Judul : Pulang

Penulis: Leila S. Chudori

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Halaman: 460 hlm

Tahun: 2022 Cetakan ke-21

 

Novel Pulang adalah novel kelima karya Leila S. Chudori yang saya baca. Seperti dalam novel lainnya, terutama novel Laut Bercerita dan Namaku Alam, novel ini menarik karena melibatkan bingkai pergolakan sosial politik dalam konteks serangkain konflik antartokoh dengan lingkungan sosialnya. Setidaknya, jika dipetakan, maka ada tiga latar sosial politik yang membingkai terjadinya konflik dalam novel Pulang karya Leila s. Chudori.

 

Pertama, latar politik tahun 1960. Kisaran tahun 1960-an adalah tahun peralihan dari pemerintahan orde lama ke orde baru. Tahun dengan suasana sosial politik yang mencekam karena adanya pergolakan pluralitas ideologi yang mendominasi. Konstelasi sosial politik dengan pilar nasional, agama, dan komunis yang ramai berkumandang dan hilir-mudik di masyarakat. Tidak heran jika, pada tahun 1960-an, konflik soail-politik dengan sumbu tiga ideologi kerap bermunculan di kehidupan masyarakat.

 

Dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori, konteks sosial politik pada tahun 1960-an dibingkai oleh tokoh utama Dimas Suryo, Hananto Prawiro, Nugroho Dewantoro, Tjai Sin Soe, dan Risjaf. Tokoh-tokoh yang bersahabat dan sedang berapi-api dalam mempelanari ideologi berhaluan komunis. Agen-agen intelektual yang terlibat dalam dinamika pergeralan politik di negeri yang kemudian menjalani kehidupannya dalam serangkai konflik yang bersumber pada idelogi komunis yang diperjuangkannya.

 

Melalui surat kabar yang dikelola oleh Dimas Suryo, Hananto Prawiro, Nugroho Dewantoro, Tjai Sin Soe, dan Risjaf, suara suara bernada ideologi komunis dididengungkan dan diperjuangkan. Sekalipun, dalam keseharian mereka juga terjadi berbagai perdebatan ideologi, persahabatan, pendidikan, hingga percintaan. Semuanya dibingkai dalam resistensi dan konflik yang bernada intelektualitas dengan dominasi faham komunis di dalamnya.

 

Reaistensi dalam konflik inilah yang bisa kita nikmati dalam latar sosial politik tahun 1960-an. Latar sosial politik yang membingkai tokoh-tokoh Dimas Suryo, Hananto Prawiro, Nugroho Dewantoro, Tjai Sin Soe, dan Risjaf yang bergelut dengan cinta, keluarga, persahatan, dan perjuangan yang tidak pernah lepas dalam kontek sosial politih saat itu.

 

Kedua, latar sosial politik tahun 1965 sebagai puncak konflik sosial politik yang ditandai dengan penculikan yang dilakukan oleh organisasi yang dicap berfaham komunis terhadap dewan jendral. Peristiwa yang menandai peubahan pemerintahan dari orde lama ke orde baru. Gerakan organisasi komunis yang digagalkan ini membawa pergolakan yang laur biasa, terutama setelah orde baru berkuasa di bawah pemerintahan Preseiden Soeharto.

 

Dalam pemerintahan orde baru inilah bersih-bersih lingkungan atas kehadiran dan keterlibatan orang-orang yang beraliansi dengan komunis dilakukan. Kenyataan inilah yang membuat Dimas Suryo, Hananto Prawiro, Nugroho Dewantoro, Tjai Sin Soe, dan Risjaf terseret. Mereka masuk dalam daftar orang yang dicari karena telah dicap sebagai orang yang terlibat dalam organisasi komunis.

 

Dari sinilah, pada latar sosial politik tahun 1965 ini, novel Pulang karya Leila S. Chudori ini menarasikan berbagai resistensi dalam konflik perjuangan tokoh-tokoh untuk bisa meloloskan dari dari perburuan yang dilakukan oleh aparatur negara. Dalam perburuan itulah, Hananto Prawiro tertangkap dan disiksa dan dieksekusi mati, sedangkan Dimas Suryo, Nugroho Dewantoro, Tjai Sin Soe, dan Risjaf meloloskan diri ke luar negeri dan menetap di Prancis.

 

Narasi novel kemudian membahas kehidupan mereka sebagai eks tapol di luar negeri, Perancis yang hidup dalam ketertekanan dan kerinduan pada tanah air yang menyiksa. Orang-orang eks tapol itu hidup dalam keluarga, persahabatan, pekerjaan, dan romantika cinta. Kehidupan problematik yang dilalui dengan penuh perjuangan karena latar sosial politk yang tidak berpihak padanya.

 

Berbagai drama dan konflik antartokoh terjadi dalam konteks sosial politik di orde baru ini. Konflik yang memberikan pengetahuan sejarah penting dalam dinamika bangsa kita. Dinamika sosial politik yang telah mendeskreditkan keluarga eks tapol yang membawa beban sejarah pada anak-anak mereka.

 

Ketiga, latar sosial politik tahun 1998 sebagai puncak atas konstelasi konflik sosial politik dalam novel ini. Pada konteks tahun ini ada perubahan dan pepindahan tokoh. Tokoh yang terlibat konflik sosial adalah Lintang Utara, Bimo Nugroho, Segara Alam, dan lainnya. Mereka adalah anak-anak muda yang meneruskan perjuangan politik ayahnya Dimas Suryo, Nugroho Dewantoro, dan Hananto Prawiro.

 

Konflik sosial dan politik tokoh-tokohnya menjadi puncak atas konflik poliitik dan sosial yang telah dibangun oleh orang tuanya, yaitu lengsernya Presiden Soeharto sebagai pemimpin pemerintahan orde baru. Latar sosial dan politik pada navel ini ditandai dengan keterlibatan langsung Segara Alam, Lintang Utara, Bimo Nigroho, dan lain-lain dalam gerakan demontrasi yang mencekam dan penuh dengan tragedi. Puncaknya adalah lengsernya Presiden Soeharto yang menandai berakhirnya pemerintahan orde baru.

 

Dalam konteks sosial politik tahun 1998 inilah menjadi momentum hasi perjuangan yang menderitakan oleh para pejuang eks gapol seperi Dimas Suryo, Nugroho Dewantoro, Tjai Sin Soe, dan Risjaf, yang perjuangannya diteruskan oleh putra-putra mereka. Putra-putra yang pernah merasakan diskriminasi sosial politik karena warisan perjuangan orang tuanya yang dicap sebagai kes tapol pada pemerintahan orde baru.

 

*Tim Infokom dan Litbang Forum TBM