LOADING

Type to search

Lima Ciri Anak yang Miliki Kecerdasan Emosional Tinggi

DELAPAN (8) BULIR REKOMENDASI LITERASI 2018

Redaksi 1 bulan ago

SEKOLAH LITERASI: Bermain Pola Huruf dalam Kata

Redaksi 1 bulan ago

SAAT Anak Lebih Memilih Asyik Bermain dengan BUKU

Dunia anak berbeda dengan dunia orang dewasa. Maka jangan menilai kesalahan anak dari sudut pandang orang dewasa. Anak mempunyai dunianya sendiri. Dunia yang tidak mudah dimengerti oleh orang dewasa.-Keajaiban Mendongeng, Heru Kurniawan- Ini tentang anak dan dunianya. Yang terkadang membuat orang tua marah. Karena apa yang diharapkan orang tua tidak sesuai dengan apa yang dilakukan anak. Seperti hari ini, saat anak-anak PAUD Wadas Kelir sedang berisitirahat. Seorang Ibu tiba-tiba memanggil anaknya yang sedang asyik memilih buku di gerobak baca Wadas Kelir. Ibu itu berkali-kali memanggil anaknya, namun masih saja asyik berada di depan gerobak baca. Sambil membuka-buka buku dan melihat tiap gambar yang ada di dalamnya. Kebetulan buku itu adalah buku Dinosaurus. Buku yang paling sering dipinjam anak-anak. Sebab, dari buku ini anak mengerti bentuk dan nama Dinosaurus. Hewan purba yang punah. Anak itu masih saja membuka-buka buku. Sampai raut muka Ibu berubah menjadi kesal. Menemui si Anak kemudian menggendong sambil berkata, “Zion! Di panggil Mamah, Kok ya!” dan menepuk pantatnya. Pertanda bahwa perbuatan si anak tidak disukai Ibunya. Anak itu pun seketika menangis. Kencang sekali. Sambil meronta-ronta, berteriak, “Emoh! Emoh!” (yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Tindak Mau.”). Melihat kejadian itu hati saya rasanya ngilu dan merasa iba pada si anak yang sedang asyik bermain dengan apa yang anak sukai. Namun, inilah yang harus orang tua pahami tentang anak. Bahwa tidak semua yang dianggap tidak menarik oleh orang tua berarti tidak menarik juga untuk anak. Tapi sebaliknya. Apa yang dianggap tidak menarik justru itu sangat menarik di mata anak. Dari sini, orang tua setidaknya hrus memahami dunia anak. Bahwa dunia anak tentu berbeda dengan dunia orang dewasa. Seperti dari kisah tersebut, orang tua harus menyadari bahwa anak akan melakukan aktivitas bermainnya sesuai apa yang diri anak senangi. Di kisah tersebut, kita lihat seorang anak yang sedang asyik bermain dengan buku, maka si anak tidak mau diganggu. Termasuk tidak mendengarkan orang tuanya ketika memanggil. Apakah yang dilakukan anak ini salah? Bagi saya tidak. Mengapa? Inilah yang terkadang tidak dimengerti orang tua terhadap anak. Padahal ketika anak sedang beraktivitas sesuai dengan kesenangannya maka saat itulah anak sedang mengeksplore diri anak. Orang tua harus menyadari satu hal. Ketika anak sedang bermain maka saat itulah anak juga sedang belajar. Banyak orang tua yang masih beranggapan bahwa belajar harus selalu dilakukan di dalam kelas dan ada guru yang mengajar. Pendapat ini tidak salah, namun tidak juga benar. Ada satu hal yang belum diilhami orang tua terhadap belajar.Yaitu bahwa sejatinya segala sesuatu yang dilakukan anak setiap harinya adalah belajar. Termasuk ketika anak bermaian. Saat anak bermain, saat inilah anak sedang berada dalam fase belajar yang paling hakiki. Mengapa? Saat bermain inilah banyak rangsangan yang akan masuk ke dalam otak anak. Anak akan lebih menerima rangsangan ketika anak merasakan sendiri. Ketika menghadapi anak tengah asyik dengan mainannya, biarkanlah. Jangan paksa anak untuk menghentikan permainannya. Biarkan anak bermain dengan mainannya. Sesuka hati anak. Karena saat itulah anak sedang belajar. Belajar menggali bakat minat, dan melatih kecerdasaannya.[]


KETIKA Anak Termenung, Melihat Kakak Menangis Mendapati Buku Kesayangan

“Anak adalah makhluk Tuhan paling perasa. Diam-diam anak memantik rasa dari pengalaman-pengalaman keseharian anak. Dan dari sinilah anak akan belajar banyak mengenai emosi. Meski jarang disadari oleh orang tua bahwa anak telah memahami emosi di dirinya.” Satu hal yang tidak bisa terlepas dari anak-anak adalah bermain dan menangis. Mengapa? Karena inilah dunia anak. Dunai anak yang paling menyenangkan meski terkadangan karena satu dan lain hal anak tiba-tiba menangis. Tentu, dua kejadian ini yang tidak bisa terpisahkan dari anak-anak. Anak-anak menyadari inilah dunianya. Dunia yang akan mengajarkan anak-anak banyak hal. Tentang ilmu dan tentang pengetahuan yang akan anak sendiri dapatkan tanpa mendapat rangsangan orang lain. Seperti kali ini, sebuah pengalaman bermain yang mengesankankan. Menyimpan pesan manis untuk Saya sebagai orang yang lebih tua dari mereka. Dari seorang anak berumur dua tahun. Namanya Hafiz. Anak laki-laki yang kini baru beumur dua tahun. Dia mempunyai Kakak yang kini duduk di bangku TK. Seperti biasa sambil menghabiskan waktu sore sebelum magrib, kedua anak itu bermain di kamar. Mereka bermain sekolah-sekolahan. Kakaknya menjadi guru, dan Hafiz menjadi muridnya. Semua perlengkapan tas, buku, bolpoin, crayon, meja belajar pun tertata rapi. Hafiz siap untuk bermain sekolah-sekolahan. Dengan berekting seperti guru, Kakak mempersiapkan pembelajaran, dengan meminta Hafiz untuk membuka buku yang ada di tas. Hafiz mengambil dan membuka buku (yang mana buku itu adalah buku dongeng kesayangan Kakaknya). Ya. Sekolah pun dimulai. Si Kakak mulai beraksi. Mengambil spidol, kemudian menuliskan huruf A di papan tulis. Si Kakak meminta Hafiz untuk menuliskan hal yang sama di kertas. Namun, Hafiz tidak menghiraukan perkataan Kakaknya. Hafiz sibuk membolak-mbalikan buku dongeng bergambar yang baru ia ambil di tas. Si Kakak tak mau kalah. Kertas dan boloint diberikan pada Hafiz. Namun, Hafiz tidak mempedulikannya. Hafiz masih saja asyik dengan buku dongengnya. Si Kakak juga tidak mau kalah, untuk mengajak Hafiz belajar, mengikuti apa yang sedang dikerjakan oleh si Kakak dengan menyodorkan kertas lagi. Untuk kedua kalinya Hfiz menolak dan lebih memilih untuk membuka buku dongeng bergambar. Melihat Hfiz tidak mau mendengarkan perkataan Si Kakak, Si Kakak mengambil buku dongengnya, sambil berkata, “Hafiz belajar! Lihatnya nanti!” Hafiz dan Si Kakak berebut buku dongeng yang akhirnya membuat bukunya sobek. Seketika Si Kakak menangis kencang. Tangisannya membuat seisi rumah menghampiri si Kakak. Melihat Si Kakak menangis, Hafiz pergi keluar kamar dan duduk di depan televisi sambil menundukan kepala sendirian. Saat ditemui oleh tantenya, Hafiz langsung berlari dan minta digendong. Raut mukanya sedih. Akhirnya, Tante membawa keluar rumah dan mengajaknya ke warung. Saat ditanya, “Hafiz mau minta apa?”. Seketika tatapan matanya menuju bawah, ada rasa bersala dalam diri Hafiz, sambil perlahan berkatan, “Beli buku buat Kakak.” Mendengar jawaban Hafiz, Tante memeluk erat dan mencium kening Hafiz. Tante melihat ada penyesalan dan rasa bersalah dalam diri Hafiz. Tante menggendong kembali menemui Si Kakak yang sedang menangis. Sambil berjalan lambat, Hafiz menyodorkan tangannya, sambil berkata, “Maafin Hafiz ya Kak.” Si Kakak yang masih sesengukan menyodorkan tangannya untu bermaafaan. Sambil berkata, “Tapi, Hafiz tidak nakal lagi ya!” Ada banyak pesan manis yang tersirat dari cerita pengalaman di atas, bahwa tanpa banyak di sadari orang tua, anak banyak belajar mengelola emosi pada dirinya melalui pengalaman dan kejadian yang sudah anak rasakan sebelumnya. Yang pertama, kita lihat anak sudah mampu mengenali bagaimana rasa bahagia. Ketika Hafiz dan Si Kakak mulai bermain sekolah-sekolahan. Di sini dapat kita lihat bahwa bermain sekolah-sekolah adalah suatu kegiatan yang dapat membuat anak merasa bahagia. Kedua, anak sudah mengenali emosi kesal. Ketika Si Kakak meminta Hafiz untuk mengikuti apa yang dilakukan Si Kakak namun karena Hafiz tidak mengikuti perintah Si Kakak, Si Kakak menjadi kesal dan menangis. Di sini kita lihat bahwa anak akan timbul rasa kesalnya ketika tidak mendapatkan respon yang seperti yang diharapkan.  Ketiga, anak sudah mengenali rasa bersalah. Rasa yang ketiga ini menjadi rasa yang jarang disadari orang tua. Bahwa anak pun sebenarnya sudah memiliki rasa bersalah. Dari cerita di atas, kita melihat seorang anak yang menyadari kesalahannya karena sudah menyobek buku kesayangan si Kakak hingga mengkibatkan si Kakak menangis. Sungguh, ternyata dari bermainlah anak-anak banyak mengenal rasa. Hingga tanpa di sadari orang tua, dalam proses bermain anak sejatinya sedang menyerap setiap pengalaman yang dihadapi. Yang berdampak pada pembentukan pikiran anak yang dapat mengembangkan kekuatan mental bawaannya. Sebuah pesan manis dari Montessori dalam bukunya yang berjudul The Absorbent Mind, yang saya temukan sendiri, di kehidupan nyata. Bahwa “Kesan-kesan  (pengalaman) tidak hanya memasuki pikiran anak, namun kesan itu membentuk pikiran anak.”[]


Artefak Pustaka, Hal yang Mengingatkan

Satu hal yang dapat mengingatkan masa kecil manusia adalah jejak-jekak artefak. Tidak ada yang perlu dipersalah dari sebuah coretan-coretan di dinding rumah. Karena ini adalah sebagian artefak yang nantinya, kelak akan sangat membuat rindu. Sore ini, ketika saya pulang ke rumah ketiga keponakan saya sudah bersiap menyambut saya dengan teriakan dan senyuman paling manis anak kecil. Seperti sudah janjian terlebih dahulu, mereka kompak dengan berteriak, “Hore! Bibi pulang!” Saya pun menyambutnya dengan senyum semringah. Sambil mengecup ketiga kening keponakan saya. Satu persatu. Mereka membalas dengan pelukan hangat. Sebuah pelukan yang paling saya tunggu-tunggu ketika saya pulang. Entah mengapa selalu ada saja cerita ini. Seperti sore tadi, tiba-tiba Farah keponakan pertama saya tiba-tiba menceritakan kejadian di sekolah. Dengan muka sangat senang. Katanya, “Tadi di sekolah Farah dibacakan cerita ikan paus, Bi. Besar. Di perut Ikan ada nabi. Kata Bunda nabinya masih hidup. Tapi kok bisa ya Bi Nabinya masih hidup? Padahal kan dimakan? Terus, Farah tadi mewarnai gambar. Sekarang Aku sudah bisa mewarnai rapi.” Ya. Ceritanya panjang. Selesai bercerita, tiba-tiba anak itu menarik saya untuk masuk ke dalam rumah. Dengan sangat gembira. Anak itu menunjukan satu persatu hasil gambarnya. Gambar yang dia buat bukan di kertas sebagai kanas. Tetapi di dinding-dinding rumah. Awalnya, saya ingin berteriak karena kagen. Tapi melihat anak itu begitu sangat bergembira, saya mengurunkan maksudnya dan berpura-pura baik-baik saja. Anak itu menunjukkan beberapa gambar baru yang dia buat. Ya, Gambar pertama, sebuah mobil dengan roda delapan terpajang di dinding ruang tamu. Gambar kedua, sebuah bintang besar dengan beberapa joretan garis mengelilingi bintang, berdampingan dengan nama FARAH di sisi kanan tepat di dinding ruang tengah. Gambar ketiga, sebuah lingkaran besar dengan tujuh lingkaran kecil di salamnya serta sebuah bintang terpajang rapi di kamar tidur saya. Ya. Sebuah pemandangan baru yang mengesalkan juga mengasyikan. Ya. Anak-anak. Saya perhatikan setiap kata yang dia lontarkan. Lancar sekali. Seketika itu dalam pikiran saya hanya ada satu. Dia memiliki kecerdasaan yang lebih baik dari anak seusianya di rumah. Sebab, diam-diam anak itu sudah bisa menangkap apa yang didengar dengan sangat baik. Terlebih lagi dapat mengkomunkasikan lagi kepada orang lain. Seketika saya teringat dengan manfaat Read A Loud bagi anak. Yang salah satu di antara ketiga manfaatnya adalah MENSTIMULASI THINK ALOUD. Membuat anak berpikir kritis dan kreatif. Sebuah ilmu baru yang saya dapatkan setelah saya membaca buku Jim Trealease, The Read-Aloud Handbook. Dua hal, berpikir kritis dan kreatif. Pertama, Anak itu sudah menapakan kekritisannya terhadap bacaan yang didengarnya. Sehingga, tanpa disadari anak mengeluarkan sebuah pertanyaan untuk mengritisi rangsangan yang di dapat. Kedua, sudah mampu berpikiran kreatif. Dia memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya sebagai medianya untuk menumpahkan daya kreatifnya dalam sebuah coretan. Inilah yang dinamakan artefak. Artefak yang dihasilkan sebagai hasil dari daya kecerasan yang dimiliki manusia. Yang akan membekas dikehidupan manusia. Inilah yang akhirnya membuat saya tersenyum dan mengusap kepalanya. Saat ketika saya melihat betapa bayaknya coretan yang sudah memenuhi dinding rumah. Karena saat itu saya sadar anak sudah mulai banyak beraksi dengan artefak yang tidak sengaja diciptakan. Dan karena ini tidak sengaja, saya yakin kelak ketika anak sudah dewasa artefak ini yang akan pertama kali diingat ketika mengunjungi tempat yang sama. []


Di Depan Pak Mentri Kala Itu

Bahwa sejatinya mimpi adalah sesuatu hal yang ajaib. Dan membaca menjadi suatu hal yang tak pernah terlepas dari mimpi. Ini menyoal tentang mimpi anak-anak di TBM Wadas Kelir. Mimpi yang tiba-tiba menemukan takdirnya hingga menyisakan catatan manis kehidupan anak-anak Wadas Kelir. Inilah kisahnya. Menjadi hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Bertemu Pak Menteri pendidikan kala itu, Pak Anies Baswedan dan membacakan sebuah puisi karena membaca. Sejak ada taman baca, semua anak-anak mempunyai teman baru. Buku. Ya, teman baru anak-anak adalah buku. Tahun 2015 lalu, Taman Baca Wadas Kelir mengikuti Olimpiade Taman Bacaan Anak (OTBA) di Jakarta. Sebuah event pertemuan komunitas taman baca anak seluruh Indonesia. Ya, taman baca, kami menjadi salah satu taman baca yang terpilih di antara beratus taman baca yang hadir saat itu. Saat itu jelas sekali, terpancar kebahagiaan dari mata anak-anak. Lebih membahagiakan lagi, saat salah satu anak dari taman baca Wadas Kelir mendapatkan kesempatan untuk membacakan puisi di depan Pak Anies. Kesempatan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Tapi sekarang menjadi kesempatan di depan mata. Sungguh, rasa gugup seketika hadir di diri anak-anak dengan sangat cepatnya, terutama Wiwi. Sebab Wiwi yang ditunjuk Pak Guru untuk membacakan puisi di depan Pak Anies. Saat itu, hanya tersisa waktu setengah jam sebelum pentas. “Kak, Wiwi ke kamar mandi. Wiwi akan buat puisi di sana.” Kata Wiwi sambil tergopoh-gopoh. Tak lama berselang, dengan bekal kertas dan bolpoint Wiwi belari menuju kamar mandi. Susah payah, Wiwi merangkai kalimat, hingga akhirnya menjadi satu buah puisi yang dia tulis dengan waktu yang singkat. Kini tiba giliran Wiwi membacakan puisi yang dia beri judul MIMPIKU TERHADAP PENDIDIKAN. Wiwi membaca satu per satu larik puisi dengan penuh perasaan tak karuan. Setelah selesai, terdengar riuh tepuk tangan dari semua peserta, begitu juga dengan Pak Anies. Sebuah potret yang tidak dibayangkan sebelumnya oleh anak-anak di TBM Wadas Kelir. Kesenangan mereka membaca dan bertemannya mereka dengan buku membawa anak-anak ke dalam situasi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Bertemu Pak Mentri Pendidikan kala itu. Yang kini berdampak pada semangat anak-anak di TBM Wadas Kelir menyemai virus-virus membaca pada masyarakat. Semoga terinspirasi! Salam literasi! []


Buku, Memaknai Arti Pertanyaan Masa Lalu

Tentang sebuat masa lalu yang tiba-tiba menjadi potret sehari-hari di sini, wadas kelir. Ini cerita hari ini. Bersama anak-anak dan kenangan masa kecil yang tiba-tiba menginngatkan saya ketika saya masih seperti mereka, anak-anak. Suka bermain, berteriak, kejar-kejaran, dan ingin selalu menjadi pemenang saat permainan. Sore ini, tiba-tiba saya dikejutkan dengan suasana sekolah literasi yang membuat hati saya tiba-tiba seketika merasa dingin. Bukan karena terkena es. Ini lebih dari sekadar itu. Ini karena saya tiba-tiba seperti melihat saya 17 tahun yang lalu. Sebuah masa di mana bermain menjadi ajang yang paling dinanti setiap hari. Ini soal bermain. Dulu, tidak pernah terlintas dalam pikiran saya mengapa bermain menjadi salah satu diantara hal-hal yang disuka anak-anak. Ya, itu dulu sebelum saya mengenal lebih jauh tentang buku, tentang membaca dan tentang ilmu yang bersarang di dalam sebuah buku. Sampai saya tiba-tiba menemukan sebuah arti dari yang dulu tida pernah saya pikirkan sebelumnya. Semua buku yang membuka pikiran saya, menambah pemahaman saya tentang sebuah pertanyaan bodoh yang tiba-tiba datang sendiri bersamaan saat saya membaca sebuah buku KEAJAIBAN MENDONGENG. Satu kutipan yang menjawab pertanyaan tiba-tiba dan jawaban yang tiba-tiba juga. Yaitu Bahwa DUNIA ANAK ADALAH BERMAIN. Sebuah kutipan yang menyadarkan saya mengapa anak-anak suka bermain. Karena itulah anak tidak pernah terlepas dari yang namanya bermain. Berlari, berteriak, tertawa, semua dilakukan dengan sangat sadar dan sangat membahagiakan. Banyak yang tidak dimengerti orang dewasa tentang apa yang dilakukan anak-anak ketika bermain itu adalah bagaimana abak sedang mengenal proses belajar. Proses belajar dengan alam, lingkungan dan diri. Saat itulah anak sebuah proses pentransferan ilmu pengetahuan ke otak berlangsung tanpa ana sadari. Sebuah pemaknaan arti akan diperoleh dari pengamatan dan ketidak sengajaan yang disengaja. Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba menemukan rumahnya, yang  rumahnya adalah asal muasal sebuah pertanyaan tercipta. Buku. Semoga menginspirasi, salam literasi.


Melatih Integritas Anak dengan Membaca

Satu hal yang selalu saya ingat dari guru saya adalah, “Jika ingin perkataan kita didengarkan orang, maka kita juga harus mendengarkan orang. Jika ingin kita disegani orang, maka kita pun harus menyegani orang tersebut.” Ya. Ini menjadi awal cerita pegalaman saya mengajar anak-anak di Wadas Kelir. Sebuah komunitas belajar untuk anak-anak dan siapa saja yang ingin belajar. Tidak terpaut usia. Semuanya boleh belajar bersama di Wadas Kelir. Satu kalimat pembuka yang terkadang membuat saya terdiam sejenak. Ketika saya mendapati orang-orang di sekitar saya akan berbicara. Sebuah filosofi belajar untuk hidup saya. Dan dari sini saya lebih mengerti arti belajar. Yang tidak melulu belajar harus duduk manis di dalam kelas, lalu mendengarkan guru memberikan materi pembelajarana. Bukan itu. Tapi ini lebih dari sekadar hal itu. Setiap harinya, anak-anak selalu bertandang menuju Gerobak Baca yang memang sengaja di sajikan di tempat belajar Wadas Kelir. Dan kerap kali anak datang, hal pertama yang mereka lakukan bukanlah menyapa pengajar yang sudah duduk manis menanti anak-anak. Tetapi, anak-anak berlarian, dulu-duluan, mengambil buku, kemudian meminta pengajar untuk membacakan buku yang anak bawa dengan penuh antusias. Potret ini yang selalu hati saya merasa trenyuh. Ya. Trenyuh. Bukan karena saya sedih dengan kebiasaan anak-anak yang lebih dulu mengunjungi gerobak baca dari pada menemui pengajar untuk bersalaman. Bukan itu. Yang membuat saya trenyuh adalah, ketika saya mendapati anak-anak yang sangat semangat sekali membaca dan terlebih belajar. Ada pepatah yang mengatakan, membaca membuka mata pada dunia. Inilah mengapa saya trenyuh ketika melihat anak-anak kecil berlarian membawa buku kemudian dibacanya. Tidak banyak orang yang menyadari, bahwa kegiatan anak-anak seperti ini adalah kegiatan yang menakjubkan. Saya katakan ini menakbjubkan. Salah satu diantaranya adalah bibit-bibit generasi penerus bangsa yang intelek tumbuh banyak. Ini yang seharusnya para pengajar perjuangkan. Anak-anak yang terus belajar. MELIHAT INTEGRITAS ANAK DARI BACAAN Pembelajaran yang baik adalah ketika pengajar mampu mengkondisikan siswa-siswinya untuk belajar. Sebuah perkataan yang lagi-lagi saya ingat dari guru saya. Sebuah pandangan mengenai pembelajaran yang mengedepankan realita dari pada teoritik. Ini proses pembelajaran yang saya katakan sebagai pembelajaran menanamkan integritas anak melalui buku-buku yang memang sengaja terpajang di Wadas Kelir. Sore itu, seperti biasa. Anak-anak datang mengunjungi gerobak baca. Kemudian membawa sebuah buku yang diberikan kepada saya untuk dibacakan. Buku baru pemberian dari KPK. Buku yang kini menjadi incarann banyak anak untuk meminta dibacakan. Saya menerima buku itu lalu membacakan di depan anak-anak dengan gaya dan ekspresi penuh mengikuti teks cerita yang ada dalam buku. Anak-anak sangat antusia mendengarkan cerita sampai habis. Setelah selesai, tiba giliran saya untuk bertanya mengenai isi cerita yang saya bacakan. Hal yang membuat saya terkagum pada mereka adalah ketika ada diantara satu dari mereka yang tidak mau menjawab pertanyaan dari saya. Saat itu, saya mendekati anak tersebut, menanyakan “Kenapa tidak mau menjawab.” Dengan entengnya dia berkata pada saya. “Aku tidak mendengarkan Kakak.” Saya tersenyum kemudian mengusap kepala anak itu. Kemudian saya berkata, “Anak pintar!” Perkataan anak tersebut yang membuat saya kagum bukan marah. Karena saat itu saya temukan ada hal kecil yang mungkin tidak disadari oleh mereka bahkan kita sendiri sebagai orang dewasa, yaitu kejujuran. Anak itu mengajarkan untuk berkata jujur. Jujur terhadap apa yang kita lakukan dan tidak kita lakukan. Salam Literasi! []


Membaca Emosi Anak

Ini yang tiba-tiba membuat saya tidak bisa berkutik ketika menghadapi mereka. Saat saya akan pulang menuju ke kostan, tiba-tiba saya lihat anak kecil berjalan menuju PBM. Tanggannya dia mainkan. Diputar-putar bahkan sampai memasukkannya ke mulut. Intinya apapun yang bisa dimainkan, anak itu mainkan. Baju, kertas, bolpoint dan lain sebagainya.  Langkahnya malu-malu. Dia tersenyum saat ketika saya berpapasan dengan anak itu. Saya menemui anak tersebut, kemudian menyapa dan mengajaknya duduk bersama. Di kursi dekat gerobak baca Wadas Kelir. Anak itu tiba-tiba berubah. Memasang wajah muram dan cemberut. Melihat anak itu, saya mencari cara untuk mencairkan suasana dengan bertanya basa basi. Anak itu menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan. Dengan tanpa ekspresi. Kemudian, saya mengambil satu buah buku. Lalu, mengajak anak-anak juga ikut membaca. Namun, anak itu tetap duduk dan menunduk. Saya merayunya untuk membaca. Dengan memberikan iming-iming buku baru. Tapi tetap saja sama. Anak itu masih saja cemberut. Nyatanya menaklukan hati anak tidak mudah. Akhirnya, saya pun  mengambil satu buah lembar mewarnai dan crayon yang sudah tidak utuh lagi. Mengajak anak iu mewarnai. Anak itu mewarai dan mulai ceria. Saat anak itu mulai asyik, saya melanjutkan niat saya untuk pulang dan beristirahat. Tapi tiba-tiba, anak itu memandang saya. Dan bertanya. “Kak, mau kemana?” “Kakak mau pulang dulu, ya?” Jawabku saat itu. Tiba-tiba anak itu berdiri. Memeluk saya. sambil berkata. “Kakak kok enggak pernah ngajar lagi? Padahal pengin diajarin.” Saat itu, saya tidak bisa berkutik apa-apa. Mata saya berkaca. Pertanyaan besar dalam diri saya akhirnya terjawab. Mengapa sikap anak itu berubah. Ini adalah kisah satu bulan lalu. Kisah yang saya angkat sebagai cerita pengalaman saya kali ini, di Wadas Kelir. Kisah anak calistung Wadas Kelir. Anak itu membuat saya belajar satu hal. Ada banyak hal yang tidak banyak dimengeti oleh orang dewasa mengenai anak. Salah satunya adalah emosi anak. Seperti anak itu, meski selama satu semester ini saya hanya mengajar dua kali, dan itu bagi saya adalah sebuah pertemuan singkat. Namun, itu membekas di diri anak. Anak memiliki kelekatan yang berbeda dari pada yang lain. Kelekatan inilah yang membuat anak mengenal emosi. Meski anak belum paham tentang emosi yang diri anak miliki. Anak itu menyadarkan saya bahwa ANAK ADALAH PERASA YANG ULUNG. Anak akan memainkan perasaannya melalui sikap-sikap yang ditunjukan. Jika banyak oang tua yang beranggapan bahwa anak belum mempunyai perasaan, bagi saya itu salah. Anak adalah perasa yang ulung. Anak akan mengekspresikan melalui cara anak yang unik. Seperti anak itu. Anak yang tiba-tiba membuat mata saya berkaca-kaca. Semoga menginspirasi!


Tentang Buku Kesayangan

Adakah yang salah dari potret ini? Seorang nenek, membacakan cerita kepada teman-teman yang usianya bukan lagi usia sekolah pada umumnya? Ya. Bagi saya tidak. Tidak ada yang salah dari potret ini. Jika pikiran kita dipenuhi dengan definisi paten terhadap sesuatu? Apakah itu sesuatu hal yang salah? Tidak juga. Seperti ini, sebuah kondisi belajar yang mungkin jarang ditemui di sekolah-sekolah lain. Sebuah kondisi belajar yang didesain untuk membuat murid-murid kreatif. Sebuah kondisi belajar yang membekali muridnya untuk menjadi murid yang dapat melampaui keterbatasan. Inilah, ini proses belajar yang ada di Wadas Kelir. Namanya Bu Urip. Umurnya sudah masuki angka ke lima. Namun, semangatnya seperti anak PAUD. Yang setiap hari selalu berangkat lebih awal, menjadi murid paling rajin, menanti guru datang, dan selalu berbahagia. Bu urip adalah warga belajar Paket B Wadas Kelir-Purwokerto. Ia sangat semangat sekali belajar sekalipun usianya sudah tua. Namun, tak ada Kata MALAS BELAJAR dari diri beliau. Kali ini waktunya saya mengajar. Mengajar bahasa Jawa. Saya membawa satu buah buku dongeng. Bergambar anak kecil dengan empat burung berwarna-warni di sekelilingnya. Saya memulai dengan menyodorkan buku itu kepada warga belajar Paket yang datang. Awalnya, mereka menganggap saya aneh. Sebab, saya datang membawa buku dongeng lalu kemudian saya mengajar mereka untuk mendengarkan dongeng saya. Kemudian, aneh yang kedua mereka masih menganggap bahwa dongeng hanya diperuntukkan untuk anak-anak, sedangkan mereka adalah ibu, nenek, mas, dan mba yang tak lain sudah melewati fase dewasa semua. Saat itu, saya sadar mereka menganggap saya aneh. Karena itulah, saya mencari cara agar mereka dapat masuk ke dalam dunia saya. Dengan berbagai pertanyaan yang memancing mereka, akhirnya saya berhasil membuat perhatian mereka kepada saya. Saat itulah saya memulai mendongeng saya. Dengan tidak mempedulikan redaksi, saya mulai mendongeng. Ya, satu, dua, tiga akhirnya saya berhasil memikat perhatian mereka dengan tingkah laku dan bahasa yang saya gunakan ketika bercerita. Sampai pada di tengah cerita, dan saya menunjuk gambar yang ada di salah satu jalan buku, tiba-tiba."Anak itu kebingungan. Mencari burungYang keluar sarang..." Tedengar Suara salah satu murid warga belajar Paket. Hal yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Ada warga belajar yang sangat memperhatikan segala sesuatu yang saya berikan. SAAT ITULAH SAYA SADAR BAHWA BERHASILNYA PENGETAHUAN YANG DIBERIKAN KEPADA SISWA ADALAH KETIKA SISWA SECARA TIDAK SADAR MENANGKAP SEMUA PENGETAHUAN YANG TELAH DIDENGAR DARI SEORANG GURU. Lekas, saya pun memberikan apresiasi saya kepada warga belajar yang tak.lain adalah Bu Urip. Warga belajar paling berumur di paket B Wadas Kelir. Saya meminta Bu Urip untuk maju, dan melanjutkan bercerita. Awalnya Ibu Urip menolak, namun semua warga belajar menyemangati untuk maju. Akhirnya Bu Urip mau maju. Dan kemudian mendongeng untuk semua warga belajar dan juga saya. Dengan logat bahasanya, ia langsung bercerita tanpa malu-malu hingga tanpa sadar membuat semua tertawa mendengar cerita yang dikarang oleh Bu Urip sampai selesai. Semua warga belajar pun memberikan tepuk tangan dengan penuh meriah. Pembelajaran pun berakhir. Sebelum saya keluar, tiba-tiba Bu Urip berkata pada saya,"Hahaha.. saya menjadi anak-anak. Pas lagi di depan ya, Bu."Saya tersenyum. "Keren sekali, Bu tadi dlceritanya. Ya tidak apa-apa menjadi seperti anak-anak itu menyenangkan kan Bu?""Iya. Nggawe nguyu (bikin tertawa)." Umi K. [Relawan di TBM Wadas Keli-Purwokerto]


Dari Gerobak Baca Hingga Rumah Ilmu

Pernahkah mendengar suara mangkuk yang sengaja dibunyikan oleh tukang bakso? Ya. Pasti diantara kita, sering sekali menemui penjual yang tiap hari berkeliling kompleks membawa gerobak sambil berteriak Bakso! Bakso! Sebagai pertanda bahwa ada penjual bakso yang sedang keliling berharap orang-orang keluar rumah dan membeli bakso yang dijualnya. Seketika itu, orang-orang datang. Membeli beberapa mangkuk bakso. Kemudian dimakannya dengan sangat lahap. Alhasil perut mereka kenyang dan rasa lapar pun menghilang. Ini soal tukang bakso yang keliling kompleks rumah, menjualkan dagangannya kepada masyarakat. Dari apa yang dijualnya, masyarakat menjadi bahagia. Masyarakat menjadi suka. Dan yang jelas masyarakat menjadi kenyang. Itu berkat bakso yang dijual dengan gerobak. Sungguh memberikan manfaat banyak bagi masyarakat. Lalu, bagaimana jika yang dijualkan gerobak bukanlah bakso? Apakah akan seramai ketika yang berjualan adalah gerobak penjual bakso? Baiklah. Sbelumnya izinkan Saya memberikan satu pertanyaan. Pernahkah kalian melihat gerobak yang dipajang di tengah-tengah pemukiman warga. Dan menjajarkan BARANG DAGANGANNYA. Jajanan yang tidak akan pernah habis selama hidup? Jajanan yang selalu membuat kita lapar, sehingga ingin lagi dan lagi untuk memakan jajanan itu? Jajanan yang dapat buat kita merasakan semua emosi yang dimiliki manusia. Seduh, senang, marah, dan lain sebagainya Seba karena memakan jajan yang dijajarkan? Satu pertanyaan yang mungkin jika saya tanyakan kepada kebanyakan orang, akan saya temui jawaban yang sama, yaitu BELUM. Ya. Baiklah kali ini saya akan bercerita tentang gerobak jajanan yang kami miliki. Gerobak jajanan yang buka hanya sekadar gerobak jajanan biasa. Mengapa? Karena yang kami jajarkan bukanlah makanan. Bukan lah bakso. Bukan juga es krim. Atau pun gulali. Yang membuat banyak anak-anak berbondong-bondong mendatangi kemudian membeli jajan kami. Ini lebih dari sekadar itu. Gerobak kami berisi JAJANAN BUKU. Jajanan yang kami jual tidak berbayar. Semuanya gratis. Bahkan akan selalu kami berikan hadiah bagi siapa saja yang memang benar-benar ingin membeli jajan kami. Bukankah ini tak kalah enak rasanya dengan gerobak bakso yang setiap kali berkeliling jualan di kompleks rumah? Inilah yang kami perjualkan. Tanpa perlu dibayar. Buku-buku kami jejer memenuhi gerobak baca. Setiap hari, dari pagi sampai menjelang petang. Bahkan sampai malam. Buku-buku terpajang di gerobak baca. Yang tak jarang menjadi sebuah pemandangan yang sangat berantakan. Sebab, berpuluh-puluh pasang tangan mengambil buku lalu kemudian membacanya. Anak-anak, remaja, ibu-ibu bahkan sampai nenek-nenek silih berganti datang menuju gerobak baca dan membaca. Betapa pemandangan yang membahagiakan. Melihat mereka datang dengan sangat bahagia, mencicipi jajanan yang kami jual disini. Sebuah jajanan yang tidak akan pernah habis dimakan. Selalu membuat lapar di perut. Selalu membuat ingin datang lagi dan lagi. Hingga tanpa sadar, jajanan itu membuat mereka kecanduan. Kecanduan untuk datang mencicipi enaknya sensasinya jajan ini. Buku. Kami tak pernah menyangka, gerobak baca yang kami miliki menjadi salah satu alat mempererat kami dan masyarakat, kami dan buku, dan buku dengan masyarakat. Setiap hari selalu saja anak yang datang berkunjung. Menghampiri gerobak baca, memilih buku, kemudian duduk dan membaca. Setiap hari selalu seperti ini. Suatu pemandangan yang sangat menyejukkan mata dan hanya ada di sini. Di Wadas Kelir, Purwokerto. Gerobak baca yang telah mengubah pikiran kami bahwa buku adalah jajanan yang wajib kami cicipi setiap hari. Karena dengan buku, dengan membaca buku, perut kami menjadi semakin lapar. Lapar mendapatkan ilmu dari apa yang kami baca. Apa yang ada di buku. Bagi kami buku adalah rumah kami mencari ilmu.[]


Keajaiban Membaca: Membaca Buku, Membaca Emosi (3)

Setiap harinya, anak-anak duduk membaca. Mengelilingi meja panjang berukuran tiga meter yang sengaja memang di pajang di dekat gerobag baca. Setiap harinya, ibu-ibu berjalan menggendong anaknya. Kemudian, mengajak anaknya mendekati Gerobag Baca. Lalu, memperlihatkan buku-buku yang terpajang di gerobag baca pada anaknya. Dan anaknya mengambil salah satu di antara pilihan-pilihan buku yang ada di Gerobag Baca. Buku itu di bawa lari. Menuju kelas. Kemudian anak itu mencari posisi paling nyaman. Dan anak-anak membaca. Tak mau kalah dengan anaknya. Setelah mengajak anaknya memilih buku sendiri, ibunya pun demikian. Berdiri kemudian jalan mengitari Gerobag Baca. Dipandangnya setiap judul buku yang ada digerobak baca. Dia ambillah satu. Kemudian di baca. Setiap harinya, Kakak-kakak Relawan Pustaka Wadas Kelir duduk manis. Di samping, di depan dan di tanggannya mereka bawa satu buah buku. Buku itu mereka baca. Penuh dengan beragam ekspresi. Sering saya lihat mereka tertawa. Ya, saat itu saya tahu meski saya belum membacanya, pasti yang dibaca adalah buku yang lucu. Sehingga mereka pun tertawa. Sering juga saya lihat, mata mereka berkaca-kaca karena terharu. Dan data itu saya tahu buku yang dibaca pasti buku ang melow. Buku yang kaya dengan emosi. Sehinngg mereka pun terbawa perasaan. Tak kalah sering, Saya melihat dahi mereka berkerut. Seperti baju kusam yang belum disetrika. Saat itu saya tahu mereka sedang membaca buku yang membutuhkan konsentrasi teramat. Saat itulah, tiba-tiba ada aroma yang berbeda. Aroma yang sangat khas. Aroma para pembaca. Aroma pembaca yang membaca emosi. Emosi yang ada dalam setiap buku yang dibaca. Inilah keajaiban selanjutnya. Keajaiban yang saya temukan. Ketika saya duduk memandang mereka yang duduk dan membaca. Di depan Gerobag Baca Wadas Kelir.


Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…