Oleh. Munasyaroh*

Menjelang peringaatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2022 yang jatuh pada tanggal 21 Februari, Forum TBM mengadakan serangkaian acara untuk memperingatinya. Selain ada Muhibah Dongeng, Parade Poster, HIbah Buku Seri Petualangan TBM dalam Dua Bahasa, dan Bincang Ilmiah Internasional, diselenggarakan pula Webinar dengan tema “Menjaga dan Melestarikan Bahasa Ibu di Era Digital”

Webinar yang bekerja sama dengan Kantor Bahasa Provinsi NTT ini diselenggarakan secara daring lewat zoom pada hari Minggu, 20 Februari 2022, pukul 14.00 – 17.00 WIB. Bertindak sebagai pembawa acara Joana Zettira yang merupakan salah satu Pengurus Pusat Forum TBM dan untuk moderatornya ada Heri Djuhaeri yang juga salah satu Pengurus Pusat Forum TBM.

Adapun narasumber dalam webinar ini antara lain:

  1. Prof. Dr. Multamia R. M. T. Lauder, Mse., D. E. A. (Ketua Komunitas Toponimi Indonesia, Akademisi dari Universitas Indonesia)
  2. Prof. E. Aminudin Aziz, M. A., Ph. D. (Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek) yang diwakilkan kepada Bapak Imam Budi Utomo Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
  3. Ni Nyoman Clara Listya Dewi (Head of Comunication Yayasan BASAbali Wiki)
  4. Dr. Suhandano, M. A. (Akademisi dari Universitas Gajah Mada).

Selain keempat narasumber tersebut ada Ketua Forum TBM, Kang Opik dan Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTT, Syaiful Bahri Lubis yang memberikan sambutan sekaligus arahan mengenai jalannya acara.

Peserta webinar yang mencapai 400 orang lebih terlihat antusias mengikuti jalannya webinar. Terbukti dengan jumlah peserta yang stabil dari awal hingga akhir dan banyaknya pertanyaan yang muncul di kolom chat. Selain dari jejaring TBM mulai dari Sabang hingga Merauke, peserta webinar juga berasal dari perguruan tinggi, sekolah, perwakilan badan/kantor bahasa berbagai daerah, unsur dinas, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Sambutan Ketua Forum TBM dan Kepala Kantor Badan Bahasa NTT

Dalam sambutannya, Opik Ketua Forum TBM menjelaskan berbagai acara yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional. Menurutnya di tengah gempuran teknologi digital yang sangat besar di era sekarang, perlu untuk terus mempertahankan budaya asli kita yang salah satunya adalah bahasa ibu atau bahasa daerah. Pelestarian bahasa ibu ini menjadi salah satu langkah kongkret dalam Literasi Budaya dan Kewargaan.

Sementara Syaiful Bahri Lubis, Kepala Kantor Badan Bahasa Provinsi NTT pada sambutannya, memberikan apresiasi tinggi kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan webinar ini. Harapannya setelah mengikuti webinar yang mengusung tema menjaga dan melestarikan bahasa Ibu ini, semuanya mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru.  Bagaimana seharusnya kita bersikap, bagaimana seharusnya kita menjaga serta melestarikan bahasa ibu atau bahasa daerah bisa dipikirkan dan dijalankan.

Masih dalam sambutannya, Syaiful Bahri Lubis juga menegaskan komitmen dari Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam melindungi berbagai bahasa daerah termasuk bahasa-bahasa yang hampir punah. Di NTT sendiri ada 72 bahasa daerah, oleh karena itu Pemerintah Daerah Provinsi NTT dan juga para pemangku kepentingan lainnya harus bersinergi bersama menjaga serta melestarikan bahasa ibu atau bahasa daerah.

Materi Imam Budi Utomo

Seperti yang sudah disebutkan di atas, ada 4 narasumber yang memberikan materi dalam webinar. Pada kesempatan pertama, moderator Webinar Heri Djauhari mempersilahkan perwakilan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek untuk memberikan materinya.

Berhubung Prof. E. Aminudin Aziz, M. A., Ph. D., Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek tidak bisa hadir, maka Imam Budi Utomo selaku Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang mewakilinya.

Dalam materi yang bertajuk Pemertahanan Bahasa Daerah Melalui Kamus, Imam Budi Utomo memberikan data dan fakta tentang bahasa daerah. Ternyata semakin ke barat semakin sedikit jenis bahasa daerah yang digunakan masyarakat Indonesia. Sebaliknya, semakin ke timur semakin banyak jenis bahasa daerahnya.

Di Indonesia, tercatat ada 718 bahasa dan 778 dialek dari 2569 daerah. Dari jumlah tersebut hanya ada 25 bahasa yang dapat dikatakan aman, sementara bahasa-bahasa lainnya ada yang mengalami kemunduran, terancam punah, kritis dan bahkan ada yang punah. Ini tentunya amat mengkhawatirkan.

Menurut Imam, tantangan keberlangsungan bahasa daerah selain gempuran globalisasi dan multilingualisme, juga ada pada mobilitas tinggi dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu yang demikian cepat. Mobilitas ini pada akhirnya memperlemah keberadaan bahasa daerah. Selain itu, kepunahan bahasa terjadi terutama karena para penuturnya tidak lagi menggunakan atau mewariskan bahasa tersebut kepada generasi berikutnya.

Supaya bahasa daerah tetap aman, revitalisasi perlu dilakukan. Salah satu cara untuk revitalisasi bahasa supaya tidak punah adalah dengan penyusunan kamus. Kamus ini memiliki penting dalam merekam penggunaan bahasa sejak awal digunakan hingga saat ini. Kamus juga dapat mengungkapkan suatu bahasa atau ragam bahasa kepada pengguna bahasa serta memberikan informasi kebahasaan bagi masyarakat.

Saat ini pusat pengembangan dan perlindungan bahasa dan sastra sudah mendigitalkan 85 kamus bahasa Daerah-Indonesia dan mencetak 35 kamus Indonesia-Daerah. Jumlah ini diupayakan terus bertambah.

Materi Prof. Dr. Multamia R. M. T. Lauder, Mse., D. E. A.

Pemateri kedua adalah Prof. Dr. Multamia R. M. T. Lauder, Mse., D. E. A. yang memberikan materi berjudul “Urun Daya Merawat Indonesia melalui Bahasa Ibu di Era Digital”. Pada materinya tersebut, Profesor Multamia lebih menekankan tentang warisan budaya sebagai peninggalan dari generasi masa lampau.

Salah satu warisan dari budaya adalah bahasa yang menyimpan tata nilai dari budaya bersangkutan. Ada kosa kata, pantun, cerita rakyat, sastra, mitos, legenda, tradisi lisan dan ungkapan yang terdapat di dalamnya. Bahasa juga merupakan penjaga budaya. Apabila sebuah bahasa punah, budayanya juga akan ikut punah.

Terdapat beberapa landasan hukum dalam menghormati dan memelihara bahasa daerah. Di antaranya UUD 1945 pasal 32, undang-undang no 5/2017 dan 3 Keputusan Kongres Bahasa Indonesia XI/2018 terkait bahasa ibu yang berbunyi,

  1. Ke-11, Kemdikbud harus menerbitkan ketentuan dan pedoman kegiatan mendongeng dan membacakan cerita pada anak-anak usia dini.
  2. Ke-12, pemerintah harus meningkatkan dan memperluas revitalisasi tradisi lisan untuk mencegah kepunahan.
  3. Ke-13, pemerintah dan pemerintah daerah harus mengintensifkan pendokumentasian bahasa dan sastra daerah secara digital, dalam rangka pengembangan dan pelindungan bahasa dan sastra.

Menurut Akademisi dari Universitas Indonesia tersebut, Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman linguistik yang tinggi di dunia sehingga untuk dapat mengelola bahasa secara baik diperlukan kebijakan dan perencanaan bahasa. Mengingat ada banyak jenis pemajuan kebudayaan, maka tidak mungkin dilakukan sendiri oleh Pusat/Balai/Kantor Bahasa, perlu urun daya dari berbagai komunitas setempat

Keberlangsungan hidup sebuah bahasa terletak di pundak generasi muda. Oleh karena itu, keterlibatan generasi muda bersifat mutlak. Mereka dapat dimulai secara bertahap mulai mengumpulkan dongeng, cerita rakyat, sejarah lokal, resep masakan, adat istiadat, dan lain sebagainya. Di era digital pemanfaatan teknologi digital dalam pencatatan kebudayaan perlu untuk disegerakan.

Diakhir materinya Profesor Multamia memberikan saran rekayasa budaya. Menurutnya, bahwa untuk mengoptimalkan peran bahasa dan budaya maka perlu dicetuskan anak Indonesia harus menguasai minimal 3 bahasa sekaligus. Bahasa tersebut adalah Bahasa Daerah sebagai penanda jati diri, Bahasa Indonesia sebagai peneguh nasionalisme sekaligus untuk interaksi nasional dan bahasa asing (Inggris) untuk menyerap ilmu pengetahuan dan berkiprah secara profesional pada tingkat internasional.

Materi Dr. Suhandano, M. A.

Lanjut ke Pemateri ketiga, ada Dr. Suhandano, M. A. yang merupakan akademisi dari Universitas Gajah Mada. Dalam materinya, Pak Suhandano menjelaskan tentang bahasa ibu yang merupakan bahasa pertama yang dikuasai oleh anak ketika dia belajar berbicara. Bahasa ibu dapat berupa bahasa daerah, bisa juga berubah bahasa nasional atau bahasa internasional. Tapi bahasa ibu sekarang identik dengan bahasa daerah.

Bahasa ibu tidak akan hilang tapi bisa berganti dengan bahasa orang tuanya, apabila bahasa anak tidak lagi mengikuti bahasa orang tuanya dalam keluarga tersebut. Maka dari itu, menurutnya bilingual dapat menjadi alternatif dan penting untuk diperhatikan dalam melestarikan dan menjaga bahasa daerah supaya tidak hilang atau tidak punah.

Hal menarik yang bisa menjadi praktik baik dalam melestarikan bahasa ibu di era digital adalah dengan berbicara atau berkomunikasi di media sosial seperti grup whatsApp dengan menggunakan bahasa daerah.

Materi Ni Nyoman Clara Listya Dewi

Masih dalam webinar ini, ada pemateri keempat yang turut memberikan ulasan menarik seputar pelestarian bahasa ibu. Pemateri tersebut tidak lain  Ni Nyoman Clara Listya Dewi yang merupakan Head of Comunication Yayasan BASAbali Wiki.

Wanita muda asli Bali yang akrab disapa dengan Clara tersebut mengaku dari perwakilan generasi milenial yang peduli dengan kelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah. Bentuk kepeduliannya diwujudkan lewat media digital bernama BASAbali Wiki.

Media digital BASAbali Wiki adalah hasil kolaborasi dari para cendekiawan serta anggota masyarakat dari dalam dan luar Bali yang berkomitmen menjaga bahasa Bali supaya tetap kuat di era digital. Produk yang dibuat berupa Kamus Daring BASAbali Wiki dan juga Ruang Komunitas.

Pada kamus daring BASAbali Wikii terdapat tiga bahasa yang disajikan. Ada bahasa Indonesia, bahasa Bali dan juga bahasa Inggris. Adanya ketiga bahasa ini membuat segmentasi pengguna menjadi beragam. Tidak hanya masyarakat lokal atau masyarakat Indonesia lainnya yang bisa belajar bahasa Bali, namun orang luar negeri juga bisa memanfaatkan kamus ini.

Selain berupa kamus, BASAbali Wiki juga memberikan fitur foto dan video penggunaan. Ketika pengguna melihat satu kata, contohnya kata “tiang” dalam Bahasa Bali, pengguna bisa melihat foto yang berkaitan dengan hal tersebut. Pengguna foto dan video ini tentu saja sangat memudahkan para pengguna dalam pencarian informasi.

Langkah kongkret lain yang dilakukan oleh Clara bersama teman-teman komunitasnya adalah penciptaan karakter virtual superhero lokal bernama Luh Ayu Manik Mas. Juga mengadakan berbagai kompetisi untuk melestarikan budaya dan bahasa daerah.

Webinar yang Penuh Gizi

Penyajian yang menarik dan materi penuh gizi dari para narasumber memancing rasa penasaran ratusan peserta. Bagaimana tidak, terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang masuk di kolom chat. Karena keterbatasan waktu, tidak semua pertanyaan dibacakan.  Moderator hanya memilih beberapa pertanyaan saja di kolom chat untuk dijawab oleh narasumber.

Selain itu 3 orang peserta webinar diberikan waktu untuk buka kamera dan mengajukan pertanyaan secara langsung kepada keempat narasumber. Ada Pak Samsudin Adlawi, Pak Sarjana Legian dan Pak Agus Joko Purwadi yang berkesempatan menyampaikan pendapat sekaligus bertanya pada narasumber.

Agenda Webinar “Menjaga dan Melestarikan Bahasa Ibu di Era Digital” yang berjalan hingga 3 jam lebih itu berlangsung dengan sukses. Harapannya semoga materi dalam webinar bisa menginspirasi kita semua untuk bisa mencintai dan merawat bahasa kita. Terutama untuk kalangan milenial yang menjadi pengguna bahasa selanjutnya.

Selaras pula seperti yang disampaikan oleh Prof. Multamia bahwa “untuk merawat NKRI diperlukan kecintaan dan keikhlasan yang mendalam. Keanekaragaman budaya lokal merupakan warisan yang luhur serta wajib disyukuri dan dihormati. Pihak-pihak yang mengagungkan budaya luar sebetulnya merendahkan diri sendiri karena tidak paham bahwa budaya adalah upaya mengelola sumber daya setempat bagi kesejahteran umat manusia. Oleh karena itu budaya beragam karena berada di situasi lingkungan yang berbeda.”

Tabik.

*pegiat literasi TBM Bintang Brilliant