LOADING

Type to search

Kisah Anak Cahaya

Redaksi 16 jam ago

Merawat Relawan

Redaksi 6 hari ago

Berbagi Rasa Merdeka Bersama TBM Mandiri

Edy Sofiyan 1 minggu ago

Sudahkah Anda MEMBACA Hari Ini?

Membaca bukan cuma mengikuti baris-baris kata-kata, itu namanya hanya sekedar mengeja Membaca ialah upaya merengkuh makna, ikhtiar untuk memahami alam semesta Itulah mengapa buku disebut jendela dunia, yang merangsang pikiran agar terus terbuka Karena budaya membaca prasyarat jadi bangsa yang hebat.” -Najwa Shihab, Duta Baca Indonesia-   Sudahkah anda membaca hari ini? Jika sudah buku apa yang anda baca hari ini? Pemahaman apa yang anda dapat? Ya, kegiatan membaca bukan hanya kita membaca deretan huruf-huruf lalu itu disebut baca. Membaca adalah kegiatan dimana pembaca harus dapat memahami apa yang dibacanya, lalu menganalisa, bahkan mengkritiki tulisan yang dibacanya, hingga diakhir nanti bacaan dapat dikembangkan menjadi sebuah tulisan baru yang bagus. Misalnya saja anda membaca sebuah buku dongeng binatang tentang hari pertama masuk sekolah. Dalam buku itu diceritakan sebuah sekolah kedatangan teman baru seekor anak badak bernama Dido yang sangat disukai teman-temanya karena pandai dalam beberapa hal. Dido juga anak yang baik dan suka menolong sesama. Namun, seiring berjalannya waktu sikap Dido berubah. Dido menjadi anak yang suka mengganggu teman-teman, bahkan Dido berani meminta secara paksa bekal makan siang teman-temannya, sehingga membuat keributan di kanti sekolah. Akhir cerita, Dido meminta maaf pada teman-temannya atas tindakannya akhir-akhir ini, dan teman-temannya pun memaafkan Dido. Dari cerita singkat diatas kita dapat memahami bahwa perubahan emosi tidak hanya dialami orang dewasa tapi juga anak-anak. dari sini kita dapat menganalisis apa yang membuat diri seseorang terutama anak-anak berubah emosinya, apakah karena tekanan di rumahnya, atau karena kelelahan ataupun yang lainnya. Dari analisis singkat ini dapat dikembangkan menjadi sebuah tulisan apik tentang bagaimana mengatasi emosi pada anak, atau lebih tepatnya menjadi artikel parenting yang sangat bermanfaat bagi orang lain. Mudahkan? Seperti yang dikatakan oleh Najwa Shihap pada Hari Aksara Interasional 8 September 2017 lalu, bahwa sangat banyak orang yang sudah melek aksara, berapa yang benar-benar gemar membaca? Seperti tertohok bambu yang sangat tajam. Malu rasanya. Kita yang melek aksara, yang telah menduduki jenjang pendidikan selama 12 tahun lebih masih malas dan enggan untuk membaca. Kalah dengan anak PAUD yang belum bisa membaca, namun berlarian mengambil buku dan minta dibacakan dengan gurunya. Malu dengan anak-anak kecil yang saling berebut di pojok-pojok Taman Baca. Tersindir dengan orang tua yang memaksakan diri untuk membaca dengan mata menyipit dan jarak koran yang jauh dari muka (dibaca: rabun jauh). Yuk! berliterasi, tidak hanya membaca tapi juga memahami, menganalisa dan menulisnya. Untuk mengurangi rasa malas anda untuk membaca cobalah untuk membuat waktu baca anda. beberapa metode atau kebiasaan baru dapat membantu seperti, membawa satu buku jenis apapun didalam tas anda, menaruh beberapa buku disamping tempat tidur agar dapat dibaca sebelum dan sesudah tidur, atau bisa juga dengan menjadwalkan waktu khusus untuk membaca. Dengan gemar membaca dan menyebarkan kegiatan membaca anda dapat membantu bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar. Salam Literasi! (Putri Puji Ayu Lestari-Mahasiswi IAIN Purwokerto dan Relawan Pustaka Rumah Kratif Wadas Kelir)


PENERANG dalam Kegelapan: Louis Braille

“kalau seseorang sungguh-sungguh menginginan sesuatu, seisi jagat raya bahu-memnahu membantu orang itu mewujudkan impiannua” -Paulo Coelho dalam Novel “Sang Alkemis”- Siapa yang tidak  tahu huruf Braille? Ya benar! Huruf braille adalah huruf yang digunakan para tunanetra dalam mempelajari baca tulis hitung. Orang-orang tunanetra di zaman ini sudah lebih mudah dalam membelajari baca tulis hitung. Mereka mempunyai kesempatan yang sama dengan orang-orang normal pada umumnya dalam hal pendidikan. Zaman dahulu sebelum adanya huruf  Braille, orang yang menyandang Tunanetra belajar huruf timbul dengan bentuk dan tulisan yang sama seperti huruf-huruf yang dipelajari orang pada umumnya. Bahannya terbuat dari kayu dan tidak praktis. Cara ini menyulitkan para tunanetra saat itu, karena huruf itu dicetak dalam bentuk yang besar dan tidak memungkinkan tunanetra dalam menulis. Saat itu tercetuslah penciptaan metode titik timbul atau yang biasa kita sebut huruf braille oleh Louis Braille seorang pemuda Prancis. Beliau adalah penyandang cacat mata (tunanetra) sejak usia 3 tahun karena kecelakaan kerja sang ayah. Ide ini timbul saat ia duduk dibangku sekolah dasar, Louis muda senang sekali pergi ke perpustakaan. Karena kekurangannya, Louis biasa meminta teman-temannya untuk membacakan buku. Namun, terkadang ada beberapa dari mereka yang menolak karena kesibukan masing-masing. Dia selalu berpikir, bagaimana cara dia dan teman yang senasip dengannya, dapat membaca buku dengan baik tanpa harus merepotkan orang lain. Karena pengalamannya tersebut, Louis bersikeras mewujudkan apa yang yang sudah ada dipikiranyya, dia terus bereksperimen dengan berbagai macam cara, hingga suatu saat datang seseorang yang mengenalkan kode perang menggunakan metode titik. Setelah penemuannya berhasil, penemuan Louis tidak langsung diterima begitu saja. Banyak sekali penolakan yang didapat saat ia memperkenalkan huruf brailler di sekolahnya. Kejadian yang membuat Louis sedih adalah ketika mereka menolak menggunakan penemuannya justru karena fakta bahwa ide brilian itu datang dari seorang anak yang buta. Mereka berpendapat bahwa orang buta tidak secerdas mereka yang bisa melihat. Orang buta (tunanetra) dianggap seharusnya sudah cukup dengan kemampuan memebaca kalimat sederhana saja, yang artinya orang buta tak perlu membaca buku. Namun, seperti kutipan diatas seseorang yang sungguh-sungguh menginginan sesuatu kebaiakan, maka seisi jagat raya akan bahu-membahu membantu orang itu mewujudkan impiannya. Saat banyaknya orang yang menolak keras penelitiannya, maka ada pula orang-orang yang sangat mendukung penemuan yang sudah diciptakannya. Guru dan teman-teman Louis Brailler sangat mendukung metode yang telah diciptakan Louis. Mereka bahu-membahu membantu Louis untuk mendapatkan pengakuan. Hingga pada akhirnya metode titik timbul atau huruf Braille diakui sekolahnya, di negara-negara Eropa, hingga kini sampai seluruh dunia. Itu adalah kisah singkat dari seorang Louis Braille yang sangat terkenal. Dengan ide brilian yang ditemukan, namanya menjadi abadi tidak hanya di Negara asalnya, Prancis tapi juga seluruh dunia. Berkat tekad kuat dan kegigihan yang dipunyanya dia berhasil memenangkan hak-hak para penyandang cacat mata. Tidak hanya dalam bentuk abjad, kini huruf braille bahkan sudah dibuat dalam bentuk al-quran bagi umat islam. Banyangkan apabila saat itu huruf Brailler tidak di akui? Mungkin saat ini orang-orang tunanetra akan lebih merasa gelap. Gelap mata, dunia, dan pikiran. Tidak dapat membaca, apalagi menulis. Mengingat nama Louis Brailler membuat saya teringat salah satu literasi yang disampaikan salah satu kakak relawan wadas kelir saat kegiatan Litum (Literasi Tujuh Menit) yang biasa diadakan saat malam hari dengan semua relawan dan pak guru, tentang kehidupan yang abadi. Ada tiga hal yang membuat manusia abadi. Karya, Ilmu dan kenangan. Louis Braille membuktikan itu semua. Nama beliau abadi karena ketiga hal itu. Terimakasih Louis Braille sang penerang dalam kegelapan.[]


Pentingnya Komunikasi dalam Meningkatkan Literasi

“Ka kenapa sih kita harus rajin membaca?” tanya Raju anak kelas 1 SD pengunjung setia TBM Wadas Kelir. Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang sering kali saya dengar dari anak-anak yang meminjam buku di TBM Wadas Kelir. Pada awalnya, saya kebingungan, bagaimana menjelaskan kepada anak sekecil ini? Apa mereka paham jika saya menjelaskan teori-teori tentang manfaat membaca? Saya tidak yakin mereka paham. Sekilas saya lihat judul buku yang sedang ia pegang “Tyranosaurus”. Saya tanya padanya, “Mas Raju sudah baca buku ini belum?”. “Sudah kemarin dibacakan ayah” jawabnya. “Coba ceritakan ke kakak isinya.” Pinta ku. “Ini dinosaurus yang difilm-film ka. Aku kenalnya Tyrex. Kata ayah Tyrex suka makan dinosaurus lain, dan sangat galak. Dia hidupnya dulu saat manusia belum ada. Nih, ka lihat. Kuku sama giginya tajam-tajam sekalinya.” Ucap mas Raju sambil menunjukan beberapa halaman tentang buku itu. “Nah, sekarang ka putri tanya. Mas Raju tahu Tyrex suka makan dinosaurus lain dari mana?” tanya ku. “dari buku” ujarnya. “Tahu tyrex punya kuku dan gigi yang tajam dari mana? “Dari Buku” “Tahu Tyrex hidupnya jaman dulu saat belum ada manusianya dari mana kan mas raju belum hidup?” “hehe dari buku juga” ucapnya sambil nyengir-nyengir. “Nah! kalau seperti itu. Kira-kira kenepa ya kita harus membaca buku?” tanyaku lagi. “Biar kita kenal Tyrex ya ka? He he.” Ucap mas Raju dengan tida melepas cengirannya. “Hahaha.”Tawa ku pecah saat itu juga. Ternyata seperti itu ya pemahan yang di dapat anak sekecil ini. Akupun tidak tinggal diam. Kubenarkan pendapatnya, dan kutambahi bahwa dengan kita membaca buku kita bisa mengetahui banyak hal. Tidak hanya dinosaurus Tyranosaurus tapi juga yang dinosaurus lainnya seperti dinosaurus Therizinosaurus si cakar terpanjang, dll. Dengan membaca buku kita juga tidak hanya tahu tentang dinosaurus, kita bisa menjelajah luar angkasa, mengenal banyak tumbuhan dan binatang diseluruh dunia, dan mengunjungi tempat-tempat indah diberbagai Negara. “Iya bisakah ka?” tanya mas raju dengan binar yang takjub dengar kalimat saya. “Bisa dong, mas raju kemana? Keluar angkasa atau mau keliling dunia dulu?” tanyaku. “Aku mau baca temennya tyrex dulu ka, yang bisa terbang ada gak ka?.” “Tentu saja ada, namanya Pterodactyl” jawabku. “Hehe namanya susah-susah ya ka.” “Makannya. Mas Raju bacanya dilancarin lagi yah. Nanti biar bisa baca sendiri.oke?” ujarku dengan mengacungkan dua jempol kepadanya, “Oke deh ka.” Sejenak aku berpikir. Bagaimana percakapan sederhana seperti diatas dapat merubah perilaku dan semangat anak semacam itu? Jawaban aku dapat, setelah  teringat dengan bacaan ku dulu. Bacaan tentang komunikasi interpersonal atau komunikasi tatap muka. Yang memiliki ciri keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan. Serta biasa digunakan oleh guru terhadap murid, ataupun orang tua terhadap anaknya. Ternyata Komunikasi ini sangat baik untuk meningkatkan keingintahuan dan motivasi pada anak-anak terutama dalam hal membaca. Komunikasi seperti ini menimbulkan rasa percaya dalam hal ‘mengajar dan belajar’ bagi pelaku, serta menimbulkan perubahan perilaku positif, terutama apabila diterapkan bagi anak-anak. Efek luar biasa kebiasaan membaca adalah kita menjadi lebih mudah dalam memahi setiap fase-fase kehidupan yang kita lewati. Mari bantu Indonesia menuju generasi emas. Salam Literasi


Untukmu Para Pengabdi Ilmu

Orang bijak bilang padaku: pertemuan bukan hanya untuk menambah kerinduan ataupun melengkapinya dengan perpisahan. Pertemuan diciptakan karena tuhan mentitipkan ilmu kepada setiap insan untuk diberikannya kepada orang-orang. Setiap manusia mempunyai takdir masing-masing dalam mendapatkan ilmu bagi dirinya. Ada yang lewat bacaan, ada yang karena mendengakan, ada yang karena jelinya penglihatan, ada yang karena ketekunan dalam tulisan, serta ada pula yang mendapatkannya karena banyaknya pertemuan. Komunitas Guru Belajar Purwokerto adalah salah satu wadah pertemuan para guru dan aktivis sosial. Acara ini merupakan acara rutinan dari komunitas guru belajar purwokerto yang bernama Mudik atau Temu Pendidik. Berawal dari rasa penasaran dengan kegiatan-kegiatan mereka yang selalu di ekspose di media sosial. Saya berfikir, seru sekali mereka, Hingga akhirnya mendapatkan kesempatan duduk dan berbincang dengan mereka semua hari ini. Saya belajar banyak dari kawan-kawan yang hadir. Hati saya rasanya menghangat seketika, ketika mendengar kisah perjalan mereka yang luar biasa. Saya fikir, hanya saya dan teman-teman relawan Kampung Literasi Wadas Kelir yang masih mau berbagi dengan anak-anak sekitar. Tapi ternyata, masih banyak orang diluar sana, yang peduli dengan mirisnya keadaan Indonesia. Di Komunitas ini saya banyak belajar dari para tokoh orang hebat disana. ada Pak Daru seorang guru SMK2 Purwokerto yang masih aktif mencari hal baru untuk mengembangkan proses pembelajaran di kelas untuk para peserta didiknya. Ada Pak Heri pengelola TBM Pustaka Warga yang begitu semangat membangun, mengumpulakan dan menggerakkan para aktivis sosial. Ada Bu Cici dari Kelas Inspirasi, yang sangat energik bergerak kesana-kemari untuk menebarkan pengalaman-pengalaman inspiratifnya, dan masih banyak lagi kawan-kawan dari Bhineka Ceria, Pakis, LBS, Oemah Sinau, serta guru-guru sekolah berbagai jenjang di Purwokerto. Ada kisah yang sangat menarik dan menyentil hati pada sore itu, yaitu kisah perjuangan dari bapak Slamet dengan Oemah Sinau nya di Desa Limpakuwus, yang menceritakan bagaimana awalnya dia membangun wadah belajar bagi anak-anak yang hanya berlandas hobby dan rasa cintanya terhadap dunia anak-anak. Serta, kisah ibu Umi dengan LBS (Lelang Bronis Sedekah) nya. Berawal dari seorang penjual bronis keliling, yang prihatin dengan keadaan sekitar, dia membantu anak-anak dan kaum dhuafa untuk mendapatkan pendidikan dan pengobatan dengan menyisihkan seluruh hasil dagangannya pada hari kamis dan jumat untuk membantu mereka semua. Dari kisah-kisah diatas saya merasa terenyuh, diusia mereka yang tidak terbilang muda ternyata masih mau dan mampu untuk peduli pada sekitar. Ini justru terbalik dengan kita mahasiswa yang terbilang masih sangat muda, tapi minim kepedulian. Saya berfikir, sebenarnya apa arti dari ‘Agen of Change’ Bagi mahasiswa itu sendiri? Mengapa terasa stagnan? Kelak Inovasi apa yang akan mereka berikan? Dengan gadget yang selalu mereka pegang, dengan kegiatan-kegiatan yang katanya mengembangkan, dengan orasi-orasi yang mereka suarakan, apakah bisa membagi kemewahan dan waktu kalian sebentar? Bukan berarti organisasi tidak penting. Bukan berarti orasi tak berguna. Tapi cobalah tengok sebentar, banyak lingkungan nyata yang menunggu hadir kalian. Hai mahasiswa! Cepat ambilah kaca Jangan lalai apalagi hanyut Sibuk membangun dir, tanpa peduli Tengok adik kecil itu Tengok bapak ibu kanan kiri Mendidik meneliti mengabdi Sudahkah kalian lakukan? Ingat bapakmu Tri Dharma Perguruan tinggi Seorang yang literat tidak hanya pandai membaca buku, tapi juga pandai membaca sekitar. Dan Mahasiswa adalah sebaik-baiknya Literat ‘Harusnya’. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat menebarkan ilmu bagi banyak orang. Dan sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang di tulis dan diamalkan. (Putri Puji Ayu Lestari-Mahasiswa IAIN Purwokerto dan Relawan Pustaka Kampung Literasi Wadas Kelir)  


Dengan Membaca, Kita Bisa Berkreasi

Sekolah Kreatif adalah salah satu kegiatan yang berada di Kampung Literasi Wadas Kelir. Kegiatan ini biasa dilakukan setiap hari Kamis hingga Sabtu jam 4 sore. Saat ini saya kebagian mengajar Sabtu sore bersama kak Hamid. Tidak seperti hari Sabtu lalu, Sabtu hari ini Kampung Literasi Wadas Kelir diguyur hujan yang sangat deras. Saat menunggu anak-anak yang belum terlihat Batang hidung nya. Aku teringat diri yang belum melaksanakan shalat ashar. aku pun segera bergegas mengambil air wudhu untuk melakukannya. Setelah shalat, aku kembali ke PBM (Pusat Belajar Masyarakat) untuk mengecek situasi disana. Dengan payung merah boleh pinjam dari pemilik kos, aku berlari kecil untuk sampai cepat disana. Sesampainya disana betapa terkejutnya aku setelah melihat 3 bocah kecil yang duduk menunggu. Jujur, kupikir, mungkin sore ini tidak akan ada pembelajaran karena hujan. tetapi kalau salah, semangat mereka bahkan lebih deras dari air hujan itu sendiri. Seperti biasanya, kegiatan awal dibuka denganrea aload atau literasi yang dipimpin oleh kak Hamid. kalau boleh jujur, sebenarnya saat itu aku masih bingung akan mengajarkan apa. aku hanya terpikir, mungkin hari ini cukup dengan permainan saja. Kulihat, kak Hamid membacakan buku tentang anak-anak yang bekerja sama membuat topeng Sukira untuk mengikuti sebuah festival. Seketika, pikiran ku terbuka, kenapa kita tidak buat topeng Sukira juga?. Sambil menunggu kak Hamid bercerita, aku pamit undur diri untuk mengambil bahan-bahan seperti gunting, kertas dan krayon. Setalah kembali kulihat mereka sudah selesai dengan bacaan mereka "okeh. karena tadi kita sudah mendengarkan kisah tentang topeng Sukira. maka saatnya kita juga membuat topeng yang sama" Awalnya mereka bingung dengan apa yang dimaksud. namun, setelah ku ajak mereka untuk mencoba Membuat seperti ku, lama kelamaan mereka sudah terbiasa. Justru kurasa hasil gambaran topeng ku tidak lebih bagus dengan yang mereka buat. mereka lebih jago selesai! topeng-topeng pun jadi. Mereka tampak senang sekali melihat topeng buatan mereka. Walaupun hanya terbuat dari kertas bekas, topeng mereka menandakan seberapa kreatif mereka semua. Wah ternyata, dari membaca kita tidak hanya menjadi tahu, tapi juga menjadi kreatif dalam berkreasi. banyak sekali manfaat membaca yang dapat kita semua ambil. Jadi, ayo kita membaca. *


Aku Bukan Pemalu Lagi

Mengajari anak-anak membaca dan menulis adalah hobi baru ku saat ini. Ada kepuasan tersendiri saat anak-anak berlari kearahku untuk belajar membaca dan berteriak ketika mereka berhasil membacanya. Keberanian dan keceriaan mereka menjadi pemanis setiap malam. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, malam itu gerimis mengguyur Purwokerto. Kupikir mungkin malam ini anak-anak tidak ada yang datang, tapi ternyata dugaanku salah. Setelah beberapa saat menunggu satu persatu anak mulai berdatang sambil menggendong tas dan berlari menghindari hujan. Waktu pembelajaran biasanya akan dimulai pada pukul18.30, untuk mengkondisikan mereka yang sudah mulai berlari kesan-kemari aku ajak mereka untuk mendongeng, kebetulan saat itu aku sedang tidak membawa buku untuk read aload. “Siapa mau dongeng tunjuk tangan!" “Saya!” jawab beberapa dari meraka, sisanya masih asyik dengan permainannya sendiri. “Hari ini Kak Putri akan mendongeng Gajah dan Semut. Siapa yang pernah liat gajah?!” Dongeng dimulai, kegiatan ini cukup ampuh untuk menarik perhatian mereka. Satu persatu anak duduk menghampiri ku, dan menyimak kisahnya. Setelah dongeng selesai dan anak-anak terlihat sudah ramai, aku cukupkan untuk memulai pembelajaran malam ini. Saat itu yang hadir 9 anak. Seperti biasa, pembelajaran dibagi 2 kelompok. Kelompok A adalah anak-anak yang baru bisa membaca pengenalan huruf dan suku kata dan kelompok B adalah anak yang sedang belajar membaca dan memahami kalimat sederhana. Sebelum masuk ke dalam ruangan, tiba-tiba datang seorang ibu mengenakan jas hujan biru menggandeng anak perempuannya. Saya pun datang dan menyambut mereka. Setelah ditanya maksud dan tujuannya. Ibu itu menjawab, “Kak, ini Syifa. Dia anak yang cerdas dan sudah bisa membaca. Dia juga anak yang pandai berhitung dan suka menulis. Tapi dia ini anaknya sangat pemalu, apa-apa harus dengan ibunya. Padahal tahun depan sudah SD, bagaimana kalau nanti tidak dapat membaur dngan yang lainnya?. Tolong bantu Syifa ya Kak.” Pikiran pertama yang terbesit dibenakku adalah ‘anak ini cantik’, ‘anak ini baik, ‘anak ini pintar’. Tidak pikiran yang menjerumus hal negative tentangnya. Hari itu di tengah-tengah pengajaran, kulihat dia sibuk dengan tugas yang kuberikan. Saat ditanyapun hanya menjawab dengan anggukan dan gelengan. Kebiasaanku dalam mengajar adalah selalu memberikan permaianan di akhir pembelajaran. Malam itu kita bermain Do-mi-ka-do. Ini adalah permainan ku saat kecil dulu yang sedikit diubah kata-katanya agar sesuai dengan tujuan pembelajaran, dengan membuat lingkaran kita bermain tepuk bergantian. Saat permainan, aku perhatikan anak ini. Sudah mulai ada sedikit perubahan pancaran pada matanya, yang awalnya terlihat sayu malu-malu. Kini berubah menjadi pancaran keantusiasan. Sesekali pun sudah berkontak mata langsung dengan ku. Walaupun suaranya masih sangat kecl. Tapi saya yakin anak ini akan berbaur dengan cepat. menjadi seorang yang pemalu bukanlah hal yang buruk. Pemalu adalah sikap yang ada pada anak-anak karena belum adanya rasa percaya, sehingga timbul rasa takut pada dirinya. Sebenarnya anak-anak seperti mereka sedang berusaha membangun keberanian dan melawan rasa takut. Sebagai orang dewasa yang mengerti akan hal itu ada baiknya terus memberi semangat dan tanamkan hal-hal positif kepada merak. * (Mahasiswa IAIN Purwokerto & Relawan Pustaka Wadas Kelir)   


Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…