Oleh. Awir*

Melihat Jassin

Sekilas melihat buku Kontroversi Al-Quran Berwajah Puisi karya H.B Jassin dengan sampul berwarna Hijau dan kuning itu, saya menduga isinya secara keseluruhan adalah sudut pandang Jassin tentang Qur’an. Ternyata saya keliru. Buku terbitan Grafiti atau Pustaka Utama Grafiti, 1995 itu berisi komentar, tanggapan orang-orang penting yang bereaksi terhadap karya Jassin. Buku dengan jumlah halaman 290 itu disusun oleh H.B Jassin, barangkali dalam rangka pendokumentasian. Buku ini berisi sejumlah catatan Artikel surat kabar harian umum/ Majalah yang mengikuti dialektika proses penyusunan Al-Quran Berwajah Puisi.

Sebelumnya H.B Jassin yang ditulis lengkap Dr. (HC) Hans Bague Jassin, S.S., M.A., Ph.D sudah menyusun Al-qur’an Bacaan Mulia yang proses cetaknya sudah naik empat kali. “ide penyusunan Al-Quran Berwajah Puisi ini timbul ketika saya memeriksa kembali Al-qur’an Bacaan Mulia cetakan ketiga untuk merevisi cetakan keempat” Kata Jassin dalam pengantar buku itu.

Terus terang saya penasaran dengan cetakan Al-qur’an Bacaan Mulia. Barangkali dulu, tahun 2000 saya pernah memegangnya di TPQ. Sudah lupa. Dan saya lebih penasaran melihat bentuk cetakan Al-Quran Berwajah Puisi (ABP). Meski dalam buku itu beberapa bentuk cetakan ditampilkan sebagai lampiran.

Tidak hanya berisi opini yang dimuat dalam surat kabar harian umum/majalah , buku ini juga mengkliping beberapa surat baik yang ditulis-kirimkan oleh H.B Jassin kepada orang-orang yang dia anggap penting serta balasan surat-suratnya, bahkan diakhir buku ini ada surat serta lampiran dokumen dari Mahasiswa yang hendak menjadikan karya H.B Jassin sebagai bahan penelitian, cukup menarik.

Saya kenal H.B Jassin sejak duduk di bangku kuliah 2013 silam. Meski terlambat mengenal pak H.B.Jassin, saya bersyukur karena tahu bahwa ada orang seperti Jassin yang tabah dan sabar bekerja untuk sastra, dokumentasi sastra. Kritikus cum paus sastra itu, kata Saut Situmorang dalam rekaman pidatonya di Forum Polemik Kanonisasi Sastra Indonesia Maret 2010 yang digelar di gedung bekas pengadilan kolonial Jl. Perintis kemerdekaan 5 Bandung menyoal Majalah Sastra Horison yang menjadi kanon atau bahkan tokoh Jassin sendiri sebagai kritikus menurutnya karya sastra yang dimuat oleh Horison itu setara dengan memenangkan hadiah nobel sastra. Dia juga mempertegas, Jassin bukan hanya paus sastra tapi Jassin adalah sastra Indonesia itu sendiri. Angker.

H.B Jassin tidak hanya terkenal dikalangan Sastrawan Manikebu, tapi juga terhadap Lekra sangat dibenci. Hal itu terjadi di tahun 1962 ketika konflik di kalangan seniman yang puncaknya gerakan seniman terbagi pada Lembaga Kebudayaan Rakyat dan Manifestasi Kebudayaan. Menurut Jassin dalam pledoinya bahwa “penyempitan daerah pengalaman (seorang sastrawan) seperti hasil-hasil kesusastraan yang berdasarkan pada slogan-slogan politik dan ideologi semata mata, …penyempitan seperti itu mau tak mau akan kering dan kerdil seperti yang kita lihat dimasa Jepang” hal.133- Kontroversi Al-Quran Berwajah Puisi karya H.B Jassin.

Pramudya Ananta Toer, Sastrawan Lekra itu mengakui posisi H.B Jassin dalam dunia sastra dan kesusastraan, Menurutnya apa yang di katakan atau ditulis oleh H.B Jassin akan didengar dan diikuti oleh orang seluruh Indonesia. Posisinya sangat penting. Pram mengatakan itu langsung kepada H.B Jassin saat bertamu ke kediamannya. “bung ini seperti Octopus, gurita besar yang mempunyai ratusan tangan, apa yang bung tulis dan katakan, didengar dan diikuti orang diseluruh Indonesia ini” hal,135.

Hebat, tapi apa yang dikerjakan H.B Jassin sepadan dengan apa yang diterima dirinya. Dia Kritikus Sastra. Bekerja untuk sastra. Tidak ada permusuhan antara H.B Jassin dengan seluruh seniman, sastrawan Lekra bahkan karya karya Pram yang dituduh dan disita oleh negara justru dibela H.B Jassin.

Dibalik kehadiran karya ABP

Meski H.B Jassin seorang paus sastra dia tidak takabbur. Proyek besar ABP ini dikerjakan bersama seorang Kaligrafer kelas kaliber. H.B Jassin serius dalam proyek ini, itu terlihat saat dia memilih kawan dalam menyelesaikan karyanya. Dari sini saya paham Jassin tidak takabbur. Saat semua orang mencemooh dan meragukan Jassin dalam penyusunan ABP karena Jassin bukan seorang santri, tidak menguasai disiplin ilmu bahasa arab dan disiplin ilmu sejenisnya, juga karena Jassin terobsesi dari karya sebelumnya dan dorongan kuat dari perjalanan spritualitasnya pasca istrinya berpulang ke Rahmatullah.

Santri

Ketika membaca buku ini, saya seperti orang awam yang penasaran dengan karya ABP. Tapi komentar orang orang yang dimuat dalam artikel/majalah dan surat surat yang dilayangkan, juga saya penasaran siapa D. Sirojuddin.

Saya tidak tahu persis hal ihwal yang menjadi dasar kenapa Jassin memilih D. Sirojuddin. Disini Jassin mengandalkan seorang santri dalam perihal menulis dan ikut membaca tampilan susunan ABP secara lebih dekat. Dia adalah Didin Sirojuddin A.R seorang pendiri Lembaga Kaligrafi AL-quran (LEMKA) 1985 yang merupakan santri asal Modern Gontor, Ponorogo, Jatim.
D. Sirojudddin adalah kaligrafer yang seniman. Dia menggunakan prinsip W.S Rendra dalam upaya mengembangkan hobi kaligrafinya “bahwa seniman itu diatas angin, karena itu saya lemparkan gagasan saya tentang kaligrafi lewat angin agar menyebar ke seluruh tanah air” katanya pada Hypeabis.id
13 tahun setelah mendirikan LEMKA, dia kemudian membangun pondok pesantren khusus mendalami ilmu kaligrafi dan mendorong lembaga perkumpulan serupa diseluruh tanah air untuk memajukan ilmu kaligrafi. Filososi yang sering dia terapkan “menjadi murid jangan merasa bosan, lalu saat menjadi guru jangan lelah” D. Sirojuddin.

Didin sempat berguru pada KH. M Abdul Razaq Muhili (penulis buku Kaligrafi Buku Profesional) dan HM. Salim Fachry (Kaligrafer lulusan Penulis Alquran Pusaka Indonesia). Dia pernah menjadi Dewan Hakim Seni MTQ Nasional di Padang pada 1983. Juga yang lebih membanggakan pernah menyandang juara 1 peraduan menulis khat se-ASEAN 1987.

1992-1993 Didin memenuhi permintaan HB Jassin dalam proses penyusunan ABP.

Kiai pengasus pondok pesantren LEMKA yang lengkap di tulis Dr. KH. D. Sirojuddin AR, M.Ag sehari hari menulis dan mengajar para santri juga seorang kolumnis aktif di nu.or.id tulisan-tulisanya menyoal kaligrafi dalam segala dialektikanya.

Kejujuran Terhadap Karya

Saya melihat buku ini adalah konfirmasi dan bentuk komunikasi yang paling humanis digambarkan Jassin. Dia mengajak orang berinteraksi dengan proses berkarya dan karya itu sendiri. Berikut daftar komunikasi, afirmasi publik H.B. Jassin kepada mereka yang berkepentingan yang dimuat dalam artikel surat kabar, majalah dan sejumlah surat-surat penting.

Cara Jassin bicara dan tidak hanya sekadar berdialektika pada karyanya, Alqur’an Berwajah Puisi, juga mengerti terhadap manusia yang adalah dunia susastra, mereka yang pro dan kontra terhadap karya dibantah dan dikonfirmasi dengan cara berdialog.

ARTIKEL SURAT KABAR/MAJALAH
1. “Proyek” H.B. Jassin: Al Quran Berbentuk Puisi
2. Alquran Berbentuk Puisi Menjadi Obsesi H.B. Jassin
3. Format Qur’an H.B Jassin Ditolak MUI dan Depag
4. Depag Keberatan Penerbitan Quran Berwajah Puisi
5. Depag Keberatan Penerbitan Al-Quran Berwajah Puisi
6. MUI Minta H.B. Jassin Jelaskan Quran Berwajah Puisi
7. Kasus Bentuk Puitisasi Alquran: H.B. Jassin Akan Jalan Terus Walau Depag dan MUI Melarang
8. D. Sirojuddin A.R., Ahli Kaligrafi Arab: Bentuk Puitisasi Alquran H.B. Jassin tak Menyalahi Kaidah Mushaf Utsmani
9. H.B. Jassin Membaca Al-Quran dengan Pikiran
10. Soal Penulisan “Al Quran Puitis”: H.B. Jassin Siap Diadili Muslim Internasional
11. MUI Kirim Surat pada H.B. Jassin: Jangan Bersikeras Ubah Cara Penulisan Al Quran
12. Ihwal
13. Al Quran dan Wajah Puisi – oleh M. Quraish Shihab
14. H.B. Jassin dan Alquran Berwajah Puisi
15. Kontroversi Alquran Bacaan Mulia dan Alquran Berwajah Puisi oleh Chusnul Huda
16. Perlukah Mewajahpuisikan Al Quran
17. Al-Quran Usman dan Al-Quran H.B. Jassin – oleh D. Sirojuddin A.R.
18. Puitisasi Al Quran H.B. Jassin Dilarang untuk Disebarluaskan
19. Quran Berwajah Puisi
20. Lima, atau Tujuh, Quran
21. Pro-Kontra Alquran Berwajah Puisi H.B. Jassin – oleh Darmawan Sepriyossa
22. Dilarang, Alquran Berwajah Puisi
23. Al Qur’an adalah Kalam Ilahi
24. Salahkah Jassin: Karyanya Alquran Berwajah Puisi? – oleh Prof A. Hasjmy
25. Penggagas Al Qur’an Berwajah Puisi H.B. Jassin: “Saya Menangis Tersedu-Sedu”
26. Al-Qur’an Maha Indah
27. Puisi Quran H.B. Jassin Sudah Rampung 28 Juz: Dapat Bantuan ICMI Rp 25 Juta
28. H.B. Jassin: Masuk Penjara pun Saya Rela
29. Al-Qur’an Berwajah Puisi: Dibenarkan tapi tidak Diakui – oleh D. Sirojuddin A.R.
30. Kontroversi di Sekitar H.B. Jassin
31. Alquran Berwajah Puisi H.B. Jassin – oleh J.A. Dungga
SURAT-SURAT
1. Surat Departemen Agama RI kepada Dr. H.B. Jassin
2. Surat H.B. Jassin kepada Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI)
3. Surat M. Amien Rais kepada H.B. Jassin
4. Surat Majelis Ulama Indonesia (MUI) kepada Dr. H.B. Jassin
5. Surat Departemen Agama kepada Dr. H.B. Jassin
6. Surat Ali Audah kepada H.B. Jassin
7. Surat Harian Singgalang kepada H.B. Jassin
8. Surat H.B. Jassin kepada Prof. A. Hasjmy
9. Surat H. Gazali Dunia kepada H.B. Jassin
10. Surat Motinggo Busye kepada H.B. Jassin
11. Surat A. Baiquni kepada Dr. H.B. Jassin
12. Surat H.B. Jassin kepada Ali Audah
13. Surat H.B. Jassin kepada Sirojuddin
14. Surat Taufik Abdullah kepada Dr. H.B. Jassin
15. Surat Ridwan Saidi kepada H.B. Jassin
16. Surat Damiri Mahmud Saidi kepada H.B. Jassin
17. Surat Sirojuddin kepada H.B. Jassin
18. Surat Nursyahbani Katjasungkana, S.H. kepada H.B. Jassin
19. Surat A. Karim Halim kepada H.B. Jassin
20. Surat Prof. Achadiati Ikram kepada Dr. H.B. Jassin
21. Surat Ali Audah kepada H.B. Jassin
22. Surat Ajip Rosidi kepada Dr. H. H.B. Jassin
23. Surat Mochtar Naim kepada H.B. Jassin
24. Surat Probosutedjo kepada H.B. Jassin
25. Surat Dede Abdullah Achmad kepada H.B. Jassin
26. Surat Prof. Tudjimah kepada H.B. Jassin
27. Surat Baroroh Baried kepada H.B. Jassin
28. Surat Afrizal Malna kepada H.B. Jassin
29. Surat Mbiyo Saleh kepada H.B. Jassin
30. Surat Dr. A. Zainul A. Djaafar kepada Dr. H.B. Jassin
31. Surat A.M. Fatwa kepada H.B. Jassin
32. Surat H.B. Jassin kepada Quraish Shihab
33. Surat H.B. Jassin kepada K.H. Hasan Basri
34. Surat H.B. Jassin kepada Prof. Dr. Tudjimah
35. Surat H. Daniel Madjid, S.E. kepada H.B. Jassin
36. Surat Mansur Samin kepada H.B. Jassin
37. Surat H. Boediardjo kepada H.B. Jassin
38. Surat H. Misbach Yusa Biran kepada H.B. Jassin
39. Surat Prof. A. Hasjmy kepada H.B. Jassin
40. Surat Achdiat kepada H.B. Jassin
41. Surat M. Alwan Tafsiri kepada H.B. Jassin
42. Surat H.B. Jassin kepada Prof. A. Hasjmy
43. Surat Drs. Djabal Noor kepada H.B. Jassin
44. Surat H.B. Jassin kepada Pimpinan Tim Lajnah Pentashih Departemen Agama
45. Surat H.B. Jassin kepada Prof Dr. Ing. B.J. Habibie
46. Surat H.B. Jassin kepada Menteri Agama RI, Dr. Tarmizi Taher
47. Surat H.B. Jassin kepada Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Jakarta
48. Surat M. Nawawi Bakri kepada H.B. Jassin
49. Surat Prof. A. Hasjmy kepada Menteri Agama RI
50. Surat Prof. A. Hasjmy kepada Pimpinan MUI Pusat
51. Surat H.S.B. Aminuddin kepada H.B. Jassin
52. Surat Harian Singgalang kepada H.B. Jassin
53. Surat Prof. Dr. J.S. Badudu kepada H.B. Jassin
54. Surat Prof. A. Hasjmy kepada H.B. Jassin
55. Surat H. Abdul Karim Halim kepada H.B. Jassin
56. Surat Dr. M. Quraish Shihab, M.A. kepada H.B. Jassin
57. Surat Baroroh Baried kepada H.B. Jassin
58. Surat A. Mustofa Bisri kepada H.B. Jassin
59. Surat H. Amura kepada Dr. H.B. Jassin

60. Pengajuan Skripsi M. Hariyadi tentang Al-Qur’an Berwajah Puisi H.B. Jassin
61. Surat H.B. Jassin kepada Faisal Biki
62. Surat Azwar Anas kepada H.B. Jassin

Kumpulan artikel dan surat surat itu sangat mengejutkan serta begitu deskriptif. Kita jadi memiliki gambaran seperti apa dialektika yang terjadi pada masa itu.

Saya kira, bahwa kita semua seharusnya bersikap demikian, seperti HB. Jassin dalam menyoal ragam pemikiran yang terus berkembang. Hari hari ini yang kita jumpai di dunia maya dan realita lebih terlihat seperti kumpulan sinisme ketika mengomentari karya dan kerja kerja literasi.

*Pegiat LIterasi dan Pengelola Perpus Rumah Teras Baca