Oleh. Zusana Tutuhatunewa & Leonard Sagisolo*

Anak-anak datang untuk membaca buku.
Kampung Sasder, Teminabuan-Sorong Selatan.

Pada Sabtu lalu, Ona, Regina dan Eta, datang ke rumah kami untuk membaca buku. Rumah kami yang sederhana sekaligus ruang baca untuk membaca buku.

Lalu Ariana juga ikut bergabung.

Saya mulai membaca cerita anak yang berjudul “Aku Suka Papeda,” sebuah cerita tentang bagaimana caranya membuat papeda dan ikan kuah kuning, serta sayur kangkung bunga pepaya.

Ceritanya sangat menarik minat anak-anak, sebab cerita ini merupakan bagian dari kehidupan mereka. Apalagi mereka sering melihat orangtuanya memasak.

Saya baru membaca sampai halaman 3, sudah datang Yance, bergabung juga akhirnya ia bersama Ona, Eta, Regina Dan Ariana.

Lalu tak berapa lama kemudian, muncul Marta, yang juga mau mendengarkan cerita. Rivaldo, tetangga sekitar kami, juga datang dan bergabung bersama yang lain.

Saat cerita dibacakan sampai di halaman ke 7, Ano dan Almendo yang baru pulang memancing di kali, juga ikut bergabung untuk mendengarkan cerita yang saya bacakan.

Sebelum melanjutkan bercerita, saya bertanya kepada anak-anak “Siapa di sini yang sudah tau masak ikan kuah kuning dengan papeda ?”

Ona dengan Eta jawab : “Mama Ambon, kita kalo bikin papeda itu de cair sekali, tidak seperti mama dorang, kalo mama dong yang bikin itu pasti papeda bagus saja.”

Regina juga bilang “Mama Ambon, sa tra tau bikin papeda, sa cuma lihat Teme (mama) yang biasa bikin.”

Lalu Yance dan Rivaldo juga bilang ” Mama Ambon, kalo kasih bersih ikan boleh kita tau, kalo masak kita tra tau.”

Kemudian saya bertanya kepada Ano dan Almendo : ” Ano dengan Mendo, bisa masak ikan kuah kuning ka tidak ?”

Ano dengan Almendo jawab : “Mama Ambon jangan tanya kita yang tidak tau masak ini, kita ini tau mancing saja.”

Mendengar jawaban dari Ano dan Almendo, seketika anak-anak yang lainnya langsung menertawakan mereka berdua, karena memang mereka berdua sering sekali pergi memancing di kali.

Lalu saya melanjutkan cerita tentang cara pembuatan papeda dan juga ikan kuah kuning serta sayur kangkung bunga pepaya.

Saat saya menjelaskan cara memasak sayur kangkung bunga pepaya, Eta dan Ona pun berkata “Mama Ambon, kalo masak sayur kangkung dengan bunga pepaya itu gampang saja, kalo sayur itu kita sudah biasa masak jadi paling gampang skali.”

” Iya mama Ambon, kita biasa masak sayur jadi kita tau.” Balas Regina dan Marta.
Lalu Almendo, Rivaldo, Ano dan Yance berkata : “Aaaahhhh kam tipu saja, biasa mama yang masak mo, kam ini tau masak dimana ?”

Dan terjadilah sahut-sahutan antara tim laki-laki dan tim perempuan.

Akhirnya saya berhasil menenangkan keadaan kembali dan lanjut bercerita sampai selesai.

Setelah cerita selesai dibacakan, Ariana pun bertanya : ” Mama Ambon, baru mama Ambon tau bikin Papeda dengan ikan kuah kuning sama sayur kangkung seperti di cerita itu ka tidak ? ”

Ona, Regina, Eta dan yang lainnya langsung menjawab pertanyaan Ariana , “Jiii, pasti mama Ambon tau bikinlah, mama Ambon biasa masak mo.”

Saya pun tertawa dan menjawab pertanyaan Ariana : ” Ari, mama Ambon ni tau masak, makanya mama Ambon cerita sambil jelaskan tadi to. Setelah dengar cerita tadi, kira-kira Ari nanti bisa masak ka tidak ?”

Ariana pun menjawab : ” Bisa lah mama Ambon, kalo sayur nanti sa masak, tapi kalo ikan dengan papeda tu biar mama yang masak saja.”

Anak-anak lainnya merasa lucu dengan jawaban Ariana dan mereka menertawainya.

Setelah bercanda bersama, anak-anak bertanya ” Mama Ambon, ada buku cerita lain ka ? Biar kita baca dulu sambil tunggu panas ini reda sedikit baru kita pergi ke kali Mamik, buat mandi.”

Saya pun menjawab : ” Mama Ambon punya buku cerita sudah banyak di rumah Sorong, tapi mama Ambon belum ada waktu untuk turun ambil, kemarin-kemarin kita punya rumah baca ini dapat donasi buku dari Kaka Gisella dan Pak Suhardi, bukunya tinggal dibawa saja ke kampung sini.

Buku yang ada sekarang di mama Ambon cuma buku Mutiara Hitam dari Papua dengan Aku Suka Papeda sama komik Naruto.”

Ona pun berkata : ” Aahh trapapa mama Ambon, biar mama Ambon kasih baru kita baca-baca dulu”
Saya pun mengeluarkan komik Naruto dan buku cerita Mutiara Hitam dari Papua untuk anak-anak. Mereka mulai mengambil satu persatu dan membacanya.

Saat mereka masing-masing sedang membaca, datanglah si kecil Ita yang langsung tertarik begitu melihat buku Mutiara Hitam dari Papua.

Ita tertarik melihat gambar-gambar yang ada di buku tersebut.

Melihat respon Ita yang begitu senang melihat buku cerita bergambar, membuat saya juga ikut merasa senang, karena walaupun si kecil Ita ini belum bisa membaca tetapi dia bisa tertarik dengan buku ketika melihat gambarnya.

Hari ini sangat ceria bagi saya dan anak-anak.
Di rumah yang kecil ini mereka mau berkumpul dan mendengarkan cerita dan membaca buku serta berbincang-bincang dan bercanda bersama.

Sebelum mereka pulang, saya berpesan kepada mereka : ” Hari Sabtu minggu depan kam datang ke mama Ambon lagi neh, nanti mama Ambon baca buku lagi sekalian kamu juga baca buku disini.”
Mereka pun menjawab : “Iya mama Ambon, kita senang dengar mama Ambon baca cerita, kita juga mau lancar membaca jadi kita harus datang ke mama Ambon supaya mama Ambon kasih kita buku untuk dibaca, biar kita bisa lancar membaca.”

Sungguh anak-anak ini sangat senang dan semangat untuk mau membaca.

Tenang saja anak-anak, minggu depan mama Ambon usahakan buku-buku sudah ada di kampung sini, biar kam bisa datang membaca terus.

*pendiri Rumah Baca Olfattrar Sasder-Teminabuan, Sorong Selatan.