LOADING

Type to search

FTBM Sleman Kabar TBM

Rapodo, Rapopo!

Redaksi 9 bulan ago
Share

Penulis: Marsahlan*

Baru yang Berawalan

Ketika menemukan sebuah memorabilia lusuh berupa majalah anak-anak yang sudah mulai usang, keingingan absurd dan tak jelas waktu kecil pun diam-diam mulai kembali datang. Label “Perpustakaan Negeri Dongeng” rasa kanak-kanak seperti yang tertulis di Majalah Bobo itu pun terasa menggelikan dan semakin menghantui. Ada sesuatu yang membuat tergerak. Diam-diam hati dan pikiran pun mulai berontak.

Semesta pun mendukung ketika seorang sahabat pena dari jaman sekolah kembali hadir dan menyapa dengan sebuah hadiah kecil yang benilai besar. Sebuah buku terjemahan karya Dr. Aidh Al-Qarni, La Tahzan: Jangan Bersedih!, buku motivasi terbaik yang menjadi koleksi buku pertama. Beruntunglah orang-orang yang merasakan era 90-an, era dimana bisa mempunyai sahabat pena lewat surat menyurat dengan perantara pos. Menjalin persahabatan lewat surat atau bersahabat pena saat itu cukup memberi kesenangan. Perasaan menunggu-nunggu Pak Pos yang membawa surat balasan dari sahabat pena selalu memberi kesan yang berbeda.

Tahun 2011 menjadi tahun dimana kesenangan-kesenangan dan penuh kejutan hadir dalam bentuk yang berbeda dan semakin menggila. Keisengan menjadi seorang pemburu kuis berhadiah di sosial media seperti Facebook dan Twitter mendapatkan hasil yang cukup signifikan. Sampai saat ini dari berburu kuis telah mendapatkan puluhan sampai ratusan buku gratis dari publising house atau perusahaan penerbitan buku. Saat itu Facebook dan Twitter menjadi media promo murah dan mudah bagi perusahaan ataupun publishing house yang menerbitkan buku-buku.

Katamaca

Sebuah nama, banyak cerita. Tanggal 31 Agustus 2011 adalah tanggal lahirnya akun media sosial Twitter @KataMaca. Akun Katamaca dibuat sebagai sarana mengenalkan proyek pembuatan taman bacaan yang sifatnya tak lagi menjadi akun pribadi. Proyek pembuatan taman bacaan kecil-kecilan dengan bermodalkan koleksi buku pribadi yang telah lama dibeli. Memanfaatkan ruang garasi rumah yang dulunya pernah menjadi warung kecil-kecilan sekitar tahun 1992-an, di sebuah kampung di Dusun Banjarsari, Wonokerto, Turi, Sleman.

Pemberian nama Katamaca pun tak lepas dari namanya keberuntungan. Nama yang diberikan oleh seorang stand-up comedy-an sekaligus MC yang cukup terkenal di Jogja, Mas Anang Batas yang terkenal dengan konsep plesetannya. Itulah kenapa Katamaca dipilih sebagai nama taman bacaan, nama yang berasal dari plesetan kata kacamata. Lewat Katamaca harapannya dapat membantu orang untuk bisa melihat, berkaca, dan mengenal dunia dengan lebih jelas. Sadis.

Katamaca menjadi nama yang aneh bin ajaib untuk sebuah taman bacaan. Orang sering salah dan keliru dalam pelafalannya. Walaupun begitu tak masalah, karena dengan begitu mereka akan mencari tahu apa itu Katamaca? Rasa penasaran yang butuh untuk dicari tahu.

Konsep awal Katamaca tercermin dari tagline yang diusung, “Utak-atik kata baca buku, biar otak kita tak beku”, artinya kalau tidak salah ingat adalah membaca paling tidak bisa mengencerkan dan memberi sesuatu yang baru untuk merasa dan berpikir. Sedikit sok idealis walaupun pada akhirnya tetap banyak berkompromi dan melihat pasar.

Sejak pembuatan akun Twitter tersebut, Katamaca berproses dalam mengumpulkan buku-buku sebagai bahan bacaan. Banyak dipertemukan dengan berbagai komunitas dan personal yang concern dalam pengembangan minat baca, termasuk memberikan bantuan bukunya untuk Katamaca. Walaupun segalanya dimudahkan dalam menjaring dan mengumpulkan koleksi buku, hampir dua tahun lebih baru bisa membuka dan membuka pintu taman bacaan.

Tahun 2013 menjadi titik kembalinya Katamaca. Dipertemukan dengan Forum Taman Bacaan Masyarakat Sleman yang banyak menguatkan dan memotivasi untuk kembali ke niatan awal dalam berbagi kebahagiaan lewat buku. Tidak harus menjadi mentereng dalam tampilan yang ngejreng, namun tetap menjadi apa adanya.

Katamaca tak lagi menjadi sesuatu yang mentok menjadi pengecer otak saja, karena buku selalu menemukan pembacanya tersendiri. Ada beberapa buku yang jarang terjamah, bisa jadi ini terjadi karena orang sudah enggan duluan dengan buku yang tebal, walaupun kadang buku yang tipis pun isinya cukup memberatkan.

We are what we read, kita adalah apa yang kita baca. Katamaca berusaha untuk menghadirkan dan memberikan buku pinjaman, semampu-mampunya dan tetap ala Katamaca. Tak perlu menjadi taman bacaan atau perpustakaan komunitas besar yang hanya menjadi bahan klaim pihak luar yang lebih berkepentingan. Katamaca tetap akan menjadi apa adanya, Rapodo rapopo!

The Giver

Hidup itu tentang merawat. Katamaca berusaha hadir dalam merawat buku-buku yang dititipkan, walaupun baru sekadar menyampul. Banyak personal ataupun komunitas yang memberikan buku-buku terbaiknya untuk dimanfaatkan kembali. Buku yang sering diberi label langka tak lagi sungkan mereka berikan untuk Katamaca.

Aturan main peminjaman buku di Katamaca fleksibel, tak ada batasan yang terlalu mengikat. Peminjam sadar dengan konsep itu, bebas namun tetap bertanggung jawab. Tak ada koleksi khusus, yang ada hanya pembagian penempatan buku di rak. Mana yang untuk anak-anak, remaja, atau dewasa.

Ada saat dimana hati diombang-ambingkan rasa antara senang dan bersalah. Senang ketika kita mendapatkan buku dan merasa bersalah ketika rak buku tak lagi kuat menampung.

Untuk menjamah peminjam yang semakin luas, Katamaca mencoba konsep pinjaman buku secara kolektif dalam mendukung dan menguatkan teman penggiat taman bacaan atau perpustakaan komunitas lain. Bukan karena enggan memberi cuma-cuma, tapi untuk sama-sama belajar bertanggung jawab apa yang menjadi amanah. Membaca buku tak selalu harus mempunyai bukunya, karena tak ada bedanya antara buku pinjaman atau buku milik sendiri. Yang terpenting adalah esensi dari membaca buku itu sendiri.

Biarlah tetap menjadi orang bodoh yang selalu meminjamkan bukunya untuk orang lain, daripada menjadi orang pintar yang enggan meminjamkan bukunya hanya untuk dinikmati sendiri. Pendosa buku sesungguhnya adalah orang yang pamer dengan segala macam buku koleksinya tetapi masih enggan untuk sekadar meminjamkan bukunya dibaca ditempat.

Berkembang, tak lepas dari buku yang datang dan pergi. Hilang bisa jadi karena mereka sedikit abai dengan apa yang menjadi tanggung jawab mereka, tak ada yang benar-benar sengaja. Walaupun begitu Yang Maha Oke selalu mempunyai cara-cara mengejutkan untuk mengganti yang telah pergi dengan pengganti yang lebih dan lebih oke lagi. Tak perlu menangisi setiap kehilangan, karena ada saatnya merasakan kembali yang namanya CLBK, cinta lama belum kelar, buku yang masih akan bersama dalam melanjutkan perjuangan.

The Recehan

Kemudahan-kemudahan mendapatkan kiriman buku donasi saat ini seperti pedang bermata dua. Membantu tetapi kalau tidak berhati-hati bisa melenakan dan membahayakan, membuat ketergantungan. Tak selamanya yang diharapkan selalu yang didapatkan. Ada kalanya memang harus diusahakan sendiri. Tak harus tentang kuantitas tapi kualitas sesuai kebutuhan masing-masing taman bacaan atau perpustakaan komunitas.

Mandiri menjadi pilihan yang harus dimiliki sejak dini dalam membangun dan mendirikan taman bacaan. Rak buku pertama Katamaca berasal dari mengumpulkan uang receh dan beruntungnya bisa mendapatkan harga yang lebih murah di tempat pembuatan furniture. Dan ketika ada peminjam yang butuh buku dan belum ada di Katamaca, maka memang harus membeli walaupun harus butuh sedikit waktu. Uang receh itu kecil untuk menyokong yang besar, sedikit namun tetap bagian dari yang banyak. Semangat mandiri menghidupi agar menjadi jiwa-jiwa yang kuat, yang bisa melakukan hal-hal positif walau dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada.

Butuh Klik!

Niat dan eksekusi menjadi satu kesatuan. Niat tanpa aksi hanya akan menjadi wacana. Tak masalah ketika belum menemukan partner dalam berproses. Menjadi single fighter adalah pilihan terakhir ketika belum menemukan teman yang klik dalam berbagi.

Kadang iri kalau melihat perpustakaan komunitas yang dikelola oleh sekelompok pemuda dan pemudi ataupun karang taruna. Pemuda yang dengan bangganya mau bersusah-susah membangun desanya. Pemuda yang menjadi ujung tombak kemajuan dan meneruskan kearifan lokal di kampung, yang tak lemah dengan gempuran modernisasi. Ah seandainya.

Bagaimana pun hingar bingar kampung sekarang pun menjadi bagian dari fase kehidupan yang harus dihadapi. Ketika literasi tak lagi menjadi sesuatu yang apik untuk dilirik dan kemajuan pembangunan selalu diukur dari materi fisik saja, maka yang ada hanya sekumpulan pemuda yang tak lagi punya nilai di mata para tetua. Regenerasi yang terdegradasi. Dan sekarang tinggal memilih mau menjadi pemuda yang bersuara kritis tanpa menyombongkan kebebasan berpikirnya atau menjadi tetua yang bisa membumi dan merangkul pemikiran-pemikiran baru tanpa harus menghilangkan kearifan lokalnya.

Toleransi itu datang dari kedua belah pihak, tak ada klaim sepihak atas kemenangan atau kekalahan. Maju bersama, bergerak bersama dan menikmati hasilnya bersama.

*Marsahlan. Pegiat literasi DIY, pengelola TBM Katamaca (Sleman, DIY). Peserta Residensi Literasi Digital di Rumpaka Percisa (Tasikmalaya) tahun 2018.

Leave a Comment