LOADING

Type to search

Kolom

DARI IMAJINASI MENJELMA KENYATAAN (2)

Badaruddin Amir 2 bulan ago
Share

Oleh Badaruddin Amir

(Pendiri Perpustakaan Komunitas Iqra)

Tahu 2011 “Taman Bacaan Iqra” yang saya bangun dari sebuah “imajinasi” kini memang sudah menjelma di hadapan saya sebagai sebuah kenyataan. Sebuah kenyataan yang sederhana tentunya. Saat saya sudah memiliki sebuah rumah panggung yang kuat dari kayu ulin berukuran 10 X 13 meter di kampung kelahiran saya, kelurahan Tuwung Kecamatan Barru, Kabupaten Barru, Propinsi Sulawesi Selatan, saya menyulap bagian bawah (kolong rumah) menjadi perpustakaan. Di kolong rumah yang sama luas dengan badan rumah bagian atas ini memang kosong melompong. Kolong rumah ini saya modifikasi: memasanginya dinding beton dan lantai keramik kemudian memasang di atas pintu masuk sebuah papan nama sederhana berbunyi : “Taman Bacaan Iqra”.  Hanya bagian atas rumah ini yang kami jadikan tempat tinggal. Sedang bagian bawah seuruhnya menjadi perpustakaan.

Di kolong rumah yang telah menjelma perpustakaan itu saya membuat sebuah kamar prosessing merangkap gudang buku. Juga sebuah ruang baca yang dilengkapi dengan kursi-kursi sederhana dan lemari serta rak-rak buku berjejer menempel pada dinding. Dan pada bagian teras yang masih cukup luas juga kami jadikan ruang ruang diskusi dan pertunjukan-pertunjukan kecil seperti baca puisi, pementasan monolog dan mendongeng untuk anak-anak. Karena pasilitas dan sarana prasarana memang sudah memungkinkan untuk dibuka secara umum, saya pun membuka taman bacaan saya menjadi “Taman Bacaan Masyarakat” (TBM). Saya segera menyusun komposisi kepengurusan TBM tersebut sebagai berikut :

Penasihat                              :    Kepala Kelurahan Tuwung

Pembina                               :    Drs. H. Kaharuddin, M.Si (Lepala Inspektorat Kabupaten

                                                  Barru)

Koordinator/Pengelola         :    Badaruddin Amir, S.Pd, M.Pd

Sekretaris                             :    Ayu Wulandari

Bendahara                            :    Hj. Ratnawati, S.PdI

Teknis                                   :   

   – Bagian Pengadaan          :    Muh. Said Lukman

   – Bagian Pengolahan         :    Muh. Afdal Wijaya

   – Bagian Penyusunan        :    Andri Wahyudi

Layanan                               :

   – Bagian Sirkulasi              :    Sitti Kanariah

   – Bagian Referensi            :    Ismayani

   – Bagian Layanan Bacaa   :    Erman Amri

Sejak itu saya merasa tidak memiliki lagi taman bacaan itu secara pribadi, tapi sudah menjadi taman bacaan milik masyarakat di desa Tuwung,  yang memang tidak mengenal dan memiliki taman bacaan itu.

Memang pada awalnya sebuah perjuangan untuk mengenalkan taman bacaan tersebut keada masyarakat. Tak ada masyarakat yang mau datang berkunjung. Mereka masih segan karena mengira taman bacaan itu milik pribadi. Padahal saya sudah membukanya secara umum untuk masyarakat. Tetapi setelah melakukan serangkaian sosialisasi di tahun-tahun awal kepada masyarakat baik melalui masjid yang dekat dengan lokasi taman bacaan kami, maupun dengan mengundang masyarakat secara langsung untuk mengikuti pertemuan-pertemuan khusus — seperti melalui pelatihan keterampilan rumah tangga untuk ibu-ibu dan cara bertanam hidroponik untuk bapak-bapak (Catatan : kami memiliki dua instalasi hidroponik di halaman taman bacaan) yang dilaksanakan di “Taman Bacaan Iqra”, akhirnya masyarakat pun mulai mengenal “Taman Bacaan Iqra”. Anak-anak muda, remaja dan anak-anak sekolah SMP dan SMA kami buatkan pula kegiatan pelatihan-pelatihan menulis sehingga ramailah anak-anak datang pada sore hari dan mereka mulai pula mengenal “Taman Bacaan Iqra”. Sementara untuk anak-anak TK pernah pula kami hadirkan seorang pendongeng untuk berdongeng kepada mereka.

Meski kegiatan-kegiatan seperti itu memang tidak rutin kami lakukan atau tidak menjadi agenda khusus di “Taman Bacaan Iqra”, tetapi kegiatan-kegiatan tersebut sudah berhasil mengundang perhatian mereka untuk mengenal dan akrab dengan “Taman Bacaan Iqra” sebagai tempat membaca dan menimba ilmu. Sebagai hasil konkret usaha sosialisasi seperti ini sebagian dari mereka sudah ada yang sadar untuk datang sendiri berkunjung ke “Taman Bacaan Iqra” dan menjadi peminjam buku secara tercatat dan menjadi anggota. Segala sirkulasi yang kami lakukan memang masih dicatat secara manual karena kami belum menggunakan sistem peminjaman dengan kartu pinjam sebagaimana sisrkulasi di perpustakaan-perpustakaan daerah. Kendala utama yang kami alami adalah tak adanya tenaga pustakawan yang kompeten dan tentu saja juga tak adanya dana untuk membiayai kegiatan operasional taman bacaan ini.

Kendala ini saya pernah sampaikan kepada Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah di daerah kami (Kabupaten Barru) dengan menghadap langsung kepada beliau dan dijawab dengan menempatkan seorang pegawai honorernya di “Taman Bacaan Iqra”. Tapi itu hanya dapat berlangsung kurang lebih setahun. Saya melihat kinerja yang bersangkutan sama sekali tidak profesional dan kurang memahami ilmu perpustakaan. Ia hanya dating bertugas membuka dan menutup pintu taman baca, menjadi pelayan baca anak-anak kecil, dan meminta tanda-tangan pada saya untuk kepentingan laporan — meskipun yang bersangkutan tidak masuk kerja. Hanya setahun saya minta yang bersangkutan untuk kembali lagi ke instansinya di BAPD.

Leave a Comment