Oleh. Heri Maja Kelana

 

“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim dan muslimat. Tuntutlah ilmu sejak buaian sampai lubang kubur. Tiada amalan umat yang lebih utama daripada belajar.”

Belajar sepanjang hayat sudah dikatakan oleh Rasuallah, Muhammad SAW, kemudian dikatakan kembali oleh Edgar Faure dari The International Council of Education Development (ICED) atau Komisi Internasional Pengembangan Pendidikan, Edgar Faure mengatakan “With its confidence in man’s capacity to perfect himself through education, the Muslim world was among the first to recommended the idea of lifelong education, exhorting Muslim to educate themselves from cradle to the grave.” (Faure, 1972).

Belajar sebagai salah satu aktivitas manusia, tentu lahir sebuah prinsip-prinsip terkat belajar itu sendiri, diterjemahkan lewat teori-teori. Kita semua telah mengenal banyak sekali teori tentang pendidikan, mulai dari teori Koneksionisme yang dikemukakan oleh Thorndike, teori Conditioning yang dilakukan oleh Ivan Pavlov, teori Medan yang dikembangkan oleh Kurt Lewin, teori Gestalt yang dikembangkan oleh Wertheimer, dan lain sebagainya. Serta tidak lupa teori yang dikembangkan oleh Paulo Freire seorang Brazilian, teori mengenai pendidikan yang membebaskan berpengaruh di dunia.

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, apakah terori-teori tersebut sudah menyentuh pendidikan seutuhnya? Pendidikan yang secara ideal adalah “memanusiakan manusia”.

Indonesia konsep pendidikan yang bagus, yaitu Pendidikan Keluarga, Pendidikan Sekolah, dan Pendidikan Masyarakat yang dikemukakan dalam Tripusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara. Namun selama ini pendidikan masih terfokus pada pendidikan sekolah semata.

Pincangnya Pendidikan di Indonesia

Belakangan ramai membicarakan mengenai Peta Jalan Pendidikan Indonesia, di mana dalam draf tersebut tidak terdapat frasa agama, pendidikan masyarakat, serta literasi di dalamnya. Temen-temen dari organisasi keagamaan turun ke jalan, serta memprotes hilangnya frasa agama dalam peta jalan tersebut. Kemudian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim ikut berbicara dan menyampaikan bahwa peta jalan itu masih draf, masih memungkinkan untuk berubah.

“Dalam Peta Jalan Pendidikan menyebut pentingnya nilai-nilai kebudayaan, namun kalau kita lihat bahwa nilai-nilai kebudayaan lebih bisa hidup di masyarakat daripada di sekolah.” Maman Suherman mengomentari draf Peta Jalan Pendidikan Indonesia pada kesempatan sebagai narasumber Energi Literasi dari Rumah, Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM), Jumat 30/04/21.

Selain Kang Maman sapaan akrab dari Maman Suherman, hadir pula Sofie Dewayani, Ph.D, serta Prof. Djoko Saryono pada kegiatan Energi Literasi dari Rumah.

Sofie Dewayani juga turut mengomentari draf Peta Jalan Pendidikan Indonesia “Seperti yang dikatakan Freire, bahwa literasi kritis tidak lahir dari ruang kelas, melainkan lahir dari masyarakat.”

Kemudian kritik juga disampaikan oleh Prof. Djoko Saryono “Peta Jalan Pendidikan belum memberikan tempat pada Pendidikan Masyarakat dan Literasi.”

Pendidikan yang dimaksud dengan Tripusat Ki Hajar Dewantara belum sepenuhnya terealisasi di Indonesia. Ditambah tidak adanya pendidikan masyarakat dan literasi dalam draf Peta Jalan Pendidikan Indonesia, semakin jauh orientasi pendidikan yang dicita-citakan itu, yaitu pendidikan yang memanusiakan manusia.

Kang Maman juga menyebutkan bahwa pendidikan lebih beroriantasi pada Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Terutama ketika menyesuaikan dengan revolusi industri 4.0 yang kemudian sekarang mengarah pada Society 5.0.

Ketika pendidikan hanya berorientasi pada DUDI, maka pendidikan akan berada dalam bayang-bayang kapitalis. Serta pendidikan yang memanusiakan manusia akan semakin jauh dicapai. Selama itu pula pendidikan di Indonesia akan terus pincang.

Pendidikan Masyarakat dan Literasi

Literasi dapat menjadi solusi dalam kepincangan pendidikan di Indonesia, seperti yang dikatakan oleh Dr. Samto, Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ketika memberikan pengantar pada Energi Literasi dari Rumah “Literasi itu sebagai petunjuk arahnya dalam Peta Jalan Pendidikan Indonesia. Jadi literasi adalah cara untuk mencapai tujuan dalam peta jalan tersebut.”

6 keterampilan literasi dasar harus betul-betul dimiliki oleh setiap individu manusia Indonesia. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) melalui program-programnya sebenarnya sedang menanamkan 6 keterampilan literasi dasar tersebut. Teman-teman pengelola TBM dan komunitas literasi lainnya berjibaku di akar rumput, turut mencerdaskan kehidupan bangsa, serta mengambil peran pendidikan sesuai dengan kapasitasnya.

Teman-teman pegiat literasi bergerak tanpa tahu dia bergerak menggunakan metode atau teori pendidikan. Yang mereka ketahui bahwa pendidikan harus sampai pada masyarakat. Pendidikan harus merata.

Literasi serta pendidikan masyarakat penting peranannya. Apabila saya meminjam konsep pendidikan humanis dari Landman, maka konsep ini lebih tepat diaplikasikan pada pendidikan masyarakat. Sebab konsep humanisme lebih menekankan pada objek kognitif dan afektif individu, juga kondisi lingkungan sekitar. Kemudian muncul pengalaman yang akan menjadi kebutuhan warga pembelajar secara empirik. Apa yang dibutuhkan serta dirasakan oleh warga belajar.

Teman-teman pegiat literasi sebenarnya sedang mempraktikan konsep humanisme. Sebab masyarakat (warga belajar) aktif dalam merumuskan strategi pendidikan yang kemudian menjadi program di Taman Bacaan Masyarakat serta Komunitas Literasi lainnya.

Kepincangan pendidikan di Indonesia, dapat disembuhkan dengan konsep humanisme pendidikan. Konsep humanisme pendidikan hanya terdapat pada pendidikan masyarakat, dan literasi seperti yang dikatakan Dr. Samto sebagai petunjuk arahnya atau rambu-rambunya.

Ketika draf Peta Jalan Pendidikan Indonesia tidak memasukan literasi dan pendidikan masyarakat, maka aneh dan heran. Apa yang sedang terjadi dengan pendidikan? Apa sebenarnya yang sedang dirumuskan terkait pendidikan di Indonesia?

Saya jadi teringat dengan joke joke Warkop DKI ketika masih ngocol di Radio Prambors yang diberi judul “Belajar” yang selalu saya dengarkan ketika masih kuliah. Indro bertindak sebagai guru dengan murid Kasino dan Dono.

Guru: Anak-anak saya absen dulu ya, tolong yang disebut namanya tunjuk tangan.

Murid: Siap Pak Guru.

Guru: Fatonah?

(guru memanggil nama Fatonah hingga 3 kali)

Murid: Tidak ada pak.

Guru: Aminah?

Murid: Tidak ada pak?

Guru: Zamilah?

Murid: Tidak ada pak.

Guru: Suradi?

Murid: Tidak ada pak. Pak rasa-rasanya itu bukan murid sini, pak?

Guru: Rizki Rizki?

Murid: Gak ada pak.

Guru: Oh salah, ini absesnsi Majelis Taklim.

(Singkat cerita guru sudah berhasil mengabsen murid-muridnya. Kemudian memberikan pelajaran Ilmu Bumi, kalau sekarang Geografi)

Guru: Kalau kita berbicara bumi, maka kita akan dihadapkan dengan asal muasal bumi. Dengan kata lain, kapan terciptanya atau lahirnya bumi? Di buku saya ini dikatakan bahwa bumi lahirnya itu 4500 juta tahun yang lalu.

Murid: Ah bohong pak, 3 tahun yang lalu kakak saya sekolah di sini. Umur bumi masih tetap sama 4500 juta tahun. Kenapa gak nambah-nambah?

Guru: Bumi itu, anak-anak, konon katanya bulat.

Murid: lah katanya, guru kok gak yakin?

Guru: Saya akan yakin kalau saya sudah membuktikan. Selama ini saya belum membuktikan. Jadi harus pake kata “konon”.

(terjadi keriuhan ketika guru sedang menerangkan konon bumi itu bulat)

Guru: Kemudian bumi itu selalu berputar anak-anak. Menurut apa anak-anak bumi itu selalu berputar?

Murid: (serempak) menurut kehendak yang kuasa.

Guru: Pinter ya anak-anak. Sebagai penganut aliran Utha Likumahuwa. Memang semuanya harus menurut kehendak yang kuasa, ya.

Joke Joke tentang pendidikan hingga sekarang masih menarik untuk diangkat. Karena memang berbicara pendidikan, tidak ada batasnya. Seperti juga ketika menuntut ilmu, tidak ada batasnya, “Belajar sepanjang hayat”.