Oleh. Heri Maja Kelana

Tahun 1999 Yayasan Obor Indonesia yang bekerja sama dengan The Japan Foundation menerbitkan buku yang yang bagus dengan judul Buku dalam Indonesia Baru. Penulis yang terlibat dalam dalam buku ini adalah pemikir-pemikir Indonesia di antaranya Ignas Kleden, Y. B. Mangunwijaya, Sapardi Djoko Damono, Alfons Taryadi, Arselan Harahap, Karlina Laksono, dll.

Buku yang tebalnya 308 ini mengangkat prespektif buku dari kaca mata ekonomi pokitik tentang kebudayaan, peran buku demi kearifan dalam teknologi, penerbitan buku dalam menghadapi abad ke-21, penciptaan ilustrasi inovatif buku cerita anak, penerbitan digital dan peluangnya, distribusi buku di Indonesia, kita dan sastra Indonesia, dan lain sebagainya. Pada buku ini juga diberi sambutan oleh seorang Mochtar Lubis dengan kalimat pembuka yang memukau “Buku: Senjata yang Kukuh dan Berdaya Hebat untuk Melakukan Serangan maupun Pertahanan terhadap Perubahan Sosial, termasuk Perubahan dalam Nilai-nilai Manusia dan Kemasyarakatan”.

Selain Mochtar Lubis, ada pula seorang Jepang Kazumasa Nishida yang juga seorang Director General Pusat Kebudayaan Jepang, The Japan Foundation, di Jakarta yang memberikan sambutan dalam buku ini. Pada sambutannya Kauzumasa menceritakan sejarah berdirinya The Japan Foundation serta visi dan misinya. Selain itu, ia juga menceritakan mengenai latar belakang berdirinya Asia Centre, di mana menurutnya Asia Centre ini untuk meningkatkan interaksi di antara bangsa-bangsa Asia dan juga memelihara keberagaman budaya.

Buku dalam Indonesia Baru ini penting untuk dibaca oleh kita semua yang ingin mengetahui informasi, ide, juga gagasan perbukuan pada akhir abad ke-20, dalam menghadapi abad ke-21 tentang perbukuan dan dunia industri perbukuan di Indonesia. Terlebih pada waktu itu di Indonesia sendiri masih dalam transisi orde baru ke reformasi. Artinya di sana suatu kemutakhiran nilai-nilai dan wacana yang penting dalam reformasi untuk menuju Indonesia baru.

Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia ini sudah memasuki kurun waktu 25 tahun, atau sering disebut sebagai tahun perak. Dan mungkin saja buku ini sudah banyak menginspirasi para penulis dan pekerja buku, juga mungkin pegiat literasi yang banyak berkecimpung dengan buku.

Kita akan melepaskan dulu buku, dan mengarah pada identitas literasi di Indonesia kekinian. Mungkin para pegiat literasi dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Pustaka Bergerak Indonesia (PBI), serta komunitas literasi lainnya tidak asing dengan beberapa nama seperti Nirwan Ahmad Arsuka (alm), Gol A Gong, Wien Muldian, Firman Venayaksa, Opik, Faiz Ahsoul, dan Maman Suherman. Beberapa nama yang disebutkan adalah pegiat literasi yang dapat dikatakan sudah lebih dulu berkecimpung dalam dunia ini.

Kekinian setidaknya hingga tahun 2024, literasi semakin berkembang. Bahkan masuk pada sektor di pemerintahan dan menjadi isu nasional. Bukan hanya di pemerintahan, akan tetapi pihak swasta pun turut mendukung literasi di Indonesia. Tentu mendukungnya dengan berbagai cara.

Menguatnya isu literasi di Indonesia, kemudian akan berdampak pada identitas pegiat literasi atau komunitas literasinya sendiri. Dampak ini dapat dilihat dari berbagai faktor, di antaranya hilangnya batas antara wilayah dan kategori, ketidakadilan, serta media sosial.

Hilangnya batas wilayah dan kategori, bahwasannya orang dengan mudah masuk pada wilayah dan berinteraksi antar wilayah seperti tanpa batas lagi. Hal ini yang menjadikan batas wilayah dan kategori menjadi kabur. Sedangkan ketidakadilan (perasaan tertindas) ini dalam artian ternyata banyak pihak yang memonopoli, sehingga pihak lain seakan-akan menjadi korban dari monopili tersebut. Menjadi pihak-pihak yang dieksploitasi. Perasaan ketidakadilan ini membuat orang jadi butuh diakui martabatnya, di sini kemudian identitas menjadi wacana yang besar.

Dalam faktor lain adalah media sosial. Kita tahu bahwa orang Indonesia mana tidak memiliki smartphone, semua pasti memiliki, dan tentunya memiliki media sosial. Media sosial ini dapat diibaratkan sebagai koin bermata dua, sisi satu anugerah dan sisi lainnya bencana. Hal baiknya adalah dapat berkomunikasi dan berbagi, hal ini kemudian dianggap menjadi penting. Namun ketika setiap orang atau individu tersebut dapat mengutarakan setiap pendapatnya, di sini kita akan menyadari bahwa setiap pendapat itu dapat berbeda satu dan yang lainnya. Hal ini akan menimbulkan chaos.

Selain itu, faktor lain dalam media sosial semua orang atau lembaga ingin diakui dan seberapa banyak follower, seberapa banyak yang like, dan ketika membagikan sesuatu di media sosial ditanggapi dengan cara apa dan bagaimana. Ketika semua orang, lembaga, atau komunitas melakukan hal tersebut, maka akan menjadi kebutuhan utama, terutama melihat reaksi tanggapan orang-orang terhadap siapa kita sesungguhnya. Hal ini juga menjadi suatu identitas tersendiri.

Gambaran di atas adalah problem identitas literasi, baik pegiat maupun lembaga dan komunitas di Indonesia. Literasi menjadi isu dan wacana besar di Indonesia yang kemudian tidak lantas menjadi isu besar di masyarakat. Bagaimana pentingnya membaca buku yang kemudian menumbuhkan nilai-nilai kritis, inovatif, dan mandiri pada masyarakat Indonesia.

Kembali pada buku, Forum TBM membuat kuisioner untuk melihat sejauh mana buku berpengaruh terhadap kehidupan. Kira-kira begitu tujuan dari kuisioner tersebut, yang kemudian dibagikan ke grup pegiat literasi dengan jumlah anggota lebih dari 1000. Akan tetapi yang mengisi kuisioner hanya 204, dengan kategori jawaban “sangat berpengaruh” 184 dan “berpengaruh” 20 responden. Sebenarnya ada satu lagi pertanyaan namun tidak ada yang menjawab, yaitu “bisa saja”.

Dari kuisioner tersebut, kita dapat melihat bahwa dari 1000 lebih anggota grup tersebut, tidak sampai 50 % mengisi. Padahal keseharian mereka sebagai pegiat literasi dengan buku. Penulis tidak dapat menyimpulkan mengapa tidak mengisi. Hanya mungkin adanya kecurigaan atau asumsi-asumsi semata, seperti misalnya “untuk apa sih kuisioner tersebut” atau mungkin banyak faktor teknis lainnya, signyal atau apapun.

Sebenarnya kuisioner ini penting dalam melihat pola identitas yang tadi disinggung pada paragraf sebelumnya di atas. Karena dengan ketersebaran anggota dari grup sebenarnya menjadi miniatur Indonesia. Dan ini menjadi potensi besar seharusnya dalam melakukan survei-survei atau mengambil sampel.

Ken Weber seorang ilmuan visioner melihat situasi sekarang ini dari berbagai ilmu mutakhir. Ken Weber sendiri melihat bahwa “peradaban itu adalah perkembangan kematangan orientasi nilai manusia yang ditandai dengan tiga tahap dilewati manusia, yaitu egosentris, sosiosentris, dan worldsentris”. Literasi hidup diketiga level tersebut.

Penulis sebenarnya ingin menjabarkan ketiga level tersebut, namun dalam pembahasan kali ini bukan pada wilayah itu poinnya. Melainkan pada bagaimana keterikatan pegiat literasi dengan buku. Dan memang memiliki ikatan dengan buku. Terutama mengenai ingatan di masa kecil juga ada pula yang memiliki ikatan batin dengan buku karena buku tersebut menginspirasi dan menyelamatkan hidupnya, dan lain sebagainya.

Unik-unik pengalaman batin dengan buku. Dan ada titik poin, yaitu ketika digali lebih dalam, ternyata pegiat literasi memiliki ikatan dengan buku karena waktu kecil pernah bersentuhan atau memiliki ikatan dengan buku. Dan hal ini pula sebenarnya yang sedang dicita-citakan oleh Indonesia, bahwa setiap anak itu setidaknya pernah bersentuhan dengan buku atau mendengarkan buku yang dibaca nyaring. Pegiat literasi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Pustaka Bergerak, serta komunitas lainnya melakukan hal itu di akar rumput. Bahkan sampai menjemput bola, melalui layanan buku keliling dengan nama yang bervariasi.

Tulisan Ignas Kleden pada Buku dalam Indonesia Baru menulis bahwa “Ada suatu asumsi yang banyak dianut bahwa buku menandai tahap-tahap perkembangan ke arah modernisasi”. Ignas Kleden memberikan judul pada tulisannya Buku di Indonesia: Perspektif Ekonomi Tentang Kebudayaan. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa “membaca merupakan salah satu pendorong utama kemajuan, maka hal terpenting yang harus segera dilakukan adalah mendorong semua pengarang dan penulis serta penerjemah untuk menyiapkan sebanyak mungkin naskah yang baik, mendirikan badan-badan penerbit dengan modal cukup yang diperlengkapi dengan tenaga editorial yang baik, dan membangun jaringan distribusi yang segera dapat menyalurkan buku kepada pembaca atau ke perpustakaan-perpustakaan.”

Ignas Kleden menulis Buku di Indonesia: Perspektif Ekonomi Tentang Kebudayaan 25 tahun yang lalu, dan sekarang apa yang dikatakan Ignas Kleden telah terjadi di Indonesia. Terutama pendistribusian buku sudah masuk ke sekolah, perpustakaan, juga ke TBM. Salah satunya yang dilakukan oleh Forum TBM yang bekerja sama dengan JNE melalui “Sejuta Bahan Pustaka untuk TBM bersama JNE”.

Buku yang berjudul Buku dalam Indonesia Baru memberikan inspirasi pada banyak kalangan, bukan hanya individu, juga instansi pemerintahan, juga swasta. Mungkin yang sekarang harus dilakukan, tinggal bagaimana buku-buku yang telah terdistribusikan tersebut dapat dibaca dan menjadi inspirasi anak-anak Indonesia.

Selamat Hari Buku Sedunia. Salam.