. Dengan ciri khasnya berpikir, maka membaca harus menjadi menu utama manusia. Di sinilah, Tuhan dalam al-Qur’an ayat yang diturunkan pertama kalinya adalah memerintahkan kita untuk membaca (iqro). Membacalah yang membuat kesempurnaan pikiran kita, jadi membaca adalah fitrah suci kita. Sebagai fitrah suci, tugas untuk membaca begitu berat karena Iblis dan jajarannya tidak setuju jika manusia sempurna. Iblis melalui berbagai sistem jalan sesatnya akan membuat kita bodoh dengan tidak boleh membaca. Iblis membuat sistem mekanisme malas dalam diri kita; membuat mekanisme persepsi sesat bahwa membaca tidak penting dan membuang waktu, bahkan tidak bisa menghasilkan uang; sampai membuat mekanisme kenyataan bahwa kesibukan akut membuat kita tidak mau membaca. Jadi, saat anak-anak sedang marah kemudian orang tua membacakan buku, maka anak-anak menerimanya dengan baik, sebab dalam diri anak ada fitrah suci untuk menerima suara-suara yang bersumber dari bacaan. Suara-suara yang membuat anak-anak takjub dengan berbagai bahasa yang diikat intonasi yang menarik, suara-suara yang mengembangkan imajinasi anak, sampai suara-suara yang membuat anak-anak mendapatkan banyak ilmu pengetahuan. Montessori (1982) menjelaskan bahwa tidak ada suara yang lebih memukau anak-anak kecuali suara yang keluar dari mulut manusia. Apalagi suara itu indah berintonasi menarik, dengan banyak imajinasi dan pengetahuan di dalamnya, pasti membuat anak-anak terpukau dan sangat menyukai suara orang tua yang membacakan buku. Kedua, membacakan buku itu bahasa kasih sayang yang hangat. Dengan fitrah membaca, anak-anak memahami bahwa tak ada bahasa kasih sayang paling mulia selain yang diungkapkan dengan membacakan buku. Sebab saat kita membacakan buku, maka ada dua komunikasi penting antara anak dengan orang tua, yaitu komunikasi kasih sayang dan intelektualitas. Kasih sayang karena akan selalu merindukan momen orang tuanya memeluk erat, pelukan yang mendamaikan perasaan anak. Namun, dalam pelukan itu orang tua melakukan pemenuhan kebutuhan berpikir anak, yang dapat dilakukan melalui membacakan buku. Istri saya mengatakan, pada awalnya anak meronta. Suara saya kalah dengan tangisannya, tetapi lama-lama luruh. Perasaaanya hanyut dalam setiap kata yang saya bacaan dengan penuh kasih sayang, dan pikirannya mengembara dalam setiap kata yang membawanya berimajinasi melalui gambar dan kata dalam buku yang saya bacakan. Sempurna bahwa membacakan buku adalah bentuk kasih sayang yang dibutuhkan anak. Ketiga, memenuhi kebutuhan imajinasi paling dasar anak. Salah satu kekuatan anak-anak yang pada mulanya adalah berpikir dari nol adalah persepsi imajinasinya. Tumbuhnya pengetahuan anak berawal dari segala suara yang didengar. Dan suara yang paling menakjubkan bagi anak adalah suara yang bersumber dari alat ucap manusia. Suara yang ditangkap pada mulanya tanpa persepsi. Tapi, saat anak kemudian bisa menggunakan indra penglihatannya, dunianya terbuka luas. Anak mulai tahu bahwa suara yang didengar dan disimpan dalam pikirannya ternyata bukan suara kosong tanpa makna, tetapi suara yang memiliki kaitan dengan dunia. Di situ anak-anak memahami segala suara dari alat ucap manusia itu membentuk dunia. Dua kekuatan: suara dan melihat dunia membuat anak-anak mempersepsi diri dengan imajinasinya. Dari sinilah imajinasi literal anak dibentuk. Anak-anak sangat menyukai ini. Anak yang sejak dini imajinasi literalnya dibentuk, akan menjadi anak memiliki daya imajinasi bagus. Dan membacakan buku menjadi kebutuhan wajib untuk anak dalam memuaskan kebutuhan imajinasi literal. Saat kita membacakan buku dengan suara menarik, “Di hutan yang lebat, saat hujan turun lebat, sekor kelinci sedang kedinginan.” Maka imajinasi anak mengembara menggambarkan kejadian itu dalam benaknya yang tanpa batas. Saya pun menyaksikan, anak-anak saya yang sejak kecil dibacakan buku, tumbuh menjadi anak-anak dengan imajinasi yang kaya karena kebutuhannya sudah saya penuhi. Dalam tumbuh kembangnya anak-anak saya terbiasa dengan bermain menggunakan imajinasinya. Bermain sendiri dengan tokoh benda apapun kemudiang mengembangkannya dalam cerita yang dibuat sendiri. Dan anak-anak ini tumbuh dalam kreativitas tinggi dan kecerdasan yang baik. Maka membacakan buku menjadi kebutuhan wajibnya. Dengan tiga dasar ini, saya membayangkan, sesungguhnya jika sejak usia dini anak-anak bisa menyampaikan keinginannya, maka saat anak melihat buku, anak-anak kita akan berkata, “Ayah, Ibu! Bacakan buku itu buatku!”. Tapi, karena tak memiliki kemampuan itu, anak hanya diam. Padahal jika kita cermat mengamati, anak-anak kecil selalu tertarik dengan buku, saat menemukan buku, anak kecil selalu membolak-balik buku dan menyobeknya. Ini pertanda anak ingin dibacakan buku. Andai anak bisa berkata, barangkali anak akan mengatakan, “Yang membuat saya tidak suka membaca itu karena orang tua saya! Sampai saya juga tidak boleh memegang buku yang memukau miliknya. Apalagi berharap orang tua mau membacakan buku untuk saya!” Padahal dengan membacakan buku bisa meredakan kemarahanku.[]


Di Wadas Kelir Mempertebal Sabar dan Menghadirkan Ikhlas

Sabtu sore, 4 November 2017, hujan turun lebat. Dalam guyuran hujan, dari balik pintu rumah saya menyaksikan pemandangan menakjubkan. Ibu-ibu berangkan ke Sekolah Paket B dan C Wadas Kelir. Anak-Remaja berkumpul tiga kelompok di teras belajar Wadas Kelir. Semuanya akan belajar. Ada yang belajar seni. Ada yang belajar pelajaran sekolah. Ada juga yang belajar dengan membaca-baca buku di TBM Wadas Kelir. Ada yang berdiskusi. Semuanya dalam gegap gempita merayakan ilmu pengetahuan. Dalam dingin hujan dengan kondisi saya yang kurang sehat, saya mendapatkan energi dan kehangatan tersendiri atas kejadian hari ini. Saya senang belajar, tetapi saya lebih bahagia melihat orang lain belajar, ini gambaran filosofi saya. Atas kejadian yang menakjubkan ini, saya pun ingat kejadian sebaliknya, sebulan yang lalu. Para Relawan datang ke saya. Kami bermusyawarah. Salah satu Relawan menyampaikan keprihatianannya karena anak-anak dan remaja sedang susah untuk belajar di Wadas Kelir. Saya pun hanya bisa mengatakan, “Jangan kalah dengan anak-anak dan remaja!” Relawan menatap saya agak bingung. Saya paham, Relawan ingin bertanya, “Maksudnya apa?” Saya pun menjelaskan, “Terus melayani yang mau belajar dengan sabar dan ikhlas, sekalipun yang datang cuma satu. Jangan kalah dengan yang tidak mau datang untuk belajar. Mereka akan kalah dan datang lagi untuk belajar ke Wadas Kelir jika kita bisa menunjukan kesungguhan mengajar dengan sabar dan ikhlas. Tapi sebaliknya, jika menyikapi fenomena sepi karena anak-anak dan remaja tidak mau belajar dengan marah, kemudian tidak mau mengajar lagi, maka kita kalah. Wadas Kelir akan ditinggalkan. Kekuatan kita mengajar masyarakat ada pada sikap mengalah, sabar, sambil menghadirkan ikhlas.” Relawan sepertinya paham dengan yang saya inginkan. Sejak saat itu, berapapun yang mau belajar ke Wadas Kelir, kami selalu melayani dengan sebaik mungkin. Tidak ada hari libur, sekalipun yang datang hanya beberapa anak dan remaja. Kegiatan belajar terus dilakukan tanpa henti. Setidaknya Wadas Kelir sudah berjalan empat tahun dengan pasang surut yang luar biasa, dan kami terus bertahan. Dan hari ini perjuangan itu membuahkan hasil, atas inovasi kegiatan ingin mengadakan pentas anak-anak sekolah dasar yang akan disutradarai langsung oleh remaja, anak-anak dan remaja ramai datang ke Wadas Kelir. Mereka ingin belajar. Saya senang. Saya semakin meyakini bahwa kekuatan sebuah pengabdian terletak pada kemampuan dalam mempertebal sabar dan menghadirkan ikhlas dalam sanubari kita. Bersekolah dan belajar di Wadas Kelir tidak diwajibkan. Tidak dihukum jika tidak berangkat. Tidak mendapatkan nilai. Jadi tidak ada yang bisa mengikat. Tapi, saya meyakini, saat anak-anak dan remaja melihat dedikasi para Relawan yang tertanam sabar dan ikhlas, maka kekuatan belajar di Wadas Kelir menjadi magnet kemanusian yang dahsyat. Anak-anak, remaja, dan masyarakat pun akan datang. Untuk belajar dan membaca. Atau barang kali untuk tahu karena merasa penasaran. Dan saat mereka berhadapan dengan Relawan yang mencoba melayani dengan sebaik mungkin, dengan menghadirkan sabar dan ikhlas dalam bekerja, maka komunikasi hati terbentuk. Anak-anak, remaja, dan orang tua akan merasakan hal yang indah belajar di Wadas Kelir. Mereka pun akan datang di kemudian hari. “Teman-teman Relawan, inilah yang saya maksud dengan belajar hidup. Kita harus belajar dari anak-anak, remaja, dan orang tua yang kita ajar. Sebab jika kita berposisi seperti mereka, kita juga akan melakukan hal yang sama seperti yang merea lakukan. Jadi kita harus menyatu dengan mereka. Jangan merasa lebih karena yang merasa lebih tak akan bisa menghadirkan sabar dan ikhlas!” Dan di tengah guyuran hujan yang lebat, dari balik pintu rumah, dengan kondisi yang kurang sehat, saya berkata dalam hati, “Wadas Kelir bisa tumbuh dan berkembang karena dikelola oleh Relawan-Relawan yang hatinya tebal dengan sabar dan ikhlas. Saya akan belajar pada kalian.” Dan saat sayup-sayup saya mendengar anak-anak dan remaja berteriak, saya tersenyum senang. Rasanya kenyataan ini menjadi obat tersendiri bagi saya untuk segera pulih dan kembali berkumpul dengan mereka. Untuk merayakan kebahagiaan dan kemerdekaan dalam belajar di Wadas Kelir. Untuk bisa belajar pada anak-anak, remaja, orang tua, dan relawan. Mereka guru-guru terbaik saya yang mengajarkan banyak kehidupan. Kelihatannya saja saya gurunya, yang dipanggil dengan Pak Guru. Tapi, ilmu satu orang guru akan kalah dengan ilmu puluhan dan ratusan relawan dan masyarakat yang belajar di Wadas Kelir. Jadi, tak perlu mempertahankan sakit terlalu lama sebab kehidupan di luar, di Wadas Kelir, penuh dengan ilmu kehidupan yang sayang untuk dilewatkan. Saya tersenyum senang mendapatkan arti kehidupan sederhana yang mengagumkan sore ini.[]


Atasi Kecanduan Gadget pada Anak dengan Terapi Literasi

Saya merasa semua orang tua memiliki pengalaman yang sama. Pada awalnya adalah anak yang tidak mau diam. Orang tua kesal. Menganggap anak yang baik dan manis itu lebih banyak diamnya. Duduk rapi tidak banyak teriak dan lari-lari. Sebab sekali anak banyak berteriak dan lari-lari, maka orang tua cemas dan terganggu. Orang tua pun mencari solusi. Dan dilihatlah disaku, dompet, atau genggaman tangan: sebuah gadget yang ekstra smart. Gadget yang kemarin diminta anak, tetapi orang tua tidak memberikannya. Karena waktu itu masih ingat kata Pak Ustadz dalam suatu pengajian, “Jangan berikan mahluk bernama gadget pada anak!” Tapi, orang tua sekarang lupa. Sebab, melihat anak ribut dan berlari itu memusingkan kepala. Anak harus didiamkan, dan jika susah beranggapan demikian, maka oran tua dengan mudahnya akan memberikan gadget pada anaknya, “Sini, Nak! Main gadget saja. Jangan lari-lari terus!” Dan adegan selanjutnya bisa ditebak, anak akan menghabiskan banyak waktu. Berjam-jam lamanya dengan bermain gadget. Saat sudah berhari-hari larut dengan gadgetnya, mendadak orang tua ingat kembali dengan pengajian entah kapan, “Jangan berikan gadget pada anak! Nanti anak akan kecanduan!” Dan orang tua telah mengalami sendiri, anaknya menghabiskan banyak waktu hanya duduk bermain game melalui gadget yang super cerdas. Saat sudah bermain, perkataan orang tua berapapun panjangnya tetap dicuekin. Orang tua kemudian bingung dan menyesal. Telah tidak menuruti nasihat Pak Ustadz hanya karena merasakan risih anak-anaknya setiap hari ribut dna lari-lari. Dan setelah sudah berhari-hari tidak ribut dan lari-lari, orang tua baru menyadari suara keributan anak berteriak dan lari itu jauh lebih indah daripada suara bunyi game yang menyiksa orang tua. Saat seperti ini orang tua bisa putus asa. Orang tua kemudian mengambil paksa gadget-nya, tetapi apa yang terjadi. Anak akan meronta, mengamuk, dan menangis sejadi-jadinya tanpa berkesudahan seakaan gadget sahabat sejatinya yang tak bisa dipisahkan. Melihat anak menjadi demikian, orang tua pun akhirnya memberikan gadget itu lagi. Orang tua tak berdaya, dan kadang menyerah begitu saja. Setiap hari hanya bisa menggerutu mendengar bunyi game yang keluar dari gadget, dan melihat anaknya senyum senang sendiri bermain game. Padahal, di luar rumah teman-temannya sedang bermain petak umpet, dan berteriak berlari-lari merayakan kabahagiaan yang alamiah. Di situlah orang tua kemudian merasa tersiksa, dan kemudian, saat berkali-kali saya mengisi seminar dan pelatihan, pasti pertanyaan sering yang mencul adalah: “Anak saya sudah kecanduan gadget, setiap harinya selalu bermain game dengan gadget sampai lupa waktu. Bagaimana cara agar ini tidak terjadi. Anak tidak kecanduan?” Dan dari sinilah saya pun mengelus dada. Saya berpikir keras. Saya mengumpulkan pengalaman sendiri dalam menangani anak-anak yang kecanduan gadget. Dan saya menemukan tiga terapi penting yang bisa dilakukan orang tua dalam mengatasi kecanduan gadget.   Pertama, terapi pengalihan. Pada awalnya adalah orang tua yang tidak mau anaknya aktif dan ribut, sehingga gadget pun diberikan ke anak. Dan anak-anak bermain gadget seharian karena merasa hari itu tidak ada kegiatan wajib yang harus dilakukan, jadi anak bermain dengan gadget karena merasa waktu santai. Tapi hasilnya, saat sudah main gadget jadi lupa waktu semuanya. Untuk itu, langkah awal mengurangi kecanduan gadget adalah dengan membuat pengalihan waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat. Orang tua harus membuat aktivitas wajib bagi anak yang menyenangkan, yang dilakukan saat anak-anak memanfaatkan waktu itu dengan bermain gadget.  Aktivitas waktu pengalihan ini bisa berupa bimbingan belajar, bimbingan seni, wisata, nonton film, sampai pengalihan kewajiban untuk bermain di luar rumah. Dengan cara pengalihan ini, anak-anak akan terkurangi waktu bermain dengan gadget, dan perlahan-lahan jika terapi pengalihan bisa menghadirkan kegiatan yang lebih menyenangkan dengan bermain gadget, maka anak pun perlahan-lahan akan meninggalkan gadget.  Kedua, terapi literasi. Dasar berpikirnya bahwa tidak ada yang salahnya anak-anak menggunakan gadget. Tapi, menjadi persoalan jika yang diakses adalah game. Kenapa anak-anak menggunakan gadget hanya untuk bermain game. Ini disebabkan budaya literasi atau membaca yang rendah dari anak. Jika anak memiliki hobi baca yang bagus, maka gadget akan digunakan untu mengakses berbagai dongeng, cerita, dan informasi lain yang penting. Anak-anak akan menggunakan gadget untuk membaca. Untuk itu, terapi penting yang perlu dilakukan orang tua adalah terapi literasi. Anak-anak dikondisikan untuk memiliki budaya baca yang bagus sebelum menggunakan gadget. Sehingga anak-anak akan menggunakan gadget dengan benar, tidak sekadar untuk bermain game seharian, tetapi digunakan untuk membaca berbagai informasi dan cerita yang menarik. jika kenyataannya demikian, maka anak menggunakan gadget bisa maklumi. Untuk terapi literasi ini, orang tua harus aktif menciptakan budaya membaca di rumah secara intensif, yang dimulai dari penyediaan buku-buku bacaan di rumah, pemberian contoh dan keteladanan bahwa ornag tuanya senang membaca, menyuruh anak-anak untuk sehari harus membaca, sampai pada orang tua aktif dalam membacakan buku ke anak. Langkah ini akan membuat anak-anak kita hobi membaca, saat sudah hobi membaca, maka gadget akan digunakan untuk media mencara informasi untuk dibaca. Ketiga, terapi ketegasan. Terapi ini dilakukan bila anak sudah akut kecanduan terhadap gadget. Orang tua pun harus bertindak tegas. Ketegasan ini dilakukan dengan, misalnya, melarang keras anak untuk bermain dengan gadget. Jika sudah ada ketegasan begini, maka orang tua juga harus memberikan contoh. Orang tua tidak boleh menggunakan gadget untuk hal tidka penting di hadapan anak. Untuk terapi anak awal mulanya anak akan protes dan melakukan berbagai cara agar gadget-nya tidak disita. Tapi, saat keadaan ini orang tua harus tegas melaksanakan aturan. Dalam keadaan demikian, anak yang sedang kecewa, orang tua datang dengan terapi pengalihan dan literasi. Anak diajak untuk melakukan hal yang menyenangkan, bisa melalui bermain atau bercerita. Dan ini harus dilakukan secara intensi sampai anak benar-benar melupakan gadget. Anak mulai asyik dengan dunia aktivitas dan literasi yang dilakukan orang tua dengan dirinya. Di sinilah, saat orang tua resah dengan kebiasaan anak menghabiskan banyak waktu seharian hanya untuk bermain dengan gadget, tiga terapi ini bisa dilakukan oleh orang tua secara intensif. Tujuannya agar anak-anak kita bisa lepas dari main game  di gadget seharian, dan kedepan bisa menggunakan gadget untuk pengembangan literasi yang lebih baik.[]


Harmoni Literasi: Wadas Kelir dan Partisipasi Masyarakat

Ini adalah catatan refleksi saya atas pertemuan wali murid Bimbingan Belajar Wadas Kelir yang diselenggarakan pada Rabu, 1 November 2017. Sebuah catatan yang merefleksikan harapan dan impian di balik kerja-kerja pengabdian yang hanya sedikit dari kami Relawan Pustaka Wadas Kelir.“Kalau bisa pertemuan wali murid seperti ini dibuat rutin! Sebulan sekali atau dua bulan sekali. Kami sangat senang!” kata salah satu orang tua yang putranya belajar Bimbel di Wadas Kelir, saat kami sedang melakukan evaluasi dengan orang tua. Dia tampak antusias dan senang diberikan kesempatan menyampaikan pendapatnya. Saya langsung tersadar. Inilah yang dibutuhkan orang tua. Belajar tidak melulu soal guru-guru yang tampil di depan anak-anak untuk menyampaikan materi. Belajar itu terkait juga bagaimana kita dekat dengan orang tua murid. Orang tua menjadi bagian penting sekolah yang dilibatkan secara aktif dalam kegiatan belajar. Orang tua yang senang menyampaikan pendapat dan idenya untuk kemajuan bersama. Dan Wadas Kelir ingin melakukan ini. Terus apa yang sudah kamui lakukan. Belum banyak, tetapi, setidaknya kami sudah melakukan ini: saat orang tua datang mengantarkan anaknya atau menunggu anaknya pulang bimbingan belajar, saya dan relawan hadir menyapa, bersalaman, bahkan sering mengobrol dengan orang tua. Saat begini rasanya, kita semua sedang belajar dalam sebuah sekolah yang bernama keluarga.Inilah sekolah ideal bagi saya. Sekolah Wadas Kelir yang berbasis keluarga. Sekolah yang bersekolah dan belajar di Wadas Kelir bukan semata anaknya, tetapi juga orang tuanya. Di sinilah, Wadas Kelir tak sebatas tampil sebagai sekolah atau tempat belajar, tetapi juga rumah sebagai tempat berkeluarga. Kedekatan anak-anak dengan saya dan relawan pun seperti dekatnya orang tua dan anak. Dan orang tuanya selalu kami libatkan dalam komunikasi santai ataupun evaluasi. Tidak jarang saya selalu mengatakan dalam setiap evaluasi dengan orang tua murid, “Bapak-Ibu, Wadas Kelir itu keluarga dalam belajar. Dan sepantasnyalah kita sebagai anggota keluarga untuk mengatakkan yang baik soal Wadas Kelir pada semua orang, tetapi yang tidak baik, ayuk, di sampaikan di sini saja. Agar kita bisa memperbaiki bersama.” Dari perkataan inilah saya meyakini hati orang tua akan terketuk. Akan menyadari betapa Wadas Kelir berbeda. Dengan baju keluarga kami ingin memberikan hal yang manfaatnya jauh ke depan. Melampau garis-garis keterbatasan. Sungguh ini mimpi yang aneh, bukan? Tapi, inilah kenyataan yang selalu saya pikirkan.Dari sinilah, berbagai masukan dan kritik kami terima. Kami sakit, tetapi kami bahagia. Sebab kami menyadari bahwa tanpa masukan dan kritik kami tak akan bisa tumbuh besar. Kami mendengarkan dengan baik saat Bapak-Ibu, orng tua murid menyampaikan masukan dan ide gagasannya untuk kemajuan Wadas Kelir. Dari kebiasaan ini, Wadas Kelir yang menjadi harmoni dengan orang tua, membuat Bimbingan Belajar Wadas Kelir yang didirikan dua tahun silam masih terus bertahan. Dan Wadas Kelir yang berdiri empat tahun silam masih berdiri. Semua karena sinergi dengan masyarakat yang baik. Dan saat kami kumpul dengan orang tua wali murid bimbel, saya melihat secercah harapan bahwa Wadas Kelir bisa menjadi mitra keluarga terbaik untuk pendidikan anak-anak mereka. Keyakinan ini akan muncul saat orang tua benar-benar dilibatkan dalam pendidikan di Wadas Kelir. Maka, saat acara pertemuan wali murid selesai, sebelum orang tua bergegas pulang, saya akan lebih dulu menyalami orang tua, saya mengucapkan terima kasih. Dan lebih dari itu, saya ingin mengatakan bahwa kami adalah pelayanan putra-putri Bapak Ibu dalam pendidikan. Akhirnya, malam itu [Rabu, 1 November 2017] saya dan relawan melepas puluhan orang tua murid, yang anak-anaknya belajar di Wadas Kelir. Saat mereka pulang saya berkata dalam hati, “Semoga saya bisa diberi kesempatan untuk menyaksikan putra putri mereka menjadi orang hebat yang memimpin bangsa ini kelak!” Harapan terlalu tinggi yang selalu membuat saya terus bergerak membangun Wadas Kelir sebagai Pusat Pendidikan Masyarakat yang berkualitas.[]


Wadas Kelir Pentaskan Teater

Sejak awal mendirikan Wadas Kelir, tahun 2013, saya sudah meyakini, bahwa konsep sekolah bagi saya tak sekedar sebuah kelas atau bangunan, yang di dalamnya murid-murid duduk rapi mendengarkan gurunya menyampaikan materi dengan berceramah sok tahu. Lebih dari itu, salah satu arti sekolah bagi saya adalah memberikan sebuah tanggung jawab dalam bentuk proyek untuk dikerjakan secara kolektif. Dalam proses pengerjaan proyek itu, tugas saya adalah memantau dan mendampingi bagaimana murid-murid saya bisa bekerja keras dan bekerja sama dalam penyelesaian tugas tersebut. Konsep ini saya berikan pada remaja Wadas Kelir. Sebulan yang lalu, dua belas remaja dan  empat relawan Wadas Kelir saya ajak mereka ke sebuah kelas istimewa. Bukan kelas ruangan, tapi kelas halaman Taman Baca Wadas Kelir. Di kelas itu saya sampaikan: “Kalian bulan depan harus mementaskan Teater. Dipimpin kalian dan dikerjakan kalian sendiri. Harus jadi agar kalian belajar banyak tentang kehidupan!” Setelah tugas berat ini, saya tahu mereka berdiskusi. Mereka memilih peran, tugas, dan tanggung jawabnya. Mereka berdiskusi membuat skenario. Mereka melakukan audisi karakter tokoh yang tepat. Dan ini pekerjaan yang luar biasa. Luar biasa lelah dan membutuhkan kecerdasan seni yang bagus. Dan mereka bisa menyelesaikannya dengan baik. Dan tidak sampai ini,  saya tahu, jadilah hari-hari panjang yang melelahkan buat mereka. Pulang sekolah disempatkan untuk latihan teater. Saat ada waktu libur sekolah mereka latihan teater. Semua dilakukan kadang sampai larut malam sampai saya melihat doresan mata dan wajah kelelahan. Dalam keadaan lelah ini saya tahu, di antara mereka telah terjadi keributan, terjadi kemarahan, terjadi pertengkaran karena kerja tim ternyata melelahkan. Satu murid mogok semuanya terganggu. Semuanya kecewa. Maka, berbagai manuver kata-kata kekecewaan berakrobat di group WA mereka. Saya tahu. Dan saya pun dag-dig-dug dengan katakutan mereka akan gagal dan timbul perpecahan karena materi ini. Tapi, dari lubuk hati terdalam saya, saya yakin mereka bisa mengatasinya dengan baik . Mereka adalah murid-relawan Wadas Kelir yang tangguh dan kuat.Mereka hebat.Sudah empat tahun mereka belajar di Wadas Kelir dengan penuh dedikasi dan integritas tinggi untuk memajukan Wadas Kelir sebagai tempat pendidikan masyarakat yang hebat. Dan kenyataan ini terjadi. Saya melihat sebuah penampilan teater remaja Wadas Kelir [28-10-2017] yang memukau. Lucu dan menghibur dengan penuh totalitas yang luar biasa. Pertengkaran, perselisihan, dan kemarahan yang menjadi  bumbu selama latihan berhasil di atasi dengan baik. Tepuk tangan bergema mengakhiri sebuah pementasan. Dan saya sebagai guru berkaca-kaca. Hati saya senang gembira menyaksikan sebuah kemenangan dan kelulusan murid-murid saya. Ya, mereka remaja hebat yang telah ditempa dalam pendidikan komunitas yang saya desain sedemikian rupa. Dan usai pementasan, saya melihat wajah-wajah bahagia mereka. Mereka senang dan bangga. Mereka sudah lupa dengan kemarahan dan perselisihan yang pernah terjadi. Kekecewaan itu hanya milik pribadi untuk diatasi, tetapi kemenangan adalah milik kita semua, barang kali hati juara mereka berkata. Maka, saat evaluasi pementasan dengan bangga saya katakan: “Kalian sangat hebat. Saya sudah yakin itu. Penampilan luar biasa. Dan lebih dari itu, kalian harus tahu, Wadas Kelir adalah sekolah kehidupan dengan pelajaran lebih sulit dari sekolah. Kalian diberi materi Teater dan kalian telah menyelesaikan dengan bagus. Kalian lulus karena telah berhasil menahan rasa kecewa dan marah untuk diredam demi tujuan bersama. Inilah pelajaran penting. Jangan pernah meninggalkan teman, tanggung jawab, dan keluarga Wadas Kelir karena kemarahan dan kekecewaan!” Semua tampak senang, dan pelajaran penting kita perolah: sekolah dengan berpuluh mata pelajaran belum tentu cukup untuk membentuk murid kita berjiwa besar. Tapi, di Wadas Kelir dengan memberikan tugas Teater, saya menyaksikan sendiri remaja-remaja ini berjiwa besar. Menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Inilah sekolah di Wadas Kelir. Sekolah kehidupan yang tidak hanya membentuk anak-anak cerdas karena ada kewajiban membaca buku. Tapi, juga sekolah untuk menempa mental dan keberanian remaja untuk kehidupan mereka lebih baik di masa depan. Salam Literasi! Hormat saya untuk Indonesiaku tercinta. Semoga Wadas Kelir bisa menyiapkan generasi yang baik untuk masa depan Indonesia yang cerah.[]


Gerobak Baca:dari Read Aloud, Bermain, Hingga Menulis (1)

Setiap harinya, saya dan Relawan Pustaka¨ Gerobak Baca Wadas Kelir menunggu. Tentu tidak sekadar menunggu. Kami menunggu anak-anak sekolah dasar pulang. Kami menunggu mereka datang ke Gerobak Baca Wadas Kelir. Maka, saat waktu menunjukan pukul 12.00 WIB, kami segera bersiap-siap menyambut tamu-tamu istimewa kami: anak-anak sekolah dasar yang akan menyerbu kami, eh, buku-buku di Gerobak Baca. Nyata sudah, di ujung gang itu, kami melihat Anin, Luna, dan teman-temannya, siswa kelas satu sekolah dasar yang memeluk buku dan berjalan menuju Gerobak Baca. Saat hampir mendekati Gerobak Baca, Anin dan Luna berlari, keduanya diikuti teman-teman lainnya, mereka  berteriak penuh suka cita, “Pak Guru! Pak Guru!” Saya bahagia melihat pemandangan ini. Sangat indah. Tentu saja, saya dengan Relawan Wadas Kelir menyambut dengan suka cita. Saya lontarkan pertanyaan, “Apa buku ini sudah dibaca?” Anak-anak menjawab dengan anggukan kepala senang. “Apakah ada buku yang baru, Pak Guru?” tanya anak-anak. Saya mengganggukkan kepala seraya melirik ke arah Gerobak Baca Wadas Kelir yang berdiri anggun. Anak-anak langsung menuju Gerobak Baca dengan antusias. Disusul kemudian anak-anak lain yang sudah pada pulang sekolah berdatangan. Saya senang melihat anak-anak ramai mengembalikan buku, kemudian menyerbu Gerobak Baca untuk meminjam buku lagi. Ini menjadi pemandangan yang menyenangkan buat saya. Read Aloud Dimulai  Setelah anak-anak memegang buku, seperti biasa, mereka akan menghampiri saya dan relawan pustaka yang berjaga. Mereka sudah pasti akan berteriak, “Pak Guru, read aloud!” Saya dan teman-teman Relawan Pustaka menyambut anak-anak dengan senang hati. Anak-anak dibagi dua. Kami pun duduk melingkar. Kami siap membacakan buku ke anak-anak. Kami membacakan judul buku, dan membacakan isi buku pelan-pelan dengan suara lantang, dan anak-anak senang mendengarkannya. Inilah kegiatan Read Aloud yang selalu menyenangkan anak-anak. Anak-anak sekolah dasar kelas rendah, selalu menyukainya. Bukti kesukaannya ditandai dengan kenyataan yang menakjubkan bahwa anak-anak sehari bisa dua sampai lima buku dibacakan. Terus, mereka mulai dengan senang hati saling Read Aloud. Artinya, anak-anak mempraktikan apa yang kami lakukan. Diam-diam, awalnya tanpa sepengetahuan saya, anak-anak saling Read Aloud, saat saya tahu, anak-anak berteriak malu pada Pak Guru. Saya tertawa senang. Saya meyakini bahwa jika anak melakukan atau mempraktikan atas apa yang saya ajarkan, maka sungguh anak itu sangat berkesan. Pengalaman itu menakjubkan. Inilah nanti yang akan membentuk pribadi anak-anak. Pengalaman tidak akan terlupakan anak-anak. Akan anak akan selalu ingat dengan kegiatan membaca. Saya pun menghampiri mereka, “Kenapa harus malu. Kalau kalian saling Read Aloud itu sangat bagus. Ayuk, diteruskan. Pak Guru tidak akan melihat.” Anak-anak tersenyum senang. Saya meninggalkan mereka yang sedang saling Read Aloud. Sayup-sayup saya mendengarkan suara anak-anak membacakan buku yang sangat indah. Dari Read Aloud inilah anak-anak mencintai buku, dan membaca buku kemudian menjadi kegidatan yang menyenangkan di Gerobak Baca Wadas Kelir seusai pulang sekolah. ¨ Relawan Pustaka adalah relawan remaja-remaja masyarakat sekitar yang ikut melayani anak-anak membaca di Gerobak Baca Wadas Kelir.


Gerobak Baca: dari Read Aloud, Bermain, Hingga Menulis (2)

Bermain Literasi Setelah budaya Read Aloud berkembang pesat bagi anak-anak sekolah dasar di Gerobak Baca Wadas Kelir, mendadak saya dihadapkan pada persoalan? Saya melihat semacam kejenuhan pada anak-anak yang selalu datang ke Gerobak Baca. Semangat mereka menurun. Saya pun segera memikirkan. Saya memiliki ide. “Anak-anak, ayuk ke sini!” teriak saya siang itu. Anak-anak sekolah dasar yang sedang berbaur membaca di Gerobak Baca segera berkumpul. Saya sampaikan gagasan saya, “Hari ini, kita akan bermain yang menyenangkan. Tapi sebelumnya, kalian tolong ambil buku di Gerobak Baca. Setiap anak masing-masing satu buku!” Anak-anak segera berlarian. Kami pun kumpul kembali. Sekarang di setiap anak ada buku bacaan dan kertas untuk bermain. Saya menyebutnya bermain literasi. Saya memberi komando, “Permainan pertama dimulai kalian cari bunga yang ada di sini, hitung jumlah daun bunganya. Terus, tulis jumlahnya. Sekarang!” Anak-anak langsung berlari melaksanakan tugas atas apa yang saya perintahkan. Mereka tertawa senang dan gembira. Mereka sangat suka. Setelah selesai, mereka berkumpul lagi. Saya langsung perintahkan,”Tulis jumlah angka dalam kertas secara vertikal!’ Anak-anak langsung menulis. Ada yang: Sembilan, sepuluh, tujuh, dan sebagainya. Kemudian saya perintahkan, “Sekarang, jika kalian menulis angka SEMBILAN, maka carilah kata dalam buku yang hurufnya S E M B I L A N sebanyak-banyaknya. Yang paling banyak menemukan katanya menjadi pemenangnya. Waktu kalian hanya lima belas menit. Dimulai!” Anak-anak langsung bekerja keras membaca dan mencari kata dalam buku dengan antusias. Saya sangat senang melihat pemandangan ini. Sungguh indah anak-anak membaca dan menuliskan kata dengan cepat. Buku pun bisa menjadi permainan literasi yang menyenangkan. Setelah waktu selesai, anak-anak saling membacakan jumlah dan kata yang ditemukan. Yang paling banyak selalu mendapatkan tepuk tangan dari teman-temannya. Kemudian dia menjadi juara. Teman-temannya mengucapkan selamat, dan dia mendapatkan hadiah. Anak tersebut sangat senang. Dan setelah permainan selesai, mendadak anak berteriak, “Lagi, Pak Guru!” Saya bingung, tetapi senang. Saya tidak menyangka anak-anak sangat suka. Saya pun kemudian bermain lagi dengan teknik-teknik yang berbeda, ada teknik membacakan kata asing, menjumlah halaman, mencari kata sifat, kata bersambung, dan sebagainya. Membaca kemudian menjadi permainan menyenangkan yang saya sebut sebagai permainan literasi. Dari sinilah, anak-anak sekarang menjadikan permainan literasi sebagai kegiatan membaca yang menyenangkan. Anak-anak pun semakin menyukai kegiatan literasi. Sampai Menulis Kreatif Saat Read Aloud dan bermain literasi menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi anak-anak sekolah dasar di Gerobak Baca Wadas Kelir, pertanyaan saya, apakah kemampuan dan pengetahuan mereka dari membaca tidak bisa dikelola untuk mendapatkan sesuatu yang lebih. Saya sekadar ingin meyakinkan bahwa dengan membaca, anak-anak tidak hanya mendapatkan banyak ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki prestasi yang bagus. Saya pun siang malam memikirkan ini, sampai akhirnya, saya menemukan ide: Menulis Kreatif. Esok hari saya kumpulkan anak-anak, saya ajak anak bermain literasi dengan orientasi untuk mendapatkan tulisan-tulisan kreatif yang bagus. Saya langsung tugaskan, “Anak-anak sekarang kalian baca buku, ya! Terus cari satu kata yang bendanya ada di sini! Jika sudah ditemukan segera cari dan ambil benda itu!” Anak-anak segera membaca cepat. Saat sudah menemukan kata yang bendanya ada di sini, anak-anak langsung berlari mengambil benda itu. Yang pertama menjadi pemenangnya. Anak-anak sangat suka dan antusias. Setelah selesai, kini di hadapan anak-anak ada benda-benda aneh: ada batu, daun, rumput, dan tanah. Saya dan anak-anak tertawa senang. Saya meneruskan permainan, “Sekarang coba perhatikan benda ini. Kemudian, tulis lima kata yang bisa ditemukan di benda ini, misalnya, yang bendanya batu bisa menulis, keras, bulat, dan sebagainya. Apakah kalian jelas?” Anak-anak berteriak, “Jelas!” Saya melanjutkan, “Dan jika sudah ditemukan kata-katanya, maka buatlah satu kata satu kalimat yang menerangkan benda itu!” Wah, anak-anak langsung bekerja, mereka mengamati benda itu dengan saksama. Setelah mendapatkan kata dari benda itu, mereka langsung menuliskannya, dan membuat kalimatnya. Sunguh indah sekali anak-anak menulis dengan antusias. Dan mendadak saya berurai air mata, membaca hasil karya tulis anak-anak ini. Sangat bagus dan kreatif. Melalui bermain mereka bisa membuat tulisan kreatif. Saya sangat bangga pada mereka. Publikasikan dan Bukukan Dan tentu saja, atas tulisan itu saya harus mengapresiasinya. Yang saya lakukan dalam apresiasi ini adalah saya mengirimkan tulisan kreatif anak-anak ini kemudian massa, saya ikutkan dalam lomba-lomba menulis, dan saya kumpulkan dan dibukukan. Hasilnya, dunia anak-anak siswa sekolah dasar ini terbelalak, setiap minggu tulisan kreatif anak-anak Gerobak Baca ini dimuat di media massa, ada juga yang memenangi lomba, dan buku kumpulan karya anak-anak pun terbit. Saya terharu senang dan bahagia. Karena kegiatan literasi di Gerobak Baca Wadas Kelir memberikan dampak langsung bagi anak-anak sekolah dasar, mereka dapat honor, semakin percaya diri sekolahnya, di kelas berprestasi, dan mendapatkan juara maka orang tua mereka mendukung kegiatan Gerobak Baca Wadas Kelir untuk anak-anak sekolah dasar. Dan dari peristiwa ini saya meyakini, bahwa kegiatan literasi untuk anak-anak sekolah dasar harus dilakukan dengan tiga pondasi penting: membaca, berpikir, dan menulis. Dan tiga pondasi literasi ini dilakukan dengan cara yang kreatif dan menyenangkan sehingga anak-anak senang, sampai kemudian literasi harus memberikan dampak penting, yaitu prestasi dan materi bagi anak-anak. Dengan cara inilah kegiatan literasi akan selalu disukai anak-anak, dan anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang literat.**


WADAS KELIR: Bersama Masyarakat Menjaga Irama Literasi

Ini yang selalu saya pikirkan: bagaimana Wadas Kelir selalu menjadi bagian paling harmonis dengan masyarakat. Untuk menjaga hubungan ini, Wadas Kelir harus melakukan banyak hal kebaikan untuk masyarakat. Salah satunya, rutin menyelenggarakan kegiatan hiburan edukasi yang meliterasikan masyarakat, yaitu melalui: Pentas Seni dan Literasi. Kegiatannya dilakukan dengan menampilkan literasi sosial-budaya yang menyenangkan. Kegiatan yang membuat masyarakat bisa melewatkan malam dengan penuh rasa senang,  dan mendapatkan pengetahuan literasi yang penting. Pada malam ini [Sabtu, 14 Oktober 2017], Pentas Seni dan Literasi menghadirkan kelompok DISIS, kelompok seni wayang orang yang digawangi oleh anak-anak muda kreatif yang menyajikan guyonan dalam budaya Banyumas. Sebelum kelompok Disis tampail, remaja Wadas Kelir menampilkan tiga atraksi yang memukau, Kak Ilham menampilkan sulap khas Banyumas, Kak Pipit Kak Wiwi dan Kak Bayu menampilkan musik dan musikalisasi puisi geguritan Banyumas. Masyarakat menyaksikan kegiatan ini dengan hikmat, saat giliran Disis tampil, tentu saja, kami semua tertawa terbahak-bahak. Kami merayakan malam minggu dengan sangat senang dan riang. Tidak saja sampai di siti, Disis mampu menampilkan cerita sejarah Banyumas yang sangat memukau. Kami pun jadi tahu sejarah Banyumas, mulai dari lahir dan penemunya, serta tokoh-tooh penting yang mendirikan Banyumas. Acara dipungkasi pada pukul 22.00 WIB dengan sangat berkesan. Masyarakat pulang dengan rasa senang, salah satu warga pun bilang,"Kapan lagi ada acara ini?" Saya tersenyum senang, saya menjawab, "Secepatnya!" Kami memungkasi acara malam ini dengan sangat senang. Saya meyakini, dengan kegiatan ini, Wadas Kelir akan semakin mesra dengan masyarakat, menjadi bagian penting dalam proses perubahan yang akan terjadi di Wadas Kelir. Perubahan menuju masyarakat Wadas Kelir yang Literat dan semoga memberikan dampak kesejahteraan bagi masyarakat.**


Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…