LOADING

Type to search

Sejumlah Puisi Syaifuddin Gani

KONAWE, PINTU YANG TERBUKA: Untuk Firman VenayaksaDi Konawe, pintu-pintu selalu terbukaMenganga dan mengulum yang terlukaSiapa yang bertandang, disongsong aduhan gongOleh tangan tak nampak, oleh hati tak berjarakDi Konawe, jendela-jendela selalu terjagaSebab di sini, masih terdengar suara tetanggaDarah dan gembira masih satu rumahSesiapa bernafsu ganjil, di leher kerbau, syahwatnya terjagalJika luka leleh, dicuci di arus Sungai KonaweehaMenjelma pohon-pohon abadi di hutan LambuyaJika pisau hunus, menjelma air doa-doaMenjadi ketabahan Yunus di lingkar KalosaraDingin api di mulut PabitaraTetapi jika aib terburai, kampung ditangisi sembilan sungaiSemua diam, luka jadi mendiang, berdarah dalam penyembelihandalam penyaliban Mosehe WonuaKawan, engkau tertawan di sungai NunEngkau bidik hilir, di lensamu sungai diseberangi HidirKita terpana purnama segi empat, sebuah alamatLensamu takluk di isyarat yang tak tampakDi langit Konawe, negeri serupa alam hikayatWahai jika ada yang bertandangOrang Tolaki molulo, mengekalkan kedatanganBergenggaman jari-jari, bersahutan mata kakiMata dan tubuh beradu dalam rakaat gerakKelenjar syahwat memuih bersama dengusan keringatLenguhan gulita memekat, merajam malam yang sekaratSeumpama bumi andaikan matahariMerayakan hari PenciptaanWahai jika ada yang pergiPongasih amsal kepahitan sang kekasih, kebeningannya yang tandas, mengair jadi rasa belatiDireguk, mengabadikan kehilanganTapi di tiap pertemuan dan perjamuanNamamu disebut sebagai Oheo sebagai AnawayMenjelma Oanggo, lagu abadi dalam darah dalam sejarah KonaweDi hari penciptaan Konawe, bumi lelehOheo kekalkan silsilah cintanya menjadi syair pedih PabitaraAnaway awetkan perawan dan rajah tubuhnya menjadi bandul KalosaraMeski tubuh dan darah, memutih memerah, di anyir silsilah, di kesumat sejarahAgar di Bumi Konawe, sirna burai barah, doa darah, selamanyaKonawe, 24 Juni 2013Kalosara: Simbol adat Suku Tolaki dalam bentuk lingkaran rotanPabitara: Juru bicara dalam pernikahan atau ritual adat lainMosehe Wonua: Ritual “mencuci” kampungMolulo: Tarian khas Suku TolakiOanggo: Sastra lisan Suku TolakiPongasih: Minuman khas Suku Tolaki dari sulingan air berasDOKUMEN BUTONSaat kapalmu bertaut di telukEngkau disambut kepala naga, agar bagimu jiwa ragaDisafaatkan seribu doa-doaDidendangkan keajaiban pamaliMata naga menyala, debur ombak bercahayaMemahat wajah Butuni, di keremangan istanaDi lembar pustaka, abjad yang linang dalam pusakaDi Dermaga Murhum kita saling mencariNafas menggelantung di jangkar kapalRiwayat sekelam cincin batu aspalKuselusuri jejakmu di aksara WolioKutemukan Arung Palakka pada tahiat meriamJejak Belanda dalam silang sengketa, sulang singgasanaSisa mesiu mengepul, mengepung HasanuddinSebab Makassar dan Ternate amsal laut menggelombangDan Buton tak pernah tenang tiada tidurDalam patroli panjang labu rope labu wanaWa OdeKuburu engkau di Keraton Wolio, di bukit-bukit batu BaadiaEngkau mematung jadi penghormatan abadi naga di KamaliSukmamu disebut Idrus Kaimuddin sebagai Bulan yang TenangKotamu dibangunkan Amirul TamimDirindukan pelaut, lalu kapal-kapal bertolak dan berlabuhDi bukit Baadia, kata-kata abadi, pesan-pesan terberkatiDigali dari meditasi khusu’ manusia ButonBiar harta raib asal manusia tiada aibWalau manusia guyah tetapi negeri terjagaBiar negeri papa asal pemerintah di titian adilTetapi biar pemerintah rubuh asal tegak tiang agamaTetapi Wa OdeDi Festival Pulau Makassar, ina-ina yang rumahkan senja di matanyaTangisi kenangan 1969 dalam lagu kerabat yang hilangTepukan dan permainan tangan orang dalamDi Senayan, aspal meleleh dalam diplomasi batas tapalSemua semu nan nyataDalam getir irisan gambus KabantiKita menggenggam nasibMenyelusuri pintu belakang kegulitaan istana rajaPenjara Kasim yang murungMenjelma belasungkawa abadiMengoar di gelegak gelombang laut ButonBaubau, 6 April 2016—28 September 2017Catatan:Labu rope labu wana: Ungkapan bahasa Wolio di Buton yang artinya berlabuh haluan (depan), berlabuh buritan (belakang)yang bermakna menjaga serangan Kerajaan Gowa dan Kerajaan Ternate.- 1969, Buton diklaim sebagai basis PKI oleh militer- Muh. Kasim adalah Bupati Buton yang meninggal “gantung diri” di penjara tahun 1969 akibat dituduh sebagai PKI. Sebuah tuduhan yang tidak pernah dibuktikan oleh militer saat itu.LEMBAH MOWEWE, PERAWAN TERSALIB: Untuk JennyPerjalanan itu menderukan gemamu yang ranggasSerupa raung mesin mengebor rahim MekonggaMatamu pijar adalah puncak pinusMemergoki cakrawalaAku istirah di Lembah MoweweMerenungi pertemuan merahDi dermaga KolakaSambil meradang memandang nanah tanahDikeruk baja dan rajaHidup seumpama perahu menjalaLalu kalah terdampar di tebing senja.O, betapa merdeka gelombangBergulung lalu bergulingDi dada-dada pantaiSementara kita membilang butir pasir yang rekatDi tubuh pendosa.Kau kenangkah isyarat dan tabiatBerkobar di deru waktuSebagian seumpama lintahYang lain haus darahLapar daging?Lembah Mowewe yang gaib, perawan tersalibAku memetik bunga SorumeMenancapkan di rambutmu warna MekonggaSebelum aus digerus gerigiSebelum raib dirajah para rajaAku istirah di lembah MoweweDi lembah matamu yang melelehMowewe, 13 Agustus 2007SYAIFUDDIN GANI lahir di kampung Salubulung, Kelurahan Talippuki, Kecamatan Mambi, Kab. Polmas (kini, Kab. Mamasa), Prov. Sulsel (kini, Sulbar), 13 September 1978. Setamat di SMAN 1 Polewali tahun 1997, ia kemudian ke Kendari dan menjadi mahasiswa Universtas Haluoleo (kini, Halu Oleo), Jurusan Pendirikan Bahasa dan Seni, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia & Daerah, FKIP. Sejak tahun 1998, bergabung dengan Teater Sendiri, belajar sastra dan teater di komunitas tersebut di bawah bimbingan Achmad Zain. Bersama Teater Sendiri pentas teater di berbagai kota di Indonesia seperti Kendari, Banjarmasin, Surabaya, Solo, Yogyakarta, dan Jakarta. Tahun 2006 menjadi pegawai Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara. Puisinya tersebar di berbagai media dan buku antologi puisi. Sejak 2014 menjadi peneliti sastra di kantor tersebut. Akhir tahun 2016 mendirikan Pustaka Kabanti di rumahnya bersama Ita Windadari dan Iwan Konawe. Di Pustaka Kabanti kini, menjadi arena menulis bagi setiap anggotanya. Sejak tahun 2014 (akan berakhir 2019) menjadi Ketua Forum TBM Sulaesi Tenggara.


Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

    Processing files…