Berbeda dengan cerita-cerita sebelumnya, pada cerita yang satu ini Nashruddin Khoujah memainkan sebuah psikologi perasaan. Namun tetap memainkannya melalui akal. Cerita tersebut berjudul BELUM TERKENA APA-APA.

Nashruddin keluar untuk mencari kayu bakar di gunung. Ia berbekal beberapa semangka untuk melepas rasa dahaga di gunung yang tandus itu. Setiap kali merasa haus, Nashruddin memecah sebuah dan memakan sebagian kecil, lalu membuang sisanya karena dianggap belum masak. Hal itu terjadi berulang-ulang sampai semangkanya habis; ia pecah sebuah lagi, memakan Sebagian kecil dan melempar sisanya ke onggokan sampah.

Ketika terik matahari sangat menyengat, Nashruddin menjadi kehausan. Ia merasa harus memungut kembali semangka yang dilemparkannya ke tumpukan sampah. Maka dipungutnya kembali sisa potongan-potongan semangka tersebut sambil berkata, “Semangka ini tetap suci, semangka ini belum terkena apa pun.” Sampai ia berhasil mengumpulkan semua semua sisa semangkanya.

Pembaca dapat menapsirkan sendiri cerita Nashruddin Khoujah di atas. Yang jelas, dalam cerita tersbut terdapat pemikiran yang mendalam terhadap kehidupan. Nashruddin mengikatkan satu hal tentang perbekalan dan sebuah kemungkinan yang akan terjadi.

Cerita Nashruddin Khoujah di atas betul-betul satire. Cerita tersebut dapat dirasakan oleh pembaca, dan mungkin pernah dialami kejadian yang serupa atau mirip seperti itu. Bukan perjalanan ke gunung dan semangkanya, namun sebuah proses yang dilakukan oleh Nashruddin Khoujah.

Perjalanan ke gunung, semangka, serta terik matahari yang menyengat sehingga Nashrudin kehausan adalah sebuah personifikasi atas kehidupan yang sedang dijalani. Setiap orang memiliki pengalaman spiritual yang berbeda.

Lagi-lagi, dengan akal Nashruddin Khoujah menggambarkan sebuah kehidupan.

*Redaksi Forum TBM