Oleh: Eva Syilva

Pagi itu, dua puluh siswa SD Inpres Pelawa bertandang ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sou Mpelava. Bersama tiga guru pendamping, siswa kelas 3 dan 6 itu datang untuk belajar menjadi “peneliti cilik” dalam kelas literasi sains “Berkenalan dengan Kupu-Kupu” yang merupakan rangkaian kegiatan Kampung Literasi Pelawa.

Bersama Kak Nur Herjayanti, citizen science yang concern pada kupu-kupu, kelas dibuka dengan memperlihatkan gambar seekor Papilio demoleus yang juga disebut kupu-kupu jeruk. Nama itu disematkan pada serangga bersayap cantik ini karena jeruk merupakan pakan utamanya. Papilio demoleus berwarna dominan kuning dengan bintik hitam. Rentang sayapnya mencapai 10-11 cm, dengan kecepatan terbang sedang.

Selanjutnya, salindia memperlihatkan bagian tubuh kupu-kupu yang terdiri dari kepala, dada, kaki, sayap, mata, dan antena. Nur Herjayanti yang akrab disapa Kak Kol bertanya berapa jumlah kaki kupu-kupu. Para peserta antusias menjawab. Ada yang bilang empat, ada pula yang menjawab enam.

“Nanti kita cari kupu-kupu. Sama-sama kita hitung berapa jumlah kakinya.” Ajakan itu disambut antusias.

Di sela-sela kegiatan, tiba-tiba seekor kupu-kupu melintas di pekarangan TBM Sou Mpelava. Bermodalkan jaring penangkap kupu-kupu yang dirangkai oleh Kak Moha, relawan Kampung Literasi Pelawa, kupu-kupu itu berhasil ditangkap lalu dimasukkan ke dalam stoples. Peserta semakin bersemangat mengikuti kelas.

Tuntas membahas bagian tubuh kupu-kupu, Kak Kol melanjutkan ke materi daur hidup yang terdiri dari telur, ulat, kepompong, lalu kupu-kupu.

“Karena ini pesertanya anak-anak, saya hanya jelaskan daur hidup sederhana yang lebih mudah mereka pahami. Kalau untuk orang dewasa, mungkin kita bisa membahas daur hidup kupu-kupu yang lebih rinci,” jelas Kak Kol.

Berikutnya, kelas diisi dengan pemaparan seputar tumbuhan nektar dan tumbuhan pakan kupu-kupu. Warna-warni bunga pagoda, kembang merak, kembang asoka, tembelekan, bunga kenikir, biduri, buah keranjang, jeruk, serta maman pasir tampak di layar. Lebih seru lagi ketika peserta bisa melihat langsung bunga kembang merak yang tengah mekar di pekarangan TBM Sou Mpelava.

Hampir satu jam Kak Kol mentransfer ilmunya ke peserta kelas literasi sains yang merupakan anak-anak yang tinggal di Desa Pelawa, Kecamatan Parigi Tengah, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Wilayah yang dilewati garis khatulistiwa sehingga kaya akan flora dan fauna. Tak terkecuali satwa endemik kupu-kupu seperti Euthalia amanda yang memiliki sayap cantik berwarna abu-abu gelap dihiasi bintik putih dan jingga.

Di Kota Parigi, Euthalia amanda dapat dijumpai di sekitar Kantor Bupati Parigi Moutong dan di Hutan Kota Parigi sebab di sana terdapat eboni (kayu hitam), flora endemik Sulawesi yang menjadi tumbuhan pakannya.

Matahari mulai bersinar terik. Dari daun-daun yang tadinya basah diguyur hujan yang baru reda beberapa saat sebelum kelas dimulai, sisa air hujan perlahan menguap tak berbekas. Menurut Kak Kol, jam 9 sampai 10 merupakan waktu yang tepat untuk melihat kupu-kupu.

“Di waktu itu kupu-kupu keluar dari sarangnya untuk mencari makan atau menjemur sayapnya yang basah,” kata Kak Kol menjelaskan.

Dilanjutkannya, sayap yang basah atau lembab membuat tubuh kupu-kupu menjadi lebih berat. Makanya, mereka berjemur sambil, mengepakkan sayap perlahan-lahan agar sayapnya lekas kering, bobotnya ringan, sehingga bisa terbang lebih gesit.

Tak ingin terlalu banyak berteori, Kak Kol membagi peserta dalam kelompok lalu mengajak mereka untuk turun langsung ke lapangan mencari telur, ulat, kepompong, dan kupu-kupu. Setiap kelompok terdiri dari dua orang anak yang dibekali satu stoples untuk menyimpan sampel yang mereka temukan. Dua jaring kupu-kupu dikerahkan untuk membantu menangkap serangga yang kerap diawetkan sebagai gantungan kunci itu.

Pukul 10.20 WITA, misi pencarian keluarga besar kupu-kupu dimulai. Bersama guru pendamping dan relawan Kampung Literasi Pelawa, peserta digiring menuju kompleks SD Inpres Pelawa. Mereka antusias dan berkata kegiatan belajar sambil bermain ini sangat seru dan menyenangkan. Terlebih mereka sudah lama tidak bersekolah karena pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai.

Tiga puluh menit waktu yang diberikan untuk mencari sampel. Sebagian kelompok dapat menemukan kupu-kupu dengan mudah, namun ada pula yang kesulitan menangkapnya. Kak Yogi dan Kak Eli yang membawa jaring kupu-kupu berlari ke sana ke mari mengejar buruan mereka. Anak-anak mengikuti di belakangnya. Sungguh pemandangan yang indah, lucu, dan seru.

Setengah jam berlalu. Peserta diarahkan kembali ke TBM Sou Mpelava. Banyak dari mereka yang dengan bangga memamerkan hasil tangkapannya. Ada yang mendapat kupu-kupu, ulat, serta telur yang menempel di daun tumbuhan maman pasir.

“Siapa tadi yang dapat telur. Sini sama-sama kita liat bentuknya pakai alat ini.”

Kak Kol mengangkat lensbong macro prosumer. Dengan menggunakan alat itu, telur kupu-kupu yang super kecil dapat terlihat jelas. Peserta antusias melihat telur kupu-kupu. Mengidentifikasi jenisnya, menggambar bentuknya, kemudian menuliskan deskripsinya di lembar pengamatan. Hal yang sama juga dilakukan kelompok yang mendapat sampel ulat dan kupu-kupu.Usai mengisi lembar pengamatan, setiap kelompok maju ke depan untuk mempresentasikan hasil temuannya. Para ‘peneliti cilik’ itu menutup kelas dengan riang gembira.

“Saya berharap kelak adik-adik ini dapat menjadi peneliti yang hebat,” kata Kak Kol sembari mencicipi kudapan sederhana yang ditemani teh manis. Jebolan Institut Pertanian Bogor (ITB) itu mengaku sejak kecil ia telah tertarik pada kupu-kupu. Rasa penasaran di masa kecil itulah yang menuntunnya untuk concern pada insekta bersayap indah itu.

“Untuk itu, saya bertekad berbagi ilmu yang saya punya agar rasa penasaran anak-anak terjawab.”

Sebelum meninggalkan TBM Sou Mpelava Kak Kol berpesan, kegiatan mengenalkan hal-hal sederhana yang dekat dengan anak-anak, misalnya kupu-kupu seperti Kelas Literasi Sains ini semestinya lebih gencar dilakukan agar anak-anak makin mencintai alam serta lingkungan sekitar sehingga mereka dapat melakukan aksi konservasi sejak dini.