LOADING

Type to search

Merawat Relawan

Redaksi 5 hari ago

Berbagi Rasa Merdeka Bersama TBM Mandiri

Edy Sofiyan 1 minggu ago

TBM KREATIF-REKREATIF 2018

Redaksi 2 minggu ago

Kemelaratan Melawan Integritas

“Leiden is Lijden” Memimpin adalah menderita.
Dalam fikiran saya yang awam, yang beberapa tahun ini bersinggungan terus dengan kata “Integritas” menjadi sangat sulit sekali berbicara tentang integritas. Makna dasar yang saya ketahui tentang integritas itu adalah tentang “Kebenaran” orang harus berbuat sesuai dengan aturan dan kebenarannya. Tetapi mari kita berbicara tentang tantangan berintegritas. Menurut KBBI Integritas adalah “mutu,sifat, atau keadaan yang menunjukan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran”  sedangkan menurut istilah integritas adalah nilai yang dipegang teguh yang menjadi kebiasaan. Tulisan ini sebagai kegelisahan saya yang dalam satu kesempatan sempat berdiskusi dengan teman beberapa bulan yang lalu. “Kalau saya ditanya apakah saya memiliki nilai itegritas, saya akan menjawab saya memiliki integritas” kata teman yang persis berhadapan dengan saya pada sebuah meja yang melingkar. Kemudian saya menceritakan tentang satu tokoh yang ada pada buku Orange Juice  yang diterbitkan Komisi Pemberantasan Korupsi itu. Saya ceritakan tokoh pertama dalam buku yang memuat beberapa tokoh dimasa lalu. Saya bercerita tentang Haji Agus Salim tokoh yang lahir di Koto Gadang Sumatera Barat pada 08 Oktober 1884 itu. Yang didalam hidup dia sangatlah sederana. Padahal beberapa jabatan prestisius pernah dipeganngya, lelaki yang mahir berbicara dan menulis dalam sembilan bahasa itu memiliki kesederhanaan, sederhana itu yang menjadi salahsatu sikap integritas yang dimiliki oleh Haji Agus Salim. Pada satu kesempatan ketika dia menjadi diplomat di dratan Eropa dialah yang paling mudah dibedakan, karena dia memiliki janggut putih dengan perawakan yang kecil jelas menjadi pembeda dari diplomat asal Eropa, selain itu jas yang digunakan Haji Agus Salim itu penuh dengan jahitan. Yang tentu saja berbeda dengan diplomat lain yang berpenampilan necis dan glamor. Bahkan Haji Agus Salim pernah tidak memiliki rumah dan hanya memiliki kontrakan. Prinsip itu yang kemudian disebut Mohmamad Roem sebagai “Leiden is Lijden” Memimpin adalah menderita. Lebih jauh lagi, masih tentang Haji Agus Salim yang kadang kontrakannya bocor dan istrinya Zainatun Nahar malah asik memasang ember kemudian mengajak anak-anaknya untuk membuat perahu dari kertas dan bermain bersama. Kawan saya itu beberapakali memotong, bahwa ada sesuatu yang tidak logis kesederhanaan itu dilakukan pada masa yang sangat “edan ini” waktu itu saya sendiri enggan melanjutkan diskusi itu, karena menyadari diri ini bahkan jauh dari nilai-nilai integritas. Tapi ada hal yang menganjal dalam fikiran saya, bahwa kita belum bisa melakukan integritas bukan berarti kita berhenti untuk berusaha, dengan segala cara. “siapa yang akan kuat hidup menderita sekarang ini? “ Tidak ada yang mau menderita, dan jika kita tidak mengikuti “Kebiasaan” itu maka kita akan kalah, karena seolah tidak ada satupun jabatan yang disandang tanpa kita mengikuti alur yang biasa tanpa ada jalur lain yang kita tempuh “Deukeut, Dulur dan Duit” Memaknai itu semua membangun integritas haruslah menjadi kerja semua orang. Dalam acara Taman Tali Integritas yang di gagas KPK dan FTBM Indonesia itu salahsatu pimpinan KPK mengatakan pemberantasan korupsi dan menumbuhkan integritas itu tidak harus mencari musuh, karena musuh akan datang sendiri. Bahkan musuh itu adalah diri kita sendiri, perut yang lapar, rumah yang bocor, kendaraan yang sudah rusak. Dia adalah musuh terberat. Tetapi kita tidak boleh menyerah, kita harus ingat pada kalimat pendek pada buku Orang Juice itu “Bukan tak mampu, tapi tak mau” berat memang, dan harus siap “menderita” ketika kejujuran, anti korupsi selalu sama dengan perut yang lapar, atau Integritas sama dengan perut lapar. Benarkah, mungkin benar, tapi mari tanya hati nurani kita semua, sebenarnya kita juga ingin melakukan segala sesuatu dengan benar dan sesuai aturan, tetapi kadang perut kita telah keroncongan terlebih dahulu. Mari kita berinvestisai untuk masa depan, bahwa kita bisa mengajarkan integritas kepada generasi bangsa, suatu saat bangsa kita akan menjadi bangsa yang kuat adil dan sejahtera. Suatu hari. Dimana ada orang yang berani melawan perutnya yang lapar untuk tetap dapat berintegritas. Tulisan ini pertama kali terbit di Situs yang dikelola TBM Saung Huma www.semburat.com *Penulis adalah Pegiat di TBM Saung Huma


Pendidikan Untuk Mengikat Integritas

Bagaimana kita menyelami kedalaman hakikat dari sebuah bangsa? Tentu saja harus terus mengikuti bagaimana perkembangan kesejahteraan masyarakatnya. Masyarakat Indonesia dewasa ini sedang merangkak menuju kepada kesejahteraan. Walaupun sepertinya disintegrasi bangsa sekarang ini sedang di uji dan mungkin sengaja dicipta oleh sebagian elit untuk kepentingan tertentu. Bangsa yang sejak dulu dikunjungi oleh bangsa luar seharusnya sudah biasa beradaptasi dengan berbagai kebudayaan. Sejak dulu masyarakat Indonesia tidak bisa lepas dari urusan kepentingan ekonomi. Permaslahan kesejahteraan masyarakat Indonesia selalu dihantui oleh sosok lama yang selalu melekat pada bangsa ini. Korupsi, menjadi fokus masalah bagi kita semua. Masyarakat harus ikut serta dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Karena prilaku korup itu yang membuat bangsa kita lambat bergerak menuju kesejahteraan. Menurut pemateri di KPK pada acara Tali Integritas yang diikuti oleh para pegiat literasi di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut lelaki yang akrab dipanggil Koko itu mengatakan seharusnya Ibu-ibu yang belanja dipasar bisa lebih murah membelanjakan uangnya karena barang-barang bisa menjadi murah jika saja kegiatan ekonomi tidak disertai dengan prilaku korup para pelaku ekonomi. Termasuk para pejabat yang punya kewenangan. Maka sebagai bentuk kepedulian kita terhadap pemberantasan korupsi adalah melibatkan para pendidik termasuk pengelola TBM untuk bersinergi mengajarkan integritas kepada generasi Indonesia. TBM Saung Huma sebagai salah satu peserta tali integritas KPK ikut menggunakan bahan ajar anti korupsi yang diproduksi oleh pusat edukasi anti korupsi. Anak harus dilibatkan pada kegiatan Integritas karena merekalah yang akan mengisi Indonesia di masa depan. Jadi pengembangan Sumber Daya Manusia Indonesia bukan hanya pada pengembangan keahlian produksi, tetapi juga pada pengembangan karakter. "Kita adalah angkatan gagap yang diperankan angkatan kuarang ajar" larik puisi Rendra tersebut mencerminkan bagaimana bangsa Indonesia seolah diwarisi prilaku korup. Orangtua adalah cerminan prilaku kita semua. Ketika kita lulus dari sebuah sekolah dan diajarkan oleh guru-guru kita tentang  kebaikan, tentang integritas dan kita yakini bahwa itu adalah nilai mutlak sebagai nilai kebenaran. Saat kita lulus dari sekolah, Guru kita masih mengajar dan kita menjadi penjaga toko yang menyediakan ATK. Suatu hari guru kita datang membeli ATK dan kita merasa sangat senang sekali karena bertemu kemabli dengan guru yang mengajarkan kebaikan setiap harindi depan kelas. Selesai belanja kita berikan nota sebagai bukti pembayaran. Guru kita itu berbisik dan mengatakan bahwa dia meminta kwitansi yang sudah distempel, dan dengan senang hati kita berikan, karena tahu untuk laporan. Ketika kita berikan dengan angka sejumlah rupiah yang sama dengan yang telah dihabiskan, guru kita itu menolak dan meminta kwitansi kosong, juga dengan nota yang kosong juga. Untuk apa? kita tentu tahu selanjutnya apa yang akan dilakukan dengan kwitansi dan nota kosong itu? Sambil melayani pembeli yang lain, kita kenangkan lagi pepatah yang sudah guru-guru kita ajarkan mengenai kebaikan dan integritas. Cerita rekaan diatas tentu bisa saja terjadi didalam kehidupan kita. Maka mengajarkan integritas adalah mengajar diri kita untuk terus mengikat integritas. Maka mari menjaga integritas dari diri kita sendiri, sebagai nilai hakiki dalam diri kita sendiri. Mari terus mengajarkan integritas, mari  menjaganya agar sejalan dengan hati nurani kita.[]


Mengikat Integritas

Tentang tulisan ini mengendap dalam fikiran saya,  ketika integritas dan cara kerjanya secara tidak langsung masuk kepada fikiran saya. Belum sempat saya tulis baru setelah melewati kereta dari palmerah sampai Rangkasbitung. Yang saya lewati dengan tidur dan sempat di dokumentasikan oleh teman seperjalanan yang setia dan mengunghahnya difacebook. Integritas serupa perjalanan Kereta Listrik, loh kok bisa? ada aturan main yang harus ditempuh, untuk yang harian atau yang langganan menggunakan tiket elektrik tersebut. Jika kita tidak tepat waktu datang ke stasiun bisa jadi kita tertinggal dan tidak sampai dintujuan. Integritas serupa jalan yang mengarahkan pada tujuan. Negara kita Indonesia, negara yang sumber kekayaan alamnya sangat melimpah, baik di darat ataupun di laut. Tetapi masalah yang kemudian selalu menjadi masalah di negeri ini adalah prilaku koruptif. Prilaku korup itu sejak kapan lahir? mungkin sejak dahulu sejak bangsa kita kedatangan kolonial, selalu lahir para penghianat yang menjadi musuh para pengabdi pada bangsa ini. Termasuk yang menyebabkan lamanya penjajahan di negeri ini karena adanya para penghianat yang lebih senang memperkaya diri sendiri dan menyelamatkan badan sendiri daripada pasang badan membela bansanya sendiri. Pada masa revolusi modern, juga sama lahir para penjilat yang memperlambat revolusi Indonesia. Pada masa kemerdekaan Indonesia juga tidak sedikit yang melakukan prilaku koruptif, budak hanya di pengelola negara, tetapi juga diberbagai perusahaan suwasta termasuk perusahaan perkebunan. Orde lama dan orde baru memiliki kisah tersendiri mengenai prilaku koruptif. Di era reformasi ternyata prilaku koruptif semakin jelas terlihat seimbang dengan berkembangnya komunikasi informasi. Prilaku koruptif selalu erat kaitannya dengan integritas. Integritas menurut saya adalah keselarasan hati dengan perbuatan, semua orang punya hati, punya kebenaran, tetapi kebenaran tidak akan mengarah kepada kebaikan jika kita tidak punya kesadaran. Kesadaran integritas itulah yang harus kita ikat. mengapa harus mengikat integritas? pertama karena integritas itu serupa iman, iman yang kadang naik kadang turun, maka cara mengikat integeitas adalah dengan mengingat kalimat-kalimat kekecewaan terhadap prilaku korup dan hujatan kepada prilaku korup, dengan mengingat itu maka kita menjadi mengusafi diri untuk melakukan prilaku korup. Kedua, kita harus terus melatih diri, membicarakan tentang anti koruptif kepada semua orang, sehingga kita menjadi malu untuk melakukan prilaku korup. Dalam acara panglima integritas KPK kemarin saya mendapatkan energi baru, seolah mengingat kembali setiap kata yang keluar dari mulut saya ketika jadi demonstran, atau lebih jauh lagi saya mengingat nasihat guru-guru saya ketika di madrasah untuk tetap berintegritas. Semu orang selalu mendengar nasihat baik, tapi kadang nasihat itu tidak menjadi apa-apa, maka mari kita ikat Integritas kita dengan terus melakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari. *munawir syahidi Ketua umum TBM Saung Huma, Pandeglang-Banten


Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…