,

Membaca Emosi Anak


Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
dibaca normal: 2 menit

Ini yang tiba-tiba membuat saya tidak bisa berkutik ketika menghadapi mereka.

Saat saya akan pulang menuju ke kostan, tiba-tiba saya lihat anak kecil berjalan menuju PBM. Tanggannya dia mainkan. Diputar-putar bahkan sampai memasukkannya ke mulut. Intinya apapun yang bisa dimainkan, anak itu mainkan. Baju, kertas, bolpoint dan lain sebagainya.

 Langkahnya malu-malu. Dia tersenyum saat ketika saya berpapasan dengan anak itu. Saya menemui anak tersebut, kemudian menyapa dan mengajaknya duduk bersama. Di kursi dekat gerobak baca Wadas Kelir. Anak itu tiba-tiba berubah. Memasang wajah muram dan cemberut. Melihat anak itu, saya mencari cara untuk mencairkan suasana dengan bertanya basa basi. Anak itu menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan. Dengan tanpa ekspresi.

Kemudian, saya mengambil satu buah buku. Lalu, mengajak anak-anak juga ikut membaca. Namun, anak itu tetap duduk dan menunduk. Saya merayunya untuk membaca. Dengan memberikan iming-iming buku baru. Tapi tetap saja sama. Anak itu masih saja cemberut. Nyatanya menaklukan hati anak tidak mudah. Akhirnya, saya pun  mengambil satu buah lembar mewarnai dan crayon yang sudah tidak utuh lagi. Mengajak anak iu mewarnai. Anak itu mewarai dan mulai ceria. Saat anak itu mulai asyik, saya melanjutkan niat saya untuk pulang dan beristirahat. Tapi tiba-tiba, anak itu memandang saya. Dan bertanya.

“Kak, mau kemana?”

“Kakak mau pulang dulu, ya?” Jawabku saat itu. Tiba-tiba anak itu berdiri. Memeluk saya. sambil berkata.

“Kakak kok enggak pernah ngajar lagi? Padahal pengin diajarin.”

Saat itu, saya tidak bisa berkutik apa-apa. Mata saya berkaca. Pertanyaan besar dalam diri saya akhirnya terjawab. Mengapa sikap anak itu berubah.

Ini adalah kisah satu bulan lalu. Kisah yang saya angkat sebagai cerita pengalaman saya kali ini, di Wadas Kelir. Kisah anak calistung Wadas Kelir.

Anak itu membuat saya belajar satu hal. Ada banyak hal yang tidak banyak dimengeti oleh orang dewasa mengenai anak. Salah satunya adalah emosi anak.

Seperti anak itu, meski selama satu semester ini saya hanya mengajar dua kali, dan itu bagi saya adalah sebuah pertemuan singkat. Namun, itu membekas di diri anak. Anak memiliki kelekatan yang berbeda dari pada yang lain. Kelekatan inilah yang membuat anak mengenal emosi. Meski anak belum paham tentang emosi yang diri anak miliki.

Anak itu menyadarkan saya bahwa ANAK ADALAH PERASA YANG ULUNG. Anak akan memainkan perasaannya melalui sikap-sikap yang ditunjukan. Jika banyak oang tua yang beranggapan bahwa anak belum mempunyai perasaan, bagi saya itu salah. Anak adalah perasa yang ulung. Anak akan mengekspresikan melalui cara anak yang unik. Seperti anak itu. Anak yang tiba-tiba membuat mata saya berkaca-kaca.

Semoga menginspirasi!

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Facebook Comments
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

What do you think?

3 points
Upvote Downvote

Total votes: 3

Upvotes: 3

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan