LOADING

Type to search

Lima Ciri Anak yang Miliki Kecerdasan Emosional Tinggi

DELAPAN (8) BULIR REKOMENDASI LITERASI 2018

Redaksi 1 bulan ago

SEKOLAH LITERASI: Bermain Pola Huruf dalam Kata

Redaksi 1 bulan ago

Putih Abu-abu

Tulisan ini ada untuk aku dan mereka yang akan menjalani perpisahan dengan seragam putih abu-abunya. Ada tawa lepas yang tercipta dari dalam ruang kelas tanpa guru. Entah sambil bermain kartu, curhat tentang mantan/gebetan, sambil membicarakan teman baru jadian hingga masa depan, ada yang tertidur pulas di bangku paling belakang, ada yang masih sibuk dengan mengerjakan tugas, dan bahkan satu dua orang yang masih sibuk membahas soal kemarin siang. Ada jam pelajaran yang dipakai untuk pergi Ke kantin bahkan tidur di barisan paling belakang sambil menggelar tikar. Izin ke toilet sebentar, kenyataannya kembali ke kelas saat pergantian jam atau bahkan sampai pulang. Ada rindu yang bergelora tiap kali mengingat upacara hari senin, dimana banyak teman yang berlarian untuk bersembunyi di kelas karena atribut yang tidak lengkap, hingga tertangkap basah dan harus berjemur hingga jam makan siang. Ada cinta masa muda yang diantara remaja, baik dengan adik kelas, kakak kelas bahkan teman sekelas. Atau bahkan tak sedikit yang menjahili guru-guru muda. Ada bangku-bangku kosong yang setiap saatnya menunggu untuk ditempati seakan berkata "jangan tinggalkan kami". Ada air mata yang tumpah saat satu Persatu teman seperjuangan pergi. Semata berpisah untuk saling menggapai mimpi. Sekuat apapun tangan menggenggam, langkah akan selalu mengajak berjalan kedepan. Yang pada akhirnya, jari jemari yang saling terkait mau tak mau harus di lepaskan. Ingat! Ketika menjadi dewasa terasa sulit. ketika setiap langkah yang diiringi dengan lara yang membara menjadi saksi bisu perjalanan yang di penuhi dengan keyakinan, walau semesta dan seisinya di masa depan masih tetap menjadi misteri, percayalah! Cangkir antik nan indah yang berharga ratusan juta rupiah awalnya hanya seonggok tanah liat tak berupa. Disodok, ditinju, dibakar di perapian, di dingin kan kembali, lalu di bakar kembali hingga ia di Poles sedemikian menarik sampai menjadi barang berharga. Ketahuilah.. Kita pun demikian dan aku percaya, semua hal telah terencana dengan begitu sempurna pada waktunya. Teruntuk aku dan teman-teman ku yang akan segera meninggalkan keriangan masa SMA, yang akan berkuliah, bekerja hingga memutuskan untuk langsung menikah, berbahagialah. Semoga pilihan mu itu akan menuntunmu pada cita-cita yang selama ini kau impikan. "Coming together is a beginning, keping together is progress, working together is success." -Henry Ford


Aku Memilih Kuliah

Meski kulia bukan satu-satunya jalan melanjutkan kehidupan setelah SMA, aku tetap memilih untuk kuliah. Meski ada "kamu" yang menantikan ku selepaa wisuda, aku tetap memilih kuliah.. Aku memilih kuliah karena aku ingin bekerja dan mendapat uang dengan cara yang ku mau. Tunggu, apakah kuliah menjamin uang dan pekerjaan? Sebenarnya tidak, namun ada titik dimana kita harus berkuliah untuk bisa naik ke level selanjutnya dan pekerjaan kita. Yang kuliah jamin adalah pilihan, kemampuan dan pengetahuan yang lebih dari pada hanya sekedar lulus SMA. Karena semakin banyak ilmu yang kita punya, maka semakin bebas kita memilih untuk menjadi apa kita nanti. Aku memilih kuliah dari pada langsung menikah setelah lulus SMA, meski aku tau bahwa setelah menikah mungkin saja aku masih bisa berkuliah. Tapi aku juga tau bahwa setelah nikah nanti semua urusan rumah tangga akan mengalihkan niatku kesana. Lagipula aku ingin memberi kesempatan kepada diri ku dan juga pasanganku nanti untuk terus mencari ilmu seluas-luasnya untuk kemudian kami bertemu dan menceritakan semuanya disela-sela meributkan isi rumah tangga hehe.... kemudian kami akan mempraktikan ilmu yang kami punya supaya bermanfaat bagi orang-orang ditempat kami kelak. Tentunya hidup kami akan lebih berwarna bukan? Aku memilih kuliah meskipun aku seoranng perempuan yang katanya akan berlabuh di dapur saja. Hai kamu kaum sanguinis. Catat ini; meski kelak aku berkerja di dapur dan hanya sekedar sebagai ibu rumah tangga, setidaknya aku tidak perlu mengeluarkan biaya berpuluh puluh juta hanya demi memasukan anak-anakku kursus menjelang ujian nasional. Aku akan menjadi dosen di keluargaku sendiri dan ilmu ku takan sia-sia. Sederhananya aku memilih kuliah karena aku ingin bercerita ketika orang tuaku penasaran, aku mampu mencari tau. Ketika anak-anakku banyak bertanya, aku suka untuk menjawabnya. Ketika aku diskusi, aku tidak diam saja karena aku tau sakitnya ketidaktahuan. Jika sekali lagi aku melihat keluar jendela, sepertinya memang aku wajib berkuliah untuk meninggi setinggi-tingginya. Bukan untuk menyombongkan diri, tapi untuk melindungi karena hari ini sudah lupa pada bumi. Pada akhirnya semua akan tiba pada alasan sesungguhnya; aku memilih untuk kuliah karena tuhanku menyuruhku. Tuhan ingin meninggikan derajat orang-orang yang menuntut ilmu. Lalu apalagi alasanku untuk takut dan tidak melanjutkan perjuangan? Raihlah mimpi dari tidur didalam bangunmu. Jadikan ia nyata dalam mata dan hatimu. Karena mimpimu akan lahir dimana saja tanpa kau minta. Jadikan tidurmu dalam tempat lain melahirkan mimpi-mimpi baru untuk kelak kau bawa pulang. Karena sejatinya kau selalu tau ilmu adalah kekuatan dan kerinduan yang pasti mengantarkanmu pulang kembali. Jangan pernah takut untuk pergi karena mimpimu berhak untuk diperhatikan layaknya kau menghampiri kebahagiaan yang entah datangnya dari mana. Pergilah... maka kau akan tau jawabannya.[]


Indonesia Cerdas

Pendidikan di Indonesia menurutku kualitasnya belum merata. Soalnya ketimpangan kualitas di desa dan kota masih jauh. Bukankah mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik? Anak-anak nusantara tidak berbeda, mereka hanya di bedakan oleh keadaan. Sebenarnya kan konsep dari pendidikan itu untuk “memanusiakan manusia” bisa diartikan manusia terhadap diri sendiri ataupun sistem alam yang ditumpangi. Dan kita sebagai bangsa yang bijak, sudah seharusnya mengetahui scope untuk bangsa sekarang apa, dan bangsa d masa depan apa. Tetapi realitanya tidak sedikit dari bangsa yang menilai pendidikan itu hanya sebagai wadah formalitas untuk dapat menyambung hidup yang lebih baik. Jadi essence dari nation builders nya sudah jelas beda persepsi. Sebagai contoh, tidak sedikit dari bangsa kita yang lebih bangga ketika expose terhadap dunia negara luar dibandingkan negara sendiri. Jiwa patriotisme dan kesadaran nasionalisme itu lambat laun luntur diakibatkan arus jaman dan pengaruh budaya luar. Ini dalam tolak ukur yang jelas dalam menimbang kemajuan akan dunia pendidikan dan teknologi di karena kan masa depan akan di bangun oleh bangsa sekarang. Kebayang kalau setiap bangsa memiliki raga merah putih tapi jiwa warna lain.Sehingga, akan buruk jika sudah tidak ada yang peduli. Lalu siapa yang akan membangun generasi muda? Dan apa kualifikasinya. Yang terlihat sekarang bahwa setiap orang tua berlomba-lomba membawa anaknya untuk pergi luar kota bahkan luar negara demi mengenyam pendidikan yang berkualitas.Urban sosial ini tidak hanya terjadi di dunia pekerjaan saja tapi terjadi juga di dunia pendidikan. Jadi menilai dari bagaimana pendidikan indosia saat ini, banyak kendala pendidikan di karena kan faktor keterbatasan. keterbatasan diantaranya, guru masih terbatas dr segi kualiti dan kuantitas, masih memiliki konsep sentralisasi sehingga banyak warga daerah berlomba2 pergi ke kota untuk dapat pendidikan yg lebih layak(penyebab pemerataan standar kualitas yg tidak sama). Berkaca pada kendala tersebut, menjadi sangat penting bagi warga negara untuk membangkitkan kembali nyawa “nation builders” ketika pada jam. Cara membangkitkan nya itu dengan menyusun strategi agar bangsa ini bisa dan mampu bertarung secara global dikarenakan kualitas SDM yg baik. Strategi itu berupa penerimaan calon tenaga pendidik yg sudah seharusnya disandarkan kepada nilai2 akhlak sebagai tenaga pendidik, bukan di karena kan karena calon tenaga pendidik itu tidak memiliki tujuan hidup. Selain daripada itu, kualitas antara sekolah harus disamakan, baik itu nominal biaya masuk, total tenaga pendidik, total siswa siswi ataupun fasilitas. Sehingga tidak ada tumpang tindih dari pihak masyarakat umum untuk berlomba2 pergi ke satu tujuan hanya dikarenakan prestise ataupun pride, standarisasi itu perlu diterapkan untuk mencapai kualitas yg baik secara sarana ataupun prasarana. Itu jika dibicarakan secara operasional. Tapi jika bicarakan soal sistematik, terkadang sistematik titip menitip dan jalur belakang untuk jadi tenaga pendidik ini membuat mereka (para pendidik berkualitas) harus adu nyali secara tidak sehat. Jadi ini harus di clear kan secara bersih dan transparan, sehingga generasi selanjutnya bisa merasakan value dari pendidikan yg berkualitas daripada tenaga pendidiknya. Menggiring siswa siswi kreatif dan berfikir kritis itu harus didukung oleh tenaga pendidik yg bagus. Karena pola berfikir anak usia sebelum perkuliahan itu masih belum terdevelop. semua itu berawal dr human resources, guru itu peran terpenting banget untuk pembangunan pendidikan kita. Cara guru memperlakukan anak2 nya adalah buah hasil anaknya dimasa depan. Karena waktu yg anak habiskan itu lebih banyak di sekolah. Sehingga interaksi terhadap tenaga pendidik itu harus terukur. Orang tuanya terlalu memaksa kepada anaknya agar bisa seperti diac guru di sekolah nya pun harus memberi nilai bagus terus, apa jadinya sama anak anak seusia balita hingga remaja Tidak punya kehidupan. Orang tua pengen yg terbaik dari anaknya. ngasih segala mata pelajaran, les sana sini setelah sekolah sampe malem dan itu dilakukan tiap hari hingga ada satu kasus yang membuat anak itu stress. Jika sudah begitu Berarti kan pembentukan pola aja udah salah, siapa yg salah? Generasi sekarang, termasuk orang tuanya salah satu contoh generasi sekarang, anaknya generasi masa depan. Sehingga banyak orang pintar yg gagal dalam meraih mimpi, karena bukan mimpi yg digenggam tapi ego yg genggam. menurut ku itu gak efektif. Ruang gerak itu bukan seperti itu. Ruang gerak bisa dikatakan gerak jika ada stimulus alami atau dorongan dari tekad seseorang untuk melakukan sesuatu karena dia anggap itu adalah sebuah kebutuhan atau kesukaaan. Sangat terlihat jelas booming nya generasi sekarang. Heboh gembar gembor meluapkan mimpi karena ego sehingga menunggu apresiasi dr masyarakat. Beda yg memang meluapkan mimpi karena mimpinya, mereka rela jauh lelah berdedikasi tanpa pamrih dikenal atau diapresiasi masyarakat. karena ingin dianggap baik, maka contek2an biar jd ranking terus. Moral kaya gitu harus diarahkan oleh tenaga pendidik yg cerdas dalam menilai dan menindak lanjuti anak didiknya. Jd emang kuncinya itu tenaga pendidik Norwegia, finlandia bisa sukses karena tenaga pendidiknya. Diluar dari batasan regulasi pemerintah itu sendiri. Terlebih kurikulum SMA yang menurutku nggak memadai. penjurusan yang malah tidak memberi ruang anak2 untuk belajar ilmu pengetahuan, dan malah mengotak2an anak2 untuk memilih jalur rumpun ilmu. padahal anak2 SMA belum tahu banyak hal tentang bernagai macam hal yang ada sebagai jurusan bahkan kelompok profesi dan keahlian. masih memberatkan kepada akademik saja, tapi sifatnya menghafal dan menambah informasi. sedangkan kurang melatih pola berpikir kritis. Itu masalah yang makro banget. which is cuma bisa diselesaikan dengan pengadaan infrastruktur, peningkatan kualitas guru, dan penyusunan kurikulum yang terevaluasi dan matang. ini bisa di lakukan di tingkat pemerintah, karna sifatnya kebijakan. kalau misalnya dari sisi kita sebagai siswa menyikapi permasalahan yang ada sekarang. yang bisa kita lakukan adalah:1. menjadi siswa yang pro-aktif. dalam arti jangan menyia2kan kesempatan belajar. gunakan berbagai sumber yang ada mulai dari internet, buku, guru dan lain2nya untuk belajar berbagai hal2 lainnya2. buat berbagai kegiatan di sekolah bersama dengan teman2. baik berbentuk kelompoj belajar, atau kegiatan2 positif lainnya menanam, berkesenian dan lain2nya. ini berguna untuk menyeimbangkan kemampuan akademik dengan non akademik. agar kita sebagai pemuda bisa punya pemahaman yang baiksolusi lain untuk menghidupkan satu sekolah adalah warga/orang tua murid, guru2, dan siswa bergotong royong mewujudkan sekolah yang layak. baik dr infrastruktur, kegiatan kurikulum. Dan yang terpenting adalah semua anak kudu wajib harus menjadi manusia yang terdidik, salah satunya dengan bersekolah Jadilah generasi yang terdidik dengan baik agar kelak menjadi orang cerdik namun tidak licik. Perubahan di mulai dari diri sendiri


Perempuan Indonesia Menghadapi Zaman

Perempuan adalah mahluk ciptaan tuhan yang sempurna.. Sempurna karena ia diciptakan dari tanah namun memiliki hati sekuat baja. Ketangguhan, kekuatan, keberanian, kecantikan dan kelembutan yang dimiliki oleh setiap perempuan adalah unsur potensi yang harus selalu di pegang teguh. Namun di jaman skrng masih saja orang-orang mempermasalahkan kesetaraan gender. Kesetaraan gender adalah kondisi dimana laki-laki dan perempuan memperoleh kesempatan serta hak-haknya yang sama sebagai manusia. Kesetaraan gender jga merupakan bentuk dari perlakuan yang setara dan tidak mendiskriminasi berdasarkan identitas gender mereka.Perempuan berhak untuk hidup secara terhormat, bebas dari rasa takut dan bebas menentukan pilihan hidup. Karena pada hakikatnya perempuan mempunyai hak yang sama dalam pengembangan potensi yang mereka miliki. Memang pastinya berbeda-beda , tergantung dari peran, status dan fungsinya, tapi dengan menyeimbangkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, perempuan akan lebih berani dan bebas berekspresi. Tetapi, perempuan harus tetap berada pada kodrat yang telah di tentukan untuknya. Hubungannya, emansipasi merupakan tindak lanjut dari kesetaraan gender dalam bentuk tindakan nyata seorang perempuan dalam kehidupannya. Gaya hidup perempuan dan laki-laki di jaman now ini sudah cukup setara menurutku. Walaupun sedikit berbeda. Buktinya seorang perempuan dalam hal kepemimpinan saat ini sangat dibutuhkan. Terutama dalam segi pemikiran dari kreasi untuk berkembang dalam mewujudkan suatu tujuan. Peran wanita saat ini bukan hanya sebagai proses pembangunan, tetapi juga sebagai pondasi yang berstruktur kuat. Dan menurutku sebagai seorang perempuan kita tidak boleh berhenti mengembangkan diri kita hanya karena perempuan itu sudah menikah. Justru ketika nanti perempuan itu sudah menjadi seorang ibu , maka perlu membuka wawasannya agar lebih luas dan dapat menjaga, mendidik anaknya dengan baik. Adapun masa lalu mu, jangan sampai menciutkan mu dalam menghadapi masa depan. Bagaimanapun kelamnya masa lalu, jangan sampai menghancurkan kemilau emas masa depan. Tatalah masa depanmu, belajarlah, buatlah dendam akan masa silam bahwa Kau akan sukses di masa depan.I strongly believe kalau yang namanya setara itu harusnya menjadi kesadaran kita sebagai mahluk sosial. Menghormati satu sama lain itu sama pentingnya dengan menghormati diri sendiri. Everyone has their own battle, jadi mari mulai dari diri sndiri, untuk tidak meminta untuk bertoleransi tapi juga menoleransi orang lain. Perubahan di mulai dari diri sendiri.


Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…