LOADING

Type to search

Lintas Juang Roda Literasi Sanggar Bocah Jetis

Penulis : Rakhmadi Gunawan*

Sanggar Bocah Jetis adalah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang berada di Dusun Jetis. Dimana merupakan suatu tempat yang dulu tak pernah terdengar, bahkan diucapkan oleh seorang pun di Dusun Jetis. Keberadaan Sanggar Bocah Jetis yang hanya berada di teras salah satu rumah warga Jetis yang bernama Kardjono ini, merupakan tempat berkumpulnya anak-anak Dusun Jetis. Kardjono adalah bapak dari Rakhmadi Gunawan atau yang sering dipanggil Mbah Guns. Di tempat inilah Mbah Guns beserta anak-anak di sekitarnya merajut mimpi membuat Sanggar Bocah Jetis menjadi tempat berkumpul sekaligus belajar.

Awal mula terbentuknya Sanggar Bocah Jetis tergolong unik, karena berawal dari guyonan (candaan) Mbah Guns dengan anak-anak sekitar rumahnya yang berandai membuat sebuah tempat untuk berkumpul dan berkegiatan. Dan akhirnya Mbah Guns merubah teras rumah menjadi tempat berkumpul dan berkegiatan untuk anak-anak di Dusun Jetis. Setiap hari mereka bermain, berkumpul, dan melakukan kegiatan di teras itu.

Setelah merasa nyaman dan semakin banyak anak yang berkumpul, kembali ada pertanyaan dalam pikiran Mbah Guns, yaitu hal apa yang bisa menambah asyik dan menarik dari teras ini. Akhirnya Mbah Guns mulai browsing mencari informasi dan referensi pergerakan atau kegiatan apa saja yang dapat menunjang kegiatan mereka sehingga semakin menjadi menarik dan berkualitas. Berbagai kegiatan menjadi referensi, sampai akhirnya tercetuslah ide untuk membuat perpustakaan.

Diawali dengan mengumpulkan buku-buku bacaan bekas, sampai memanfaatkan rak buku bekas yang tak terpakai. Berdirinya perpustakaan ini berawal dari bahan bacaan sekitar 30 buku yang terdiri dari buku pelajaran sampai majalah-majalah bekas. Setelah rak buku dan buku-buku tertata, Mbah Guns mulai mengekspos dan mempublikasikan gerakan mereka. Mulai membuat akun Twitter maupun Instagram dan mulai rajin mem-posting aktifitas mereka sehari- hari.

Gayung bersambut, di salah satu media sosial Mbah Guns berkenalan dengan salah satu pegiat taman bacaan yang berasal dari Desa Banjarsari, Kecamatan Turi. Setelah berkenalan lewat dunia maya dan memaparkan apa visi serta misi masing-masing, akhirnya pengelola taman bacaan tersebut datang berkunjung ke Sanggar Bocah Jetis dengan membawa beberapa buku bacaan. Pertemuan ini tentunya sangat berharga dan membawa energi optimis bagi gerakan Sanggar Bocah Jetis.

Mbah Guns dan anak-anak yang mengelola Sanggar Bocah Jetis mulai gencar memproduksi kegiatan, sekedar membaca buku sampai bercerita untuk anak-anak yang lain secara bergiliran. Setelah mendapat respon dari teman-teman di dunia maya, ternyata di dunia nyata pun tak berbeda jauh. Sanggar Bocah Jetis mendapat surat/undangan dari pemerintah kecamatan yang berisi agar Sanggar Bocah Jetis diajukan untuk mengikuti lomba Dolanan Bocah. Kabar ini disambut dengan antusias oleh anak-anak yang sering ke Sanggar Bocah Jetis. Adanya undangan tersebut mengharuskan Sanggar Bocah Jetis membuat susunan kepengurusan.

Sanggar Bocah Jetis mengawali pergerakan perdananya, bekerja sama dengan guru tari bernama Mbak Daning. Kerjasama tersebut berupa membuat koreo dan juga membuat aransemen musik dari gamelan tradisional guna mengikuti lomba Dolanan Anak di Lapangan Denggung yang di selenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. Walau belum mendapat juara, hasil dari mengikuti kegiatan tersebut membuat anak–anak semakin banyak yang datang ke Sanggar Bocah Jetis.

Pengelola Sanggar Bocah Jetis semakin semangat dalam membuat kegiatan. Mulai dari membuat keterampilan, mendongeng, bahkan kegiatan membaca Al-Quran dilakuan di sanggar ini. Tak hanya itu, Sanggar Bocah Jetis juga semakin aktif mengikuti lomba dan mendukung lomba yang ada di dusun sampai tingkat kabupaten agar keberadaan Sanggar Bocah Jetis semakin dikenal oleh masyarakat. Benar kata orang dulu bahwa nek wis due jeneng mesti entuk jenang, artinya bahwa kalau kita sudah terkenal maka rejeki dan semuanya akan mengikuti. Idiom ini sangat terasa bagi Sanggar Bocah Jetis, dulu koleksi buku hanya 30 judul sekarang kurang lebih 600 judul buku. Pencapaian yang sangat mengagumkan kerena dalam waktu kurang dari satu tahun koleksi buku meningkat cukup banyak.

Kebahagian pasti diimbangi dengan kewajiban, buku meningkat tapi minat kunjung dan minat baca belum maksimal. Hal ini membuat pengelola harus memutar otak untuk selalu melakukan inovasi agar minat kunjung dan juga minat baca meningkat. Semua ini perlu dilakukan guna mempertanggung jawabkan semua bantuan buku yang telah diberikan ke Sanggar Bocah Jetis. Beberapa langkah yang coba mereka lakukan yaitu selalu merubah penataan dekorasi ruangan agar anak-anak senang datang ke Sanggar Bocah Jetis. Harapannya akan meningkatkan minat baca buku anak-anak tersebut. Walau begitu ternyata itu pun belum cukup untuk bisa meningkatkan minat kunjung anak-anak ke Sanggar Bocah Jetis.

Melihat koleksi buku yang semakin lama koleksinya semakin banyak, Mbah Guns sebagai pengelola Sanggar Bocah Jetis selalu merasa dihantui perasaan tentang kebermanfaatan buku-buku itu. Mulai berpikir bagaimana cara membuat buku-buku koleksi Sanggar Bocah Jetis agar sampai ke pembaca. Bermodalkan kotak bekas keranjang buah dan sepeda tuanya, Mbah Guns mulai melakukan gerakan mendekatkan buku ke pembaca yang diberi nama Ontel Smart.

Pada awalnya, gerakanini hanya dilakukan saat ada rapat Karang Taruna di Desa Caturharjo serta TPA di masjid sekitar Sanggar Bocah Jetis. Saat Sanggar Bocah Jetis mengikuti lomba perpustakaan komunitas dan menjadi juara ke II terbaik se-Kabupaten Sleman, Mbah Guns bernazar akan mengayuh sepedanya di mana pun akan diadakan penyerahan hadiah. Waktu yang dinanti tiba, datang undangan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah bahwasanya akan ada kegiatan di area Candi Prambanan. Mungkin karena saking semangatnya, acara trersebut dimaknai sebagai acara penyerahan hadiah. Akhirnya Mbah Guns pun mempersiapkan segalanya untuk melaksanakan apa yang telah menjadi ucapannya, yaitu mengayuh sepeda ontel yang diberi nama Ontel Smart, dari Sanggar Bocah Jetis menuju Candi Prambanan.

Di saat bersamaan, ada seorang donatur bernama Nanang Kusutanto ingin membuatkan krombong yang didesain khusus olehnya agar semakin bagus dan tentunya aman saat dibawa keliling. Pada tanggal 18 Mei 2017 menjadi sejarah bagi Sanggar Bocah Jetis, karena di tanggal itu Mbah Guns dengan Ontel Smart Sanggar Bocah Jetis melakukan ekspedisi kampanye gerakan cinta baca ke Candi Prambanan. Menempuh jarak sekitar 150 km, Mbah Guns melakukan start dari Sanggar Bocah Jetis pukul setengah lima dini hari dengan dikawal oleh teman-teman Karang Taruna Caturharjo. Dalam perjalanan Mbah Guns sempat akan pingsan karena kelelahan dan juga belum makan. Setelah istirahat sejenak, akhirnya Mbah Guns melanjutkan perjalanan sampai ke komplek Candi Prambanan sekitar pukul tujuh pagi dengan selamat. Bangga dan bahagia mengalahkan rasa lelah.

Setelah ekspedisi tersebut, Mbah Guns semakin mantap untuk melanjutkan gerakan ekspedisi cinta baca. Berbekal saran dari salah satu kawannya pengelola Padepokan ASA, Mbah Guns mulai dikenalkan kepada para komunitas-komunitas pegiat pendidikan yang ada di Kota Jogja dan sekitarnya. Mbah Guns dengan Ontel Smart-nya diikutkan pada pertemuan dan festival para pegiat pendidikan yang diadakan di Balai Kota Jogja. Hasil mengikuti kegiatan ini membuat Mbah Guns mendapat banyak sekali tambahan jaringan dan juga ilmu.

Suka dukanya Mbah Guns dalam mendekatkan bahan bacaan ke masyarakat dengan Ontel Smart? Menurut Mbah Guns sukanya lebih banyak dari pada dukanya. Sukanya yaitu jadi tambah menghayati perjuangan Sanggar Bocah Jetis, semakin mengetahui minat baca dan respon masyarakat akan minat baca, serta tentunya tambah saudara dan teman dalam bergerak. Dukanya yaitu lelah, itupun hilang saat melihat anak-anak menyambut sepeda Ontel Smart Sanggar Bocah Jetis dan mulai berebut bacaan.

Setelah kegiatan Ontel Smart berjalan, Sanggar Bocah Jetis melakukan kerjasama dengan organisasi pemuda yaitu Karang Taruna dengan membuat kegiatan yang diberi nama Minggu Berbagi. Minggu Berbagi yaitu kegiatan yang diadakan setiap dua minggu sekali di dusun-dusun wilayah Desa Caturharjo, melibatkan pemuda setempat. Kegiatan ini bertujuan untuk mendekatkan bahan bacaan kepada anak-anak dan masyarakat di dusun yang didatangi oleh tim Karang Taruna dan Sanggar Bocah Jetis. Kegiatan ini juga digunakan sebagai sarana memotivasi gerakan kepemudaan dusun agar mau mendirikan pojok-pojok baca di dusunnya masing-masing dengan bahan bacaan yang dipinjami oleh Sanggar Bocah Jetis sebagai awalannya.

Tak hanya berhenti disitu, Sanggar Bocah Jetis juga melakukan kerjasama dengan sekolah sekitar dalam mengadakan kegiatan gelar buku sekaligus mensukseskan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Sanggar Bocah Jetis berupaya dengan segala inovasinya mendekatkan bahan bacaan ke pembaca, walaupun masih banyak juga kekurangannya, salah satunya adalah masih minimnya buku bacaan untuk anak- anak.

Dalam mensiasati kekurangan bahan bacaan, Sanggar Bocah Jetis melakukan kerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Sleman, yaitu dengan mengakses program Silang Layan. Selain itu, Sanggar Bocah Jetis juga bekerjasama dengan Perpustakaan Desa Caturharjo dalam pengadaan bahan bacaan.

Harapan Sangar Bocah Jetis kedepannya agar bertambah lagi koleksi buku bacaan agar bisa mewujudkan pojok baca di 20 pedusunan di Desa Caturharjo. Adanya pojok-pojok baca tersebut, harapannya akan meningkatkan minat baca masyarakat. Pada akhirnya berupaya untuk mencerdaskan masyarakat sehinggaa ekonomi masyarakat akan mengalami peningkatan.

*Rakhmadi Gunawan. Pegiat literasi DIY dan aktivis Karang Taruna DIY. Pengelola TBM Sanggar Bocah Jetis (Sleman, DIY).


Aku, Buku, dan Masa Depan

Penulis: Layla Noor Aziza*

Aku dan Buku

Buku, sebuah benda yang sudah tidak asing untukku. Sejak kecil, keluargaku terutama ibu sudah mengenalkan aku dengan berbagai macam buku. Hal ini dikarenakan ibu yang merupakan guru SD mempunyai kegemaran membaca dan mengoleksi banyak buku. Menjadikan anak-anaknya menjadi tidak asing dengan buku. Ibuku adalah orang tua yang disiplin dan sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Setiap malam beliau selalu mendampingi keempat anaknya mengaji dan belajar. Di sela waktu senggangnya, ibuku selalu mengenalkan buku untuk anak-anaknya, mulai dari membacakan buku cerita, menceritakan cerita dari buku yang dibaca, dan pelajaran yang dapat diambil dari buku cerita yang sudah dibacakan. Selesai aku lulus SD, ibuku mengalami musibah kecelakaan yang mengakibatkan beliau meninggal. Sejak saat itu kegiatan membaca buku cerita oleh ibu otomatis berhenti, karena sejak sepeninggal ibu, ayah saya sibuk bekerja dan mengurus kebutuhan keempat anaknya. Akan tetapi kecintaan kepada buku yang telah diwariskan oleh ibu dan ketiga saudara saya tidak berkurang. Kami tetap membaca buku-buku yang ditinggalkan oleh ibu di sela waktu senggang kami. Apalagi pada saat saya SMP, baru tenar-tenarnya Taman Baca yang menyediakan buku cerita, novel, dan komik-komik yang menarik untuk anak-anak dan dapat dipinjam untuk dibawa pulang. Mulai masuk bangku kuliah, kegemaran membaca buku mulai menjadi, terlebih dengan adanya berbagai macam koleksi buku yang bagus-bagus di perpustakaan kampus tempat saya kuliah. Ditambah lagi, teman-teman sekelas saya di kampus yang rata-rata mempunyai hobi yang sama, yaitu membaca. Semakin tersalurkanlah kegemaran saya akan buku.

Buku, Anak-anak, dan Masyarakat

Pada tahun 2012, kami mendirikan sebuah lembaga PAUD yang pada awalnya hanya ditujukan untuk anak-anak balita di sekitar kampung, kami namakan PAUD Anak Brilian. PAUD Anak Brilian berada di Dusun Paten, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada awal masuk, banyak ibu-ibu yang menunggui anaknya di PAUD dari awal sampai akhir. Untuk memberikan kegiatan kepada ibu-ibu yang menunggui anaknya di PAUD kami menyediakan beberapa buku yang dapat dibaca di tempat. Buku tersebut merupakan koleksi dari para pendidik dan sumbangan dari beberapa warga sekitar PAUD. Karena koleksi buku makin bertambah serta banyak ibu-ibu dan anak-anak sekitar yang ikut membaca buku-buku di PAUD, kami sepakat untuk mendirikan sebuah taman baca untuk masyarakat yang kami namakan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Anak Brilian. TBM Anak Brilian berdiri pada tanggal 22 Juni tahun 2012 dan berada di sebelah PAUD Anak Brilian. PAUD dan TBM kami mempunyai halaman yang cukup luas, setiap harinya banyak anak-anak bermain di halaman karena terdapat banyak Alat Permainan Edukatif (APE) luar yang terbuka untuk umum. Tidak sedikit yang mengambil buku di TBM untuk dibaca di halaman sambil bermain ayunan dengan teman-temannya. TBM Anak Brilian dari awal memang tidak ada yang menunggu, sehingga kegiatan baca dan pinjam hanya didasarkan pada kejujuran masing-masing. Anak-anak dan orang tua mengisi sendiri di buku peminjaman, berupa judul buku yang dipinjam, tanggal peminjaman, dan kapan buku tersebut akan dikembalikan. Setiap tiga bulan kami mendata buku-buku yang ada di TBM kami dan selalu ada buku yang belum kembali, entah hilang atau dipinjam dan belum dikembalikan. Akan tetapi hal itu tidaklah menjadi masalah bagi kami, bagi kami yang penting anak-anak menyukai kegiatan membaca daripada hanya sekedar bermain gadget. Masyarakat begitu antusias dengan adanya TBM ini. Kabar adanya taman baca kian mewabah di masyarakat luas, informasi dari mulut ke mulut menjadi tersebar dan bertambah pula para pengunjung yang berdatangan.

Dalam rangka mengenalkan taman baca kami kepada masyarakat sekitar, kami juga mengadakan beberapa kegiatan yang melibatkan masyarakat. Diantaranya pasar murah yang kami kemas dalam Market Day Anak Brilian. Pada acara ini kami menyediakan beberapa stan yang kami buka untuk masyarakat sekitar dan wali murid yang ingin ikut berpartisipasi. Salah satu kegiatan yang kami lakukan adalah menyediakan berbagai kebutuhan sembako, makanan tradisional, pakaian, dan kebutuhan rumah tangga lain dengan harga murah yang dapat dijangkau masyarakat. Di kegiatan ini kami juga mengadakan beberapa perlombaan untuk anak-anak, seperti lomba menyanyi, lomba mewarnai, serta hiburan musik dan badut. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengenalkan adanya taman bacaan dan menarik perhatian masyarakat untuk datang dan berkunjung.

Baca Aku

Seringkali terlihat para pengunjung masih menikmati beberapa buku yang belum terselesaikan, membuat mereka tertarik membawa pulang dan diselesaikan di rumah. Baca Aku adalah program yang kami berikan sepenuhnya untuk masyarakat agar mampu menikmati buku dengan membawanya pulang, sehingga masyarakat dapat menikmati setiap tulisan dalam buku hingga akhir. Begitu besar dampak positif dalam program ini, mereka mampu melek membaca dan ketika mereka membawanya pulang menandakan minat baca sudah tertanam dalam pikiran masyarakat.

Untuk mengenalkan dan membuat anak-anak menyukai buku, kami menggunakan teknik read aloud untuk membacakan buku cerita kepada anak-anak. Teknik read aloud adalah kegiatan membacakan buku cerita kepada anak dengan suara lantang/nyaring agar anak tertarik dan lebih fokus dengan buku yang dibacakan. Dengan teknik ini maka program Baca Aku di TBM Anak Brilian akan menyentuh semua kalangan baik anak-anak ataupun orang tua mereka. 

Satu Hari Satu Anak Satu Buku

Memiliki anak yang cerdas tentunya adalah suatu dambaan oleh semua orang tua. Anak yang terdidik diharapkan mampu berguna untuk bangsa dan agama. Semua harapan itu pasti tidak akan lepas dari keterlibatan guru atau sebuah instansi pendidikan. Seiring berjalannya waktu tempat yang kami singgahi mampu berkembang dan dapat mendirikan sebuah bangunan baru. Kegiatan pertama yang kami selenggarakan ialah Satu Hari Satu Hari Satu Anak Satu Buku, kegiatan tersebut tidak lain untuk mengajari masyarakat agar dapat berkontribusi dalam mendukung adanya TBM ini. Kegiatan ini juga untuk mengenalkan literasi sejak dini kepada anak-anak didik di PAUD kami. Cukup sederhana untuk beberapa kegiatan yang membuat masyarakat masih mampu menciptakan rasa minat dunia literasi ini. Kegiatan Satu Hari Satu Anak Satu Buku adalah suatu kegiatan di mana dalam setiap harinya anak-anak dibiasakan untuk memegang dan membaca buku melalui sesi pegang buku. Anak-anak membaca buku-buku cerita yang tersedia di TBM Anak Brilian. Dari kegiatan ini diharapkan anak akan terbiasa dengan buku dan selanjutnya menjadi senang dengan kegiatan membaca.

Anak-anak Bergembira

Menjelajahi bumi tentu akan mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman yang akan membekas dalam pikiran. Begitu pula yang kami lakukan untuk memberikan kegiatan kepada anak-anak PAUD, mengeksplore pemikiran mereka yang masih baru untuk mengenal luasnya dunia. Berwisata mengunjungi tempat-tempat yang mampu memberikan gagasan baru kepada mereka, program rutin satu bulan satu kali. Tempat yang kami kunjungi rutin dalam setiap semester dalam rangka mengenalkan dan menumbuhkan minat baca pada anak adalah Perpustakaan Daerah Kabupaten Sleman yang sekarang menjadi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, melalui program Wisata Pustaka. Selain itu kami juga mengajak anak ke Perpustakaan Grhatama Pustaka yang menyediakan tempat dan layanan yang asyik dan menarik untuk anak usia dini, terutama bidang literasi. Beberapa tempat lain yang pernah kami datangi bersama anak-anak PAUD, seperti Keraton Yogyakarta, Kebun Binatang Gembira Loka, Museum Soeharto, Museum Dirgantara, Museum Gunung Merapi, dan Candi Sambisari yang diharapkan dapat mengenalkan budaya sekitar kepada anak.

Dengan terus berkembangnya TBM Anak Brilian kami berharap dapat memberikan manfaat, baik untuk anak-anak, pemuda, ibu-ibu dan bapak-bapak, serta seluruh masyarakat sekitar dalam upaya mengenalkan dan mengembangkan literasi di masyarakat. Kami akan terus mengenalkan budaya baca di lingkungan sekitar TBM Anak Brilian dan masyarakat pada umumnya sehingga terwujud masyarakat gemar membaca di Padukuhan Paten, Tridadi, Sleman. Salam Cerdas, Salam Literasi.

*Layla Noor Aziza. Pegiat literasi DIY, guru PAUD yang nyambi sebagai pengelola TBM Anak Brilian (Sleman, DIY). 


The Story of Cakruk Pintar

Penulis : Rumi Astuti*

TBM ini dikenal dengan nama Cakruk Pintar Jogja, beralamat di Nologaten Gg. Selada 106 A, RT 04 RW 01, Caturtunggal, Depok, Sleman, DIY. Lokasi dan bentuk yang unik, berdiri di tengah perkampungan, selalu dikunjungi orang setiap saat dan selalu silih berganti, diskusi berbagai hal, membuat para inisiator memberi nama Cakruk Pintar.

Tentang nama Cakruk adalah istilah ndeso yang memiliki makna gardu atau gubug, biasa dipakai tempat ronda atau nongkrong di desa, tempat sharing atau gosip apapun mengenai berbagai isu yang berkembang. Istilah Pintar, bermakna smart, fathanah, atau cerdas. Cakruk Pintar, adalah sebuah perpustakaan berbasis masyarakat (community library) atau juga sering disebut Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Bersifat terbuka, tempat mengakses berbagai sumber belajar masyarakat, pengembangan potensi, dan melakukan proses pembelajaran. Cakruk Pintar hadir, diharapkan mampu mendorong dan mempercepat terwujudnya masyarakat pembelajar (learning society), yaitu masyarakat yang gemar membaca, melek informasi, dan mampu meningkatkan daya saing di era kompetitif.

Lokasi Cakruk Pintar adalah bekas kandang babi yang dikosongkan pada tahun 1999 dan tempat pembuangan sampah yang tidak resmi. Saat itu ada kegelisahan warga terkait sampah liar, hilangnya bau babi memunculkan aroma baru, yaitu sampah yang tak dikelola. Gagasan mulai keluar dan mengalir, aktivitas bersih-bersih sampah mulai dilaksanakan. Bulan April 2003, ide besar dari diskusi warga muncul untuk mengelola kawasan penuh sampah tersebut. Rencananya kawasan ini akan disulap menjadi perpustakaan dan kawasan pemberdayaan masyarakat. Akhirnya tim Cakruk Pintar mulai bekerja membongkar sampah, memoles kandang babi menjadi kolam ikan, dan cakruk pun mulai dipikirkan untuk dibangun walau hanya sederhana. Berbagai konsep dan gagasan mulai bermunculan, jaringan dan networking mulai dibangun dan dikelola. Beberapa gagasan itu antara lain akan menyulap bekas TPS liar menjadi perpustakaan, akan membuat kawasan wisata air, pusat informasi, pusat gerakan budaya baca, dan gagasan-gagasan cemerlang lainnya. Bisa dikatakan tahun 2003 merupakan tahun perintisan Cakruk Pintar. Sampai pada perkembangan berikutnya, seiring berjalannya waktu dan berbagai kegiatan, Cakruk Pintar memiliki lokasi sendiri yang difungsikan sebagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM).

Tahun 2007 atas berbagai pertimbangan, seperti banyaknya kegiatan yang dikelola oleh Cakruk Pintar serta dorongan masyarakat yang kuat maka kami berusaha untuk memperkuat kelembagaan. Salah satunya dengan mengurus akta notaris untuk mendirikan yayasan dengan nama Yasuka Indonesia. Ibarat ibu yang baru saja lahir setelah anak bisa jalan, posisi TBM Cakruk Pintar merupakan salah satu lembaga yang berdiri di bawah naungan Yayasan Yasuka Indonesia. Walaupun secara resmi yayasan ini berdiri empat tahun setelah peresmian Cakruk Pintar. Yayasan ini secara legal juga sudah berbadan hukum dengan orientasi utama di bidang training, riset, dan konsultasi.

Visi TBM Cakruk Pintar adalah mewujudkan masyarakat gemar membaca, terampil, kreatif, mandiri, dan unggul dalam prestasi. Sedangkan misinya adalah melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga masyarakat dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki, serta meningkatkan sumber daya manusia pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Cakruk Pintar. Struktur organisasi TBM Cakruk Pintar sangat simpel, yaitu Ketua, Tim Kreatif, dan Anggota. Struktur ini lebih banyak memperkaya fungsi dan memperkuat pemberdayaan pengurus. Bentuk kepengurusan ini lebih dipilih daripada banyak pengurus tetapi miskin fungsi. Jika Cakruk Pintar banyak aktivitas dan melibatkan banyak orang, pada umumnya mereka adalah volunteer yang bersifat insidental.

Program utama Cakruk Pintar adalah tri-daya, tiga pemberdayaan utama, yaitu pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM), pemberdayaan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi. Sementara aktivitas utama yang selama ini dilaksanakan adalah Taman Bacaan Masyarakat (TBM), konsultasi belajar anak dan remaja (bimbingan belajar), kelas menulis (bengkel menulis), majelis taklim, dan bantuan beasiswa (biaya pendidikan). Selain itu Cakruk Pintar juga berusaha memelihara seni dan permainan tradisional, misalnya hadrah, dakon, egrang bathok, berbagai permainan tradisional, dan lain sebagainya. Tentu hal ini sesuai dengan tujuan TBM Cakruk Pintar, yaitu mendorong dan meningkatkan minat baca masyarakat, menfasilitasi kebutuhan masyarakat umum dalam mendapatkan informasi dan pengetahuan yang murah dan mudah, serta menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat akan pentingnya belajar. Ditunjang dengan menjalankan perpustakaan masyarakat yang terpadu sehingga mampu menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat.

Fasilitas  TBM Cakruk Pintar yang selama ini tersedia adalah ruang belajar, training center terbuka (alami), meja belajar dengan 30 kursi, area terkoneksi internet, televisi dan LCD, laptop, pengeras suara, tenda, peralatan outbond, dan lain-lain. Sistem layanan TBM Cakruk Pintar menerapkan satu model sistem, yaitu sistem layanan terbuka (open acces system).Sistem ini mempermudah masyarakat untuk dapat langsung hadir, menuju ke rak penyimpanan koleksi untuk mencari buku. Setelah menemukan buku, pemustaka langsung mencatat secara mandiri di buku peminjaman. Pencatatan berupa nama, tanggal peminjaman, lama peminjaman, dan catatan kapan buku akan dikembalikan. Hal ini bisa dilakukan oleh pemustaka setiap saat, tidak terikat oleh waktu, serta bisa melayani dirinya sendiri 24 jam secara bebas dan gratis.  

TBM Cakruk Pintar membuka pelayanan yang tidak terikat oleh waktu, artinya layanan dilakukan selama 24 jam. Meskipun tidak ada pengelola atau pengurus, pemustaka tetap masih bisa mengakses layanan, menggunakan koneksi internet, dan meminjam atau membaca koleksi yang ada di TBM Cakruk Pintar. Hal ini dikarenakan rak dan almari buku selalu terbuka bagi masyarakat yang memanfaatkan. Ada pola yang menarik terkait pengunjung yang datang ke TBM Cakruk Pintar. Pagi hari, ibu-ibu datang untuk sekedar membaca disertai dengan kegiatan mengasuh anak balitanya. Siang hari, anak-anak usia Sekolah Dasar pulang sekolah, bahkan kadang masih berseragam, mereka mampir untuk membaca. Sore hari, ada remaja dan anak-anak datang berkunjung. Ketika malam hari tiba, gantian beberapa remaja dan orang dewasa memanfaatkan fasilitas yang ada sampai larut.

Dalam kegiatan networking dan fundraising, TBM Cakruk Pintar memiliki model dan bentuk yang khas dalam rangka membangun jaringan untuk menghimpun dana atau simpatisan dari masyarakat. Metode ini pada dasarnya dapat dibagi dalam dua jenis, yaitu langsung dan tidak langsung. Pertama metode langsung (direct networking and fundraising), maksudnya menggunakan teknik-teknik atau cara-cara yang melibatkan partisipasi secara langsung. Bentuknya berupa proses interaksi dan daya akomodasi terhadap respon, bisa seketika (langsung) dilakukan. Contohnya TBM Cakruk Pintar mengadakan direct mail (surat menyurat), direct advertising, telefundraising (bisa telepon langsung, via grup Whatsapp ataupun Facebook), serta presentasi langsung. Kedua metode tidak langsung (indirect networking and fundraising), yaitu suatu metode yang menggunakan teknik-teknik yang tidak melibatkan partisipasi antara TBM Cakruk Pintar dan donatur secara langsung. Contohnya, TBM Cakruk Pintar ikut terlibat dalam advertorial, image compaign dan penyelenggaraan event, melalui perantara, menjalin relasi, melalui referensi, mediasi para tokoh, turut menerbitkan buku, dan lain-lain. Pada umumnya TBM Cakruk Pintar melakukan kedua metode ini, karena keduanya memiliki kelebihan dan tujuan sendiri-sendiri secara fleksibel. Mungkin orang berpikir dan bertanya kenapa Cakruk Pintar banyak dana dan banyak proyek. Tentu ini menarik karena kami memproduksi banyak kegiatan, sementara orang belum begitu memahami bahwa ini merupakan model kerjasama pemberdayaan kegiatan yang bersifat kolaborasi.

Banyak prestasi dan penghargaan yang telah diraih, meski hal ini bukan sebagai tujuan utama berdirinya TBM Cakruk Pintar. Beberapa kali pernah mendapat kepercayaan, penghargaan, atau bahkan anugerah. Sempat mendapat anugerah TBM Kreatif versi Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Budaya, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (2008). Pernah mendapat kepercayaan untuk mengirimkan Tim Paduan Suara untuk Jambore 1000 PNF di Semarang (2008), serta mendapatkan kepercayaan untuk presentasi tentang kreativitas budaya baca di gerai masakan cepat saji McDonald’s Yogyakarta (2008). Tahun 2009 pernah pula mendapat anugerah kunjungan dari 33 provinsi peserta Jambore 1000 PTK-PNF, tahun 2010 mendapat anugerah kategori TBM Kreatif dan Rekreatif dari Menteri Pendidikan Nasional, tahun 2012 juara II Jambore PTK-PNF DIY, tahun 2016 juara I lomba Perpustakaan Komunitas Kabupaten Sleman, serta penghargaan dari Bupati Sleman.

*Rumi Astuti. Pegiat literasi DIY, pengelola TBM Cakruk Pintar (Sleman, DIY).


Menuju Buku Bersama Forum TBM DIY

Penulis: Marsahlan* & Syaeful Cahyadi*

Apa yang terjadi pasti terjadi – demikian kata sebuah adagium.

Namun, semua yang terjadi tidak selalu diketahui banyak orang. Ketika sekumpulan kejadian hanya mengendap dalam ingatan tanpa catatan tertulis, maka tinggal menunggu waktu saja untuk dilupakan dan terlupakan; tak membekas dan hilang.

Ketika sebuah rencana tak sesuai harapan, jalan berliku dan penuh rintangan, hasil yang tak sesuai ekspektasi, itu semua adalah bagian dari cerita dan banyak pengalaman yang terkandung di sana. Cara melawan dan bertahan setiap individu pasti berbeda, kurang lebih demikian.

Hal yang sama tentunya terjadi dalam perjalanan panjang sebuah taman bacaan. TBM, demikian banyak orang menyebut. Bisa jadi, di sana tidak hanya penuh buku namun juga sarat cerita-cerita yang akan sangat menarik buat dituliskan. Atau, sebuah TBM tidak hanya sarat dengan canda tawa anak-anak di sela-sela membaca, namun juga  sebuah pelajaran tiada tanding untuk dikisahkan ke khalayak ramai.

TBM dan forumnya pun pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah forum semata. Ia juga tempat berkumpulnya para pemilik cerita, para peramu kisah, dan para pengabdi yang menyambung visi misi literasi. Ia selayaknya sebuah keluarga, di mana kita bisa berkeluh kesah dan saling belajar satu sama lain. Bahkan untuk saling melengkapi.

Jika Forum TBM adalah sebuah keluarga, maka proyek buku bersama ini tidak lain sebuah meja makan. Atau mungkin selasar kecil tempat kita bersua di sore cerah. Di meja itu kita akan saling bertutur mesra, membagi kisah ke satu sama lain di tengah canda dan tawa. Lupakan sejenak duka, masukan itu ke ceritamu dan biarlah orang lain belajar dari kisahmu.

Meja inilah yang dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi tempat berkumpul para kawan pencerita. Dengan kehebatan cerita masing-masing. Dengan aral terjang jalan masing-masing. Bukan untuk saling membusungkan dada namun semata untuk saling belajar. Tentang pemenuhah kebutuhan akan ilmu dan literasi. Tentang pergerakan tanpa henti. Atau, tentang bagaimana cara menghidupi sebuah mimpi.

Lalu tentang apa buku ini akan bercerita?

Lupakan novel, lupakan buku penuh kata-kata bijak. Ini adalah tentang sejatinya sebuah kisah. Tentang sebuah kisah yang tidak banyak orang ketahui. Ia kelak akan bertutur dengan santai satu-dua kata tentang semua di balik sebuah taman baca. Semua. Bukan hanya koleksinya yang ratusan atau kegiatannya yang seminggu sekali ada. Lebih dari  semua itu, buku ini adalah lidah penyambung puluhan sumber cerita. Yang sederhana, yang apa adanya, terkadang terlupakan, namun tetap sarat inspirasi.

Menulis adalah pekerjaan untuk peradaban sekaligus untuk keabadian. Termasuk, untuk sebuah peradaban kecil bernama taman baca beserta semesta di dalamnya. Menuliskan semua tentangnya, bukan hanya berhenti di sebuah upaya dokumentasi. Di atas semua itu, ini adalah ajakan untuk membuat kisah dan kiprahmu abadi.

Menuju buku bersama Forum TBM Daerah Istimewa Yogyakarta bukanlah menuju sebuah kerja yang akan membuatmu kaya raya bergelimang royalti. Ini selayaknya sebuah perjalanan panjang menembus batas zaman. Ini adalah sebuah upaya meninggalkan jejak langkah kita semua hari ini untuk para anak cucu kelak.

Akhir kata, mari merayakan sebuah perjumpaan. Rayakanlah ceritamu dengan goresan tinta-tintamu yang kelak akan abadi. Menulislah, ciptakanlah peradabanmu dan buat itu abadi! Gas banter!

*Marsahlan & Syaeful Cahyadi. Keduanya adalah pegiat literasi Provinsi DIY. Bersama beberapa pegiat literasi muda lain dipercaya sebagai tim penyusun Buku Bersama FTBM DIY.

Tim Buku Bersama FTBM DIY
Sumber: Dokumentasi FTBM DIY


Rapodo, Rapopo!

Penulis: Marsahlan*

Baru yang Berawalan

Ketika menemukan sebuah memorabilia lusuh berupa majalah anak-anak yang sudah mulai usang, keingingan absurd dan tak jelas waktu kecil pun diam-diam mulai kembali datang. Label “Perpustakaan Negeri Dongeng” rasa kanak-kanak seperti yang tertulis di Majalah Bobo itu pun terasa menggelikan dan semakin menghantui. Ada sesuatu yang membuat tergerak. Diam-diam hati dan pikiran pun mulai berontak.

Semesta pun mendukung ketika seorang sahabat pena dari jaman sekolah kembali hadir dan menyapa dengan sebuah hadiah kecil yang benilai besar. Sebuah buku terjemahan karya Dr. Aidh Al-Qarni, La Tahzan: Jangan Bersedih!, buku motivasi terbaik yang menjadi koleksi buku pertama. Beruntunglah orang-orang yang merasakan era 90-an, era dimana bisa mempunyai sahabat pena lewat surat menyurat dengan perantara pos. Menjalin persahabatan lewat surat atau bersahabat pena saat itu cukup memberi kesenangan. Perasaan menunggu-nunggu Pak Pos yang membawa surat balasan dari sahabat pena selalu memberi kesan yang berbeda.

Tahun 2011 menjadi tahun dimana kesenangan-kesenangan dan penuh kejutan hadir dalam bentuk yang berbeda dan semakin menggila. Keisengan menjadi seorang pemburu kuis berhadiah di sosial media seperti Facebook dan Twitter mendapatkan hasil yang cukup signifikan. Sampai saat ini dari berburu kuis telah mendapatkan puluhan sampai ratusan buku gratis dari publising house atau perusahaan penerbitan buku. Saat itu Facebook dan Twitter menjadi media promo murah dan mudah bagi perusahaan ataupun publishing house yang menerbitkan buku-buku.

Katamaca

Sebuah nama, banyak cerita. Tanggal 31 Agustus 2011 adalah tanggal lahirnya akun media sosial Twitter @KataMaca. Akun Katamaca dibuat sebagai sarana mengenalkan proyek pembuatan taman bacaan yang sifatnya tak lagi menjadi akun pribadi. Proyek pembuatan taman bacaan kecil-kecilan dengan bermodalkan koleksi buku pribadi yang telah lama dibeli. Memanfaatkan ruang garasi rumah yang dulunya pernah menjadi warung kecil-kecilan sekitar tahun 1992-an, di sebuah kampung di Dusun Banjarsari, Wonokerto, Turi, Sleman.

Pemberian nama Katamaca pun tak lepas dari namanya keberuntungan. Nama yang diberikan oleh seorang stand-up comedy-an sekaligus MC yang cukup terkenal di Jogja, Mas Anang Batas yang terkenal dengan konsep plesetannya. Itulah kenapa Katamaca dipilih sebagai nama taman bacaan, nama yang berasal dari plesetan kata kacamata. Lewat Katamaca harapannya dapat membantu orang untuk bisa melihat, berkaca, dan mengenal dunia dengan lebih jelas. Sadis.

Katamaca menjadi nama yang aneh bin ajaib untuk sebuah taman bacaan. Orang sering salah dan keliru dalam pelafalannya. Walaupun begitu tak masalah, karena dengan begitu mereka akan mencari tahu apa itu Katamaca? Rasa penasaran yang butuh untuk dicari tahu.

Konsep awal Katamaca tercermin dari tagline yang diusung, “Utak-atik kata baca buku, biar otak kita tak beku”, artinya kalau tidak salah ingat adalah membaca paling tidak bisa mengencerkan dan memberi sesuatu yang baru untuk merasa dan berpikir. Sedikit sok idealis walaupun pada akhirnya tetap banyak berkompromi dan melihat pasar.

Sejak pembuatan akun Twitter tersebut, Katamaca berproses dalam mengumpulkan buku-buku sebagai bahan bacaan. Banyak dipertemukan dengan berbagai komunitas dan personal yang concern dalam pengembangan minat baca, termasuk memberikan bantuan bukunya untuk Katamaca. Walaupun segalanya dimudahkan dalam menjaring dan mengumpulkan koleksi buku, hampir dua tahun lebih baru bisa membuka dan membuka pintu taman bacaan.

Tahun 2013 menjadi titik kembalinya Katamaca. Dipertemukan dengan Forum Taman Bacaan Masyarakat Sleman yang banyak menguatkan dan memotivasi untuk kembali ke niatan awal dalam berbagi kebahagiaan lewat buku. Tidak harus menjadi mentereng dalam tampilan yang ngejreng, namun tetap menjadi apa adanya.

Katamaca tak lagi menjadi sesuatu yang mentok menjadi pengecer otak saja, karena buku selalu menemukan pembacanya tersendiri. Ada beberapa buku yang jarang terjamah, bisa jadi ini terjadi karena orang sudah enggan duluan dengan buku yang tebal, walaupun kadang buku yang tipis pun isinya cukup memberatkan.

We are what we read, kita adalah apa yang kita baca. Katamaca berusaha untuk menghadirkan dan memberikan buku pinjaman, semampu-mampunya dan tetap ala Katamaca. Tak perlu menjadi taman bacaan atau perpustakaan komunitas besar yang hanya menjadi bahan klaim pihak luar yang lebih berkepentingan. Katamaca tetap akan menjadi apa adanya, Rapodo rapopo!

The Giver

Hidup itu tentang merawat. Katamaca berusaha hadir dalam merawat buku-buku yang dititipkan, walaupun baru sekadar menyampul. Banyak personal ataupun komunitas yang memberikan buku-buku terbaiknya untuk dimanfaatkan kembali. Buku yang sering diberi label langka tak lagi sungkan mereka berikan untuk Katamaca.

Aturan main peminjaman buku di Katamaca fleksibel, tak ada batasan yang terlalu mengikat. Peminjam sadar dengan konsep itu, bebas namun tetap bertanggung jawab. Tak ada koleksi khusus, yang ada hanya pembagian penempatan buku di rak. Mana yang untuk anak-anak, remaja, atau dewasa.

Ada saat dimana hati diombang-ambingkan rasa antara senang dan bersalah. Senang ketika kita mendapatkan buku dan merasa bersalah ketika rak buku tak lagi kuat menampung.

Untuk menjamah peminjam yang semakin luas, Katamaca mencoba konsep pinjaman buku secara kolektif dalam mendukung dan menguatkan teman penggiat taman bacaan atau perpustakaan komunitas lain. Bukan karena enggan memberi cuma-cuma, tapi untuk sama-sama belajar bertanggung jawab apa yang menjadi amanah. Membaca buku tak selalu harus mempunyai bukunya, karena tak ada bedanya antara buku pinjaman atau buku milik sendiri. Yang terpenting adalah esensi dari membaca buku itu sendiri.

Biarlah tetap menjadi orang bodoh yang selalu meminjamkan bukunya untuk orang lain, daripada menjadi orang pintar yang enggan meminjamkan bukunya hanya untuk dinikmati sendiri. Pendosa buku sesungguhnya adalah orang yang pamer dengan segala macam buku koleksinya tetapi masih enggan untuk sekadar meminjamkan bukunya dibaca ditempat.

Berkembang, tak lepas dari buku yang datang dan pergi. Hilang bisa jadi karena mereka sedikit abai dengan apa yang menjadi tanggung jawab mereka, tak ada yang benar-benar sengaja. Walaupun begitu Yang Maha Oke selalu mempunyai cara-cara mengejutkan untuk mengganti yang telah pergi dengan pengganti yang lebih dan lebih oke lagi. Tak perlu menangisi setiap kehilangan, karena ada saatnya merasakan kembali yang namanya CLBK, cinta lama belum kelar, buku yang masih akan bersama dalam melanjutkan perjuangan.

The Recehan

Kemudahan-kemudahan mendapatkan kiriman buku donasi saat ini seperti pedang bermata dua. Membantu tetapi kalau tidak berhati-hati bisa melenakan dan membahayakan, membuat ketergantungan. Tak selamanya yang diharapkan selalu yang didapatkan. Ada kalanya memang harus diusahakan sendiri. Tak harus tentang kuantitas tapi kualitas sesuai kebutuhan masing-masing taman bacaan atau perpustakaan komunitas.

Mandiri menjadi pilihan yang harus dimiliki sejak dini dalam membangun dan mendirikan taman bacaan. Rak buku pertama Katamaca berasal dari mengumpulkan uang receh dan beruntungnya bisa mendapatkan harga yang lebih murah di tempat pembuatan furniture. Dan ketika ada peminjam yang butuh buku dan belum ada di Katamaca, maka memang harus membeli walaupun harus butuh sedikit waktu. Uang receh itu kecil untuk menyokong yang besar, sedikit namun tetap bagian dari yang banyak. Semangat mandiri menghidupi agar menjadi jiwa-jiwa yang kuat, yang bisa melakukan hal-hal positif walau dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada.

Butuh Klik!

Niat dan eksekusi menjadi satu kesatuan. Niat tanpa aksi hanya akan menjadi wacana. Tak masalah ketika belum menemukan partner dalam berproses. Menjadi single fighter adalah pilihan terakhir ketika belum menemukan teman yang klik dalam berbagi.

Kadang iri kalau melihat perpustakaan komunitas yang dikelola oleh sekelompok pemuda dan pemudi ataupun karang taruna. Pemuda yang dengan bangganya mau bersusah-susah membangun desanya. Pemuda yang menjadi ujung tombak kemajuan dan meneruskan kearifan lokal di kampung, yang tak lemah dengan gempuran modernisasi. Ah seandainya.

Bagaimana pun hingar bingar kampung sekarang pun menjadi bagian dari fase kehidupan yang harus dihadapi. Ketika literasi tak lagi menjadi sesuatu yang apik untuk dilirik dan kemajuan pembangunan selalu diukur dari materi fisik saja, maka yang ada hanya sekumpulan pemuda yang tak lagi punya nilai di mata para tetua. Regenerasi yang terdegradasi. Dan sekarang tinggal memilih mau menjadi pemuda yang bersuara kritis tanpa menyombongkan kebebasan berpikirnya atau menjadi tetua yang bisa membumi dan merangkul pemikiran-pemikiran baru tanpa harus menghilangkan kearifan lokalnya.

Toleransi itu datang dari kedua belah pihak, tak ada klaim sepihak atas kemenangan atau kekalahan. Maju bersama, bergerak bersama dan menikmati hasilnya bersama.

*Marsahlan. Pegiat literasi DIY, pengelola TBM Katamaca (Sleman, DIY). Peserta Residensi Literasi Digital di Rumpaka Percisa (Tasikmalaya) tahun 2018.


Berbagi Ilmu Melalui Pustaka Widya

Penulis: Nuzul Hidayah Yuningsih*

TBM/Rumah Baca/Pojok Baca/Perpustakaan itu apa? Itulah yang ada di benak masyarakat Desa Margokaton, desa tercinta dimana saya tinggal selama ini. Tapi bagi saya kata-kata tersebut sudah sangat familier terdengar di telinga. Ya, itu karena bacground pendidikan Diploma dan S1 saya mengambil jurusan Ilmu Perpustakaan. Tentu semua yang berkaitan dengan ilmu perpustakaan dan informasi tidaklah aneh di telinga. Hal tersebut serasa menjadi tanggung jawab saya untuk melakukan sosialisasi tentang apa itu TBM/Rumah Baca/Pojok Baca/Perpustakaan. Sebelum acara sosialisasi berjalan, tentunya harus ada tempatnya terlebih dahulu. Tempat dimana TBM/Rumah Baca/Pojok Baca/Perpustakaan berada untuk melakukan segala aktivitas. Saya dan teman-teman berinisiatif untuk mendirikan TBM/Rumah Baca/Pojok Baca/Perpustakaan. Dengan dibantu oleh teman-teman mahasiswa UIN jurusan Ilmu Perpustakaan akhirnya terealisasi juga. Alhamdulillah, acara sosialisasi tersebut berjalan lancar dan mendapat dukungan dari pemerintah Desa Margokaton.

Merujuk pada pengertian dasarnya maka Pustaka Widya lebih tepat jika disebut sebagai perpustakaan karena Pustaka Widya berada di Balai Desa Margokaton dan telah mendapat anggaran tetap dari APBDes pemerintah desa mulai tahun 2007. Pustaka Widya berdiri pada tanggal 19 April 2005, disahkan dengan SK Kepala Desa. Perpustakaan ini kami beri nama Pustaka Widya. Pustaka artinya kitab atau buku. Widya berasal dari bahasa sansekerta vidya yang berarti pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Jadi dengan berdirinya Perpustakaan Desa Pustaka Widya, diharapkan koleksi buku-bukunya dapat mendatangkan ilmu pengetahuan untuk masyarakat sekitar. Kami mulai menjalankan perpustakaan dari nol. Semua berjalan masih dengan segala keterbatasan.

Pustaka Widya adalah sebuah wadah sosial yang bergerak dalam bidang literasi informasi. Membaca buku adalah menu utamanya. Slogan kami “Tiada Hari Tanpa Membaca”. Pustaka Widya hadir di tengah-tengah masyarakat Desa Margokaton tepatnya di Balai Desa Margokaton, Seyegan, Sleman. Lokasi Perpustakaan Desa Pustaka Widya berada di pusat kegiatan masyarakat Margokaton. Di sekitar lokasi tersebut terdapat beberapa sekolah yaitu TK Masyithoh Sultan Agung, SD Susukan, MI Margokaton, dan SMP Sultan Agung. Di depan Balai Desa Margokaton terdapat kios-kios pedagang. Tidak jauh dari lokasi perpustakaan  juga terdapat Pasar Sri Katon sebagai pusat perdagangan masyarakat.

Pada awal berdirinya perpustakaan menempati ruang rapat DPD di sebelah utara gedung serbaguna. Ukuran ruangan cukup sempit, jumlah koleksi perpustakaan masih sangat terbatas hanya sebanyak 130 eksemplar buku dengan 125 judul buku. Perpustakaan mulai dioperasikan secara sederhana sehingga buku-buku belum dimanfaatkan secara maksimal. Promosi buku baru dilakukan dari mulut ke mulut anak-anak yang sering ke perpustakaan. Ternyata mereka senang dengan buku-buku yang kita sediakan. Mereka senang ke Pustaka Widya karena di sekolahnya perpustakaan hanya mempunyai koleksi buku-buku pelajaran. Dari situ kami mulai memikirkan cara bagaimana agar lebih banyak orang atau anak-anak yang mau berkunjung ke Pustaka Widya. Sudah saatnya untuk mulai berbenah.

Tahun 2007 ruang perpustakaan harus dipindah ke sebelah selatan gedung serbaguna dengan menempati salah satu ruang kantor. Permasalahan muncul karena perpindahan ini tanpa sepengetahuan pengelola, kami tidak diajak berembuk terlebih dahulu. Tiba- tiba semua barang termasuk rak dan buku-buku langsung dipindahkan. Hal tersebut menyebabkan koleksi perpustakaan dan buku-buku administrasi banyak yang hilang. Selain itu ruang yang terlalu sempit menyebabkan pengunjung tidak mau datang ke perpustakaan karena suasana ruangan kurang nyaman. Tentunya ini tantangan besar bagi pengelola, apalagi kami hanya dua orang dengan segala keterbatasan waktu yang dimiliki. Meski demikian pengelola harus tetap semangat untuk berjuang. Berjuang demi memajukan pendidikan anak-anak bangsa.

Sedikit demi sedikit Pustaka Widya mulai dibenahi. Tahun 2008 keadaannya mulai berubah menjadi lebih baik. Pada tahun ini pengelola bertambah satu orang sehingga Pustaka Widya mulai membuka pelayanan pada pagi hari. Alhamdulillah, pada tahun yang sama Pustaka Widya mendapat bantuan untuk membangun gedung perpustakaan. Letaknya juga sangat strategis berada di depan, tidak seperti perpustakaan pada umumnya yang ditempatkan bagian belakang. Sampai sekarang perpustakaan menempati gedung baru tersebut khusus untuk kegiatan perpustakaan. Kondisinya jauh lebih baik dibanding saat awal dioperasikan. Mulai dirintis juga layanan perpustakaan untuk masyarakat Desa Margokaton. Keberadaan perpustakaan mendapat respon positif dari masyarakat sekitar lokasi perpustakaan maupun masyarakat Desa Margokaton.

Beberapa jenis pelayanan yang diberikan kepada masyarakat antara lain peminjaman koleksi buku, kegiatan belajar bersama tutor teman sebaya (learning centre), dan kelas keterampilan (skill class). Berhubung di sekitar komplek Balai desa terdapat berbagai jenjang sekolah, koleksi dan program dari perpustakaan Pustaka Widya mengikuti selera pengguna. Meski demikian koleksi untuk umum tetap kami perhatikan. Selain koleksi buku, perpustakaan harus mempunyai program kerja perpustakaan. Program kerja menjadi sesuatu yang  spesial, karena disitulah keunggulan dan kekhasan dari perpustakaan. Program unggulan Pustaka Widya antara lain lomba menggambar dan mewarnai, lomba resensi buku, nonton bareng, dan pelatihan ketrampilan. Pustaka Widya memilih program-program tersebut karena pengunjung pada umumnya adalah anak- anak. Sedangkan program untuk remaja, ibu-ibu, serta bapak-bapak anatara lain pelatihan ketrampilan dan berbagai penyuluhan misalnya penyuluhan tentang kesehatan kerja sama dengan bidan desa. Tentunya semua kegiatan dilakukan dengan mempraktekan buku-buku yang ada di Pustaka Widya.

Paparan di atas menunjukan bahwa kegiatan di Pustaka Widya disesuaikan dengan tingkatan umur yang terdiri dari anak-anak, remaja, sampai dewasa. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan sebuah bukti bahwa Pustaka Widya memberikan kontribusi nyata terhadap masyarakat sekitar untuk berpartisipasi dalam upaya mengembangkan minat baca masyarakat. Pustaka Widya juga menjalin kerja sama dengan instansi terkait maupun instansi di luar bidang perpustakaan. Kerja sama dengan Dinas Perpustakaan Kabupaten Sleman dalam hal koleksi atau silang layan perpustakaan. Kerja sama dengan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga dalam input data buku ke software Slim, dan masih banyak lagi kerja sama yang lainnya. Selain itu Pustaka Widya juga membina perpustakaan di Yayasan SMP Muhammadiyah Seyegan. Tak lupa promosi juga kami lakukan agar keberadaan Pustaka Widya lebih dekat dengan masyarakat, khususnya warga Desa Margokaton. Promosi dilakukan dengan membuat leaflet, meskipun masih sederhana. Kemudian melalui radio komunitas yang ada di balai desa, yaitu Swara Katon Mandiri dengan gelombang FM 107,5. Meski jangkauan tidak jauh, namun ini sangat efektif. Terbukti bahwa yang menjadi anggota perpustakaan tidak hanya masyarakat Margokaton saja. Bahkan ada anggota yang berasal dari luar kecamatan Seyegan.

Pustaka Widya didirikan dengan tujuan agar dapat menjadi tempat wahana rekreasi ilmiah bagi masyarakat sekitar. Sejak awal beridiri sampai sekarang sudah mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dengan adanya sebuah pengakuan dari intansi terkait. Berbagai pengahargaan kami peroleh baik dari Kabupaten maupun dari Propinsi hampir di setiap tahun. Prestasi tersebut antara lain juara lomba Perpustakaan Desa tingkat Propinsi DIY kurun waktu 2009 hingga 2017.

Meski Pustaka Widya telah meraih beberapa penghargaan, kami tetap akan terus berbenah agar ke depan perpustakaan ini akan tetap eksis keberadaanya. Tidak mati suri, terus berkembang. Kami masih mempunyai mimpi-mimpi yang entah kapan bisa terwujud. Salah satu mimpi kami cukup sederhana yaitu ingin mempunyai perpustakaan mini di setiap pedukuhan yang ada di Desa Margokaton. Perpustakaan mini tersebut akan menyediakan berbagai macam buku-buku yang menunjang kegiatan masyarakat yang ada di wilayah tersebut. Misalnya di Dusun Bedilan karena mayoritas petani lele akan disediakan buku-buku tentang budidaya lele serta bagaimana pengolahannya. Kemudian di Dusun Bantulan banyak yang bergerak dibidang kerajinan, maka akan disediakan buku-buku kerajianan. Di Susukan III banyak pengrajin batik akan disediakan buku-buku tentang batik. Selain itu kami juga akan terus melakukan pendampingan tidak hanya menyediakan buku-bukunya. Kami akan bekerja sama dengan pihak-pihak yang terkait dalam bidangnya agar sesuai dengan prosedur semestinya sehingga panen atau produk yang dihasilkan dapat dipasarkan. Secara tidak langsung perekonomian masyarakat Desa Margokaton akan lebih meningkat. Semoga mimpi ini akan segera terwujud. Jangan mudah menyerah dan putus asa. Tetap semangat berjuang kawan untuk memajukan pendidikan maupun perekonomian di negeri ini.

Salam Literasi.

*Nuzul Hidayah Yuningsih. Biasa dipanggil Mbak Zul, pengelola perpustakaan Pustaka Widya Desa Margokaton (Sleman, DIY). Aktif sebagai pustakawan di Perpustakaan MAN 3, Sleman, Yogyakarta. Juara I Anugerah Guru & Tenaga Kependidikan Madrasah Berprestasi Tahun 2018 dari Kementrian Agama.


Kerai, Pustaka untuk Indonesia

Penulis: Nanang Sujatmiko*

Berawal dari kegemaran membaca dan mengoleksi berbagai jenis buku bacaan, terutama komik Indonesia dan sempat membuka Taman Bacaan/Persewaan Buku sekitar tahun 1981-1983 ketika duduk di bangku SMP. Berlanjut ketika menuntut ilmu dan berkeluarga di Yogyakarta, sampai akhirnya menjadi pengoleksi berbagai jenis buku. Berangkat dari rasa kepedulian, keinginan berbagi kepada masyarakat sekeliling, dan sering dijadikannya rumah untuk berkumpul anak-anak sebagai tempat bermain dan membaca, menjadi inspirasi untuk mendirikan perpustakaan di Dusun Kwadungan, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak.

Dimulai dengan satu langkah kecil akan keinginan memberikan sedikit kontribusi untuk masyarakat, pada awal 1997 meskipun dengan prasarana yang minimalis berdirilah Perpustakaan Kerai. Koleksi pertama berupa majalah dan buku bacaan anak-anak. Tahun 2003 ketika mampu membangun rumah sendiri di dusun yang sama, Perpustakaan Kerai pun pindah, menempati tempat yang lebih nyaman di lantai dua rumah pengelola. Tahun 2015 melalui program PDPM/PNPM-MP dengan anggaran sebesar 30 juta dan swadaya masyarakat mampu membangun gedung 2 lantai ukuran 4 x 7 m2 senilai lebih dari 60 juta, di atas tanah kas desa seluas 1000 m2. Gedung yang apabila terlihat dari samping dan atas menyerupai buku terbuka yang menghadap ke langit ini diharapkan mampu membuka wawasan pengetahuan warga desa.  Sebelumnya, di akhir tahun 2013 didirikanlah Pojok Baca Kerai di Dusun Jangkang, bersebelahan dengan tempat usaha berjualan ATK dengan nama yang sama, Toko Kerai.

Berbekal keyakinan bahwa masa anak-anak merupakan masa terbaik untuk pembentukan kebiasaan membaca, Perpustakaan Kerai ingin menjadi mitra bagi anak-anak untuk mewujudkannya. Keyakinan bahwa setiap orang selalu punya keinginan berbagi dan rasa kepedulian juga setiap orang punya hak untuk cerdas, Perpustakaan Kerai  menjadi mitra bagi masyarakat untuk bersama-sama menebar kebaikan melalui buku.

Kerai menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti jalinan bilah (rotan, bambu, dan sebagainya) penutup pintu, jendela, dan sebagainya atau sebagai peneduh dari angin, panasnya matahari, dan cuaca. Kerai dalam artian sesungguhnya dan menjadi makna filosofi Perpustakaan Kerai yakni sebagai tempat yang nyaman untuk membaca, bermain, dan belajar termasuk segala ciptaan Tuhan yang harus dicari maknanya.

Keberadaan Kerai dimaksudkan untuk memberi ruang setiap orang untuk memahami segala ciptaan Tuhan melalui buku-buku bacaan agar tercipta keseimbangan hidup yang selaras dengan alam.

Perpustakaan menjadi ruang untuk belajar, bersosialisasi, berkreasi, mencintai lingkungan, serta melestarikan budaya melalui buku. Memberikan kemudahan bagi masyarakat, khususnya anak-anak untuk mendapatkan bacaan. Menyelenggarakan kegiatan kreatif yang memupuk kegemaran membaca, cinta lingkungan, dan budaya. Menghimpun peran serta semua pihak dalam mencerdaskan masyarakat melalui buku dan minat baca.

Membaca meskipun begitu banyak manfaatnya, belum menjadi suatu hal yang pokok bagi masyrakat. Membaca hanya sekedar pengisi waktu luang dan sebagai tugas pelajar. Hal tersebut membuat kegiatan membaca bukan merupakan suatu kebutuhan dan selanjutnya menimbulkan anggapan bahwa minat baca masyarakat rendah, belum terbangun masyarakat gemar membaca.

Demikian pula yang terjadi di Desa Widodomartani khususnya Dusun Kwadungan dan dusun-dusun sekitar Perpustakaan Kerai. Mayoritas masyarakatnya adalah petani yang memandang bahwa membaca identik dengan sekolah dan masyarakat yang berpendidikan tinggi. Ketika awal berdiri, masyarakat masih begitu enggan mengunjungi, membaca, dan beraktifitas di perpustakaan. Oleh karenanya perlu ditumbuhkan minat baca, caranya dengan menumbuhkan minat kunjung terlebih dahulu. Cara menarik masyarakat untuk datang ke perpustakaan adalah melibatkan seluruh unsur masyarakat. Membentuk budaya baca harus dimulai dengan membangun masyarakat gemar membaca.

Membangun masyarakat gemar membaca lebih efektif jika dilakukan kepada anak-anak sejak dini, karena anak-anak lebih mudah dibentuk. Perkembangan anak sangat dipengaruhi lingkungan terdekatnya yang akan membentuk kebiasaan anak selanjutnya. Taman Bacaan merupakan lingkungan awal yang menyediakan bahan bacaan agar anak gemar membaca dan  membentuk budaya baca.

Keberadaan fasilitas yang minim, mulai dari tempat tidak mendukung, kurangnya bahan bacaan berkualitas serta sarana prasarana pendukung, sangat mempengaruhi minat baca dan upaya menumbuhkan masyarakat gemar membaca. Belum adanya sinergi dari berbagai unsur masyarakat, komunitas, lembaga pendidikan, dan pemerintah turut andil dalam rendahnya minat baca. Diambil dari data yang ada di Dusun Kwadungan, pada tahun 2014 persentase minat baca hanya sekitar 1,5% dari jumlah penduduk 307 orang.

Perpustakaan Kerai adalah sebuah Taman Bacaan yang berada di lingkungan dengan mayoritas masyarakatnya petani dan dekat dengan institusi pendidikan. Ada 3 (tiga) kelompok masyarakat yang menjadi sasaran dari Perpustakaan Kerai, yakni masyarakat yang tinggal di sekitar perpustakaan, pelajar di institusi pendidikan, dan masyarakat umum. Perpustakaan Kerai melihat bahwa ketiga kelompok masyarakat tersebut berpotensi menjadi sasaran peningkatan minat baca. Maka pengelola berusaha menyusun strategi pengelolaan perpustakaan berkelanjutan dalam membangun masyarakat gemar membaca dengan langkah awal meningkatkan minat kunjung.

Dalam upayanya Perpustakaan Kerai menerapkan strategi AKSI 231, yakni aktualisasi kegiatan literasi yang melibatkan semua unsur masyarakat, pemerintah, dan komunitas, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Strategi AKSI 231 terdiri dari perencanaan dan pengelolaan program, pengelolaan sumber daya manusia, sarana, prasarana, dan dana, serta menjalin kemitraan untuk peningkatan minat baca. Penjabaran strategi AKSI 231 yang telah dilaksanakan dalam berbagai program yang telah dan sedang dilaksanakan.

Salah satu kegiatan rutin bersama anak-anak sekitar di TBM Kerai.
(Sumber: Akun Facebook TBM Kerai)

Program Dasar yakni fasilitasi sarana prasarana (berupa bangunan, buku-buku, dan sarana prasarana lain) serta sosialisasi minat baca berupa Gebyar Minat Baca  dengan kegiatan Kirab Gunungan Buku.Diikuti berbagai komunitas literasi, institusi pendidikan, dan komunitas sosial lain. Selain kirab, pada kesempatan yang sama diadakan berbagai kegiatan pendukung seperti pentas seni budaya, aneka perlombaan, serta dialog literasi. Kesemuanya melibatkan seluruh masyarakat sejak awal perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan evaluasinya.

Program Lokal berupa gerakan menulis Buku Harian, belajar kelompok yang dimotori angkatan muda, aksi Lumbung Hidup (dari buku menjadi karya) berupa kebun sayur dan kolam yang dikelola ibu-ibu Kelompok Wanita Tani dan warga yang tergabung dalam kelompok Program Keluarga Harapan. Serta kegiatan situasiaonal lain (seiring dengan program pemerintah dan masyarakat sekitar) yang sesuai dengan kondisi serta diminati masyarakat sehingga mampu meningkatkan minat kunjung ke perpustakaan.

Program Kemitraan yakni Perpustakaan Kerai dalam berbagai kegiatan banyak bermitra/bekerjasama dengan berbagai lembaga baik pemerintah maupun swasta. Beberapa lembaga yang pernah berkolaborasi dengan Perpustakaan Kerai diantaranya adalah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Pemerintah Desa Widodomartani, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Universitas Sanata Dharma, Uversitas Kristen Duta Wacana, SMP Muhamadiyah Mlati, SD Ngemplak 3, TK Tunas Bakti, TK PKK Widodomartani, Forum TBM Sleman, Jogja Reptile, Aero Jogja, 1001 buku, Aisya Parenting, OMIP Liberty, ALUS DIY, Bergodo Selo Aji, Dolanan Pintar, Jendela Jogja, Indosiar, SCTV, RCTI, Jogja TV, dan lain sebagainya

Kegiatan Finger Print di TBM Kerai.
(Sumber: Akun Facebook TBM Kerai)

Hingga kini keberadaan Perpustakaan Kerai masih berjalan dengan berbagai kegiatan dalam bentuk program-program yang langsung berkaitan dengan masyarakat. Mulai dari kegiatan anak-anak, remaja, dan orang tua, yang kesemuanya bermuara pada peningkatan minat baca. Satu  hal menjadi permasalahan yang agak sulit terselesaikan serta dikhawatirkan menjadi kendala bagi keberlangsungan Perpustakaan Kerai yakni regenerasi pengurus. Ini dikarenakan sulitnya mencari relawan serta mengkader angkatan muda di sekitar lokasi perpustakaan yang peduli dengan kegiatan literasi. Secara teori seperti yang disampaikan berulangkali oleh pengerak literasi lain, seperti tertulis dalam buku-buku atau paparan yang disampaikan, sepertinya terlihat mudah. Kenyataannya sangatlah sulit. Sangat berbeda dengan perpustakaan yang memang dibentuk karena keinginan dan hasil musyawarah masyarakat. Tantangan ini kemungkinan banyak terjadi pula di perpustakaan masyarakat/komunitas yang ada di Sleman atau daerah lain.

Pegiat literasi bukanlah pekerja literasi, mereka bergerak dan berkegiatan karena panggilan hati nurani yang muncul dari jiwa kerelawanan dan kepedulian kepada sesama serta lingkungan. Bukan karena sekedar program atau proyek semata. Ketika pemerintah memberi apresiasi atas apa yang telah dilakukan, baik dalam bentuk tulisan berupa piagam penghargaan atau nominal berupa dana bantuan, pastilah akan mampu membawa gerakannya ke arah yang lebih baik. Berupa karya nyata di masyarakat, bukan sekedar laporan di atas kertas semata.

*Nanang Sujatmiko. Penerima penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka 2017. Pengelola TBM Kerai (Sleman, DIY) yang nyambi jadi Kepala Dusun Kwadungan, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Punya hobi utama mengumpulkan barang antik, serta hobi sampingan mengoleksi buku-buku tentang Jogja. 


TBM Itu Asyik

Penulis : Muhsin Kalida*

Kita tahu, bahwa kualitas sumber daya manusia, pada hakekatnya ditentukan oleh faktor pendidikan. Pendidikan yang berkualitas dan berkepribadian tentu akan menghasilkan manusia yang berkualitas dan berkepribadian pula. Oleh karena itu pendidikan harus menjadi prioritas dalam setiap program pembangunan.

Di era milenial ini, ternyata masih ada anggapan, bahwa pendidikan hanya dapat diperoleh melalui bangku sekolah. Tentu anggapan demikian tidak bisa dibenarkan, karena ternyata di negara kita pendidikan tidak selalu ditempuh melalui sekolah. Pendidikan bisa ditempuh dengan berbagai jalan, diantaranya pendidikan nonformal maupun informal. Hal ini sesuai dengan filosofi, long-life education, thalabul ’ilmi minal mahdi ila lahdi, mencari ilmu itu dimulai dari lahir sampai liang lahat, nampaknya filosofi ini di kalangan kita masih lemah untuk dipahami dan dipakai menjadi acuan.

Jika paradigma pendidikan terlampau menekankan pada pendidikan sekolah (formal), akan berdampak terjadinya banyak ketidakseimbangan orientasi pendidikan, dan justru akan menyebabkan terjadinya ketimpangan nilai dan ketidakseimbang hak dan kewajiban pendidikan. Pendidikan nonformal dan informal, baik pendidikan keluarga maupun pendidikan masyarakat, sama-sama memiliki posisi tawar yang kuat dalam menentukan kualitas kepribadian warga negara. Oleh karena itu, perlu ada usaha-usaha menjadikan komponen pendidikan tersebut menjadi harmonis dan seimbang.

Ruang Lingkup TBM 

Taman Bacaan Masyarakat (TBM), sampai pada saat ini, sebenarnya belum ada yang mendefinisikan secara tunggal mengenai istilah itu, karena masih banyak berbagai pendapat. Bahkan, ada yang mangartikan TBM identik dengan perpustakaan, tetapi non-syar’iyyah. TBM itu suatu lembaga yang melayani kebutuhan masyarakat akan informasi, mengenai ilmu pengetahuan dalam bentuk bahan bacaan dan bahan pustaka lainnya. Pengelola TBM adalah masyarakat yang dipercaya atau memiliki niat berpartisipasi untuk memberikan layanan kebutuhan tersebut, memiliki kemampuan pelayanan dan keterampilan dalam  menyelenggarakan. Jadi, siapapun boleh menjadi pengelola, selama memiliki kemampuan dan kemauan kuat untuk menyelenggarakan. Tidak ada tuntutan, tidak harus sarjana atau lulus ilmu perpustakaan, karena konsep TBM adalah dari, oleh dan untuk masyarakat.

Tujuan mendirikan TBM di tengah-tengah masyarakat adalah menyediakan buku-buku untuk menunjang kegiatan pembelajaran, menjadi sumber informasi yang berguna bagi keperluan umum, memberikan layanan informasi tertulis, digital, maupun bentuk media lainnya yang dibutuhkan, serta memberikan layanan referensi. TBM juga memiliki fungsi sebagai sumber belajar bagi masyarakat melalui program pendidikan nonformal dan informal, tempat yang bersifat rekreatif melalui bahan bacaan, memperkaya pengalaman belajar masyarakat, menumbuhkan kegiatan belajar masyarakat, tempat pengembangan life skill, dan lain sebagainya. Jadi, keberadaan TBM di masyarakat diharapkan mampu mendorong dan mempercepat terwujudnya masyarakat belajar (learning society).

TBM yang menyebar di seluruh tanah air, pada dasarnya didirikan oleh masyarakat dan di-support sebagian oleh pemerintah. Pemerintah memang telah berusaha melakukan pembinaan, tetapi juga memiliki kemampuan yang terbatas. Keberadaan dan menjamurnya TBM menunjukkan bahwa ada kebutuhan akan bacaan masyarakat, sebagai upaya peningkatan potensi. Ini wajar, sebab setiap manusia memerlukan informasi untuk meningkatkan taraf hidup. Untuk itu maka perlu adanya kerjasama yang harmonis antar elemen masyarakat, baik pemerintah maupun swasta dalam pengelolaan dan pengembangan TBM.

Menurut lokasi dan operasionalnya, TBM pada umumnya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Bisa terletak di pedesaan, perkotaan, obyek-obyek komunitas, kaum marjinal, anak jalanan, pos ronda, dan lain-lain. Bahkan jam buka layanan juga fleksibel, menyesuaikan kebutuhan masyarakat pengguna.

Secara luas, TBM bisa mencakup semua lini yang ada di wilayah desa/kelurahan dalam sebuah kota. TBM bisa dipandang sebagai basis pemasyarakatan perpustakaan di tengah-tengah masyarakat, karena kebutuhan riil masyarakat akan informasi atau buku bisa langsung dipenuhi oleh TBM tanpa harus pergi ke perpustakaan umum di pusat kota. Semakin banyak berdiri TBM, semakin besar kemungkinan masyarakat dilayani.

TBM itu Perpustakaan Humanistik 

Kalau kita memaknai istilah taman, tentu di pikiran kita bertanya kenapa namanya taman, padahal bentuknya perpustakaan. Taman adalah tempat yang nyaman. Taman itu kebun yang terdapat bunga, tempat duduk yang dihiasi bunga, tempat untuk bersenang-senang. Taman bacaan masyarakat, adalah sebuah istilah yang dihasilkan dari kajian yang mendalam untuk menyederhanakan istilah perpustakaan. Secara psikologis diharapkan orang yang datang ke TBM senyaman orang yang duduk di sebuah taman yang penuh dengan bunga, orang yang berada di TBM penuh dengan senyuman, semua pelayanan selalu dengan senyuman yang humanis, dan tanpa mengurangi apa yang diharapkan, yaitu belajar.

Istilah TBM, awal tahun 2000an mulai banyak dikenal di kalangan pegiat budaya baca. Tetapi di kalangan masyarakat luas masih memerlukan kekuatan besar untuk mempopulerkan. Artinya, mensosialisasikan istilah saja masih memerlukan waktu yang panjang, apalagi program pengembangan kelembagaan TBM itu sendiri. Tetapi dalam dekade belakangan, TBM bisa masuk ke pelosok-pelosok, bukan saja di tingkat kecamatan atau desa, tetapi bisa sampai pada level RT-RW, komunitas kecil, semua bisa mendirikan dan memiliki TBM. Bahkan, muncul TBM yang memiliki basis tertentu sesuai dengan komunitas yang ada. Misalnya TBM berbasis nelayan, TBM berbasis hasil hutan, TBM DAS (Daerah Aliran Sungai), dan lain-lain.

Sampai saat ini masih ada asumsi pada masyarakat, bahwa perpustakaan itu hanya untuk pelajar dan mahasiswa, kalau pinjam harus mendaftar sebagai anggota, jam kunjung juga dibatasi oleh kantor, dilarang memakai sandal jepit, dan lain-lain. TBM bukan tidak sama dengan perpustakaan, tetapi juga tidak harus berbeda. Kreativitas dalam mendesain TBM justru terbuka luas, TBM lebih sederhana dan bisa lebih unik dari perpustakaan, berkunjung di TBM bisa diwacanakan seakan memasuki taman wahana layanan informasi yang humanis dalam mendapatkan pendidikan.

Masyarakat yang berkunjung ke TBM tidak harus memakai sepatu, tidak harus berbaju yang necis, mungkin juga bisa tidak usah mendaftar sebagai anggota terlebih dahulu, dan lain sebagainya. TBM akan menjawab bahwa siapa saja boleh memanfaatkan, baik yang bisa membaca atau yang belum, pakai sepatu atau sandal, niat berkunjung atau hanya mampir sepulang dari kebun, siang hari atau malam hari ketika ronda, pagi hari ketika momong si kecil atau sore hari ketika rapat dasawisma, semua bisa dilayani oleh TBM secara fleksibel.

Mendirikan TBM, Mudah dan Asyik

Proses mendirikan TBM, pada dasarnya sangat mudah, karena hanya memerlukan dua hal pokok, yaitu pengelola serta sarana dan prasarana. Tenaga pengelola, juga tidak terlalu mengikat, ada ketua, tenaga administrasi, dan mungkin bisa ditambah tenaga teknis. Seorang ketua TBM hendaknya memiliki kemampuan di bidang kepemimpinan yang baik, jika dimungkinkan juga sebagai pengembang dan berpengalaman di masyarakat, dan akan lebih bagus lagi jika memiliki kemampuan di bidang kemitraan dan penggalangan dana. Ketua TBM adalah seorang driver, ke mana TBM akan diarahkan tergantung kepada sopirnya. Mendirikan TBM yang bisa dipertimbangkan matang adalah memilih lokasi yang strategis dan mudah dijangkau, menentukan konsep penataan ruang, memilih koleksi buku, menyiapkan promosi, menggerakkan masyarakat untuk memanfaatkan, menyusun program, melaksanakan program pengembangan, dan membangun jaringan.

   Sementara petugas administrasi dan tenaga teknis, membantu dalam hal keadministrasian dan teknis secara penuh. Diantaranya menjaga ruangan agar senantiasa kondusif (membersihkan, mengatur suhu, pencahayaan, suara dan aroma), menyampul dan memberi identitas buku, mengadministrasikan keuangan lembaga, menyusun katalog, mengatur sirkulasi, membersihkan buku, menata dan merapikan buku sesuai kategori, mengontrol buku masuk dan keluar, serta menyiapkan kartu anggota.

   TBM usahakan memiliki tenaga sukarelawan (volunteer), yaitu tenaga sukarelawan yang memiliki kesiapan untuk membantu dalam menjalankan manajemen pengelolaan TBM. Volunteer tidak memiliki keterikatan tugas, tetapi bisa diberi tanggung jawab dan wewenang. Misalnya adalah mahasiswa yang magang, atau siapa saja yang memiliki minat untuk mengabdi tetapi belum siap secara total atensi.

Kemandirian TBM

Pegiat pemberdayaan TBM biasanya berorientasi nirlaba, tidak mencari keuntungan. Sementara TBM harus tetap bertahan dan harus berkembang, maka TBM perlu mandiri secara kelembagaan. TBM bisa bernafas lega, bisa bergerak dengan leluasa, kebutuhan primer dan skunder bisa terpenuhi, karena melakukan pemandirian lembaga (capacity building). TBM dihadapkan pada tuntutan adanya pengembangan atau bahkan perubahan-perubahan paradigma dan orientasi yang baru. Selain menjadi pengembang organisatoris di dalam tubuhnya sendiri, TBM juga memiliki tugas dan fungsi menjadi agen sosial dan pengabdi masyarakat, menjadi center of exellence dan feeder bagi organisasi yang lain. Untuk memandirikan TBM seorang pengelola harus meningkatkan peningakatan di bidang capacity building, networking, fundraising, dan publishing.

Empat hal di atas merupakan program ini penting, karena TBM membutuhkan ketahanan hidup (survival). Setiap TBM pasti membutuhkan keberlangsungan hidup secara berkelanjutan. Perlu kita ketahui bersama, bahwa capacity building, networking, fundraising, dan publishing sangat penting. Jika TBM tidak mempertimbangkan 4 (empat) hal ini, tentu TBM tidak akan beroperasi, artinya adalah mati.

Pengembangan organisasi juga menjadi penting, TBM membutuhkan alat dan bahan untuk melakukan pengembangan dan memperbesar skala organisasi dan program. Sehingga dukungan sangat dibutuhkan, dan dari waktu ke waktu dituntut semakin besar.

Membangun konstituen, TBM selain berusaha membangun ketahanan hidup dan pengembangan organisai, tidak kalah pentingnya adalah memperbesar sumber. Yaitu orang yang memberi atau menyalurkan dana/buku, building a constituency. Jadi perlu ada need sebuah organisasi pentingnya dukungan simpatisan. Kemudian berpikir jangka panjang, creating a viable and sustainable organization, TBM perlu mempersiapkan eksistensi dalam jangka panjang. Artinya TBM bukan lahan proyek sekali jalan sekali selesai. Karena thalabul ‘ilmi minal mahdi ilal lahdi, pendidikan itu sepanjang hayat, tidak boleh berhenti. Sehingga tidak ada dalil mengelola TBM atau lembaga TBM berhenti karena masa pendidikan selesai. Kreasi dan keberlanjutan TBM masih terus menerus dibutuhkan oleh masyarakat.

Maka, muncullah TBM Kreatif dan Rekreatif, yaitu TBM yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan kreasi dan rekreasi. Dikatakan TBM Kreatif, artinya TBM bukan hanya didesain untuk menyediakan bahan bacaan dan tempat membaca, tetapi juga sebagai wahana dan wadah untuk menciptakan sebuah kreatifitas warga masyarakat. TBM dikatakan Rekreatif berarti kehadiran masyarakat ke TBM bukan hanya mencari buku, tetapi juga wisata, wisata pustaka.

Penutup

Experience is the best teacher, pengalaman adalah guru yang terbaik. Meniru pengalaman berharga orang lain merupakan satu cara yang efektif untuk belajar, kemudian dikembangkan sedemikian rupa sampai muncul pada diri sendiri. Tulisan ini bagian terkecil dari menumbuhkan potensi yang belum tumbuh dari dunia TBM, tetapi harapan dari yang kecil ini, semoga bisa memberi peluang yang lebih besar untuk berinisiatif dan berkreasi bagi gerakan pemasyarakatan budaya baca. Wallahu’alam bishawab.

*Muhsin Kalida. Penerima anugerah Nugra Jasadarma Pitaloka 2018. Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, motivator dan pegiat literasi nasional, serta pengelola TBM Cakruk Pintar (Sleman, DIY).


Salam Literasi : Sebuah Jargon atau Sebuah Eksklusivitas?

Oleh : Syaeful Cahyadi

(Founder TBM Dusun Jlegongan, Sleman, Yogyakarta)

“Salam literasi! Ayo membaca!” demikian kata-kata yang sering penulis dengar, terutama 4 tahun belakangan setelah bergelut dengan pengelolaan sebuah TBM. Di pertemuan forum taman baca, di perjumpaan dengan para murid sekolah, dan di berbagai kesempatan lainnya. Seakan, mengucapkan frasa tersebut di awal pembicaraan menjadi hukum wajib bagi mereka yang mendaku diri sebagai pegiat literasi.

Sekilas memang tidak ada  yang aneh dengan jargon tersebut. Toh, sebagai sebuah gerakan, literasi (dan produk-produk aktivisme turunannya) juga memerlukan sebuah jargon. Ini diperlukan sebagai sebuah identitas maupun sebagai sebuah slogan untuk menyatukan orang-orang yang terlibat  didalamnya. Di luar fungsi salam literasi sebagai sebuah jargon, pernahkah kita membayangkan apa yang ada di benak orang-orang yang berjumpa dengan kita saat mendengar frasa tersebut?

Penulis pernah bertanya kepada seorang kawan yang sama-sama pengelola TBM tentang tujuannya mengatakan “Salam literasi!” hampir di setiap pertemuan yang beririsan dengan TBM yang ia kelola. Ia mengatakan bahwa, dengan mengucapkan salam tersebut, ia berharap pemahaman masyarakat terhadap literasi akan semakin meningkat. Seorang kawan lain memberikan kesaksian yang lebih pragmatis-dramatis. “Lho, itu kan salam kita sebagai pegiat literasi, mas. Ya harus di pakai dong biar orang-orang tahu kalau kita pegiat literasi,” demikian ujarnya.

Sekali lagi, dua tujuan yang disampaikan rekan penulis di atas memang benar dan tepat – sebagai fungsi sebuah jargon. Tetapi, apakah mungkin pemahaman dan kesadaran masyarakat terkait literasi hanya akan begitu saja membaik dengan semakin banyaknya orang yang rajin berkata “Salam literasi!”? Rasanya masih jauh sekam dari api.

Dari contoh-contoh kasus di atas, penulis merasakan ada sebuah ekslusivitas yang muncul dari frasa salam literasi yang sering kita gunakan. Saat seseorang mengatakan dengan bangga frasa tersebut, rasanya kemudian ada sebuah jurang pemisah antara ia dengan orang-orang disekitarnya. Ada sebuah ke-aku-an yang muncul secara tidak langsung; ini lho, aku seorang pegiat literasi. Ayo lah kita sama-sama bilang salam literasi.

Sementara, penulis melihat tidak banyak pengelola TBM dan mereka yang mendaku diri sebagai pegiat literasi yang mampu memberikan pemahaman secara komprehensif kepada masyarakat tentang apa itu literasi. Toh, dari pengalaman penulis sendiri, masih banyak pengelola TBM yang bingung dengan konteks literasi itu sendiri; seperti apa sih literasi itu, bagaimana sih biar kita  bisa berliterasi dengan tepat, apa sih perbedaan literasi dan pendidikan, dan lain sebagainya.

Jika dilihat secara tekstual, penggunaan salam literasi yang masif memang akan menyebarkan literasi secara lebih luas ke tengah-tengah masyarakat. Ya, luas, namun hanya sebatas tekstual, hanya sebatas mendengar. Orang-orang di sekitar kita mungkin akan familiar dengan kata literasi. Setidaknya saat ditanyai mereka bisa menjawan, “Oh iya, aku sering dengar itu dari si Fulan yang pengelola TBM di kampungku.” Namun, bagaimana dengan pemahaman mereka tentang literasi?

Pemahaman terhadap arti, konteks, dan definisi menurut penulis adalah sesuatu yang kadang luput dari perhatian kita sebagai pegiat literasi. Padahal, pemahaman tidak akan datang begitu saja hanya lewat jargon. Tanpa bermaksud menisbikan apa yang sudah kawan-kawan lakukan, tetapi literasi tetaplah sebuah kata baru yang rasanya masih asing bagi telinga kebanyakan orang di Indonesia. Itulah kenapa diperlukan sebuah upaya untuk menanamkan pemahaman supaya masyarakat tahu apa bedanya literasi dengan pendidikan secara umum. Apa bedanya literasi dengan aktivisme sosial lainnya.

Konteks lain yang terkadang kita lupa, jargon salam literasi adalah sebuah produk baru. Rasanya, frasa ini belum melewati baris waktu yang panjang dan membuatnya punya sebuah pengalaman empiris yang kuat. Jargon ini berbeda, dengan pekik merdeka ala Sukarno contohnya, yang saat Sukarno berteriak merdeka maka orang-orang yang mendengarnya akan langsung menyahut dengan pemahaman dan penghayatan yang telah terbangun kuat.

Lihatlah, bagaimana reaksi orang-orang ketika kita mengajak mereka mengucapkan salam literasi. Berapa banyak yang mengangkat tangan dan menunjukkan jempol serta telunjuk lalu sepenuh jiwa mengucapakan “Ayo membaca!”. Berapa banyak pula yang sekadar ikut-ikutan mengangkat tangan sembari menahan kantuk atau sibuk melihat layar gawai.

Literasi adalah sebuah gerakan yang mencakup berbagai hal didalamnya. Itulah kenapa ada yang namanya  enam literasi dasar, gerakan literasi sekolah, dan lain sebagainya. Sebagai sebuah gerakan, literasi pun rasanya harus dilakukan secara menyeluruh pula. Sebab, literasi bukan hanya tentang gemar membaca. Bukan hanya tentang meningkatnya jumlah kunjungan di sebuah TBM. Atau, tentang seberapa banyak buku yang dikoleksi sebuah TBM.

Pemahaman-pemahaman seperti itulah yang sebenarnya lebih dibutuhkan masyarakat di sekitar sebuah TBM. Paling tidak, ketika mereka mendengar ada si tetangga memperkenalkan kata literasi, mereka akan paham apa saja yang bisa mereka dapatkan dan lakukan dengan literasi itu tadi. Menyebarkan secara tekstual tanpa menghadirkan pemahaman rasanya hanya akan membuat masyarakat bingung dan mungkin gagap dengan literasi itu sendiri.

Egois dan terlalu idealis rasanya jika kita datang ke sebuah kelompok masyarakat dan mengajak mereka mengucapkan salam literasi sembari menganggap mereka akan sadar tentang (gerakan) literasi. Sementara, kita tidak tahu masalah apa yang mungkin sudah memenuhi kehidupan mereka. Bayangkan saja, seorang petani yang sedang pusing karena gagal panen kemudian di ajak mengucapkan salam literasi sembari si pengajak berharap ia akan paham literasi dengan sendirinya. Hanya karena ia telah mendengar kata literasi. Hai bung, bisakah literasimu itu membuat panenku membaik?

Toh, secara pragmatis, di titik awal rasanya masyarakat tidak butuh salam literasi atau bahkan literasi itu sendiri. Yang lebih mereka butuhkan adalah adanya ruang-ruang sosial (termasuk TBM), para pengabdi masyarakat, dan orang-orang yang rela mengorbankan diri bagi kemajuan masyarakat di sekitarnya. Jika titik itu sudah dilewati, maka pemahaman literasi baru bisa dan nyaman untuk disampaikan. Baik lewat jargon, pemahaman, maupun kegiatan-kegiatan yang beririsan dengannya.

Jika pengenalan literasi dan pemahaman terhadap literasi bisa dilakukan beriringan, rasanya sebuah perubahan yang berangkat dari gerakan literasi akan tercipta. Jika saja dua hal itu bisa dilakukan secara menyeluruh, bukan tidak mungkin 10 tahun lagi kita akan melihat orang-orang memekikkan salam literasi dengan penuh penghayatan dan pemahaman, seperti saat orang-orang memekikkan merdeka di tahun-tahun awal Indonesia merdeka.


Wadah Bernama FTBM Sleman

Penulis : Sidik Pratomo* & Adityo Nugroho**

Kabupaten Sleman merupakan satu dari lima kabupaten/kota yang masuk menjadi bagian dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Terletak di DIY paling utara berbatasan langsung dengan beberapa kabupaten di Jawa Tengah. Terdiri dari 17 kecamatan yang berisi 86 kelurahan/desa. Kabupaten ini terkenal karena keberadaan Gunung Merapi yang berdiri dengan kokoh, serta kandang salah satu klub sepakbola kenamaan Indonesia, PSS Sleman. Sebagai bagian dari dari provinsi yang terkenal akan dunia akademisnya, wilayah sleman juga kental akan nuansa pendidikan. Universitas Gadjah Mada yang merupakan kampus terbaik se-Indonesia berlokasi di Sleman. Begitu pula keberadaan puluhan perguruan tinggi lain turut menyemarakan.

Berbagai gerakan turut berkembang untuk mendukung nuansa pendidikan. Salah satunya gerakan literasi. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) merupakan salah satu sektor informal yang turut menyemarakan gerakan literasi. Di Kabupaten Sleman sendiri tercatat ada sekitar 42 TBM aktif dari total 70an yang terdata. Tersebar di berbagai kecamatan di Sleman, mulai dari perbukitan di daerah Prambanan hingga lereng Gunung Merapi.

Grafik 1. Persebaran TBM di Sleman Berdasarkan Kecamatan.
(Sumber: Survei Tim Buku FTBM Sleman)

Data di atas memperlihatkan persebaran TBM di wilayah Kabupaten Sleman. Sebanyak 42 TBM tersebar di 15 dari 17 kecamatan di Sleman. Lokasi paling banyak berada di Kecamatan Depok dan Kecamatan Ngemplak, masing-masing sejumlah 5 TBM. Disusul Kecamatan Gamping, Kecamatan Godean, dan Kecamatan Sleman yang memiliki 4 TBM. Selanjutnya ada tiga kecamatan yang di wilayahnya administratifnya berdiri 3 TBM, yaitu Kecamatan Prambanan, Kecamatan Seyegan, dan Kecamatan Tempel. Sepasang TBM masing-masing berlokasi di Kecamatan Kalasan, Kecamatan Mlati, Kecamatan Pakem, dan Kecamatan Turi. Sedangkan Kecamatan Berbah, Kecamatan Moyudan, dan Kecamatan Ngaglik berdiri 1 TBM. Menariknya tidak ada satu pun TBM yang berlokasi di Cangkringan dan Minggir. Data tersebut memperlihatkan bahwa sebenarnya lokasi pendirian TBM di Sleman bisa dikatakan merata. Tidak ada satu kecamatan pun yang benar-benar menjadi pusat berdirinya beberapa TBM.

Grafik 2. Tahun Pendirian TBM di Sleman
(Sumber: Survei Tim Buku FTBM Sleman)

Data yang diperoleh Tim Buku FTBM Sleman memperlihatkan bahwa dari 42 TBM yang aktif, tahun berdiri paling awal ada di tahun 1997 yang merupakan tahun berdirinya TBM Kerai, serta paling muda TBM Bercak pustaka dan TBM Anak Hebat yang berdiri tahun 2018. Apabila dibuat grafik tahun berdirinya TBM di Sleman per tiga tahunan, didapati hasil seperti di atas. Dari dua periode awal per tiga tahunan, yaitu 1997-1999 dan 2000-2002 hanya didapati satu TBM yang berdiri. Periode selanjutnya 2003-2005 didapati 8 TBM yang berdiri. Sedangkan rentang waktu 2006-2008 tidak ada TBM yang berdiri. Perlu digaris bawahi bahwasanya data tersebut berdasarkan TBM yang masih aktif hingga kini. Ada kemungkinan bahwa banyak TBM yang berdiri di rentang 12 tahun itu, tapi berguguran satu persatu dan hanya menyisakan 9 yang mampu bertahan hingga kini. Maka perlu adanya apresiasi tinggi terhadap 9 TBM tersebut, strategi bertahan hidup mereka terbilang berhasil karena mampu eksis hingga 10 tahun lebih.

Berikutnya berturut-turut ada 8 TBM berdiri antara tahun 2009-2011, 10 TBM antara tahun 2012-2014, 13 TBM antara tahun 2015-2017, serta 2 TBM di tahun 2018. Data tersebut memperlihatkan jumlah berdirinya TBM yang meningkat dari satu interval tahun ke interval tahun berikutnya. Sebuah data yang bagus untuk memperlihatkan tingkat partisipasi masyarakat dalam gerakan literasi di Kabupaten Sleman. Untuk data tahun 2018 tidak bisa dimasukan ke dalam hitungan karena merupakan tahun awal dari rentang tahun 2018 ke 2020. Pun sudah ada dua TBM yang berdiri di tahun 2018. Dalam sudut pandang lain, tercatat ada 33 TBM yang berdiri dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir. Ditambah catatan bahwa 33 TBM tersebut tidak hanya mampu berdiri, tapi juga aktif berkegiatan.

Kesemua TBM aktif ini berada di bawah naungan Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Sleman. Dalam kasus FTBM Sleman, tidak hanya murni TBM saja yang menjadi anggota, tapi juga perpustakaan desa/dusun serta perpustakaan yang berada di bawah naungan lembaga/institusi. Maka harus menjadi catatan bahwa penyebutan 42 TBM yang ada di tulisan dan buku ini adalah terdiri dari unsur-unsur seperti yang dijelaskan sebelumnya.

FTBM Sleman sendiri selama ini sudah berlangsung selama 3 kali kepengurusan. Pertama kali dibentuk diketuai oleh Kiptiyah Sudibyakto, lalu estafet kepemimpinan beralih kepada Sidik Pratomo yang sudah masuk periode kedua kepemimpinannya. Kepengurusan periode ketiga ini membawa semangat baru dengan merombak susunan kepengurusan. Pada kepengurusan sebelumnya susunan pengurus hanya Ketua, Sekretaris, dan Bendahara. Kali ini bertambah dengan kehadiran empat divisi, yaitu Kemitraan, Litbang, SDM, serta Humas dan Publikasi. Harapannya bahwa masing-masing divisi bisa lebih membantu perputaran roda kepengurusan.

Grafik 3. Susunan Pengurus FTBM Sleman Periode 2017-2022
(Sumber: Data Pengurus FTBM Sleman)

Peran paling krusial dari FTBM Sleman adalah sebagai perantara antara TBM yang berada di wilayah Sleman dengn Dinas Kearsiapan dan Perpustakaan Kabupaten Sleman serta Dinas Pendidikan Sleman selaku pembina. Melalui FTBM Sleman program dari dinas bisa disosialisasikan kepada para pengelola TBM. Demikian juga bila para pengelola ada kebutuhan untuk bersinergi dengan dinas maka bisa lewat FTBM Sleman. Beberapa kegiatan yang melibatkan ketiga unsur ini bisa terlihat salah satunya dalam acara Jambore Literasi Sleman yang digagas Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sleman. Di mana pada acara ini melibatkan peran serta aktif dari FTBM Sleman dan TBM di wilayah Sleman.

FTBM Sleman sendiri memiliki berbagai kegiatan unggulan. Pertemuan dua bulanan adalah kegiatan paling sering dilaksanakan, bertujuan untuk terus menjalin silaturahmi antar pengelola TBM sekaligus sebagai ajang sosialisasi dari FTBM Sleman kepada anggotanya. Diadakan dua bulan sekali dan dilakukan rotasi untuk tempat penyelenggaraan, dari satu TBM ke TBM lain. Pustaka Ningratan yang belum lama digagas juga menjadi kegiatan andalan dari FTBM Sleman. Setiap Minggu pagi, segenap pengurus dan anggota FTBM Sleman menggelar perpustakaan jalanan di area Lepangan Denggung. Cara ini ditempuh sebagai ajang jemput bola, tidak menunggu masyarakat untuk datang ke ruang baca, tapi mendatangkan ruang baca ke masyarakat. Minggu pagi di Lapangan Denggung dipilih karena pada waktu dan lokasi tersebut banyak masyarakat berkegiatan, terutama anak-anak. Berbagai macam pertukaran pikiran dalam ranah literasi sering dilakukan dalam berbagai diskusi informal ataupun formal. Pegiat literasi tidak hanya dari kalangan TBM, juga dari kalangan pemerintah, akademisi, komunitas sosial, mahasiswa, dan masyarakat pada umumnya. Maka perlu adanya diskusi-diskusi untuk menambah serta memperluas wawasan keliterasian.

Bagi para pengelola TBM, fungsi strategis dari keikutsertaan dalam FTBM adalah sarana untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi. Kesamaan tujuan perjuangan membuat mereka merasa nyaman untuk saling berbagi. Apalagi dari pengurus FTBM Sleman selalu memberikan bimbingan kepada para anggotanya, termasuk anggota-anggota baru akan tantangan yang harus dihadapi ketika mengelola TBM. Tak heran bahwasanya dalam beberapa tahun terakhir sangat jarang dijumpai TBM yang berguguran di wilayah Sleman. Peran serta aktif dari para pengelola untuk selalu belajar, serta forum yang selalu terbuka untuk membantu dan berbagi menjadi kunci. Suatu TBM tidak akan bisa bertahan lama tanpa pengelolaan yang baik, pengelolaan yang baik tidak akan terbentuk tanpa adanya motivasi untuk menjadi lebih baik dari pengelolanya. Suatu wadah tidak akan berguna kalau hanya sekedar nama formalitas belaka, suatu wadah akan berdaya guna jika anggotanya saling membahu dalam kebaikan.

Semoga saja, FTBM Sleman masih bisa terus berkarya dan berbagi bersama anggotanya, bergerak bersama dalam ranah literasi.

*Sidik Pratomo. Ketua FTBM Sleman. Pecinta kopi dan buku bekas, berkepribadian menarik, ramah, baik hati, dan murah senyum. 

**Adityo Nugroho. Peneliti gerakan literasi di Jogja dan sekitarnya. Admin akun Instagram @infoliterasijogja.


Buku “Jejak-Jejak Pengabdian: Geliat Literasi Sleman”

Poster Peluncuran dan Diskusi Buku "Jejak-jejak Pengabdian: Geliat Literasi Sleman", Pembedah: David Effendi (Dosen Fisipol UMY), Adityo Nugroho (FTBM Sleman), Nyayu Widya Rahayu (TBM PKK @RSUD Sleman), Dhayu Dwi Purnamasari (Pustaka Warga). Lokasi di Joglo Lor nDeso (Kwadungan, Widodomartani, Ngemplak, Sleman), hari Minggu tanggal 11 November 2018.

Buku ini merupakan jawaban atas kegelisahan kawan-kawan pegiat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kabupaten Sleman. Bagaimana mungkin ketika setiap hari bersentuhan dengan buku, tapi tak satu pun buku itu merupakan karya mereka sendiri. Tergerak hati kecil untuk berangan, menulis satu karya yang nantinya tercetak dalam kumpulan kertas berbentuk buku. Andaikata tak mampu diri menulis sebanyak prasyarat suatu buku, minimal menjadi bagian dari sekumpulan penulis yang menerbitkan sebuah buku. Angan ini terjawab, Forum TBM Kabupaten Sleman sebagai wadah para pegiat TBM membuka peluang menerbitkan buku. Berisi kumpulan kisah yang dituliskan para pegiat berdasarkan pengalaman mereka mengelola TBM masing-masing.

Pertengahan tahun 2017 proyek pembuatan buku ini dimulai. Diawali dari diskusi-diskusi kecil diantara pengurus, akhirnya diputuskan membentuk tim buku. Tim buku ini bertanggungjawab untuk menyusun format penulisan, format buku, serta sosialisasi kepada anggota FTBM Sleman. Proses berjalan pelan-pelan namun tetap pada jalur menuju lahirnya sebuah karya buku bersama. Harus dipahami bahwa para pegiat ini memiliki banyak sekali keterbatasan. Tak hanya masalah kemampuan menulis, juga waktu serta tenaga yang harus terbagi antara mengurus pekerjaan, keluarga, serta TBM yang dikelola.

Secara de jure jumlah TBM di Kabupaten Sleman sebanyak 70-an. Hanya saja tingkat keaktifan serta kemampuan bertahan hidup masing-masing TBM berbeda. Maka dilakukanlah survei oleh tim buku untuk mendata ulang berapa jumlah de facto TBM yang berada di Sleman, hasilnya terdata 42 TBM yang masih aktif. Selama proses pembuatan buku, pengumpulan naskah tulisan menjadi kendala utama. Tersebarnya para pegiat di 15 kecamatan dari total 17 kecamatan di Sleman menjadi tantangan tersendiri. Tim buku hanya bisa berkomunikasi via grup media sosial, dan hanya sedikit TBM yang mampu didatangi untuk dibantu menulis. Dari target separuh jumlah populasi yang tersurvei, 21 TBM, akhirnya hanya didapat 16 tulisan dari para pegiat. Mencukupi sebenarnya, apalagi tulisan-tulisan yang masuk sangat membakar semangat juang kita sebagai pegiat literasi. Bahasa santunnya adalah menginspirasi.

Buku ini berjudul Jejak-jejak Pengabdian: Geliat Literasi Sleman. Sesuai dengan judul buku, para pegiat literasi di Sleman bergerak dalam ranah pengabdian. Mereka bergerak atas dasar kesadaran membentuk tatanan kehidupan menjadi lebih baik, melalui literasi. Tidak ada uang yang mereka dapat dari kegiatan berliterasi. Malahan waktu, tenaga, serta uang terbuang dari diri mereka. Lalu apa yang mereka cari, kisah-kisah dalam buku ini akan menjawabnya.

Bagian awal buku ini berisi dua tulisan. Tulisan pertama mengulik tentang apa itu FTBM Sleman dengan judul Wadah Bernama FTBM Sleman, ditulis berdua oleh Ketua FTBM Sleman Sidik Pratomo dan pegiat muda Adityo Nugroho. Secara singkat menceritakan tentang organisasi bernama Forum Taman Bacaan Masyarakat Kabupaten Sleman. Bagaimana wadah ini mampu menampung serta menjadi sarana komunikasi bagi para pegiat literasi. Tulisan kedua karya pegiat literasi senior Muhsin Kalida. Pengalamannya selama berkecimpung di dunia literasi membawanya untuk menyelami dunia TBM, termasuk posisinya dalam gerakan literasi di masyarakat. Tulisan berjudul TBM Itu Asyik menyadarkan kita bahwa TBM itu humanis, mendirikannya mudah dan asyik, serta kemandiriannya tetap terjaga jika mampu mengolahnya. Suatu tulisan menarik sebagai pengantar sebelum membaca kisah-kisah perjuangan pegiat literasi di TBM masing-masing.

Kisah-kisah dalam buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Tidak terlalu krusial, hanya saja biar memudahkan pembaca untuk menikmati kisah yang ada. Bagian pertama adalah Dedikasi Sepenuh Hati, berisi lima tulisan pegiat literasi senior di Sleman. Sudah semenjak lama, baik secara individu ataupun TBM yang dikelola, mereka mengabdikan diri pada dunia literasi. Tak banyak orang-orang berdedikasi tinggi seperti mereka. Semenjak dulu para pejuang gerakan literasi banyak, tapi sedikit seperti mereka yang masih bisa eksis untuk kemudian membimbing generasi muda. Penghargaan setinggi-tingginya patut disematkan kepada mereka.

Kisah pertama dimulai dari tulisan Nanang Sujatmiko berjudul Kerai, Pustaka untuk Indonesia. Tulisan seorang pamong masyarakat bergelar dukuh yang menerima penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia. Merupakan kisah pendirian TBM Kerai yang sudah eksis semenjak tahun 1997, sudah 21 tahun dan terus mencoba berkontribusi untuk masyarakat. Dilanjut tulisan The Story of Cakruk Pintar, kisah tentang salah satu pionir TBM yang dikelola sepasang suami istri pegiat literasi. Kali ini sang istri, Rumi Astuti membeberkan kisah pengelolaan TBM agar bisa mandiri. Berkaca pada keberadaan Cakruk Pintar, eksistensi suatu TBM bisa terus terjaga jika dibarengi dengan pengelolaan yang baik.

Ketua FTBM Sleman Sidik Pratomo menjadi penulis kisah ketiga berjudul Membumi Yang Melangit. Terinspirasi dari perjuangan seorang tokoh veteran perang yang gemar menularkan virus membaca. Bersama sang adik, menjadi pelopor perpustakaan keliling dengan berjalan kaki. Sampai akhirnya kini masih terus berkeliling menggunakan motor pustaka untuk terus menularkan virus membaca. Berikutnya adalah kisah berjudul Merajut Asa, Meraih Mimpi. Kisah hidup dari sang penulis, Hastuti Setyaningrum mengolah kecintaannya kepada buku menjadi sebuah lembaga yang memberdayakan warga melalui gerakan literasi. Terakhir di bagian ini, kembali merupakan kisah keluarga kecil yang mencintai buku. Bermula dari keluarga, menyebarkan budaya baca ke warga. Berawal dari membaca buku, berubah menjadi karya. Tulisan tentang TBM Mata Aksara ini dirangkai apik oleh Nuradi Indra Wijaya dalam tulisan Dari Buku Menjadi Karya: Karena Buku Adalah Gerbang Seluruh Cita.

Bagian kedua adalah Peduli Minat Baca. Ada enam penulis dari latar belakang yang berbeda, yaitu pengelola perpustakaan desa, guru PAUD, ibu muda, pegawai rumah sakit, petani, dan aktivis komunitas. Keberagaman latar belakang tidak menghalangi kepedulian mereka terhadap minat baca. Dengan kapasitas masing-masing, mereka mengolah kemauan dan kemampuan untuk berperan serta dalam dunia literasi. Diawali kisah perjuangan perpustakaan desa untuk tetap ada, sekaligus bermanfaat bagi warga. Bagaimana perjuangan sebuah ruang literasi ketika berhadapan dengan birokrasi. Kisah epik nan apik Nuzul Hidayah Yuningsih dalam Berbagi Ilmu Melalui Pustaka Warga. Seorang Guru PAUD tak lupa ikut berkontribusi pada dunia literasi. Bagi seorang Layla Noor Aziza, anak usia PAUD merupakan generasi awal untuk menumbuhkan kepedulian pada minat baca. Kisah sinergi PAUD dalam literasi ini tertuang pada tulisan berjudul Aku, Buku, dan Masa Depan. Tulisan Menyemai Bibit Literasi berisi rasa syukur seorang ibu atas kelahiran buah hati yang diwujudkan dengan mendirikan taman bacaan. Rika Dian Mayawati meyakini apabila minat baca tumbuh, maka warga gemar membaca terbentuk, dan selanjutnya masyarakat literasi pun terbina.

Sampai pada tulisan keempat bagian kedua, Terasa Bagaikan Rumah oleh Nyayu Widya Rahayu. Kisah seorang pegawai rumah sakit dengan berbagai macam cerita ketika mengelola perpusatakaan rumah sakit. Ketika rumah sakit notabenenya adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang sedang dalam keadaan tidak sehat, baik ringan maupun kronis. Maka TBM PKK @RSUD Sleman ini merupakan oase di tengah gurun pasir, mampu menghadirkan dahaga di pojok kecil sudut rumah sakit. Menjadi semacam ruang pemulihan psikologis melalui ruang baca yang nyaman serta keramahan pengelolanya. Memadukan dunia literasi dan pertanian dilakukan oleh Abu Haytsam dengan Omah Baca Tani. Melalui tulisan Meramu Literasi Berkearifan Lokal, mencoba untuk meningkatkan potensi lokal melalui literasi pertanian. Yaitu memberikan sumber baca dan pengetahuan pertanian untuk mendorong terwujudnya kesejahteraan petani. Akhir bagian ini adalah kisah berjudul Literasi Berbagi, tulisan karya Adityo Nugroho. Padepokan ASA Wedomartani merupakan suatu yayasan yang bergerak di bidang sosial, mengkhususkan diri pada pengembangan kapasitas dan kapabilitas anak muda di Jogja. Namun hal ini tidak menghalangi mereka untuk ikut berkecimpung di dunia literasi. Diskursus terkait dunia literasi terus dipelihara melalui forum-forum diskusi, serta aksi nyata berbagi semangat membaca lewat gerakan Padepokan ASA Berbagi Buku.

Bagian ketiga adalah Kaum Muda Menjaga Asa. Satu fenomena menarik terkait gerakan literasi di wilayah Kabupaten Sleman adalah tingginya keterlibatan anak muda. Lima orang anak muda pada bagian ini berani menyisihkan tenaga dan pikirannya demi suatu asa. Ketika anak muda lain seusia mereka sibuk dengan masa depan dan kepentingan pribadi, lain halnya dengan pejuang literasi muda ini. Berani menantang arus, berjuang dalam ranah literasi. Marsahlan penulis pertama bagian ini mengangkat tulisan berjudul Rapodo, Rapopo!. Dengan segala kesederhanaannya, Katamaca tumbuh menjadi ruang alternatif bagi masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Berawal dari hobi sampai akhirnya berbagi, dalam tulisan ini sarat terkandung nilai-nilai pemaknaan gerakan literasi yang jarang disadari orang lain. Beralih tulisan berikutnya berjudul Lintas Juang Roda Literasi Sanggar Bocah Jetis. Rakhmadi Gunawan menceritakan berbagai tantangan yang dihadapi dalam memperjuangkan keberadaan ruang baca. Sampai pada aksi heroiknya mengubah sepeda ontel menjadi media baca keliling.

Perjuangan pemuda dalam memajukan desa melalui gerakan literasi juga digalakan oleh Syaeful Cahyadi. Karya berupa Perpustakaan Mbangun Deso menceritakan perjuangannya bagi anak-anak. Minimnya dukungan dari warga sekitar tidak menghentikan niatnya berjuang. Baginya, masa anak-anak harus dilalui dalam kecerian bermain dan belajar bersama. Sambil membekali pengetahuan dunia luar yang kelak berguna bagi mereka. Selanjutnya karya puitis berjudul Nyala Lilin oleh Ine Wulandari. Menceritakan bagaimana suatu ruang baca bisa diinisiasi oleh berbagai macam pihak. Dalam kisah pendirian Sanggar Ruang Aksara, pendiriannya diinisiasi oleh mahasiswa KKN, warga lokal, dan suatu yayasan sosial. Hanya masalah keberlangsungan menjadi kendala, ketika pengelolaan harus diserahkan sepenuhnya kepada warga. Seperti nyala lilin, lama kelamaan menjadi semakin redup disapu buaian angin. Tulisan terakhir dari Diah Fitria Widhiningsih, berjudul Suatu Bercak untuk Pustaka. Berawal dari kegelisahan akan kondisi lingkungan tempat tinggal. Jaringan pertemanan dan kolega pun dirangkul untuk bersama memperbaiki keadaan, lewat jalur literasi. Melalui nama bercak harapan digantungkan, bukan bercak sebagai noda, tapi bercak sebagai bekas atau tilas yang jika terkumpul dalam jumlah banyak akan menjadi luas, kuat, dan berpengruh.

Proses pembuatan buku ini memang tidak semudah bayangan awal. Berbagai tantangan datang silih berganti, pasang surut semangat melanda layaknya ombak di pantai. Tapi semuanya memang butuh pengorbanan dan perjuangan bukan, tidak ada hasil tanpa proses yang panjang. Dukungan dari berbagai kalangan sangat membantu proses perampungan karya ini. Penghargaan setinggi-tingginya kepada para pengelola TBM yang mau berpartisipasi dalam mini survei, donatur yang sudi menyisihkan sedikit rezekinya, kontributor tulisan yang penuh semangat menceritakan kisah perjuangannya, segenap pengurus FTBM yang selalu mendampingi selama proses berlangsung, dan anggota tim buku yang tanpa kenal lelah berjuang dalam segala keterbatasan. Semoga buku ini mampu menjadi dokumentasi perjuangan pegiat literasi di Kabupaten Sleman, serta sebagai karya yang senantiasa menginspirasi kita semua.

Akhir kata, Salam Literasi!

*Isi tulisan ini merupakan Prakata Buku yang ditulis oleh Tim Buku FTBM Sleman (Adityo Nugroho, Ficky Taufikurrochman, Marsahlan, Rakhmadi Gunawan, Syaeful Cahyadi)


Tingkatkan Budaya Literasi Anak; TBM Lentera Pustaka Diresmikan

Untuk meningkatkan minat baca dan budaya literasi anak-anak usia sekolah di Desa Sukaluyu Kec. Taman Sari Kab. Bogor, hari ini diresmikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka oleh Teddy Pembang (Camat Tamansari Bogor), Prof. Dr. Sofyan Hanif, M.Pd. (Wakil Rektor III Universitas Negeri Jakarta), Khatibul Umam Wiranu (Anggota DPR RI) dan Dr. Liliana Muliastuti (Dekan FBS UNJ). TBM Lentera Pustaka akan menjadi sarana bagi sekitar 300-an anak-anak agar lebih mudah mendapatkan akses bacaan yang berkualitas. Tidak kurang dari 1.100 buku bacaan tersedia di TBM Lentera Pustaka. “Sebagai komitmen terhadap pendidikan karakter anak, TBM Lentera Pustaka hadir untuk berkontribusi dalam meningkatkan budaya literasi anak-anak di Desa Sukaluyu. Statistik menunjukkan tingkat pendidikan masyarakat di desa ini, 80% hanya jenjang SD. Untuk itu, TBM Lentera Pustaka berusaha mengubah cara pandang anak-anak usia sekolah melalui buku bacaan sehingga dapat tetap melanjutkan sekolah, setidaknya hingga jenjang SMA” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka yang juga Dosen Universitas Indraprasta PGRI Jakarta di acara peresmian, Minggu 5 November 2017. Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" dari Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dalam urusan minat membaca; berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Untuk itu, TBM Lentera Pustaka berkomitmen untuk “mendekatkan” anak-anak usia sekolah dengan buku bacaan yang berkualitas. Agar memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas sehingga mampu mempersiapkan masa depan dengan baik dan kompetitif. “Taman bacaan adalah jendela ilmu pengetahuan bagi anak-anak. Di tengah era digital sekarang, budaya baca harus terus digalakkan. Agar karakter anak-anak bisa dibetuk melalui bacaan bukkan oleh gadget. Kita patut bangga dengan adanya TBM Lentera Pustaka ini” ujar Prof. Dr. Sofyan Hanif di tengah sambutannya.. Nantinya, TBM Lentera Pustaka akan menyelenggarakan “jam baca” seminggu 3 kali (Rabu, Jumat, Minggu) yang dibimbing oleh 2 petugas, di samping kegiatan dongeng bacaan, membaca sambil bermain, bedah buku, dan kids financial literacy. Ke depan, TBM Lentera Pustaka pun bertekad menjadikan Desa Sukaluyu sebagai tujuan “Wisata Literasi” agar masyarakat dan korporasi mencintai buku sebagai sarana membentuk karakter anak. Selain itu, TBM Lentera Pustaka pun akan dikelola dengan menjunjung tinggi “peradaban anak” dengan mewajibkan setiap anak yang menjadi anggota harus berperilaku 1) berdoa sebelum aktitivitas, 2) antre, 3) mengucapkan salam saat datang dan pulang, dan 4) cium tangan. “Ke depan, TBM Lentera Pustaka akan mempelopori agar Desa Sukaluyu menjadi tujuan “Wisata Literasi”, agar banyak orang tua mengajak anaknya untuk mencintai, membaca bahkan mendonasikan buku ke sini. Di era milenial dan serba digital ini, membaca buku sangat penting agar anak-anak terbebas dari kebodohan, bahkan terhindar dari ancaman putus sekolah” tambah Syarifudin Yunus. Di mata masyarakat, kehadiran TBM Lentera Pustaka menjadi momentum untuk bersiap diri sebelum Desa Sukaluyu dijadikan “Desa Wisata” oleh Pemkab Bogor pada tahun 2018. Berbagai potensi wilayah dan sumber daya manusia harus dapat bersinergi untuk mewujudkan Desa Sukaluyu sebagai tujuan wisata ke depannya. Kebun, Alam, Gunung, Adab, dan Sastra (KAGA Sastra) akan menjadi spirit pengembangan desa wisata Sukaluyu. Saat ini TBM Lentera Pustaka memiliki lebih dari 1.100 koleksi buku yang diperoleh dari donator dan akan menambah hingga akhir tahun 2017 menjadi 1.600 buku bacaan. TBM Lentera Pustaka juga mengundang korporasi dan perusahaan untuk melakukan kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) ke TBM Lentera Pustaka, mengajar dan mendidik anak-anak untuk membaca buku. UBAH NIAT BAIK JADI AKSI NYATA ... #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen


Tingkatkan Budaya Literasi Anak; TBM Lentera Pustaka Diresmikan

Untuk meningkatkan minat baca dan budaya literasi anak-anak usia sekolah di Desa Sukaluyu Kec. Taman Sari Kab. Bogor, hari ini diresmikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka oleh Teddy Pembang (Camat Tamansari Bogor), Prof. Dr. Sofyan Hanif, M.Pd. (Wakil Rektor III Universitas Negeri Jakarta), Khatibul Umam Wiranu (Anggota DPR RI) dan Dr. Liliana Muliastuti (Dekan FBS UNJ). TBM Lentera Pustaka akan menjadi sarana bagi sekitar 300-an anak-anak agar lebih mudah mendapatkan akses bacaan yang berkualitas. Tidak kurang dari 1.100 buku bacaan tersedia di TBM Lentera Pustaka. “Sebagai komitmen terhadap pendidikan karakter anak, TBM Lentera Pustaka hadir untuk berkontribusi dalam meningkatkan budaya literasi anak-anak di Desa Sukaluyu. Statistik menunjukkan tingkat pendidikan masyarakat di desa ini, 80% hanya jenjang SD. Untuk itu, TBM Lentera Pustaka berusaha mengubah cara pandang anak-anak usia sekolah melalui buku bacaan sehingga dapat tetap melanjutkan sekolah, setidaknya hingga jenjang SMA” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka yang juga Dosen Universitas Indraprasta PGRI Jakarta di acara peresmian, Minggu 5 November 2017. Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" dari Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dalam urusan minat membaca; berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Untuk itu, TBM Lentera Pustaka berkomitmen untuk “mendekatkan” anak-anak usia sekolah dengan buku bacaan yang berkualitas. Agar memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas sehingga mampu mempersiapkan masa depan dengan baik dan kompetitif. “Taman bacaan adalah jendela ilmu pengetahuan bagi anak-anak. Di tengah era digital sekarang, budaya baca harus terus digalakkan. Agar karakter anak-anak bisa dibetuk melalui bacaan bukkan oleh gadget. Kita patut bangga dengan adanya TBM Lentera Pustaka ini” ujar Prof. Dr. Sofyan Hanif di tengah sambutannya.. Nantinya, TBM Lentera Pustaka akan menyelenggarakan “jam baca” seminggu 3 kali (Rabu, Jumat, Minggu) yang dibimbing oleh 2 petugas, di samping kegiatan dongeng bacaan, membaca sambil bermain, bedah buku, dan kids financial literacy. Ke depan, TBM Lentera Pustaka pun bertekad menjadikan Desa Sukaluyu sebagai tujuan “Wisata Literasi” agar masyarakat dan korporasi mencintai buku sebagai sarana membentuk karakter anak. Selain itu, TBM Lentera Pustaka pun akan dikelola dengan menjunjung tinggi “peradaban anak” dengan mewajibkan setiap anak yang menjadi anggota harus berperilaku 1) berdoa sebelum aktitivitas, 2) antre, 3) mengucapkan salam saat datang dan pulang, dan 4) cium tangan. “Ke depan, TBM Lentera Pustaka akan mempelopori agar Desa Sukaluyu menjadi tujuan “Wisata Literasi”, agar banyak orang tua mengajak anaknya untuk mencintai, membaca bahkan mendonasikan buku ke sini. Di era milenial dan serba digital ini, membaca buku sangat penting agar anak-anak terbebas dari kebodohan, bahkan terhindar dari ancaman putus sekolah” tambah Syarifudin Yunus. Di mata masyarakat, kehadiran TBM Lentera Pustaka menjadi momentum untuk bersiap diri sebelum Desa Sukaluyu dijadikan “Desa Wisata” oleh Pemkab Bogor pada tahun 2018. Berbagai potensi wilayah dan sumber daya manusia harus dapat bersinergi untuk mewujudkan Desa Sukaluyu sebagai tujuan wisata ke depannya. Kebun, Alam, Gunung, Adab, dan Sastra (KAGA Sastra) akan menjadi spirit pengembangan desa wisata Sukaluyu. Saat ini TBM Lentera Pustaka memiliki lebih dari 1.100 koleksi buku yang diperoleh dari donator dan akan menambah hingga akhir tahun 2017 menjadi 1.600 buku bacaan. TBM Lentera Pustaka juga mengundang korporasi dan perusahaan untuk melakukan kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) ke TBM Lentera Pustaka, mengajar dan mendidik anak-anak untuk membaca buku. UBAH NIAT BAIK JADI AKSI NYATA ... #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen


Tingkatkan Budaya Literasi Anak; TBM Lentera Pustaka Diresmikan

Untuk meningkatkan minat baca dan budaya literasi anak-anak usia sekolah di Desa Sukaluyu Kec. Taman Sari Kab. Bogor, hari ini diresmikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka oleh Teddy Pembang (Camat Tamansari Bogor), Prof. Dr. Sofyan Hanif, M.Pd. (Wakil Rektor III Universitas Negeri Jakarta), Khatibul Umam Wiranu (Anggota DPR RI) dan Dr. Liliana Muliastuti (Dekan FBS UNJ). TBM Lentera Pustaka akan menjadi sarana bagi sekitar 300-an anak-anak agar lebih mudah mendapatkan akses bacaan yang berkualitas. Tidak kurang dari 1.100 buku bacaan tersedia di TBM Lentera Pustaka. “Sebagai komitmen terhadap pendidikan karakter anak, TBM Lentera Pustaka hadir untuk berkontribusi dalam meningkatkan budaya literasi anak-anak di Desa Sukaluyu. Statistik menunjukkan tingkat pendidikan masyarakat di desa ini, 80% hanya jenjang SD. Untuk itu, TBM Lentera Pustaka berusaha mengubah cara pandang anak-anak usia sekolah melalui buku bacaan sehingga dapat tetap melanjutkan sekolah, setidaknya hingga jenjang SMA” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka yang juga Dosen Universitas Indraprasta PGRI Jakarta di acara peresmian, Minggu 5 November 2017. Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" dari Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dalam urusan minat membaca; berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Untuk itu, TBM Lentera Pustaka berkomitmen untuk “mendekatkan” anak-anak usia sekolah dengan buku bacaan yang berkualitas. Agar memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas sehingga mampu mempersiapkan masa depan dengan baik dan kompetitif. “Taman bacaan adalah jendela ilmu pengetahuan bagi anak-anak. Di tengah era digital sekarang, budaya baca harus terus digalakkan. Agar karakter anak-anak bisa dibetuk melalui bacaan bukkan oleh gadget. Kita patut bangga dengan adanya TBM Lentera Pustaka ini” ujar Prof. Dr. Sofyan Hanif di tengah sambutannya.. Nantinya, TBM Lentera Pustaka akan menyelenggarakan “jam baca” seminggu 3 kali (Rabu, Jumat, Minggu) yang dibimbing oleh 2 petugas, di samping kegiatan dongeng bacaan, membaca sambil bermain, bedah buku, dan kids financial literacy. Ke depan, TBM Lentera Pustaka pun bertekad menjadikan Desa Sukaluyu sebagai tujuan “Wisata Literasi” agar masyarakat dan korporasi mencintai buku sebagai sarana membentuk karakter anak. Selain itu, TBM Lentera Pustaka pun akan dikelola dengan menjunjung tinggi “peradaban anak” dengan mewajibkan setiap anak yang menjadi anggota harus berperilaku 1) berdoa sebelum aktitivitas, 2) antre, 3) mengucapkan salam saat datang dan pulang, dan 4) cium tangan. “Ke depan, TBM Lentera Pustaka akan mempelopori agar Desa Sukaluyu menjadi tujuan “Wisata Literasi”, agar banyak orang tua mengajak anaknya untuk mencintai, membaca bahkan mendonasikan buku ke sini. Di era milenial dan serba digital ini, membaca buku sangat penting agar anak-anak terbebas dari kebodohan, bahkan terhindar dari ancaman putus sekolah” tambah Syarifudin Yunus. Di mata masyarakat, kehadiran TBM Lentera Pustaka menjadi momentum untuk bersiap diri sebelum Desa Sukaluyu dijadikan “Desa Wisata” oleh Pemkab Bogor pada tahun 2018. Berbagai potensi wilayah dan sumber daya manusia harus dapat bersinergi untuk mewujudkan Desa Sukaluyu sebagai tujuan wisata ke depannya. Kebun, Alam, Gunung, Adab, dan Sastra (KAGA Sastra) akan menjadi spirit pengembangan desa wisata Sukaluyu. Saat ini TBM Lentera Pustaka memiliki lebih dari 1.100 koleksi buku yang diperoleh dari donator dan akan menambah hingga akhir tahun 2017 menjadi 1.600 buku bacaan. TBM Lentera Pustaka juga mengundang korporasi dan perusahaan untuk melakukan kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) ke TBM Lentera Pustaka, mengajar dan mendidik anak-anak untuk membaca buku. UBAH NIAT BAIK JADI AKSI NYATA ... #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen


Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

Processing files…