LOADING

Type to search

MENEMBUS LANGIT (Part 1) – Melukis Delusi

Edi Dimyati 2 minggu ago

TBM Lentera Pustaka Gagas Zona Baca Hijau 1.000 Tanaman Polybag

TBM Lentera Pustaka 2 minggu ago

Berburu Ilmu Menulis dari Pakarnya

Redaksi 3 minggu ago

Pacarku Menyapu Halaman (Bag. 2)

Tidak ada seorangpun di dalam rumah. Pintu sudah kupastikan terkunci rapat. Jendela sudah aku tutup dan gorden pun kurapatkan hingga sudutnya. Hanya ada binatang yang mengeluarkan suara nyaring. Aku memastikan di dalam rumah tidak ada yang menggangguku dan pacarku. Secepat kilat aku membawa tumpangan kucing di tanganku dan melemparkannya keluar rumah. Kubiarkan ia meringis dan pergi sejauh mungkin. “Kira-kira begitu yang aku lakukan di rumah” kataku kepada kucing yang pernah aku lempar. Aku menyesal melemparnya, dan sekarang kubiarkan ia bertanya sesukanya kepadaku. “Sekarang kau temanku, kau tidak pantas bercerita rahasia ini kepada Ayah, Ibu dan Kakakku” Aku memohon kepada seekor kucing dan dari golongan binatang. Rasanya turun martabatku sebagai manusia. “Untuk Adikku, kau boleh menceritakannya sesukamu. Ia sudah kuberi uang jajan yang cukup untuk membungkamnya selama beberapa hari”. Kataku menambahkannya lagi. Cukup kali ini aku berbincang dengan binatang. Memangnya apa salahku sampai harus memohon pada binatang rumahan ini. Bukankah ia setiap hari yang mencuri ikan makanan pagiku. Aku sering menangkap basah kucing ini mengambil makanan yang bukan haknya. Ia selalu bernafsu saat melihat ikan segar dihadapannya. Yang menyebalkan adalah caranya menatap ikan itu. Ia terlebih dahulu mengawasi bola mata ikan hingga kepada kaki. Ia akan memastikan di sekelilingnya tidak ada kucing lain selain dirinya sendiri. Ekor pendeknya akan memberitahunya saat ada sinyal bahaya. Jadi, ia sudah bersiap lari dan sembunyi saat pemilik ikan datang. “Sial, aku tak pernah mendapatkan kucing ini mencakar dan mencabik ikan yang ia dapatkan” Pikirku “Barangkali aku akan melihatnya menjilat-jilat ikan segar yang sudah tidak berdaya itu. Ah, seharusnya aku dapat melihatnya sesekali.” Pikirku lagi. Seharusnya ikan segar tidak ditaruh sembarang tempat. Tentulah kucing-kucing akan beringas dan mendengusnya. Kalau aku jadi pemilik ikan segar itu, pastilah kutampar dengan cepat kucing-kucing yang sesekali mengendusnya. Tak sudi aku melihat kucing-kucing menatap penuh nafsu. Kecuali kalau ikan itu memang sengaja merayu kucing-kucing agar menjilatnya. Tentulah aku akan lebih jijik kepada ikan tersebut. Belum aku ceritakan semuanya, kucing itu pergi dari hadapanku. Ekornya mengejekku dan menuduhku. Sekarang giliran ia yang tidak sudi berbicara denganku. Barangkali ia tahu juga perbuatanku. Tapi aku sungguh belum memberitahu hal ini kepada siapapun, seluruhnya termasuk kepada kucing brengsek itu. Sekarang aku bingung bercampur malu. Rasanya semua semesta telah tahu perbuatan kejiku. Entah siapa yang memberitahunya, aku akan memohon kepadanya untuk menghentikan keasinganku. Tidakkah ini semua di luar kendaliku, benar!. Aku harus membela diri. Ini bukan perbuatanku seutuhnya, ini adalah fitrah manusia. “Ayah, Ibu. Sungguh aku tidak melakukan apa-apa” aku memelas. Aku hanya melakukan apa yang biasa dilakukan kucing itu. Ikan segar itu yang merayu dan mengajaknya bicara ke mana-mana. Ia membiarkan dirinya tidak terjaga dan membuat birahi kucing semakin menggila. “Kau tahukan, Kakak. Adikmu ini hanya terpancing oleh ikan itu” “Adik, lihatlah. Kakakmu ini tidak melakukan apa-apa. Percayalah.” Ia hanya pacarku yang kuperlakukan seperti ikan segar itu. Sungguh, aku melihat kucing itu yang menjilat-jilat ikan dan mencabik lalu memakannya sampai kenyang. “Itu dia, kucingnya” teriak diriku dan terpancing keluar rumah. Kemudian aku mendapati pacarku tengah menyapu halaman.


Pacarku Menyapu Halaman (Bag. 1)

“Kau tahu?” Perempuan bernama Ibu mencurigaiku atas kelakuanku yang setiap hari meresahkan. Sebenarnya aku tidak menyembunyikan apa-apa. Apalagi Ayah, ia selalu menatapku dengan tidak menyenangkan. Ia akan melototkan bola matamya seperti hampir jatuh. Kakakku juga melakukan hal yang sama. Pernah diriku tengah duduk di halaman rumah. Aku yang setiap pagi meletakkan kopi di meja, kopi yang saat itu terasa manis. Entah apa yang dilakukan Kakakku. Kopi buatanku sendiri menjadi pahit. Tapi aku bersyukur, adikku tidak melakukan apa-apa. Bahkan ia selalu menaruh senyum kepadaku. “Hei, kenapa Ibumu?” Zaeni menunjuk Ibuku yang menatap tidak senang kepadaku. Tapi aku tidak mendapatkannya. Saat aku menoleh, Ibuku masuk ke dalam rumah dan hilang. “Biarlah, lebih baik kita pergi dari sini” Aku mengajak Zaeni pergi dari rumah. Rumah yang kau anggap surga, tidak akan kau temui di sini. Setiap hari aku di pojokkan oleh Ibu, Ayah dan Kakakku sendiri. Terakhir adikku, kalau aku tidak memberinya uang jajan. Ia tidak berhenti memasang wajah cemberut. Kau bisa membayangkannya, rumahku penuh dengan tuduhan dan prasangka. Aku tidak pernah tidur nyenyak di sana. Bayangkan aku selalu terbangun dengan suara yang sangat keras. Ayah melantunkan ayat-ayat suci hingga membuatku terbangun. Ia sengaja membacanya lebih keras bahkan saat telinga aku tutup dengan bantal. Pun dengan Ibuku, saat aku mencari tempat tidur yang nyaman. Ibu mengeraskan volume suara ceramah, hingga aku tidak dapat tidur lagi. “Apa Kakak akan berulah kepadaku?” Aku tuduh Kakakku yang tengah duduk di meja dan memegang buku. Sepertinya ia baru mencoret-coret buku dengan spidol. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Wajahku sudah tercoreng dan tidak layak untuk bertatap muka dengan siapapun. Aku bahkan menuduh Zaeni “Apa kau hendak memperlakukanku seperti mereka, kalau betul segeralah cerca aku!”. “Tidak, tidak. Bukan begitu, justru aku yang akan berada di sampingmu” Zaeni menenangkanku. “Baiklah, aku percaya denganmu Zaeni” kataku menatapnya dengan dalam. Kemudian aku membiarkannya duduk. Sedangkan aku tetap berdiri dihadapannya. Kini tinggal kita berdua, Aku hendak menceritakan banyak hal kepada Zaeni. Termasuk tentang perempuan yang tidak lama masuk ke dalam rumahku. Aku percaya dia akan merahasiakannya dari siapapun. Ayah, Ibu, Kakak dan Adik tidak seorang pun yang mereka tahu. “Zaeni, perempuan masuk ke dalam rumahku. Ia lalu keluar dan menyapu halaman rumahku.” Kataku lembut berharap Zaeni bersimpati kepadaku. “Iya, aku mendengarkanmu” Zaeni bersimpuh mendengarkan. “Siapa dia?” Zaeni bangkit dan menepuk bahuku. Aku diam berharap ia akan duduk kembali. Aku tidak berani mengatakan bahwa perempuan itu adalah pacarku. Aku selalu membawanya ke dalam rumah dan membiarkannya menyapu halaman rumahku. Aku urungkan untuk menceritakannya kepada Zaeni. Kubiarkan Zaeni melambat pergi dan aku masih saja berdiri. Kemudian ia menghilang. Sekarang aku tidak tahu apa yang dapat aku lakukan. Bahkan Zaeni lebih dulu pergi sebelum segalanya kuceritakan. Sekarang aku berpulang kembali kepada rumah. Cuma itu satu-satunya jalan. Aku sudah siap dengan ketidaktenangan, kebisingan dan keasingan di dalam rumah sendiri. Yah!, rumahku sendiri. Maksudku rumah kedua Orangtuaku. Memangnya salah membiarkan pacar sendiri masuk ke dalam rumah. Bukankah ia juga mengiyakan, dan aku mengajaknya. Aku membiarkannya duduk di meja kosong. Aku mengawasi bola matanya sampai kepada kaki. Aku merasakan kecantikannya lebih baik dari ibuku. Aku akan menuruti permintaannya sama seperti aku menuruti permintaan ibuku. Bahkan aku mendahulukannya. “Di sini tidak ada orang! Rumah ini aman, tidak siapapun yang dapat melihat kita, percayalah!” kataku membuatnya percaya. Aku seringkali mengajaknya ke manapun yang ia sukai. Ia terlihat senang dan aku semakin tergila-gila kepadanya. Seandainya ia bersama pria lain, aku takkan percaya. Bukankah aku sudah menggilainya. “Percintaan orang kota adalah bersetubuh, perut di atas perut yang lain. Sedangkan percintaan orang pedalaman adalah berciuman dan berbincang-bincang” Pikirku sambil mengingat kalimat sederhana yang kudapat dari kitab karangan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. Saat mengajak pacarku ke dalam rumah. Aku menyuguhkannya makanan dan minuman seadanya. Kemudian, televisi itu kubiarkan menyala dan mempertontonkan sepasang pemuda yang tengah bercinta. Persis seperti adegan orang timur dan orang barat saat bercengkerama.


Ayuk Berkisah!

  “Tahu kah kalian, kalau Kakak juga adalah seorang dokter?” “Tidaaak” teriak Anak-anak riang. “Hmm, Kakak akan cek kesehatan kalian ya” “Selamat sore Adik apa kabar?” tanyaku dengan suara tinggi dan berirama. “Baaaik” ucap anak-anak serempak “Selamat sore Adik apa kabar?” tambahku lagi. “Baaaik” teriak Anak-anak semakin kencang dan seterusnya. Terlihat anak-anak sangat bergembira dan tertawa. “Wah, ternyata kalian benar-benar dalam keadaan baik dan sehat” Anak-anak kembali tersenyum senang. Anak-anak senang sekali dengan kejutan dan nyanyian. Barangkali itulah mengapa ,pelajaran yang paling sederhana agar anak mudah menerima salah satunya adalah dengan bernyanyi. Termasuk saat mengantarkan cerita atau dongeng, menyisipkan nyanyian atau irama bisa menjadi pilihan yang baik. Dalam rangka memperingati hari Dongeng Internasional pada 20 Maret 2018. Penulis ingin berbagi pengalaman dalam mendongeng atau bercerita, penulis lebih senang menyebutnya ‘berkisah’. Dalam mendongeng atau berkisah beberapa hal yang dilakukan agar anak tetap bersemangat dan antusias di antaranya; Pertama, Bersemangat. Ini adalah hal yang wajib ada pada diri pendongeng atau orang yang bercerita. Sebab, tugas mendongeng salah satunya adalah agar anak-anak bersemangat. Pendongeng sebaiknya memeriksa dan berbenah diri saat tidak bersemangat. Bagaimanapun anak-anak akan menerima energi pendongeng. Jadi, pendongeng memerlukan semangat yang besar agar dapat menularkannya pada diri anak. Kedua, Riang dan Kreatif. Dengan memasang wajah yang riang, anak-anak akan senang melihat pendongeng. Kreativitas juga dibutuhkan bagi pendongeng untuk membuat kejutan-kejutan yang menyenangkan bagi anak. Ketiga, Menggunakan bahasa yang dimengerti dan sesuai usia anak. Dalam bercerita atau mendongeng, bahasa juga perlu diperhatikan. Sikap antusias anak ditentukan juga dengan pemahamannya menerima bahasa yang digunakan. Bercerita yang baik adalah dengan menggunakan bahasa yang baik sesuai usianya. (Muhamad Iqbal – Relawan Pustaka Wadas Kelir dan Mahasiswa Pendidikan Madrasah IAIN Purwokerto)


Ajarkan Berbagi Sejak Dini

Saat memasuki sebuah ruang dengan pernak-pernik menempel pada dinding. Saya tahu, ini bukan kali pertama berhadapan dengan anak-anak kecil. Dihadapanku meja-meja membentuk huruf U dan benar-benar ada anak kecil tengah duduk dan tidak sabar mendengar sapaanku.“Ka Iqbaaaal” suara Ali berteriak kencang menyaingi irama suara teman lainnya.Dan Saya mulai menyapa mereka semua.Saya dipesankan untuk menggantikan sementara oleh guru yang biasa mengajar mereka. Ayo anak-anak, bukunya dibaca pada halaman 6.Satu per satu anak-anak mulai membaca. Tapi ternyata banyak hal yang di luar dugaan saya. Hanya sedikit anak yang dapat membaca dengan lancar. Sebagian lagi masih ada yang kesulitan membaca.Dengan waktu yang singkat, saya tahu akan terlalu lama saat harus mendampingi anak satu per satu.Lalu saya menanyakan pada mereka.“Ayuk, siapa yang sudah membaca sampai selesai?”“Saya” Alfan berteriak sambil mengacungkan telunjuknya.“Nah, yang sudah selesai membacanya. Bisa membantu teman lainnya ya”“Hah, baik Pak Guru” Alfan setengah heran dan mengiyakan.Anak-anak memiliki pertumbuhan yang cepat. Sejak dini, anak melakukan aktivitas melalui pengalaman yang didapatkannya. Pengalaman yang baik bagi anak akan menumbuhkan energi positif. Hal inilah yang sebaiknya dapat diperhatikan. Yakni memastikan bahwa anak memiliki pengalaman energy positif untuk bekal dewasa nanti.Salah satu pemberian dan pengajaran sejak dini yang dapat dilakukan adalah berbagi. Yah mengajarkan berbagi memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan anak khususnya aspek sosial-interpersonal anak.Anak akan mengerti bahwa ia adalah makhluk sosial yang keberadaannya bersama banyak orang. Anak perlu diajarkan bahwa orang lain membutuhkannya dan suatu saat nanti anak pun akan membutuhkan orang lain. Beberapa manfaat anak diajarkan berbagi sejak dini di antaranya; Pertama, Menumbuhkan Sikap Bersyukur. Selama ini sikap bersyukur hanya berhenti pada diri sendiri. Banyak anak yang pandai, tapi enggan untuk mengajarkannya pada orang lain. Anak dapat dilatih dan dibiasakan untuk berbagi baik tenaga, pengetahuan dan lainnya. Dengan berbagi, konsep bersyukur tidak saja berhenti pada pengetahuan tapi hal itu dapat dipraktikkan dengan hal sederhana. Kedua, Menumbuhkan Sikap Gotong Royong. Cerita di atas adalah gambaran sederhana individu untuk mencapai suatu tujuan. Salah satu karakter yang mulai hilang di nusantara adalah gotong royong. Penyebab lunturnya gotong royong adalah egosentris atau berpusat pada diri sendiri. Saat anak sejak dini saja tidak pernah diajarkan bahkan ditunjukkan keteladanan tentang berbagi, maka dapat dipastikan anak akan tumbuh dengan keegoisan. Perasaan enggan untuk bergaul dengan orang lain akan terkesan menjadi hal yang biasa hingga ia dewasa. Di sinilah peran berbagi sangat penting dalam kehidupan anak. Ketiga, Menumbuhkan Empati. Memahami orang lain sangatlah penting. Salah satu manfaat berbagi adalah untuk menumbuhkan empati yakni kemampuan memahami orang lain. Kemampuan memahami perasaan orang lain. Anak yang diajarkan berbagi sejak dini dapat mengerti kondisi dan situasi orang lain. Hal itu akan mencegah anak berbuat arogan dan berbangga diri secara berlebihan. Muhamad IqbalMahasiswa Pendidikan Dasar IAIN Purwokerto dan Relawan Pustaka Wadas Kelir


Ayo Menulis!

“Keyla mau nulis”“Iya” kata Keyla kecil.Kebetulan saya membawa buku tulis. Kemudian saya membiarkan Keyla yang masih berusia 2 tahun ini mencoret-coret buku yang saya berikan.“Bulat..bulat..bulat” Keyla menyanyi dan mencoret-coret dengan senang. Saya pun turut bernyanyi mengiringi kata yang dilontarkan Keyla kecil ini. Tidak lama, buku pun menjadi penuh dengan bulatan-bulatan yang di buat Keyla. Keyla memang anak yang suka menulis atau lebih tepatnya mencoret-coret. Apalagi mencoret sambil bernyanyi. Keyla makin senang mencoret-coret, barangkali Keyla memahaminya ia tengah menulis dan membuat susunan kata. Lain halnya dengan Nera Kakaknya yang berusia 5 tahun. Saya melihatnya mengeja susunan huruf. Saat Nera ditunjukkan dengan film yang menggunakan subtitle. Nera segera menangkap dan mengeja. Kemudian mencoba mengulangi kata-kata yang didapatkannya. Dalam aktivitas menulis, anak juga memiliki beberapa tahap harus yang dilalui. Seperti cerita Keyla tadi. Aktivitas awalnya didapatkan dari perhatian di sekelilingnya. Anak perlu melalui tahapan perkembangan sebelum mereka menulis kalimat dan belajar kata-kata. Menurut Brown (Susanto, 2014: 93) terdapat empat tahapan menulis. Tahap pertama, pre communicative writing, pada tahap ini anak belajar bahwa huruf-huruf itu membentuk kata-kata untuk keperluan berkomunikasi. Anak akan memperhatikan orangtua dan sekelilingnya membaca dan menulis sekalipun anak belum menghubungkan huruf dan bunyi. Tahap kedua, semphonic writing, tahap ini anak mulai memahami huruf, bunyi dengan konsonan dalam posisinya sebuah kata. Hal ini ditunjukkan Nera yang sudah dapat mendeteksi huruf dan mengucapkannya. Tahap ketiga, phonic writing¸ tahap ini anak mulai mengeja bunyi menurut struktur kata. Tahap ini ditunjukkan oleh Nera. Ia sering mengeja dan mengulang kata yang didapatkan. Tahap keempat, trantitional writing, tahap ini merupakan tahapan transisi di mana anak mulai mengikuti aturan untuk standar ejaan. Tahap ini, Orangtua bisa mendampingi anak untuk membuat tulisan. Saat anak sudah dapat mendeteksi huruf dan mengucapkannya. Anak perlu diberikan kebebasan menulis untuk memindahkan susunan huruf yang masih di dalam ingatannya ke dalam tulisan. Muhamad Iqbal - Relawan Pustaka Wadas Kelir


Kenalkan Cita-cita pada Anak

Ir. Soekarno pernah berkata “Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” Setiap kali berkenalan dengan anak kecil. Saya punya kebiasaan untuk menanyakan cita-cita. Bagi saya cita-cita adalah yang perlu dikenalkan sedini mungkin. Suatu ketika saya pernah bertanya pada anak-anak perihal cita-cita. Jawaban mereka beragam. Ada yang berteriak dan berucap ingin menjadi guru, dokter dan lainnya. Di antara mereka ada yang diam. Saya memberanikan diri untuk mendekat pada anak yang diam ini.“Saya belum tahu Mas” ia berbisik lirih.Lalu saya mengajukan pertanyaan lagi. “Kenapa?”“Bingung Mas, Besok yah Mas.”Jawaban kedua ini mengejutkan saya. Ternyata besoknya anak ini benar-benar memberitahu saya perihal cita-citanya. Saya benar-benar senang saat mendengar anak berteriak keras tentang cita-cita. Apalagi cita-cita yang mereka inginkan sangat tinggi. Menurut saya cita-cita adalah sebuah visi. Bayangkan anak-anak kecil yang masih imut dan lucu. Bahkan di antara mereka barang kali ada yang masih suka mengompol. Tapi, mereka memiliki visi yang digambarkan dengan cita-citanya. Jadi tidak sia-sia saya menunggu waktu sehari untuk mendengar perihal cita-cita yang hendak disampaikan anak. Beberapa manfaat mengenalkan cita-cita bagi anakPertama, Rasa Percaya Diri Anak Bertambah. Semakin anak memahami cita-citanya. Ia akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk mencapai keinginannya. Yah, anak akan mengamati model yang diinginkannya. Di sinilah rasa percaya diri anak dapat tumbuh. Kedua, Anak Semakin Belajar. Anak-anak dapat meningkatkan kualitas belajarnya. Cita-cita yang diinginkannya adalah mimpi yang ingin diwujudkan. Semakin anak mengingat cita-citanya dengan baik. Anak akan semakin memahami bahwa belajar adalah hal penting. Ketiga, Mengajarkan Visi. Semakin tinggi cita-cita anak, visi yang diperoleh semakin baik. Anak memang belum tahu apa itu visi. Namun, mengenalkan cita-cita adalah bagian dari visi. Anak dapat memiliki gambaran ingin menjadi apa saat dewasa nantinya. Jadi, mengenalkan anak tentang cita-cita bukanlah hal buruk. Anak sejak dini dapat ditunjukkan perihal cita-cita. Cita-cita yang diinginkan akan menimbulkan keyakinan yang terus diingat anak untuk dicapai. Muhamad Iqbal (Relawan Pustaka Wadas Kelir)


Mengenal KITA

SABTU, 13 JANUARI 2018 Saat libur Jam 10 Pagi, matahari tengah bercakap dengan awan dan bersepakat untuk tidak menurunkan hujan. Ka Hafidz, salah satu relawan wadas kelir mempersiapkan proyektor dan film yang hendak ditayangkan bersama anak-anak. “Sekarang, mau film apa Kak” tanya Nera yang sudah penasaran. “Film Boboboy, Ne”. Ka Hafidz menyungging senyum. “Ayo Nera ajak teman-teman yang lain yak” Anak-anak memang sangat menyukai film. Anak kecil selalu menganggap film adalah hiburan yang menyenangkan. Saya masih ingat dulu, saat kecil setiap hari libur harus menunggu jam 10 pagi untuk menonton film favorit Dragon Ball. Kemudian saat saya bermain bersama teman-teman, saya senang berfantasi seolah-olah menjadi tokoh Goku dalam Dragon Ball. Saya merasa bangga memiliki kekuatan ‘hamehameha’ dan dapat mengalahkan musuh. Meskipun saat itu saya sadar sedang bermain.   “Kekuataaaan Angin” Ucap Zaka dengan keras. Lalu sekarang giliran Nera yang berteriak “Kekuataaaan Api” Melihat hal itu saya jadi sadar ternyata mereka mengalami hal yang sama saat saya masih kecil senang sekali berfantasi. Film memang mempengaruhi psikologi mereka. Meskipun mereka sadar mereka tengah bermain. Dalam kompas (5 Januari 2018) sebuah karya sastra novel fenomenal abad 17 yang berjudul “Die Leither Weither Jong” menceritakan penderitaan pemuda bernama Weither yang bunuh diri ternyata membius banyak pembaca sehingga banyak orang yang bunuh diri saat itu. Barangkali film juga memiliki efek psikologi yang sama terlebih film tidak hanya menggunakan daya visual.. Ada 3 efek psikologi yang barang kali muncul juga setelah anak menonton film. Pertama, Defence Stage. Efek psikologi ini dapat ditunjukkan dengan sikap dan perilaku seseorang yang terpengaruh dengan keadaan apa yang dipertontonkan. Ia sudah menganggap bahwa ia adalah orang yang mengalami hal itu. Kedua, Fantasy Stage. Nah, saat seseorang masih menganggap bahwa ia bukanlah dirinya yang ia lihat. Namun, ia memaklumi fanstasi. Ketiga, Transformation Stage. Saat seseorang sudah meyakini bahwa dia adalah dia dan aku adalah aku. Yang ketiga inilah yang paling ideal untuk membentengi seseorang dari apa yang tonton atau lihat. Ketiga hal ini baik untuk kita kenali agar dapat melihat psikologi seseorang terutama anak-anak. Dengan begitu, kita sebagai orang dewasa dapat melihat tanda yang ditunjukkan pada sikap dan perilakunya.[]


Apa Sampah Kecil Itu ?

Sabtu, 30 Desember 2017 SABTU PAGI, seperti biasa saya dan relawan melakukan bersih-bersih. Saya mulai membawa sapu lidi dan mengumpulkan daun-daun yang berserak di halaman dan di jalanan. Tapi ada yang aneh hari ini, otak saya berpikir dan melihat setiap daun adalah hal-hal buruk yang saya lakukan. Ternyata otak saya berpikir lebih cepat. Setiap daun yang saya pungut diumpakan seperti perilaku buruk dan menjadikan halaman serta jalanan menjadi layaknya sampah. Barang kali, itulah cermin hidup saya. Kemudian pelan-pelan saya memunguti perilaku buruk itu dan memasukkannya ke dalam tempat sampah. Ketidakdisiplinan, emosional yang tidak pada tempatnya, berbicara kotor dan kasar dan sebagainya saya usahakan untuk di buang di tempat sampah. Lalu saya melihat ke selokan dan ternyata masih banyak sampah yang tercecer di sana. Mulanya saya berpikir untuk mengabaikannya, toh sampah itu tidak terlihat oleh banyak orang. Yang terpenting halaman dan jalanan yang mudah terlihat mata sudah dipandang bersih dan nyaman. Tapi ternyata otak saya berpikir lebih keras lagi. Barang kali itulah sebabnya, energi negatif masih menjalar. Mengabaikan, acuh dengan sampah-sampah kecil inilah yang menyumbat energi positif untuk mengalir dengan baik. Jadilah energi negatif yang mulanya kecil tapi membuat segalanya tersumbat.


Belajar dari Anak-anak

  Setiap hari saya selalu dihadapkan pada anak-anak. Mulai dari melihat mereka menangis, gembira dan lainnya. Ada banyak hal yang saya kagumi pada anak-anak. Meskipun anak-anak memiliki kegiatan yang sangat padat. Satu hal yang saya amati pada anak adalah mereka pembelajar yang tidak mudah menyerah. Saya jadi teringat dengan ungkapan ‘belajar di saat kecil bagai mengukir di atas batu sedangkan belajar di saat tua bagai mengukir di atas air’. Perumpamaan ini ternyata mengandung filosofi yang besar. Tentulah akan mudah untuk mengukir di atas batu demikian kerasnya. Namun, tentulah sulit untuk mengukir di atas air. Pertama, Mereka selalu merendahkan hati. Anak-anak yang setiap pagi belajar ke sekolah tentu sangat merendahkan hatinya. Anak-anak akan memulai mencium tangan Gurunya dan bersedia mendengar penuh seksama. Maka tidak heran mereka akan membawa pelajaran dan ilmu yang bermanfaat sesampainya di rumah. Kedua, Mereka bersikap jujur. Kejujuran anak bahwa mereka membutuhkan bimbingan dan ilmu ini yang harus kita pelajari. Kejujuran menciptakan keberanian dan keterbukaan agar pelajaran dapat masuk tanpa berat dan malu. Ketiga, Mereka selalu bersemangat. Setiap hari jiwa anak selalu bersemangat. Bahkan melebihi orang dewasa. Semangat yang dimiliki anak-anak ini yang seharusnya dijaga sampai kita dewasa. Demikian sikap-sikap ini juga dapat ditularkan pada orang-orang dewasa agar masih terasa mengukir di atas batu.[]


Pengalaman Kejujuran

  Sejak kecil saya selalu diajarkan untuk memiliki sifat jujur. Orangtualah yang pertama kali menekankan saya untuk tidak saja bersikap jujur, akan tetapi juga berbuat jujur. Kejujuran itu saya dapat dengan kebiasaan-kebiasaan sederhana yang Orangtua lakukan pada diri saya. Setiap hari, saya selalu disuruh untuk membeli sayur di pasar pagi. Mulanya saya kesal karena setiap hari saya harus berjalan kaki cukup jauh. Namun, tidak lama saya menjadi terbiasa. Ternyata saya baru memahami banyak pelajaran yang saya temui dan tanpa sadar menumbuhkan kepribadian dalam diri saya. Pertama, Menumbuhkan Kejujuran. Saat Ibu menyuruhku membeli sesuatu. Uang yang diberikan selalu berlebih. Hal inilah yang ternyata menguji kejujuran saya sejak kecil. Saya akan memberikan uang yang berlebih tersebut kepada Ibu. Ibuku memang terkadang tidak menanyakan apakah uangnya berlebih atau tidak. Justru inilah yang membentuk kejujuran diri saya hingga dewasa. Kedua, Memiliki keberanian. Setiap hari berjalan kaki pergi ke pasar pagi. Bertemu dengan banyak orang. Mulanya saya menahan malu karena saya seorang anak laki-laki yang tidak terbiasa membeli sayur. Namun, hal inilah yang menumbuhkan keberanian saya dan dapat berbaur dengan banyak orang. Ketiga, Tanggungjawab. Yah, Orangtuaku dengan perlahan-lahan melatih tanggungjawab kepadaku. Memberikan amanat setiap hari dengan hal sederhana. Aktivitas inilah yang mengajarkan bagaimana hidup bertanggungjawab.Semua ini ternyata yang menumbuhkan kepribadian dalam diri saya.[]


Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…