Oleh. Trimanto

Pada 27-28 November 2021 telah dilaksanakan acara Kemah Literasi Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) se-Jawa Tengah. Kemah Literasi ini bertempat di Gardu Pandang Cuntel, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Peserta yang menghadiri Kemah Literasi sebanyak 130 peserta dari 81 TBM dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah.

Dari Gardu Pandang Cuntel yang berada di lereng gunung Merbabu sebelah utara, memiliki point of view yang sangat indah dan menarik. Kita bisa melihat desa-desa yang berada di bawah sana. Di kejauhan kita juga bisa melihat megahnya Gunung Andong, Gunung Telomoyo, Gunung Ungaran, dan beberapa bukit lainnya, termasuk Danau Rawapening yang tampak seperti kolam raksasa. Terlebih saat malam hari, kerlap-kerlip lampu semakin menambah indahnya pemandangan lembah bak di alam surgawi.

Acara malam hari dimulai sekitar pukul 19.00 WIB. Diawali dengan laporan ketua panitia, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan: sambutan Camat Getasan, sambutan PW Forum TBM, dan sambutan dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Kemudian ada orasi literasi, ditutup dengan bincang santai tentang TBM.

Puncak acara yaitu pembuatan api unggun dan penampilan dari masing-masing TBM. Ada yang membaca puisi, berpantun ria, gerak dan tari, menyanyi, bermain sulap, teatrikal puisi, dll. Semua peserta tampak bersuka-cita dan menikmati kebersamaan malam itu. Dan alhamdulillah, walau sedang musim hujan, malam itu cuaca hanya sedikit mendung, tapi tidak turun hujan.

Saya sendiri, sebagai perwakilan dari TBM Klungsu Boyolali juga menampilkan tiga buah pantun, yaitu:

Pagi hari menanam kaktus
Tumbuh subur di dekat perigi,
Daripada sibuk menulis status
Lebih baik mengarang cerita fiksi;

Memancing ikan di tepi telaga
Ikan kudapat hati bahagia,
Game online memang menggoda
Membaca buku lebih-lah berharga;

Kereta kuda melaju di tikungan
Hendak bertamasya ke negeri nirwana,
Banyak rintangan banyak halangan
Pejuang TBM tak pernah putus asa.

Pada hari berikutnya ada senam pagi. Selain membuat badan menjadi bugar, juga dapat mengurangi hawa dingin yang begitu menusuk tulang. Setelah itu dilanjutkan dengan acara permainan di luar ruangan. Di akhir acara, peserta dibagi menjadi empat kelompok dengan tugas membuat sebuah sketsa tentang seperti apa sih TBM yang ideal itu. Peserta juga diminta untuk mendiskusikan mengenai visi-misi TBM, program kerja, dan kendala-permasalahan yang dihadapi.

Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah semakin rendahnya minat baca masyarakat. Hal ini disebabkan oleh hadirnya smartphone. Sebagian pengguna gawai beralasan bahwa mereka tak lagi tertarik untuk membaca buku karena sudah membaca secara daring. Padahal, jika mau jujur, mereka tidaklah membaca buku digital, artikel, atau informasi bermanfaat di telepon genggam, tapi lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermedia sosial atau bermain game online. Hal ini amat disayangkan karena sejak dahulu Indonesia sudah termasuk negara yang sangat rendah minat bacanya, kini diperparah lagi dengan hadirnya smartphone.

Akan tetapi, para pengelola TBM tidak pernah berputus asa. Mereka tetap melakukan berbagai kreasi dan inovasi agar masyarakat tetap memiliki minat baca. Mereka harus pandai-pandai menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan zaman. Mereka harus mampu memenuhi kebutuhan dan tuntutan generasi milenial secara baik dan tepat agar TBM tetap eksis dan memberi manfaat.

Begitulah laporan singkat mengenai acara Kemah Literasi Forum TBM se-Jateng. Acara semacam ini cukup bermanfaat sebagai sarana saling berbagi suka-duka dalam mengelola TBM, berbagi informasi, serta saling menyemangati di antara sesama aktivis literasi. Semoga ke depan, acara ini bisa diselenggarakan secara rutin setahun sekali. Rencananya tahun depan Kemah Literasi akan bertempat di Kabupaten Banyumas.

Salam literasi.

*peserta dari TBM Klungsu Boyolali