, ,

Humor Masa Kini Vs Humor Masa Gitu = Masa (k) Bodoh?!


Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
dibaca normal: 7 menit

PUNCHLINE. Ketika saya menyebut istilah ini, seorang komika (stand up comedian) muda dengan gagahnya langsung “nyamber”, “Wah, Kang Maman kenal istilah stand up juga.” Saya tersenyum saja.

Dia pun makin semangat menjelaskan, kalau “demam” atau “gelombang dahsyat” stand up comedy di negeri ini selepas 2010-an telah merasuk ke jantung sukma banyak orang, tak terkecuali “orangtua” seperti saya, generasi yang hidup di alam Panggung Srimulat, Jayakarta Group, Bagyo CS, Bagito, bahkan jauh sebelumnya, Kwartet Jaya (Bing Slamet, Ateng, Iskak, Eddy Sud), dan kelompok lawak tradisional Pak Item (Tan Ceng Bok) yang mengisi masa remajaku lewat penampilannya di TVRI yang “Menjalin Persatuan dan Kesatuan”, di samping tentunya, Ria Jenaka (1982 – 1988).

Saya kembali tersenyum, dan ia pun makin semangat menjelaskan tentang “genre” stand up comedy yang disebutnya sebagai genre baru komedi di negeri ini. Dengan penuh semangat ia sebutkan istilah-istilah dalam stand up comedy, yang semuanya bernuansa Barat.

Saya makin tersenyum, ketika dia makin bersemangat, menjelaskan dengan berapi-api. Ingin rasanya menyetop penjelasannya yang membara-bara itu, tapi saya tak ingin mengecewakannya, jadi saya biarkan saja. Sampai akhirnya ia kecapekan sendiri, dan menutup penjelasannya sambil menenggak es teh manis yang ada di hadapan kami. Tuntas segelas besar.

Saya berterimakasih padanya, karena telah mendapat ilmu darinya. Saya jadi makin tahu apa yang dia maksud dengan set up, set up punchline, act out, bit, perbedaan open mic dan stand up nite, premis yang mengawali punchline, blue material, rifing, ripping , hackler, hackling, delivery, mic-ing, persona, old bits, routine, segue, hammocking, joke prospector, joke map, joke mine, dst, dst.

Sejumlah istilah asing itu, jujur saja, baru saya dengar belakangan, tapi bukan baru saya dengar darinya. Sudah berulang saya dengar ketika ikut-ikutan diminta jadi “mentor” para finalis Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) di KompasTV 1 hingga 4, khususnya untuk memberi masukan tentang apa yang boleh dan tidak boleh diucapkan dan ditampilkan di layar kaca kita, sesuai dengan aturan P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran) yang menjadi pegangan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Meski “gatal” untuk ikut membantu memberi “bobot” pada kelucuan mereka, saya menahan diri untuk tetap bertahan pada tugas utama: memaparkan rambu-rambu yang bernama P3SPS. Toh, ada mentor lain yang bertugas dalam persoalan delivery, act out, hackling, dst, dst.

Hari ini, saya ingin jujur mengakui, bahwa senyuman saya saat mendengarkan penjelasannya itu adalah paduan “kekaguman” dan
“ketidakkaguman” sekaligus. Kagum, karena komika saat ini, tahu persis istilah-istilah yang ada “di dunia profesinya” — dengan keyakinan, mereka memilih dunia komedi dan komika memang sebagai dunia kerja dan profesinya, bukan semata untuk menjadi “amatiran”.

Sementara, cukup banyak sahabat saya, seniman komedi senior, mungkin tidak mengenal istilah-istilah yang ada dalam (dunia) profesinya, meski mereka melakoninya setiap manggung. Bagi mereka, sederhana saja, menjalankan tugas utama: menghibur, membuat penonton tertawa, syukur-syukur terpingkal-pingkal, selesai! Bahwa kemudian ada yang tak cuma terpingkal-pingkal, tapi dapat “pencerahan” atau lebih kerennya “enrichment” dan “enlightenment“, alhamdulillah, itu bonus.

Meski saya juga tahu, tak sedikit seniman komedi “pra stand up comedy” yang “membebani” dirinya dengan tugas tak sekadar menghibur. Mereka berpikir panjang, membaca dan menggali permasalahan-permasalahan yang aktual dan ada di sekitarnya, mencari jurus untuk “memutarbalikkan logikanya”, sehingga menimbulkan efek lucu, menghibur, dan mencerahkan. Tak satu-dua kelompok komedi yang menugaskan “tim pencari fakta” untuk turun ke lapangan terlebih dahulu sebelum tampil menghibur. Entah itu mencari istilah-istilah khas daerah setempat, atau hal-hal yang menjadi pembicaraan di daerah tersebut, sebelum kelompok lawak tersebut tampil di daerah tersebut. Termasuk, jika diundang menghibur di sebuah perusahaan/korporasi.

“Jokes lokal” (termasuk data dan fakta tentang orang, sosok ternama di lokasi pertunjukan) harus dieksplorasi sedemikian hingga, karena proksimitas/kedekatan sekaligus kebaruan — sebagaimana di dunia jurnalistik” adalah salah satu kunci sebuah kelucuan/berita diterima dengan baik oleh “target audience”nya.

Sementara itu, “ketidakkaguman” saya, dilandasi oleh asumsi, “anak ini kurang iqra. Kurang baca.” Punchline, bukan istilah baru dan hanya dikenal di dunia stand up comedy, kalau saja ia mau sedikit barletih-lelah membaca. Buka saja, misalnya, buku tulisan Herry Gendut Janarto yang diterbitkan PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) tahun 1995, berjudul “BAGITO Trio Pengusaha Tawa”.

Istilah “punchline” sudah disebutkan, dan menjadi tujuan utama semua grup lawak/komedi. Setelah melempar premis atau set up — yang keduanya samar bedanya– ya, ujungnya punchline. Tek…. tek… Gerrr, begitu istilah yang kerap saya dengar saat “pendadaran” jelang manggung anggota-anggota Srimulat di Panggung Srimulat, Parkir Timur Senayan, di era 1980-1990-an.

Arswendo Atmowiloto, seorang novelis, pemerhati pertelevisian dan juga budayawan yang humoris, misalnya, di dalam buku itu menulis di halaman 223: “… “Formula” Bagito berada dalam tradisi lawak modern yang memiliki bentuknya pada Warkop Prambors atau kemudian Warkop DKI. Cerdas, bernas dalam DIALOG atau MONOLOG, nyindir sana-sini tak kentara, kaya dengan permainan kata, dan terutama tahu di mana menempatkan PUNCHLINE, atau JOTOSAN yang mengundang tawa. Kelebihannya, Bagito bisa pula memainkan peran masyarakat bawah. Kehidupan hansip, tukang ronda malam, tukang sayur, pengamen, ibu-ibu sehari-hari, semuanya bisa diramu dengan jitu. Ada lucu, juga haru — kadang pilu.”

Kalimat terakhir sejalan dengan apa yang kerap diungkapkan Jaya Suprana.
Kira-kira seperti ini kalimatnya, “Satu di antara sekian banyak kekeliruan terhadap humor adalah anggapan bahwa humor harus selalu lucu, jenaka. Padahal tingkat humor yang paling tinggi itu justru tidak lucu lagi, tidak jenaka lagi, tetapi justru mengharukan, menyakitkan dan menyedihkan. Dalam arti menyadarkan.

Cogitu humor sum, saya berpikir maka humor ada. Hanya pada mereka yang memiliki kepekaan nurani adil dan beradab yg mampu menyadari humor dalam adil dan beradab ada dalam ketidakadilan dan ketidakberadaban.

Dalam bahasa H Sujiwo Tejo, si dalang mbeling, “Barangkali, kelebihan yang bisa diberikan pelawak adalah kritik yang menimbulkan tawa tetapi membekaskan getir.”

Kalau mau mundur ke belakang lagi dalam sejarah komedi Indonesia, maka istilah-istilah yang disebut sang komika muda itu, bisa kita telusuri jejaknya pada tulisan-tulisan Mahbub Junaidi atau pada tulisan dan ulasan tokoh komedi Indonesia, pendiri Lembaga Humor Indonesia, Arwah Setiawan, almarhum. Ia memang tidak secara militan mengulang-ulang menyebut istilah stand up comedy atau komika, tapi ia mengadakan lomba lawak mini kata, lomba musik humor (jejaknya ada pada Iwan Fals, Doel Sumbang, Erwanda yang kemudian mengubah namanya menjadi nama panggung Wanda Chaplin lalu kemudian dikenal sebagai Papa T Bob), atau lomba lawak solo ( yang jejaknya ada pada Atet Zakaria atau Otong Lalo — LaLo itu singkatan dari LAwak soLO alias pelawak tunggal, komika(?) ).

***

Lalu, apa sebenarnya yang ingin saya sampaikan di “makalah ngawur” ini? Tentu, selain ingin mengabadikan dan mengabarkan sesuatu yang bersifat subyektif yang pernah saya alami dan rasakan di dunia komedi Indonesia,  juga sekaligus ada kaitannya dengan acara hari ini. Yakni, peluncuran “The Library of Humor Studies”.

Adalah sebuah komedi sekaligus tragedi telah terjadi di negeri ini.
Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!

Kalau penduduk Indonesia kita bulatkan menjadi 250.000.000, maka yang suka membaca hanya 250.000. Sementara data dari BNN, jumlah penyalahguna narkoba di Indonesia mencapai 5,9 juta dan setiap hari tewas rata-rata 33 orang karena narkoba.

Artinya — komedi atau tragedi — orang Indonesia lebih suka narkoba dan tewas tinimbang membaca buku?

Riset berbeda bertajuk “World’s Most Literate Nations Ranked” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu (http://webcapp.ccsu.edu/?news=1767&data), menyebutkan Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat membaca, diapit Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal — komedi atau tragedi — dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia bahkan berada di atas sejumlah negara Eropa.

Fakta berikutnya, 60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget, atau urutan kelima dunia terbanyak kepemilikan gadget. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.

Ironisnya, tragedi dan komedinya, kendati minat baca buku rendah tapi data wearesocial per Januari 2017 mengungkap orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari. Alhasil, dalam soal kecerewetan di media sosial, orang Indonesia berada di urutan ke 5 dunia. Dan, Jakarta adalah kota paling cerewet di dunia maya di dunia, melebihi Tokyo, London, New York dan Sao Paulo, menyusul di posisi keenam: Bandung. Laporan ini berdasarkan hasil riset Semiocast, sebuah lembaga independen di Paris.

Bayangkan — komedi atau tragedi — paling tidak suka membaca, tapi paling cerewet, apa jadinya?

Tak mengherankan, kalau warga Indonesia menjadi konsumen yang empuk untuk info provokasi, hoax dan fitnah. Begitu dapat informasi di layar gadget langsung like dan share, tanpa verifikasi, tanpa konfirmasi. Padahal informasinya belum tentu benar.

Tak terkecuali pada komedian/komika/pekerja seni humor Indonesia?

Dengan segala permohonan maaf, saya harus mengatakan, iya. Pengalaman di lapangan membuktikan hal itu. Tak semata informasi yang saya sebutkan di awal makalah ini, tentang begitu yakinnya sang komika kalau istilah “punchline” adalah istilah baru seiring dengan maraknya stand up comedy, baik di layar kaca, panggung open mic hingga ke pertunjukan-pertunjukan panggung khusus para komika. Tetapi juga saat menjabarkan rundown/skrip terbuka dalam berbagai acara tv, yang mengangkat masalah aktual dan sedang hangat dibicarakan di negeri ini. Tak sedikit yang kaget, dan dengan polos mengeluarkan kalimat, “Oh, iya, ya? Aduh, maaf, saya nggak ngikuti berita.”

Persoalannya sederhana, pada minat baca. Dan ini, adalah persoalan mendasar bagi seniman komedi masa lampau juga masa kini, di berbagai genre. Apalagi bagi mereka yang berpikir, bikin orang ketawa itu gampang: cukup berperilaku “aneh”!

Padahal, sekali lagi, ingat apa yang diungkapkan H Sujiwo Tejo dan Jaya Suprana:
– “Barangkali, kelebihan yang bisa diberikan pelawak adalah kritik yang menimbulkan tawa tetapi membekaskan getir.”

– “Satu di antara sekian banyak kekeliruan terhadap humor adalah anggapan bahwa humor harus selalu lucu, jenaka. Padahal tingkat humor yang paling tinggi itu justru tidak lucu lagi, tidak jenaka lagi, tetapi justru mengharukan, menyakitkan dan menyedihkan. Dalam arti menyadarkan.”

(Menyadarkan! Bukan melukai apalagi mencelakakan!).

Saya jadi teringat apa yang diungkap budayawan Umar Kayam di buku “Bagito Trio Pengusaha Tawa”. Apa pun “genre” komedinya, mau tradisional atau modern, mau tampil sendiri atau berkelompok, slapstick atau parodi, kuncinya pada WORLD VIEW.

Umar Kayam yang lebih sering tinggal di Yogyakarta sangat menikmati dagelan Jawa, baik lewat panggung dagelan, ketoprak, wayang orang, wayang kulit, dan sebagainya. Ketoprak Mataram, Dagelan Mataram, merasuk ke dalam dirinya. Termasuk “turunannya” seperti ketoprak plesetan, dan dagelan neo-mataram.

Ia temukan persamaan di genre dagelan tradisional, Basiyo yang mendagel dalam Bahasa Jawa dengan Bagito yang asal Jawa Barat bagian barat (Miing dan Didin dari Banten; dan Unang yang lahir di Jakarta tapi bisa njawani). Yakni, “… Namun kendati dagelannya tak selalu  bisa dinikmati di daerah lain, pelawak sekaliber Basiyo sungguh memiliki WORLD VIEW, KEARIFAN DALAM MEMANDANG HIDUP, FILSAFAT YANG LUAS DAN DALAM, JUGA AMAT MATANG. Sementara pelawak-pelawak sekarang terlalu serius melihat diri sendiri, kurang rendah hati, dan kurang bisa menertawakan diri sendiri. Mereka ngoyo, ngotot dan tidak lucu.”

Karenanya, Umar Kayam berharap pada Bagito — dan menurut saya bisa jadi pembelajaran pula untuk grup-grup lawak atau komedian lainnya —  “Saya harapkan Bagito kelak juga punya world view macam Basiyo. Dengan begitu, DAGELANNYA TIDAK CETHEK, DANGKAL ATAU PUN ENTENG TETAPI PENUH KEDALAMAN DAN KEMATANGAN DALAM PENGAMATAN. Dan saya juga ingin di negeri ini muncul setidaknya 5 sampai 10 Bagito. Ini penting karena kebanyakan birokrat sekarang ini miskin sense of humor. Dalam menjalankan roda pemerintahan sehari-hari, mereka terlalu spanning, tegang dan yakyakan, serba tergegas, main tabrak. Mereka butuh humor agar hidup mereka bisa lebih rileks, longgar dan sumeleh, berlapang dada. Tidak sedikit-sedikit marah dan tersinggung.”

Jelas tersirat dan tersurat, Umar Kayam merindukan komedian yang literat! Berwawasan! Banyak baca, jangan seperti orang Indonesia kebanyakan.

Di dunia lawak yang mentabukan pengulangan-pengulangan, komedian — dulu dan sekarang — dari genre apa pun wajib untuk selalau mencari, mengenali — dalam bahasa Arswendo — menggumuli, menggauli dan “menyetubuhi” sekelilingnya, kalau hendak memikiki  WORLD VIEW dan diterima selamanya oleh masyarakatnya. Dan kata kunci untuk itu iqra, iqra, iqra. Bacalah, bacalah, bacalah!

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa enam negara paling literatif di dunia, di mana Indonesia menduduki posisi ke-60  adalah: Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, Swedia, dan Swiss dan AS.

Dan negara paling bahagia di dunia menurut World Happiness Report 2017 yang dikeluarkan PBB adalah: NORWEGIA, DENMARK, ISLANDIA, SWISS, FINLANDIA, yang adalah negara-negara yang warganya paling suka membaca di dunia. SWEDIA, negara nomor 5 paling literatif berada di posisi ke-10 paling bahagia di dunia.

Usul-usil saya: kalau ingin bikin orang lain bahagia, sebaiknya kita dahulu yang bahagia! Meski saya tahu persis, tragedi dan komedi itu kerap tipis batasnya.*

 

Maman Suherman

* Disampaikan pada “Diskusi Humor dan Peluncuran The Library of Humor Studies”, Institut Humor Indonesia KINI (IHIK3) dan ke:KINI, Jakarta, 11 Oktober 2017.

Facebook Comments
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan