,

Jadi Penulis Hebat


Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
dibaca normal: 3 menit

 

Dalam suatu lingkup pembelajaran pendidikan formal maupun nonformal terutama sebagai guru pernahkah kita mencermati suatu kondisi dan keadaan saat anak-anak peserta didik mendapat tugas untuk menulis. Sebagian dari mereka menunjukkan kemalasan atau ketidaksukaannya bahkan kadang kala mereka mengerjakan tugas itu disertai dengan keluhan atau mengernyitkan dahi. Menandakan sedikit sekali di antara anak yang menyenangi kegiatan menulis.

Tragisnya ada beberapa anak yang mengatakan bahwa kegiatan menulis adalah merupakan suatu kegiatan yang sangat membosankan dan tidak menarik sama sekali. Mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah ketidaksukaan anak pada kegiatan menulis merupakan kesalahan anak itu sendiri yang sulit diarahkan ? Tentu sebelumnya kita harus lebih berpikir secara bijaksana.

Di dalam menganalisa sesuatu hal maka kita harus mau dan berusaha untuk memetakan dan mencari sumber kesalahan tersebut, tidak boleh secara pragmatis kita menimpakan sebuah kesalahan itu pada diri anak. Ingat, ketika jari telunjuk kita mengarah pada seorang anak, empat jari yang lain justru mengarah pada diri kita. Jadi, alangkah baiknya bila kita harus berupaya melakukan introspeksi didahulukan sebelum menjatuhkan vonis. Kesulitan anak pada kegiatan menulis tidak sepenuhnya sebagai kesalahan anak. Bisa saja kesalahan itu justru bisa terjadi pada gurunya. Apabila kita mau jujur, kesulitan menulis ini juga terjadi pada guru, yang notabene selama ini sering memberi tugas menulis kepada anak. Kelemahan guru dalam kegiatan tulis-menulis akan tampak ketika guru-guru tadi diminta menunjukkan hasil karya tulisan yang pernah mereka buat selama ini.

Tulisan itu akan memberikan sebuah apresiasi dan pengembangan ide kreatifitas kepada anak tentang bagaimana cara menentukan tema atau judul, menyusun kerangka tulisan, merangkai kalimat agar menjadi paragraf yang baik. Seberapa mereka akan terperangah dan baru menyadari bahwa mereka sendiri hampir tidak pernah membuat tulisan itu, kecuali menulis soal atau memberikan ringkasan materi yang akan diajarkan. Lantas, pantaskah guru mengeluhkan kemampuan siswa dalam kegiatan tulis menulis, dan sementara guru sendiri tak mampu menjadi contoh bagi anak ? Bagaimanapun juga, anak akan berkaca pada gurunya. Mereka akan tertarik untuk menulis bila gurunya mampu menunjukkan betapa hebatnya dan sungguh mengasyikkannya kegiatan tulis menulis tersebut.

Di samping itu, dengan melakukan sendiri kegiatan menulis, guru akan memiliki empati terhadap anak, merasakan kesulitan sebagaimana yang dialami anak. Sebagian besar guru bahasa atau guru lain kita memang seringkali bisa menyampaikan beragam teori, tetapi tidak dapat melakukan atau menerapkan teori yang disampaikan itu. Misalnya, para guru sangat ahli menyampaikan teori tentang menulis deskripsi, eksposisi, argumentasi, menyusun karya ilmiah yang baik, juga bagaimana cara menulis puisi atau cerpen yang bagus dan membuat cernak keren. Namun, yang sering dilupakan adalah guru kurang bahkan tidak mengembangkan keterampilan produktif tersebut secara konsisten dan terus menerus. Bila guru senang menulis, tentu akan memotivasi siswa untuk senang menulis pula. Apalagi tulisan dari ide-ide anak dipublikasikan di media sosial ataupun dikoran sehingga dari mereka akan tahu dan anak meras senang apalagi bisa terkenal melalui tulisannya, bahkan ada honorarium juga sebagai hadiah menjadi penulis.

Mungkinkah seorang guru tidak mempunyai pengalaman-pengalaman yang dapat dituliskan? Jawabannya, tentu saja punya namun untuk menuliskannya yang sulit! Kalau begitu, pernahkah kita menceritakan pengalaman kita kepada orang lain secara lisan? Kalau pernah, barangkali dapat dicoba dengan menceritakan kembali pengalaman yang telah dilisankan itu ke dalam bahasa sendiri.

Semua itu memerlukan proses, bila serius melakukan proses latihan, tentu akan terbentang jalan. Ingat, di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Jadi, sangatlah tidak beralasan bila masih ada guru bahasa atau guru lain yang dalam sejarah keguruannya tidak pernah mampu menghasilkan tulisan, baik karya tulis ilmiah maupun karya sastra seperti puisi, cerpen dan drama dan lain-lain. Namun, bila yang seperti ini tetap bisa percaya diri mengajar di hadapan para anak-anak tanpa merasa punya beban moral atau tanpa punya keinginan untuk mengasah keterampilan menulisnya, sungguh ‘‘luar biasa’’. Akhirnya, mari kita bangkitkan semangat untuk belajar menulis agar kita mampu mengajarkan bagaimana cara menulis itu. Kita adalah Sang Penulis Hebat!!!.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Facebook Comments
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 4

Upvotes: 2

Upvotes percentage: 50.000000%

Downvotes: 2

Downvotes percentage: 50.000000%

Tinggalkan Balasan