Oleh Beny Abdurrahman*

Bagi anak desa seperti saya, membaca buku bagaikan menemukan oase di tengah gurun. Membaca buku membuka jendela dunia dan bisa tahu apa yang terjadi di luar sana. Namun seiring perkembangan zaman dan teknologi, anak-anak lebih memilih untuk bermain dengan smartphone dan gadget, alih-alih membaca atau bermain di luar ruangan. Dari sinilah Akar Pelangi hadir menjawab tantangan para orang tua untuk mengarahkan anaknya gemar membaca. Tidak bisa dipungkiri bahwa anak desa pun sudah keranjingan dengan telepon pintar. Sebagai antisipasinya, kami mencoba menghadirkan wahana untuk bermain dan belajar yang diberi nama Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Akar Pelangi.

TBM ini berada di Pedukuhan Plono Timur, Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh. Sebuah dusun yang berada di ujung barat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu di Kabupaten Kulon Progo. Wilayah ini berada di dataran tinggi, tepatnya di kawasan Perbukitan Menoreh. Medan yang harus dilalui untuk menuju ke taman bacaan ini cukup terjal. Meskipun jalanan sudah beraspal, namun mayoritas tamu dari luar kota mengeluh soal ekstrimnya medan yang harus dilalui. Sampai-sampai mereka menjuluki wilayah ini sebagai Jogja Lantai Tiga.

Dua tahun lalu (tahun 2017), saya kembali dari Kalimantan. Melihat perubahan pesat yang terjadi di desa, saya berpikir untuk membuat sebuah wadah yang sanggup menampung kegiatan belajar masyarakat. Agar nantinya para pemuda, anak-anak, maupun orang tua dapat memiliki tempat untuk berkegiatan dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Taman baca yang menjadi pilihan. Pada awalnya, buku di taman bacaan hanya terbatas pada donasi koleksi pribadi anggota karang taruna. Selain buku yang masih sedikit, jenisnya pun hanya seputar novel dan buku pelajaran biasa. Koleksi yang tidak cukup menarik bagi anak-anak membuat kami menunda pembukaan taman baca.

Di saat yang sama, kami mendapat kunjungan dua kelompok mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia (UII) dan Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” yang akan melaksanakan KKN. Setelah diskusi singkat, mereka memiliki program yang serupa terkait pengadaan taman baca. Bagai gayung bersambut, kami bekerja sama dengan mahasiswa untuk melakukan penggalangan buku. Ada tiga metode yang kami lakukan, yaitu pengumpulan buku dari masyarakat sekitar, pengajuan buku ke instansi, serta kampanye media sosial. Langkah terakhir ternyata cukup ampuh. Ketika kami memposting rencana pengadaan buku di Facebook, respon netizen sangat cepat.

Melalui Facebook, akhirnya kami berhasil mengumpulkan buku-buku anak. Saya agak terharu dengan proses ini karena pengumpul buku adalah teman-teman dari ojek online. Mereka rela menyisihkan sebagian rezekinya untuk membeli buku anak- anak. Tentu ini sangat berguna, karena target utama kegiatan kami adalah anak-anak. Hanya butuh waktu dua minggu untuk mengumpulkan sekitar 100 buku, jumlah yang kami rasa cukup untuk memulai kegiatan di taman baca. Akhirnya pada 25 Agustus 2017, kegiatan pertama terselenggara dan kami tetapkan pula sebagai tanggal berdirinya TBM Akar Pelangi.

Kegiatan di Akar Pelangi

Akar pelangi menempati sebuah rumah kosong milik warga. Rumah tersebut sudah lama tidak dihuni, karena pemiliknya bekerja merantau ke Jakarta. Sebelum kami tempati, rumah tersebut digunakan sebagai tempat sablon. Beberapa bagian rumah telah rusak, sehingga kami harus berhati-hati dalam menempatkan buku. Di awal beroperasi, buku yang ada di TBM Akar Pelangi tidaklah banyak, sehingga belum ada rak buku besar. Rak yang kami gunakan hanyalah rak bekas.

Memang, kondisi di taman baca waktu itu memang apa adanya. Segala keterbatasan tidak menyurutkan tekad kami untuk memulai kegiatan di Akar Pelangi. Justru dari keterbatasan tersebut, muncul beragam kreativitas dari pengelola. Dengan memanfaatkan barang bekas, kami memulai kegiatan yang mengasyikkan untuk anak-anak. Contohnya adalah kegiatan melukis.

Kami menggunakan batang pohon sebagai kuas dan cetakan, serta pewarna makanan sisa sebagai tintanya. Anak-anak bebas berkreasi membentuk pola yang diinginkan. Ternyata, banyak juga hasil karya yang bagus. Kegiatan menyenangkan ini akhirnya menarik perhatian anak-anak, bahkan yang berada di luar dusun untuk mengikuti kegiatan kami.

Seiring berjalannya waktu, jumlah anak yang ikut berkegiatan terus bertambah. Ternyata masyarakat mulai merasakan kebermanfaatan dari kegiatan kami. Bahkan beberapa orang tua mengatakan, setelah berkegiatan di Akar Pelangi anaknya jadi menggunakan basa krama atau berbahasa Jawa halus dan sopan kepada orang tuanya. Memang, salah satu aspek pembelajaran yang kami tanamkan adalah pendidikan karakter. Berbagai jenis kegiatan lain yang kami selenggarakan adalah bimbingan belajar, fun science, pertanian, permainan tradisional, kerajinan tangan, dan bahasa asing. Kegiatan kami selalu didokumentasikan dan diunggah di media sosial, salah satunya adalah Instagram: @akarpelangi.

Menambah Koleksi Buku

Proses pengumpulan buku menjadi hal yang menarik. Saat ini untuk mendapatkan buku gratis pun prosesnya cukup mudah. Ada berbagai komunitas penyedia layanan berbagi buku yang proses permintaannya cukup dilakukan secara daring. Jika sudah disetujui, kita tinggal menunggu proses antrian saja. Proses pengiriman juga bisa dilakukan gratis melalui program kirim buku gratis dari Pos Indonesia. Berdasarkan pengalaman, kami mendaftar di situs donasibuku.kemdikbud.go.id dan sering mendapat kiriman buku, bahkan ketika kami tidak melakukan permintaan.

Beberapa donatur buku ternyata mensyaratkan untuk melakukan pengambilan sendiri. Hal ini lumayan sulit dilakukan, karena rata-rata penyedia buku tersebut berada di kota. Kami pernah menerima bantuan buku sebanyak dua kardus besar. Lokasi pengambilan berada di daerah Klaten, yang jaraknya hampir 60 kilometer dari TBM Akar Pelangi. Bantuan buku tersebut saya ambil menggunakan sepeda motor Vixion. Bisa dibayangkan, dua kardus besar berisi buku harus saya taruh di jok belakang melewati medan berbukit-bukit.

Perjalanan memakan waktu tiga jam, sampai di taman bacaan dan membuka kardus buku, ternyata berisi 400 eksemplar buku dengan judul yang sama. Harapan untuk memenuhi rak buku pun sirna. Akhirnya, buku-buku tersebut kami bagikan ke sekolah di sekitar TBM Akar Pelangi. Hal yang patut disyukuri atas peristiwa ini adalah kami mempunyai mitra dan dapat berkolaborasi dengan sekolah.
Respon Masyarakat

Akan selalu ada dua sisi mata uang, begitu juga dengan respon masyarakat. Tanggapan positif tentu kami terima dengan senang hati. Namun, ada pula tanggapan negatif yang membuat kami sempat waswas. Kegiatan kami sempat diboikot dan diancam akan dibubarkan oleh salah satu oknum warga. Ia beralasan, kami mengganggu kegiatan TPA anak-anak. Entah apa dasar alasan tersebut.

Memang, waktu itu kami menyelenggarakan kegiatan di hari Sabtu sore dengan pertimbangan anak-anak memiliki waktu luang. Berbeda dengan hari Minggu yang mungkin akan diisi dengan liburan. Sebelum menentukan jadwal, kami sudah berkoordinasi dengan pengelola TPA, bahkan ikut mengajar di TPA tersebut. Namun pada dasarnya, orang yang tidak suka pasti akan tetap mencari-cari alasan untuk membenci. Kami akhirnya mengalah dengan mengalihkan kegiatan di hari Minggu pagi.

Dusun Plono Timur sendiri terkenal dengan kemajemukan warganya. Ada tiga agama berbeda yang dianut oleh warga, yaitu Islam, Kristen, dan Katolik. Konsekuensi dilaksanakannya kegiatan di Minggu pagi adalah anak-anak Kristen-Katolik melaksanakan kegiatan keagamaan di gereja. Oleh karena itu, peserta kegiatan di Akar Pelangi mulai menurun. Kami pun beberapa kali mengganti waktu kegiatan. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami melaksanakan kegiatan setiap minggu sore.

Bertemu dengan Komunitas

Hampir setengah tahun berjalan, kami berkesempatan mengikuti bimbingan teknis (bimtek) yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kabupaten Kulon Progo. Kami tidak diundang, tetapi kami mendaftarkan diri menjadi peserta. Semua itu berawal dari informasi via WhatsApp yang diberikan oleh kepala dukuh. Bagi kami yang tinggal di “gunung”, akses ke dinas pendidikan atau stake holder dan instansi pemerintah memang lumayan sulit.
Dengan mengikuti bimtek tersebut, tidak hanya materi pembelajaran yang kami dapatkan. Lebih dari itu kami jadi tahu, ternyata taman bacaan memiliki sebuah komunitas. Komunitas tersebut adalah Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM). Di sinilah kami bertemu dengan Ibu Heni, selaku Ketua FTBM DIY. Kami juga akhirnya bertemu dengan teman-teman penggiat TBM di Kulon Progo.

Setelah bertemu dengan mereka, ternyata banyak juga teman-teman yang memiliki semangat yang sama dalam mengembangkan literasi. Bersama Bu Heni, kami jadi sering diajak dalam berbagai acara literasi. Kawan-kawan di provinsi juga sering berbagi info kegiatan, diskusi buku, maupun perlombaan.

Kerja Sama Kegiatan

Pertemuan dengan kawan-kawan komunitas membuka peluang kami untuk bekerja sama dan melebarkan sayap kebermanfaatan. Kami juga mencoba melakukan kerja sama dengan sekolah. Hal ini berawal dari permintaan sekolah dan menjadi salah satu pengelola TBM Akar Pelangi, yang menginginkan adanya bacaan untuk remaja jenjang pendidikan SMA.

Setelah kami melihat kondisi sekolah, perpustakaan belum menyediakan bahan bacaan yang tepat untuk siswa-siswanya. Saya berkeliling ke beberapa sekolah, dan hampir semua perpustakaan hanya berisi koleksi buku paket pelajaran. Akhirnya, kami membuka program kerja sama berupa peminjaman buku ke sekolah. Untuk jenjang pendidikan SD, kami memberikan buku bacaan anak. Sedangkan untuk jenjang pendidikan SMP dan SMA, kami siapkan novel remaja, buku keterampilan, dan pengetahuan umum lainnya.

Keterlibatan Relawan

Ada masa ketika para pengelola tidak memiliki waktu untuk melaksanakan kegiatan rutin di taman baca. Bahkan, ada beberapa pengelola yang harus bekerja di luar Pulau Jawa. Tentu ini menjadi masalah dalam melaksanakan kegiatan. Sampai di beberapa kesempatan, kami terpaksa meliburkan kegiatan. Angin segar datang ketika ada relawan yang menawarkan bantuan sebagai tenaga pengajar. Kemungkinan mereka mengetahui keberadaan TBM Akar Pelangi melalui akun Instagram, karena kami rajin mengunggah foto.

Keberadaan relawan sangatlah membantu kegiatan TBM Akar Pelangi. Relawan akan memberi suasana baru yang menarik bagi anak, juga banyak membawa materi atau jenis kegiatan baru. Kami belum pernah membuka lowongan atau pendaftaran relawan. Mereka secara sukarela bergabung dengan kami. Ke depannya, kami berkeinginan untuk membuat konsep relawan wisata, karena lokasi kami yang berdekatan dengan kawasan wisata. Kami ingin membuat paket wisata dan menjadikan relawan wisata sebagai relawan taman baca.

Harapan Pengelola TBM Akar Pelangi

Kami mengawali Akar Pelangi dengan nol pengalaman. Kami bukan anak sastra, bukan penulis, dan bukan pengelola perpustakaan. Namun, kami memiliki semangat yang sama untuk menggiatkan budaya gemar baca. Kami menyelenggarakan kegiatan dengan apa yang kami bisa, sembari mengumpulkan buku sedikit demi sedikit. Kebahagiaan kami juga sederhana, bukan seberapa banyak jumlah buku, namun seberapa besar kebermanfaatan dari buku yang sudah kami miliki. Semangat berbagi ini akan terus kami gelorakan. Bagi teman-teman yang ingin ikut berkontribusi menjadi penggiat taman bacaan, tidak ada kata terlambat. Sekaranglah saatnya untuk mewujudkan aksi nyata.

Beny Abdurrahman. Lahir di Kulon Progo, 11 Agustus 1992. Saat ini menjalani profesi sebagai pengajar. Aktif menulis sejak di bangku kuliah, khususnya di bidang karya ilmiah. Mengelola TBM Akar Pelangi sejak Agustus 2017. Menjadi finalis Pemuda Pelopor DIY di bidang pendidikan tahun 2019. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial Instagram: @beny_abd