Oleh. Eko Budiyono*

Dalam rangka Hari Dongeng Sedunia yang diperingati hari ini, dimanfaatkan dengan baik oleh Forum Taman Baca Masyarakat (TBM). Melalui kegiatan Lokakarya Muhibah Dongeng, Forum TBM mengundang puluhan orang pemerhati dongeng se antero negeri. Lokakarya dilaksanakan pada sore ini (20/3/2024) dengan moda dalam jaringan (daring) melalui zoom meeting.

Kegiatan terlaksana berkat mirisnya para pegiat literasi akan minimnya para pendongeng yang eksistensinya semakin memprihatinkan. Selain itu, menilik dari hiburan anak saat ini hanyalah gawai yang jelas sulit terkontrol oleh kedua orang tuanya. Kalaupun ada hiburan lain, tentu sasaran utamanya adalah para kaum muda dan orang tua. Seolah hiburan anak tak ada yang mempedulikannya. Atas keprihatinan inilah, Forum TBM bergerak untuk melaksanakan kegiatan ini.

Kang Aris Munandar selaku Bidang Kemitraan dan Program menyampaikan beberapa hal terkait giat hari ini. Pertama, Kang Aris meminta supaya kegiatan lokakarya tidak hanya berhenti pada diri peserta saja dan diam tak bergerak ataupun berkarya. Berikutnya, Kang Aris menyampaikan bahwa, pasca kegiatan ini ada lomba mendongeng via video. Namun, jika dalam pembuatan video yang melibatkan anak-anak, maka pendongeng harus meminta izin terlebih dahulu kepada orang tuanya. “Mengingat, akhir-akhir ini marak kejahatan di dunia digital yang mengeksplore anak yang tak berdosa,” terangnya.

Tak main-main, Lokakarya sore ini menghadirkan nara sumber yang sudah tidak asing lagi dalam dunia perdongengan. Beliau adalah Den Hasan yang berasal dari Jepara sekaligus sebagai pendiri Rumah Belajar Ilalang. Sebagai pendongeng yang pernah mendongeng di 468 lokasi tanpa jeda membuatnya dinobatkan sebagai pendongeng pertama yang memecahkan Rekor MURI. Selain itu, Den Hasan juga dinobatkan sebagai Pakar Revitalisasi Bahasa Ibu tahun 2024 oleh Balai Bahasa Jawa Tengah.

Dalam paparannya Den Hasan tak canggung untuk menyampaikan tips dan trik dalam mendongeng. Prinsip dasar yang harus dipunyai seorang pendongeng dalam bahasa jawa adalah “Wicara, Wirasa, dan Wiraga”. Artinya, dalam mendongeng harus memperhatikan cara dan gaya bicara. Mulai dari intonasi, artikulasi, tempo, dan warna suara yang berbeda-beda. Karena antara suara untuk narasi, tokoh, dan ilustrasi harus jelas dan tak sama. Kemudian pendongeng juga harus mampu menimbulkan rasa penasaran audien dengan ekspresi dan mimik yang meyakinkan. Pendongeng harus bisa menumbuhkan instuisi audien yang sekaligus menstimulus perasaan dan sifat baik anak-anak untuk masa dewasanya kelak. Tak kalah pentingnya, Den Hasan juga berpesan, bahwa seorang pendongeng dalam mendongeng harus menyertakan gerakan-gerakan atau menirukan media yang ditampilkannya. Den Hasan juga memberikan rumus dalam meracik sebuah dongeng. Yakni, menentukan alurnya, kemudian siapa tokohnya, apa yang akan dilakukan, apa rintangannya, dan terakhir bagaimana cara pemecahannya. Sungguh luar biasa bukan?

Harapannya, kegiatan lokakarya ini bisa menginspirasi peserta lokakarya untuk terus belajar dan menjadi garda terdepan dalam literasi. Utamanya adalah mendongeng yang diyakini sebagai sarana membahagiakan bagi anak-anak. Semoga dengan mendengarkan dongeng, anak-anak bisa menerima pesan positif dengan mudah dan gembira. Semoga.

*Pendiri Taman Baca Aksara Jawa “Ngudi Kawruh”